Ayat 53:21

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ

Apakah bagi kalian yang lelaki, sedangkan bagi-Nya yang perempuan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَلَكُمُ الذَّكَرُa-lakumu dz-dzakaruapakah bagi kalian yang lelaki
  2. وَلَهُ الْأُنْثَىٰwa-lahu l-untsaasedangkan bagi-Nya yang perempuan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَكُمُa-lakumuapakah bagi kalian
  2. الذَّكَرُdz-dzakarulaki-laki
  3. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  4. الْأُنْثَىٰl-untsaaperempuan

Inti bacaan

Saat menyusun jadwal piket atau pembagian tugas kelompok, mencantumkan jatah kita dan jatah rekan di satu tabel, lalu menukar kolomnya dalam bayangan dan bertanya sanggupkah kita memikul jatah yang tadi kita serahkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, a-lakumu dz-dzakaru wa-lahu l-untsaa) yang berarti "apakah bagi kalian yang lelaki, sedangkan bagi-Nya yang perempuan". Empat kata itu tersusun dalam dua bagian yang sejajar, masing-masing berisi seorang pemilik dan sebuah bagian. Bagian pertama, (أَلَكُمُ الذَّكَرُ, a-lakumu dz-dzakaru) yang berarti "apakah bagi kalian yang lelaki", dibuka dengan huruf tanya yang melekat pada kata depan milik dan kata ganti kalian. Bagian kedua, (وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, wa-lahu l-untsaa) yang berarti "sedangkan bagi-Nya yang perempuan", mengulang susunan yang sama dengan pemilik yang berganti. Huruf penghubung di awal bagian kedua diterjemahkan "sedangkan", seperti pada dua ayat yang memuat tuduhan serupa, 52:39 dan 37:149, karena kedua bagian itu saling berhadapan dan kata "dan" akan meratakan pertentangannya.

Kedua kata benda memakai kata sandang, (الذَّكَرُ, dz-dzakaru) yang berarti "yang lelaki" dari akar ذ-ك-ر dan (الْأُنْثَىٰ, l-untsaa) yang berarti "yang perempuan" dari akar أ-ن-ث. Dengan kata sandang itu yang ditunjuk jenisnya, tanpa menunjuk orang tertentu. Pasangan bersandang yang sama muncul lagi dalam surah ini di 53:45, (الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ, adz-dzakara wa-l-untsaa) yang berarti "lelaki dan perempuan", sebagai pasangan yang Allah ciptakan. Di luar surah ini pasangan itu hadir di 75:39 dan 92:3. Ketiga ayat itu memakai pasangan kata ini dalam kalimat tentang penciptaan, sedangkan di 53:21 pasangan yang sama muncul dalam pembagian yang dibuat manusia.

Urutan dalam ayat ini layak dibandingkan dengan dua ayat tadi. Di 52:39 terdapat (أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ, am lahu l-banaatu wa-lakumu l-banuuna) yang berarti "ataukah bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan bagi kalian anak-anak lelaki", dan di 37:149 terdapat (أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ, a-li-rabbika l-banaatu wa-lahumu l-banuuna) yang berarti "apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak-anak lelaki". Kedua ayat itu menyebut bagian Allah lebih dahulu dan memakai kata anak. Di 53:21 urutannya berlawanan, bagian kalian disebut pertama, dan yang disebut jenisnya, lelaki dan perempuan, tanpa kata anak. Pertanyaannya bermula dari apa yang diambil untuk diri sendiri, lalu beralih kepada apa yang disisakan untuk Allah.

Kata perempuan dalam susunan tuduhan ini punya saudara di beberapa tempat. Surah ini memakainya lagi di 53:27, (تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ, tasmiyata l-untsaa) yang berarti "dengan nama perempuan", untuk orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat dan menamai para malaikat dengan nama itu. Bentuk jamaknya, (إِنَاثًا, inaatsan) yang berarti "perempuan", dipakai di 43:19 untuk malaikat yang mereka jadikan perempuan, disusul pertanyaan apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat itu, dan di 37:150 untuk pertanyaan yang sama. Di seluruh Al-Qur'an, kata perempuan dalam susunan tuduhan semacam ini selalu menyangkut apa yang mereka nisbatkan kepada Allah, dan tidak dipakai untuk menilai perempuan sebagai manusia.

Tafsiran

Ayat ini menyingkap apa yang tersirat dalam tiga nama di 53:19-20. Karena datang tepat sesudah al-Lata, al-Uzza, dan Manat disebut, pertanyaan tentang bagian perempuan tertuju pada apa yang mereka sandingkan dengan Allah, dan 53:27 menegaskan arah itu dengan menyebut malaikat yang dinamai dengan nama perempuan. Allah menyandingkan dua bagian yang mereka tetapkan dalam satu tarikan kalimat, lalu membiarkan ketimpangannya terlihat.

Ukuran yang dipakai pertanyaan ini diambil dari mereka sendiri. Di 16:58 wajah salah seorang dari mereka menjadi hitam ketika diberi kabar tentang anak perempuan, dan di 16:62 disebut bahwa mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka benci. Kalau perempuan mereka anggap bagian yang lebih rendah, mengapa bagian itu yang diserahkan kepada Allah, sementara bagian yang mereka banggakan disimpan untuk diri sendiri? Ayat ini meminjam timbangan mereka untuk memperlihatkan bahwa timbangan itu pun tidak mereka pakai dengan jujur.

