فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ

Maka, milik Allahlah akhirat dan dunia.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰfa-li-llaahi l-aakhiratu wa-l-uulaamaka, milik Allahlah akhirat dan dunia

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَلِلَّهِfa-li-llaahimaka milik Allah
  2. الْآخِرَةُl-aakhiratuakhirat
  3. وَالْأُولَىٰwa-l-uulaadan dunia

Inti bacaan

Setiap pagi sebelum mulai bekerja, menyebut sesuatu yang dimiliki hari itu, misalnya waktu, tenaga, atau harta, sebagai titipan Allah, lalu memutuskan cara memakainya yang siap dipertanggungjawabkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ, fa-li-llaahi l-aakhiratu wa-l-uulaa) yang berarti "maka, milik Allahlah akhirat dan dunia". Kata (فَلِلَّهِ, fa-li-llaahi) yang berarti "maka milik Allah" diawali huruf penyambung yang menjadikan ayat ini jawaban atas pertanyaan di 53:24. Kata depan milik di dalamnya sudah muncul 4 kali dalam rangkaian 53:21-25, bagi kalian dan bagi-Nya di 53:21, bagi manusia di 53:24, dan bagi Allah di sini. Rangkaian yang mempersoalkan siapa memiliki apa ditutup dengan menyebut pemilik yang sesungguhnya. Milik Allah disebut lebih dahulu sebelum apa yang dimiliki, dan terjemahan memberi akhiran -lah untuk memperlihatkan penekanan itu, seperti di 53:31, (وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, wa-li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "dan milik Allahlah apa yang di langit dan apa yang di bumi".

Dua kata yang dimiliki, (الْآخِرَةُ, l-aakhiratu) yang berarti "akhirat" dan (وَالْأُولَىٰ, wa-l-uulaa) yang berarti "dan yang pertama", berasal dari akar أ-خ-ر dan أ-و-ل, dan keduanya berpasangan sebagai yang akhir dan yang pertama. Terjemahan memakai "dunia" untuk yang pertama karena pasangannya akhirat, dan pilihan itu mengikuti apa yang diperlihatkan surah ini sendiri. Di 53:50 kata yang sama menyifati kaum yang dibinasakan, (عَادًا الْأُولَىٰ, 'aadan al-uulaa) yang berarti "Ad yang terdahulu", dan di 53:56 menyifati para pemberi peringatan, (مِنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ, mina n-nudzuri l-uulaa) yang berarti "dari para pemberi peringatan yang terdahulu". Di kedua tempat itu kata ini menunjuk yang lebih dahulu dalam urutan waktu, dan di 53:25, berpasangan dengan akhirat, kata yang sama menunjuk kehidupan yang datang lebih dahulu.

Pasangan akhirat dan yang pertama hadir di lima ayat di seluruh Al-Qur'an, 28:70, 53:25, 79:25, 92:13, dan 93:4. Susunan yang nyaris sama dengan ayat ini ada di 92:13, (وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَىٰ, wa-inna lanaa la-l-aakhirata wa-l-uulaa) yang berarti "dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia", dengan kata depan milik yang sama dan urutan yang sama. Di 28:70 urutannya dibalik, (لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ, lahu l-hamdu fii l-uulaa wa-l-aakhirati) yang berarti "bagi-Nya segala puji di dunia dan di akhirat". Di 79:25 dan 93:4 terjemahan mempertahankan bentuk harfiah "yang pertama", sebab di dua ayat itu susunannya memberi ruang bagi makna urutan kejadian di samping makna dua kehidupan.

Surah ini juga memakai kata dunia dalam bentuknya sendiri di 53:29, (الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, l-hayaata d-dunyaa) yang berarti "kehidupan dunia", untuk orang yang tidak menghendaki apa pun selain kehidupan itu. Di 53:25 kehidupan yang sama disebut dari urutannya, yang pertama, sehingga sejak disebut pun kehidupan ini sudah dipasangkan dengan kehidupan yang datang sesudahnya.

Tafsiran

Ayat ini menjawab 53:24 dengan tiga kata. Manusia tidak memperoleh sesuatu semata karena mengangankannya, sebab akhirat dan dunia berada dalam milik Allah, dan apa pun yang diangankan, di kehidupan sekarang maupun sesudahnya, keputusannya ada pada pemilik kedua masa itu. Jawaban ini tidak membatalkan harapan. Jawaban ini memindahkan harapan dari angan kepada Dia yang memiliki apa yang diharapkan.