Al-Qur'an sendiri tidak memakai timbangan itu, dan ayat ini tidak sedang menilai perempuan sebagai manusia. Di 3:195 Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan, sebagian dari sebagian yang lain. Di 16:97 kehidupan yang baik dijanjikan kepada siapa pun yang beramal saleh dalam keadaan beriman, lelaki atau perempuan, dan di 49:13 kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ketakwaan. Jawaban yang lebih mendasar datang dari dalam surah ini, dua puluh empat ayat kemudian, ketika 53:45 menyebut Dia yang menciptakan pasangan lelaki dan perempuan. Lelaki dan perempuan tidak bisa dibagi antara manusia dan Tuhan, sebab keduanya ciptaan-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menanyakan pembagian ini dengan ukuran orang-orang yang membuatnya, tanpa lebih dulu membantah ukuran itu. Cara ini menyingkap kebiasaan yang mudah luput dari diri sendiri, yaitu memegang dua timbangan sekaligus. Apa yang ditolak untuk diri sendiri ternyata rela ditimpakan kepada pihak lain, dan penolakan itu tidak terasa janggal karena kedua timbangan jarang diletakkan berdampingan. Berapa banyak penilaian kita tentang orang lain akan bertahan kalau timbangan yang sama dipakai untuk diri kita sendiri? Ayat ini meletakkan kedua timbangan itu berdampingan dalam empat kata.
  • Di 16:62 pola yang ditanyakan ayat ini diringkas dalam satu kalimat, mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka benci. Kebiasaan itu tidak berhenti pada soal anak lelaki dan perempuan. Orang bisa menyisakan untuk Tuhan waktu ketika tenaga sudah habis, harta yang tidak lagi dibutuhkan, dan perhatian yang tersisa sesudah urusan lain selesai, sementara bagian yang segar dan berharga disimpan untuk keperluan sendiri. Susunan bagi kalian dan bagi-Nya dalam ayat ini membuat pembagian semacam itu terlihat apa adanya, dan melihatnya dengan jelas menjadi langkah pertama untuk menatanya kembali.
  • Jarak antara ayat ini dan 53:45 menyimpan penghiburan bagi siapa pun yang pernah merasa dinilai rendah karena dilahirkan sebagai perempuan, dan teguran bagi siapa pun yang pernah menilai rendah orang lain dengan alasan itu. Di 53:21 lelaki dan perempuan dipakai sebagai bagian yang ditawar-tawarkan. Di 53:45 keduanya berdiri berdampingan sebagai ciptaan Allah, disebut dengan dua kata yang sama dan kata sandang yang sama. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh pembagian yang dibuat manusia di sekitarnya, sebab Penciptanya tidak pernah membuat pembagian semacam itu.
  • Wajah yang menjadi hitam di 16:58 ketika kabar tentang anak perempuan datang memperlihatkan bahwa perasaan pun bisa dibentuk oleh ukuran yang dipinjam dari lingkungan. Kecewa dan bangga sering terasa spontan, seolah-olah lahir dari dalam diri, padahal keduanya mengikuti ukuran yang sudah lama tertanam. Ukuran seperti itu terasa wajar karena semua orang di sekitar memakainya. Ayat ini mengundang pemeriksaan yang lebih dalam, sampai ke perasaan yang muncul sebelum sempat dipikirkan, dengan pertanyaan apakah ukuran yang membentuknya datang dari Allah atau dari kebiasaan orang banyak.
  • Di 52:39 dan 37:149 bagian Allah disebut lebih dahulu, sedangkan ayat ini membuka dengan bagian kalian. Urutan ini menaruh sorotan pada tangan yang mengambil. Dalam banyak perselisihan orang sibuk membicarakan apa yang diberikan kepada pihak lain, dan lupa memeriksa apa yang lebih dulu diamankan untuk dirinya. Dengan membuka dari bagi kalian, Allah mengarahkan pertanyaan kepada orang yang membagi, dan pertanyaan yang diarahkan kepada diri sendiri biasanya lebih sulit dijawab daripada pertanyaan tentang orang lain.
  • Pembagian di ayat ini dibuat atas nama Allah tanpa Dia memintanya. Orang-orang yang membuatnya merasa berhak menentukan apa yang pantas bagi Tuhan, lalu menjalankan ketetapan itu seakan-akan berasal dari-Nya. Kebiasaan berbicara atas nama Allah, menetapkan apa yang Dia sukai dan apa yang Dia terima tanpa keterangan dari-Nya, berakar pada sikap yang sama. Ayat ini menanyakan pembagian itu, dan dua ayat kemudian surah ini menyebut bahwa nama-nama yang dibagi pun tidak punya keterangan apa pun dari Allah.

Ayat 53:22

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ

Kalau begitu, itu suatu pembagian yang tidak adil.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تِلْكَ إِذًاtilka idzankalau begitu, itu
  2. قِسْمَةٌ ضِيزَىٰqismatun dhiizaasuatu pembagian yang tidak adil

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. تِلْكَtilkaitulah
  2. إِذًاidzankalau begitu
  3. قِسْمَةٌqismatunpembagian
  4. ضِيزَىٰdhiizaayang tidak adil

Inti bacaan

Sebelum mengumumkan hasil pembagian warisan, hadiah, atau beban kerja, menyebut terang-terangan bila ada bagian yang timpang, termasuk ketimpangan yang menguntungkan diri sendiri, lalu memperbaikinya sebelum dibagikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ, tilka idzan qismatun dhiizaa) yang berarti "kalau begitu, itu suatu pembagian yang tidak adil". Kata tunjuk (تِلْكَ, tilka) yang berarti "itu" merujuk pembagian yang baru saja ditanyakan di 53:21, bagi kalian yang lelaki dan bagi-Nya yang perempuan. Kata (إِذًا, idzan) yang berarti "kalau begitu" menjadikan penilaian ini akibat dari pembagian itu, sehingga maknanya kira-kira, bila memang begitu yang kalian tetapkan, begitulah nilainya. Terjemahan menaruh "kalau begitu" di depan supaya hubungan sebab dan akibat itu terbaca lebih dulu, dan susunannya diseragamkan dengan 79:12, ayat lain yang memakai pasangan kata ini.

Pasangan (تِلْكَ إِذًا, tilka idzan) di seluruh Al-Qur'an muncul di dua ayat, di sini dan di 79:12, (تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ, tilka idzan karratun khaasiratun) yang berarti "kalau begitu, itu suatu pengembalian yang merugikan". Di 79:10-11 orang-orang yang mengingkari kebangkitan bertanya apakah mereka akan dikembalikan kepada keadaan semula sesudah menjadi tulang-belulang yang hancur, lalu di 79:12 mereka menilai pengembalian itu. Susunan kedua ayat sama, kata tunjuk, lalu kalau begitu, lalu kata benda yang diberi satu sifat. Di 79:12 penilaian itu keluar dari mulut para pengingkar tentang nasib yang mereka bayangkan, sedangkan di 53:22 penilaian yang sama bentuknya datang dari Allah tentang pembagian yang mereka buat.

Kata (قِسْمَةٌ, qismatun) yang berarti "pembagian" berasal dari akar ق-س-م, dan kata benda ini hadir di tiga ayat. Di 4:8 terdapat (الْقِسْمَةَ, l-qismata) yang berarti "pembagian itu", pembagian harta yang dihadiri kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan yang membagi diperintahkan memberi mereka rezeki darinya. Di 54:28 terdapat (أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ, anna l-maa'a qismatun baynahum) yang berarti "bahwa air dibagi di antara mereka", tentang giliran minum antara kaum Tsamud dan unta betina yang dikirim kepada mereka. Di kedua ayat itu pembagiannya diatur oleh perintah Allah, sedangkan pembagian di 53:22 disusun manusia dengan Allah sebagai salah satu pihaknya.

Kata sifat (ضِيزَىٰ, dhiizaa) yang berarti "yang tidak adil" berasal dari akar ض-ي-ز, dan akar ini tidak muncul di ayat lain di seluruh Al-Qur'an. Karena tidak ada pemakaian lain untuk dibandingkan, maknanya dibaca dari tempatnya sendiri, sebagai penilaian atas pembagian yang memberi satu pihak bagian yang dibanggakan dan pihak lain bagian yang dianggap rendah. Terjemahan "tidak adil" dipilih karena yang dinilai sebuah pembagian, dan pembagian ditimbang dari adil atau tidaknya. Kata ini berakhiran bunyi panjang yang sama dengan (الْأُنْثَىٰ, l-untsaa) di 53:21 dan (الْأُخْرَىٰ, l-ukhraa) di 53:20, sehingga penilaian itu menyatu dengan irama ayat-ayat yang ditanggapinya.

Tafsiran

Ayat ini menjatuhkan penilaian atas pembagian yang ditanyakan 53:21, dan penilaian itu berdiri di atas anggapan orang-orang yang membuatnya. Kalau memang kalian mengambil yang lelaki dan menyerahkan yang perempuan, kata ayat ini, pembagian itu tidak adil. Pada tahap ini belum dipersoalkan apakah Allah punya bagian semacam itu. Surah ini lebih dulu memperlihatkan bahwa susunan itu timpang menurut ukuran para pembuatnya sendiri, dan baru di 53:23 anggapan itu dicabut sepenuhnya dengan pernyataan bahwa yang dibagi tidak lain nama-nama yang dibuat manusia. Urutannya dua langkah, menilai dari dalam anggapan lawan bicara, lalu menunjukkan bahwa anggapan itu tidak berdasar.

Pembagian lain yang disebut Al-Qur'an memperjelas sifat pembagian ini. Di 4:8, ketika harta dibagi, kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang hadir diberi bagian dan disapa dengan perkataan yang patut, sehingga orang-orang yang lemah pun tidak pulang dengan tangan kosong. Di 54:28 air dibagi bergiliran, dan setiap giliran minum dihadiri oleh pemiliknya. Pembagian yang Allah atur memberi tempat bagi pihak yang lemah dan menjaga hak setiap pihak, sedangkan pembagian di 53:22 menyimpan bagian yang dibanggakan untuk pembaginya dan menyodorkan bagian yang dianggap rendah kepada Allah.

Dengan ayat ini rangkaian yang dibuka 53:19 mencapai penilaian pertamanya. Dua ayat bertanya tentang tiga nama, satu ayat bertanya tentang pembagian, dan satu ayat menilai. Penilaian kedua, yang lebih mendasar, menyusul di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menilai pembagian itu dengan anggapan para pembuatnya sendiri, kalau begitu, dan baru di ayat berikutnya mencabut anggapan itu. Dalam perbedaan pendapat, cara ini memberi pelajaran yang berharga. Menunjukkan bahwa sebuah pendirian gagal menurut ukurannya sendiri lebih mudah diterima daripada membantahnya dari luar, sebab orang yang ditunjukkan cacat di dalam jalan pikirannya tidak punya alasan menolak dengan tuduhan bahwa lawannya memakai ukuran asing. Kesabaran untuk masuk sebentar ke dalam cara berpikir orang lain sering membuka jalan yang tidak terbuka oleh bantahan yang keras.
  • Setiap pilihan membawa penilaiannya sendiri, dan kata kalau begitu di ayat ini mengikat penilaian pada pilihan yang sudah dibuat. Orang sering berharap bisa memilih tanpa menanggung penilaian itu. Seseorang bisa bertanya kepada dirinya, kalau aku mengambil yang terbaik untuk diriku dan menyisakan yang lain untuk orang di sekitarku, pembagian macam apa yang sedang kubuat? Mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri lebih ringan daripada mendengarnya kelak dari Allah, dan ayat ini memberi contoh bunyinya.
  • Dalam pembagian ini, bagian yang dianggap rendah disodorkan kepada Allah, dan Dia sendiri yang menilainya tidak adil. Dia tidak dirugikan, sebab 6:101 menyangkal bahwa Dia mempunyai anak. Penilaian itu tidak lahir dari rasa tersinggung. Penilaian itu menjaga ukuran keadilan tetap utuh, bahkan ketika pihak yang disodori bagian rendah tidak memerlukan apa pun. Orang yang dirugikan dalam pembagian kecil kadang memilih diam karena merasa tidak butuh, padahal ketidakadilan tetap perlu disebut dengan namanya, siapa pun yang menanggungnya.
  • Pembagian yang Allah atur di 4:8 dan 54:28 memberi tempat bagi yang lemah dan menjaga giliran setiap pihak. Siapa pun yang pernah memegang wewenang membagi, warisan dalam keluarga, tugas di tempat kerja, atau jatah dalam sebuah kelompok, sedang berdiri di persimpangan antara pembagian semacam itu dan pembagian di 53:22. Setiap kali membagi, dia memilih salah satunya, sering tanpa menyadari bahwa dia sedang memilih. Ayat ini membuat pilihan itu terlihat, sehingga pembagian berikutnya bisa dijalankan dengan sadar.
  • Pembagian yang timpang tidak selalu soal harta. Orang bisa membagi keberhasilan dan kegagalan dengan pola yang sama, keberhasilan dianggap buah usahanya sendiri, dan kegagalan diserahkan kepada takdir. Di 4:79 pembagian yang benar disebut dengan terang, kebaikan yang menimpa datang dari Allah, dan keburukan yang menimpa berasal dari diri sendiri. Apakah cara kita menceritakan hidup sendiri menyimpan pembagian yang berlawanan arah dengan ayat itu?
  • Ayat ini menilai pembagiannya dan tidak mencaci orang yang membaginya. Ketika menghadapi perbuatan yang keliru, kita sering tergoda menyerang pelakunya dengan sebutan yang merendahkan, dan serangan itu membuat orang sibuk membela diri. Allah memilih kata yang tepat sasaran, pembagian itu tidak adil. Memisahkan perbuatan dari orangnya menyisakan ruang bagi orang itu untuk berubah, sebab yang dinilai pilihannya, dan pilihan bisa diganti.