Ayat ini sekaligus menjadi engsel menuju 53:26-28. Kalau akhirat dan dunia milik Allah, syafaat malaikat di langit pun bergantung pada izin-Nya, sebagaimana dinyatakan 53:26, dan orang-orang yang menamai malaikat dengan nama perempuan disebut di 53:27 sebagai orang yang tidak beriman kepada akhirat. Akhirat yang dimiliki Allah di ayat ini menjadi ukuran untuk menilai mereka dua ayat kemudian.

Pola serupa tampak di surah Al-Lail. Di 92:12 Allah menyatakan (إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ, inna 'alaynaa la-l-hudaa) yang berarti "sesungguhnya atas Kamilah petunjuk itu", lalu 92:13 menyatakan kepemilikan atas akhirat dan dunia. Di surah ini 53:23 ditutup dengan petunjuk yang sudah datang dari Tuhan mereka, dan dua ayat kemudian 53:25 menyatakan kepemilikan yang sama. Petunjuk datang dari pemilik kedua masa itu, sehingga menolak petunjuk berarti menolak arahan dari pemilik tempat manusia akan kembali.

Renungan dan Hikmah

  • Kehidupan sekarang dan kehidupan sesudahnya sering diperlakukan seperti dua wilayah dengan dua penguasa. Di dunia orang merasa bebas mengatur segalanya, dan urusan akhirat diserahkan kepada Allah. Ayat ini menyatukan keduanya di bawah satu pemilik. Apa yang kita kira urusan pribadi di dunia berada dalam milik yang sama dengan akhirat yang kita serahkan kepada-Nya, dan kesadaran itu mengubah cara kita memegang apa pun yang sedang berada di tangan, dari rasa memiliki menjadi rasa dititipi.
  • Akhirat disebut lebih dahulu di ayat ini, meskipun manusia menjalani dunia lebih dahulu. Urutan itu mengajak melihat hidup dari ujungnya. Keputusan sehari-hari terasa berbeda bila ditimbang dari tempat kita akan sampai, tidak dari tempat kita sedang berdiri, dan surah ini menegaskan tempat itu di 53:42, kepada Tuhanmulah kesudahan. Orang yang terbiasa bertanya bagaimana sebuah pilihan akan terlihat di akhir cenderung lebih tenang ketika menghadapi tawaran yang menjanjikan hasil cepat.
  • Angan-angan manusia di 53:24 dijawab dengan pernyataan milik di 53:25. Mengangankan sesuatu tidak memindahkan kepemilikannya kepada yang mengangankan. Rezeki, kedudukan, dan keselamatan tetap milik Allah, dan manusia menerimanya ketika Dia memberikannya. Kesadaran ini membebaskan dari dua beban sekaligus, kecemasan karena merasa harus memiliki semua yang diinginkan, dan kesombongan ketika keinginan itu tercapai, sebab yang tercapai pun tetap milik-Nya.
  • Di 53:31 kepemilikan Allah atas langit dan bumi langsung disambung dengan tujuannya, agar Dia membalas orang yang berbuat jahat dan orang yang berbuat baik. Kepemilikan atas akhirat dan dunia di ayat ini pun membawa pertanggungjawaban, sebab pemilik berhak menanyakan apa yang dikerjakan di wilayah miliknya. Adakah bagian hidup kita yang kita jalani seakan-akan tidak akan pernah ditanyakan? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Pertanyaan ini mengembalikan setiap bagian hidup kepada pemiliknya, termasuk bagian yang jarang kita pikirkan.
  • Di 28:70 segala puji milik Allah di dunia dan di akhirat, dengan pasangan kata yang sama seperti ayat ini. Pemilik kedua masa juga pemilik pujian di keduanya. Orang mudah memuji Tuhan ketika urusannya lancar dan lupa ketika urusannya sempit, seakan-akan pujian bergantung pada keadaan. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa pujian mengikuti pemiliknya, dan pemiliknya tidak berganti ketika keadaan berganti, sehingga masa sempit pun tetap berada dalam milik yang sama.
  • Dunia di ayat ini disebut dengan sebutan yang berarti yang pertama. Dengan sebutan itu dunia diakui sebagai babak awal, penting karena datang lebih dahulu, dan belum final karena ada yang sesudahnya. Cara memandang ini menjaga keseimbangan. Orang yang meremehkan dunia lupa bahwa di babak awal inilah usaha ditanam, dan orang yang menggenggamnya erat lupa bahwa babak ini akan berakhir. Allah memiliki keduanya, dan manusia hidup di antara keduanya dengan sadar akan tempatnya berdiri sekarang.