Ayat 53:23

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian namakan, yang Allah tidak menurunkan keterangan apa pun untuknya. Mereka hanya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu; padahal, sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌin hiya illaa asmaa'unitu tidak lain hanyalah nama-nama
  2. سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْsammaytumuuhaa antum wa-aabaa'ukumyang kalian dan nenek moyang kalian namakan
  3. مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍmaa anzala llaahu bihaa min sulthaaninyang Allah tidak menurunkan keterangan apa pun untuknya
  4. إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّin yattabi'uuna illaa zh-zhannamereka hanya mengikuti dugaan
  5. وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُwa-maa tahwaa l-anfusudan apa yang diinginkan hawa nafsu
  6. وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰwa-la-qad jaa'ahum min rabbihimu l-hudaapadahal, sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka

Terjemahan per kata (25 kata)

  1. إِنْintidaklah
  2. هِيَhiyaitu
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. أَسْمَاءٌasmaa'unnama-nama
  5. سَمَّيْتُمُوهَاsammaytumuuhaakalian menamainya
  6. أَنْتُمْantumkalian
  7. وَآبَاؤُكُمْwa-aabaa'ukumdan bapak-bapak kalian
  8. مَاmaatidaklah
  9. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  10. اللَّهُllaahuAllah
  11. بِهَاbihaauntuknya
  12. مِنْmindari
  13. سُلْطَانٍsulthaaninketerangan
  14. إِنْintidaklah
  15. يَتَّبِعُونَyattabi'uunamereka mengikuti
  16. إِلَّاillaakecuali
  17. الظَّنَّzh-zhannasangkaan
  18. وَمَاwa-maadan apa yang
  19. تَهْوَىtahwaamenginginkan
  20. الْأَنْفُسُl-anfusujiwa
  21. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  22. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  23. مِنْmindari
  24. رَبِّهِمُrabbihimuTuhan mereka
  25. الْهُدَىٰl-hudaapetunjuk

Inti bacaan

Ketika mendengar istilah, gelar, atau sebutan keagamaan yang dianggap sakral, menanyakan kepada yang memakainya ayat mana yang menjadi dasarnya, dan menahan diri memakai sebutan itu sampai dasarnya ditemukan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ, in hiya illaa asmaa'un) yang berarti "itu tidak lain nama-nama". Kata (إِنْ, in) di sini penyangkal dan berpasangan dengan (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali", susunan yang sudah dikenal dari 53:4, sehingga kalimatnya membatasi, itu tidak lain dari nama-nama. Kata ganti (هِيَ, hiya) menunjuk kembali al-Lata, al-Uzza, dan Manat di 53:19-20. Terjemahan memakai "itu" untuk kata ganti ini, supaya yang ditunjuk tetap berupa nama-nama yang baru disebut dan tidak terbaca sebagai pribadi yang hidup. Susunan penyangkal yang sama dipakai lagi di tengah ayat, (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna) yang berarti "mereka tidak mengikuti kecuali dugaan", sehingga ayat ini memuat dua pembatasan, yang pertama tentang apa yang disembah dan yang kedua tentang apa yang diikuti.

Kata (أَسْمَاءٌ, asmaa'un) yang berarti "nama-nama" dan kata kerja (سَمَّيْتُمُوهَا, sammaytumuuhaa) yang berarti "kalian menamainya" berasal dari akar yang sama, س-م-و, sehingga kalimatnya berputar pada dirinya sendiri, nama-nama yang dinamai. Pelakunya disebut dengan tegas, (أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ, antum wa-aabaa'ukum) yang berarti "kalian dan nenek moyang kalian". Kata ganti kalian sudah terkandung dalam kata kerja, lalu diulang dengan kata ganti lepas (أَنْتُمْ, antum), dan pengulangan itu menegaskan bahwa penamaan itu perbuatan mereka sendiri, dengan kalian yang masih hidup disebut di depan nenek moyangnya. Kata kerja penamaan ini muncul lagi di 53:27, (لَيُسَمُّونَ, la-yusammuuna) yang berarti "benar-benar menamai", untuk malaikat yang dinamai dengan nama perempuan. Terjemahan "nenek moyang" dipakai seragam di tiga ayat yang memuat penamaan ini, 7:71, 12:40, dan 53:23.

Di seluruh Al-Qur'an, kata nama-nama dalam bentuk jamak ini hadir di delapan ayat. Di 2:31 Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam, dan di empat ayat, 7:180, 17:110, 20:8, dan 59:24, nama-nama itu milik Allah, seperti (وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, wa-li-llaahi l-asmaa'u l-husnaa) yang berarti "dan milik Allah nama-nama yang terbaik" di 7:180. Tiga ayat sisanya, 7:71, 12:40, dan 53:23, memuat nama-nama yang dinamai manusia sendiri. Kata yang sama menunjuk dua sumber yang berlawanan, nama yang datang dari Allah dan nama yang dibuat manusia untuk disembah di samping-Nya.

Kata (سُلْطَانٍ, sulthaanin) yang berarti "keterangan" hadir dalam bagian (بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ, bihaa min sulthaanin) yang berarti "untuknya keterangan apa pun". Dalam ketiga ayat penamaan tadi, kata ini menunjuk bukti yang memberi hak kepada sebuah klaim untuk dipegang, dan kalimat yang sama, tanpa keterangan dari Allah, menutup penamaan di 7:71 dan 12:40. Terjemahan "keterangan" dipakai seragam di ketiga ayat itu.

Bagian kedua ayat berganti pelaku. Kata kerja (يَتَّبِعُونَ, yattabi'uuna) yang berarti "mereka mengikuti" memakai kata ganti orang ketiga, padahal awal ayat berbicara kepada kalian. Ada dua yang mereka ikuti. Pertama, (الظَّنَّ, zh-zhanna) yang berarti "dugaan", dari akar ظ-ن-ن, dan susunan penyangkal yang sama diulang lima ayat kemudian di 53:28, dengan tambahan bahwa dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Kedua, (وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ, wa-maa tahwaa l-anfusu) yang berarti "dan apa yang diinginkan hawa nafsu". Kata kerja (تَهْوَى, tahwaa) berakar ه-و-ي, akar yang sama dengan (عَنِ الْهَوَىٰ, 'ani l-hawaa) di 53:3 yang berarti "dari hawa nafsu". Terjemahan menggabungkan kata kerja itu dengan (الْأَنْفُسُ, l-anfusu) yang berarti "jiwa-jiwa" menjadi "hawa nafsu", karena keinginan itu datang dari jiwa-jiwa itu sendiri. Akar ini hadir di empat ayat surah ini, 53:1, 53:3, 53:23, dan 53:53.

Ayat ini ditutup dengan (وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ, wa-la-qad jaa'ahum min rabbihimu l-hudaa) yang berarti "padahal, sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka". Penegas (وَلَقَدْ, wa-la-qad) yang berarti "dan sungguh" menyatakan bahwa kedatangan petunjuk itu sudah terjadi. Susunan pembuka ini, penegas yang disusul kata kerja datang dan kata ganti mereka, hadir di empat ayat, 16:113, 29:39, 53:23, dan 54:4. Di 16:113 yang datang seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, di 29:39 Musa dengan keterangan-keterangan yang nyata, dan di 54:4 sebagian berita yang di dalamnya terdapat pencegah. Di 53:23 yang datang disebut dengan satu kata, (الْهُدَىٰ, l-hudaa) yang berarti "petunjuk", dan asalnya Tuhan mereka sendiri.

Tafsiran

Ayat ini mencabut anggapan yang oleh 53:22 masih dipakai sebagai pijakan. Sesudah pembagian itu dinilai tidak adil menurut ukuran pembuatnya, ayat ini menyatakan bahwa yang dibagi pun tidak ada di luar penamaan. Al-Lata, al-Uzza, dan Manat tersisa sebagai nama, dan pertanyaan tentang bagian lelaki atau perempuan kehilangan pijakannya. Kontras dengan 2:31 memperjelas ukurannya. Di sana Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam, dan di sini manusia membuat nama lalu mewariskannya tanpa keterangan dari-Nya. Sumber sebuah nama menentukan apakah nama itu menunjuk sesuatu.

Kalimat yang hampir sama diucapkan di dua tempat lain. Hud berkata kepada kaumnya di 7:71, (أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ, a-tujaadiluunanii fii asmaa'in sammaytumuuhaa antum wa-aabaa'ukum) yang berarti "apakah kalian membantahku tentang nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian namakan", dan Yusuf berkata kepada dua penghuni penjara di 12:40 bahwa yang mereka sembah selain Allah tidak lain nama-nama yang mereka dan nenek moyang mereka namakan. Kaum Hud, dua penghuni penjara bersama Yusuf, dan orang-orang yang ditanya di 53:19-20 berasal dari kaum yang berbeda-beda, dan kekeliruan mereka berbentuk sama, nama yang diterima tanpa pernah ditanya dasarnya.

Pergantian kata ganti di tengah ayat juga bermakna. Bagian pertama berbicara kepada kalian, dan bagian kedua berbicara tentang mereka, seakan-akan orang yang tadi disapa langsung sekarang dilihat dari luar sebagai orang yang mengikuti dugaan dan keinginan jiwanya. Surah yang dibuka dengan kesaksian bahwa kawan itu tidak berbicara dari hawa nafsu (53:3) memperlihatkan lawannya di sini. Kalimat penutupnya memberatkan, sebab petunjuk dari Tuhan mereka sudah datang, sehingga pilihan mereka jatuh pada dugaan ketika petunjuk tersedia. Ayat-ayat sesudahnya, 53:28-30, melanjutkan penilaian ini dengan menyebut bahwa dugaan tidak mencukupkan terhadap kebenaran dan bahwa pengetahuan mereka berhenti pada kadar tertentu.

Renungan dan Hikmah

  • Sebuah nama bisa membuat sesuatu terasa ada. Begitu disebut berulang-ulang, dijunjung, dan diberi tempat, nama itu mulai diperlakukan seperti kenyataan yang berdiri sendiri. Ayat ini memisahkan keduanya dengan tegas, itu tidak lain nama-nama. Banyak hal dalam hidup sekarang bekerja dengan cara serupa, gelar, label, dan merek yang dipercaya karena namanya dikenal, walaupun isinya tidak pernah diperiksa. Di hadapan Allah, nama tanpa isi tidak membawa bobot apa pun, dan ayat ini mengajak kita memisahkan nama dari isinya sebelum menaruh kepercayaan.
  • Al-Qur'an menyebut dua jenis nama. Ada nama-nama terbaik milik Allah (7:180) yang dipakai untuk menyeru-Nya, dan ada nama-nama yang dibuat manusia tanpa keterangan dari-Nya. Keduanya bisa terdengar khidmat di telinga, dan bedanya terletak pada sumbernya. Orang yang berdoa bisa memeriksa diri, nama dan sebutan apa yang dia pakai ketika menyeru Tuhan, apakah berasal dari apa yang Dia perkenalkan tentang diri-Nya atau dari gambaran yang dibentuknya sendiri?
  • Ayat ini menyebut kalian lebih dahulu, baru nenek moyang kalian. Orang yang meneruskan sebuah penamaan ikut menjadi penamanya. Menunjuk generasi sebelumnya tidak membebaskan generasi yang sekarang memegang nama itu, sebab setiap kali nama itu disebut dan diikuti, penamaannya diperbarui oleh orang yang menyebutnya. Tanggung jawab itu tidak bisa diwariskan kepada orang yang sudah tiada, dan Allah menyapa orang yang masih hidup dengan kata ganti kalian.
  • Ukuran yang dipakai ayat ini untuk menilai nama-nama itu sederhana, adakah keterangan dari Allah tentangnya. Ukuran ini bisa dipakai untuk menimbang keyakinan apa pun yang kita pegang tentang Tuhan. Keyakinan yang terasa kuat, yang dibela banyak orang, atau yang sudah lama dipegang belum tentu punya keterangan. Bertanya dari mana keterangan sebuah keyakinan berasal tidak mengurangi iman, sebab Al-Qur'an sendiri memakai pertanyaan itu sebagai ukuran, dan orang yang berani bertanya lebih siap menerima jawaban ketika keterangan itu memang ada.
  • Dugaan dan keinginan disebut berdampingan dalam ayat ini, dan keduanya sering bekerja sama. Keinginan memilihkan dugaan mana yang enak dipercaya, lalu dugaan itu memberi keinginan alasan yang terdengar masuk akal. Orang yang berharap sesuatu benar cenderung menemukan tanda-tanda yang membenarkannya dan melewatkan tanda-tanda yang membantahnya. Ketika sebuah keyakinan terasa sangat menyenangkan, ayat ini mengajak memeriksa apakah dugaan kita sedang dipimpin oleh keinginan, jauh dari petunjuk yang datang dari Tuhan.
  • Ayat ini mula-mula berbicara kepada kalian, lalu beralih menyebut mereka. Dalam hidup, ada saatnya seseorang masih diajak bicara, dan ada saatnya dia tinggal dibicarakan. Selama sapaan masih ditujukan kepada kita, pintu untuk menjawab masih terbuka. Setiap kali ayat seperti ini dibaca dan menyentuh sesuatu dalam diri, Allah sedang menyapa, dan sapaan itu kesempatan yang sebaiknya tidak dibiarkan berlalu sampai kita tinggal disebut dari kejauhan.

Ayat 53:24

أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ

Ataukah manusia memperoleh apa yang ia angankan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ لِلْإِنْسَانِam li-l-insaaniataukah manusia memperoleh
  2. مَا تَمَنَّىٰmaa tamannaaapa yang ia angankan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَمْamatau
  2. لِلْإِنْسَانِli-l-insaanibagi manusia
  3. مَاmaaapa yang
  4. تَمَنَّىٰtamannaaia angankan

Inti bacaan

Menuliskan tiga harapan terbesar untuk tahun ini, lalu di samping masing-masing menuliskan satu langkah nyata yang bisa dikerjakan pekan ini untuk mendekatinya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa) yang berarti "ataukah manusia memperoleh apa yang diangankannya". Kata (أَمْ, am) yang berarti "ataukah" membuka pertanyaan baru yang menyambung pertanyaan di 53:21, dan jawabannya menyusul di ayat berikutnya. Kata (لِلْإِنْسَانِ, li-l-insaani) secara harfiah berarti "bagi manusia", dengan kata depan milik yang sama seperti bagi kalian dan bagi-Nya di 53:21. Terjemahan menjadikannya "manusia memperoleh" supaya kalimatnya wajar dalam bahasa Indonesia, dan pilihan yang sama dipakai di 53:39, sehingga kedua ayat itu tetap terbaca sejajar.

Sampai ayat sebelumnya, yang disapa kalian dan yang dibicarakan mereka. Di ayat ini yang disebut manusia, sehingga pertanyaannya melebar dari orang-orang yang menamai tiga nama itu kepada manusia pada umumnya. Dalam surah ini kata manusia muncul di dua ayat, di sini dan di 53:39, (وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ, wa-an laysa li-l-insaani illaa maa sa'aa) yang berarti "dan bahwa bagi manusia tidak ada selain apa yang diusahakannya". Kedua ayat memakai kata depan milik yang sama dan kata (مَا, maa) yang berarti "apa yang", lalu berbeda pada kata kerja di ujungnya, mengangankan di sini dan mengusahakan di sana.

Kata kerja (تَمَنَّىٰ, tamannaa) yang berarti "mengangankan" berasal dari akar م-ن-ي, yang di seluruh Al-Qur'an hadir di delapan belas ayat. Kata benda dari akar ini, angan-angan, dipakai di 2:111 untuk klaim bahwa tidak akan masuk taman kecuali orang Yahudi atau Nasrani, (تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ, tilka amaaniyyuhum) yang berarti "itu angan-angan mereka", lalu disusul tuntutan untuk menunjukkan dalil. Di 4:123 terdapat (لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ, laysa bi-amaaniyyikum) yang berarti "bukanlah menurut angan-angan kalian", dan di 57:14 angan-angan disebut memperdaya sampai datang ketetapan Allah. Di ketiga tempat itu angan berhadapan dengan sesuatu yang lebih kokoh, yaitu dalil, balasan atas perbuatan, dan ketetapan Allah.

Surah ini memakai akar yang sama sekali lagi di 53:46, (إِذَا تُمْنَىٰ, idzaa tumnaa) yang berarti "ketika dipancarkan", tentang nutfah yang menjadi awal penciptaan pasangan lelaki dan perempuan di 53:45. Pada 53:24 akar ini menunjuk apa yang dibayangkan manusia, dan pada 53:46 menunjuk awal penciptaan manusia itu sendiri.

Kata (مَا, maa) yang berarti "apa yang" membiarkan isi angan itu terbuka. Ayat ini tidak menyebut apa yang diangankan, sehingga pertanyaannya mencakup segala angan. Dua ayat kemudian, 53:26 berbicara tentang syafaat malaikat dan memberi gambaran tentang angan yang dekat dengan konteks ini.

Tafsiran

Ayat ini memperluas pertanyaan dari tiga nama kepada manusia. Di 53:23 disebut bahwa mereka mengikuti apa yang diinginkan jiwa, dan ayat ini menanyakan apakah keinginan itu akan terpenuhi semata karena diinginkan. Isi angan itu tidak dirinci. Letak ayatnya, di antara nama-nama yang disembah dan malaikat yang syafaatnya dibicarakan di 53:26, memberi gambaran tentang jenis harapan yang sedang ditanyakan, harapan akan pertolongan dari pihak selain Allah.

Pertanyaan ini dijawab bertahap. Jawaban pertama datang segera di 53:25, akhirat dan dunia milik Allah, sehingga apa pun yang diangankan berada di tangan pemiliknya. Jawaban kedua datang lebih jauh di 53:39, manusia memperoleh apa yang diusahakannya, dengan susunan kata yang nyaris sama sehingga angan dan usaha berdiri berhadapan. Di luar surah ini 4:123 menyatakan jawaban yang sama dengan terang, lalu menyambungnya dengan balasan bagi siapa yang berbuat keburukan dan tidak adanya pelindung selain Allah.

Dengan ayat ini arah surah berbelok. Sampai di sini yang dipersoalkan nama-nama dan pembagian, dan sesudah ini yang dipersoalkan harapan akan syafaat, malaikat yang dinamai perempuan, dan dugaan yang tidak mencukupkan (53:26-28). Pertanyaan tentang angan manusia menjadi jembatan di antara kedua bagian itu.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini memakai susunan yang hampir sama dua kali, bagi manusia apa yang diangankannya di 53:24 dan bagi manusia apa yang diusahakannya di 53:39. Kata kerja di ujung kedua ayat itu yang membedakan nasibnya. Angan berdiam di dalam kepala, sedangkan usaha bergerak lewat tangan dan kaki. Banyak orang menghabiskan tenaga untuk membayangkan hasil, dan sedikit yang tersisa untuk menempuh jalan menuju hasil itu. Allah menaruh kedua ayat ini dalam satu surah, dan pembacanya bisa menimbang bagian hidupnya lebih banyak diisi yang mana.
  • Di 2:111 sebuah klaim tentang siapa yang masuk taman disebut dengan jujur sebagai angan-angan mereka, lalu disusul tuntutan untuk menunjukkan dalil. Angan-angan sering tampil dengan pakaian keyakinan. Orang merasa yakin akan selamat, akan dimaafkan, atau akan didahulukan, padahal yang dipegangnya tidak lebih dari harapan. Ayat ini dan 2:111 memberi satu pertanyaan sederhana untuk membedakan keduanya, apa dalilnya dari Tuhan?
  • Pertanyaan ayat ini ditujukan kepada manusia, tidak lagi kepada pemuja tiga nama saja. Siapa pun bisa berdiri di tempat yang sama, termasuk orang yang merasa jauh dari penyembahan berhala. Apakah kita sedang menunggu sesuatu dari Allah yang tidak pernah Dia janjikan, sambil menyebutnya harapan yang wajar? Ayat ini tidak mengecam harapan. Ayat ini menanyakan apakah harapan dengan sendirinya berubah menjadi hak, dan jawabannya menuntut kejujuran yang tidak nyaman.
  • Di 57:14 orang-orang yang tertinggal di luar cahaya mendengar bahwa angan-angan telah memperdaya mereka sampai datang ketetapan Allah. Angan bekerja pelan dan menunda. Selalu ada esok untuk memperbaiki, selalu ada kesempatan lain, dan penundaan itu terasa aman sampai waktunya habis. Pertanyaan di 53:24 memotong penundaan itu dengan menanyakan hasilnya sekarang, dan menjawabnya sekarang lebih ringan daripada mendengar jawabannya ketika waktu untuk berubah sudah lewat.
  • Al-Qur'an tidak memadamkan harapan. Di 18:110 siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya diminta beramal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam penyembahan kepada-Nya. Harapan yang sehat mendorong orang bergerak ke arah yang diharapkannya, sedangkan angan yang dipertanyakan di 53:24 berhenti di tempat dan menunggu hasil tanpa menempuh jalan. Perbedaan keduanya bisa diperiksa dengan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri, apa yang sudah kukerjakan untuk sampai ke sana.
  • Ayat ini berupa pertanyaan, dan jawabannya menyusul di 53:25 dan 53:39. Jeda di antara pertanyaan dan jawaban memberi ruang bagi orang yang ditanya untuk menjawab lebih dulu dengan akalnya sendiri. Kebanyakan orang, bila jujur, sudah tahu jawabannya, bahwa manusia tidak memperoleh sesuatu semata karena mengangankannya. Pengetahuan itu sudah tertanam dalam diri, dan Allah membangunkannya dengan bertanya, tanpa memaksakan jawaban dari luar.

Ayat 53:25

فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ

Maka, milik Allahlah akhirat dan dunia.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰfa-li-llaahi l-aakhiratu wa-l-uulaamaka, milik Allahlah akhirat dan dunia

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَلِلَّهِfa-li-llaahimaka milik Allah
  2. الْآخِرَةُl-aakhiratuakhirat
  3. وَالْأُولَىٰwa-l-uulaadan dunia

Inti bacaan

Setiap pagi sebelum mulai bekerja, menyebut sesuatu yang dimiliki hari itu, misalnya waktu, tenaga, atau harta, sebagai titipan Allah, lalu memutuskan cara memakainya yang siap dipertanggungjawabkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ, fa-li-llaahi l-aakhiratu wa-l-uulaa) yang berarti "maka, milik Allahlah akhirat dan dunia". Kata (فَلِلَّهِ, fa-li-llaahi) yang berarti "maka milik Allah" diawali huruf penyambung yang menjadikan ayat ini jawaban atas pertanyaan di 53:24. Kata depan milik di dalamnya sudah muncul 4 kali dalam rangkaian 53:21-25, bagi kalian dan bagi-Nya di 53:21, bagi manusia di 53:24, dan bagi Allah di sini. Rangkaian yang mempersoalkan siapa memiliki apa ditutup dengan menyebut pemilik yang sesungguhnya. Milik Allah disebut lebih dahulu sebelum apa yang dimiliki, dan terjemahan memberi akhiran -lah untuk memperlihatkan penekanan itu, seperti di 53:31, (وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, wa-li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "dan milik Allahlah apa yang di langit dan apa yang di bumi".

Dua kata yang dimiliki, (الْآخِرَةُ, l-aakhiratu) yang berarti "akhirat" dan (وَالْأُولَىٰ, wa-l-uulaa) yang berarti "dan yang pertama", berasal dari akar أ-خ-ر dan أ-و-ل, dan keduanya berpasangan sebagai yang akhir dan yang pertama. Terjemahan memakai "dunia" untuk yang pertama karena pasangannya akhirat, dan pilihan itu mengikuti apa yang diperlihatkan surah ini sendiri. Di 53:50 kata yang sama menyifati kaum yang dibinasakan, (عَادًا الْأُولَىٰ, 'aadan al-uulaa) yang berarti "Ad yang terdahulu", dan di 53:56 menyifati para pemberi peringatan, (مِنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ, mina n-nudzuri l-uulaa) yang berarti "dari para pemberi peringatan yang terdahulu". Di kedua tempat itu kata ini menunjuk yang lebih dahulu dalam urutan waktu, dan di 53:25, berpasangan dengan akhirat, kata yang sama menunjuk kehidupan yang datang lebih dahulu.

Pasangan akhirat dan yang pertama hadir di lima ayat di seluruh Al-Qur'an, 28:70, 53:25, 79:25, 92:13, dan 93:4. Susunan yang nyaris sama dengan ayat ini ada di 92:13, (وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَىٰ, wa-inna lanaa la-l-aakhirata wa-l-uulaa) yang berarti "dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia", dengan kata depan milik yang sama dan urutan yang sama. Di 28:70 urutannya dibalik, (لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ, lahu l-hamdu fii l-uulaa wa-l-aakhirati) yang berarti "bagi-Nya segala puji di dunia dan di akhirat". Di 79:25 dan 93:4 terjemahan mempertahankan bentuk harfiah "yang pertama", sebab di dua ayat itu susunannya memberi ruang bagi makna urutan kejadian di samping makna dua kehidupan.

Surah ini juga memakai kata dunia dalam bentuknya sendiri di 53:29, (الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, l-hayaata d-dunyaa) yang berarti "kehidupan dunia", untuk orang yang tidak menghendaki apa pun selain kehidupan itu. Di 53:25 kehidupan yang sama disebut dari urutannya, yang pertama, sehingga sejak disebut pun kehidupan ini sudah dipasangkan dengan kehidupan yang datang sesudahnya.

Tafsiran

Ayat ini menjawab 53:24 dengan tiga kata. Manusia tidak memperoleh sesuatu semata karena mengangankannya, sebab akhirat dan dunia berada dalam milik Allah, dan apa pun yang diangankan, di kehidupan sekarang maupun sesudahnya, keputusannya ada pada pemilik kedua masa itu. Jawaban ini tidak membatalkan harapan. Jawaban ini memindahkan harapan dari angan kepada Dia yang memiliki apa yang diharapkan.

Ayat ini sekaligus menjadi engsel menuju 53:26-28. Kalau akhirat dan dunia milik Allah, syafaat malaikat di langit pun bergantung pada izin-Nya, sebagaimana dinyatakan 53:26, dan orang-orang yang menamai malaikat dengan nama perempuan disebut di 53:27 sebagai orang yang tidak beriman kepada akhirat. Akhirat yang dimiliki Allah di ayat ini menjadi ukuran untuk menilai mereka dua ayat kemudian.

Pola serupa tampak di surah Al-Lail. Di 92:12 Allah menyatakan (إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ, inna 'alaynaa la-l-hudaa) yang berarti "sesungguhnya atas Kamilah petunjuk itu", lalu 92:13 menyatakan kepemilikan atas akhirat dan dunia. Di surah ini 53:23 ditutup dengan petunjuk yang sudah datang dari Tuhan mereka, dan dua ayat kemudian 53:25 menyatakan kepemilikan yang sama. Petunjuk datang dari pemilik kedua masa itu, sehingga menolak petunjuk berarti menolak arahan dari pemilik tempat manusia akan kembali.

Renungan dan Hikmah

  • Kehidupan sekarang dan kehidupan sesudahnya sering diperlakukan seperti dua wilayah dengan dua penguasa. Di dunia orang merasa bebas mengatur segalanya, dan urusan akhirat diserahkan kepada Allah. Ayat ini menyatukan keduanya di bawah satu pemilik. Apa yang kita kira urusan pribadi di dunia berada dalam milik yang sama dengan akhirat yang kita serahkan kepada-Nya, dan kesadaran itu mengubah cara kita memegang apa pun yang sedang berada di tangan, dari rasa memiliki menjadi rasa dititipi.
  • Akhirat disebut lebih dahulu di ayat ini, meskipun manusia menjalani dunia lebih dahulu. Urutan itu mengajak melihat hidup dari ujungnya. Keputusan sehari-hari terasa berbeda bila ditimbang dari tempat kita akan sampai, tidak dari tempat kita sedang berdiri, dan surah ini menegaskan tempat itu di 53:42, kepada Tuhanmulah kesudahan. Orang yang terbiasa bertanya bagaimana sebuah pilihan akan terlihat di akhir cenderung lebih tenang ketika menghadapi tawaran yang menjanjikan hasil cepat.
  • Angan-angan manusia di 53:24 dijawab dengan pernyataan milik di 53:25. Mengangankan sesuatu tidak memindahkan kepemilikannya kepada yang mengangankan. Rezeki, kedudukan, dan keselamatan tetap milik Allah, dan manusia menerimanya ketika Dia memberikannya. Kesadaran ini membebaskan dari dua beban sekaligus, kecemasan karena merasa harus memiliki semua yang diinginkan, dan kesombongan ketika keinginan itu tercapai, sebab yang tercapai pun tetap milik-Nya.
  • Di 53:31 kepemilikan Allah atas langit dan bumi langsung disambung dengan tujuannya, agar Dia membalas orang yang berbuat jahat dan orang yang berbuat baik. Kepemilikan atas akhirat dan dunia di ayat ini pun membawa pertanggungjawaban, sebab pemilik berhak menanyakan apa yang dikerjakan di wilayah miliknya. Adakah bagian hidup kita yang kita jalani seakan-akan tidak akan pernah ditanyakan? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Pertanyaan ini mengembalikan setiap bagian hidup kepada pemiliknya, termasuk bagian yang jarang kita pikirkan.
  • Di 28:70 segala puji milik Allah di dunia dan di akhirat, dengan pasangan kata yang sama seperti ayat ini. Pemilik kedua masa juga pemilik pujian di keduanya. Orang mudah memuji Tuhan ketika urusannya lancar dan lupa ketika urusannya sempit, seakan-akan pujian bergantung pada keadaan. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa pujian mengikuti pemiliknya, dan pemiliknya tidak berganti ketika keadaan berganti, sehingga masa sempit pun tetap berada dalam milik yang sama.
  • Dunia di ayat ini disebut dengan sebutan yang berarti yang pertama. Dengan sebutan itu dunia diakui sebagai babak awal, penting karena datang lebih dahulu, dan belum final karena ada yang sesudahnya. Cara memandang ini menjaga keseimbangan. Orang yang meremehkan dunia lupa bahwa di babak awal inilah usaha ditanam, dan orang yang menggenggamnya erat lupa bahwa babak ini akan berakhir. Allah memiliki keduanya, dan manusia hidup di antara keduanya dengan sadar akan tempatnya berdiri sekarang.