وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ
Dan betapa banyak malaikat di langit yang syafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkan, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan ridai.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِwa-kam min malakin fii s-samaawaatidan betapa banyak malaikat di langit
- لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًاlaa tughnii syafaa'atuhum syay'ansyafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkan
- إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُillaa min ba'di an ya'dzana llaahukecuali setelah Allah mengizinkan
- لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰli-man yasyaa'u wa-yardhaabagi siapa yang Dia kehendaki dan ridai
Terjemahan per kata (18 kata)
- وَكَمْwa-kamdan betapa banyak
- مِنْmindari
- مَلَكٍmalakinmalaikat
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- لَاlaatidak
- تُغْنِيtughniimencukupkan
- شَفَاعَتُهُمْsyafaa'atuhumsyafaat mereka
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
- إِلَّاillaakecuali
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- أَنْanbahwa
- يَأْذَنَya'dzanamengizinkan
- اللَّهُllaahuAllah
- لِمَنْli-manbagi siapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَيَرْضَىٰwa-yardhaadan Dia meridai
Inti bacaan
Saat mengurus berkas atau permohonan, membaca syarat resminya hingga tuntas dan melengkapinya sendiri sebelum mencari kenalan yang bisa membantu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ, wa-kam min malakin fii s-samaawaati) yang berarti "dan betapa banyak malaikat di langit". Kata (وَكَمْ, wa-kam) yang berarti "dan betapa banyak" menyatakan jumlah yang besar tanpa menyebut bilangannya. Pembuka yang sama dipakai antara lain di 7:4, 17:17, dan 50:36 untuk negeri dan generasi yang dibinasakan, dan terjemahan ketiganya juga dimulai dengan "dan betapa banyak". Kata bendanya berbentuk tunggal, (مَلَكٍ, malakin) yang berarti "malaikat", sedangkan kata ganti yang merujuknya berbentuk jamak, (شَفَاعَتُهُمْ, syafaa'atuhum) yang berarti "syafaat mereka". Dengan susunan itu, yang dibicarakan mencakup banyak malaikat, masing-masing dengan syafaatnya.
Frasa (لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا, laa tughnii syafaa'atuhum syay'an) yang berarti "syafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkan" memuat tiga unsur. Kata kerja (تُغْنِي, tughnii) berasal dari akar غ-ن-ي, dan bentuk kerja akar ini diterjemahkan "mencukupkan" di sebagian besar kemunculannya. Kata syafaat berasal dari akar ش-ف-ع, yang di 89:3 memberi (وَالشَّفْعِ, wa-sy-syaf'i) yang berarti "dan yang genap". Kata (شَيْئًا, syay'an) yang berarti "sedikit pun" menutup kemungkinan bahwa syafaat itu mencukupkan sebagian. Dua ayat sesudahnya, 53:28 memakai akar dan kata penutup yang sama untuk dugaan, (لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا, laa yughnii mina l-haqqi syay'an) yang berarti "sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran".
Susunan yang dekat dengan frasa ini ada di 36:23. Di sana seseorang bertanya, pantaskah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, padahal syafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkannya bila Ar-Rahman menghendaki bencana atasnya. Di 36:23 yang ditolak syafaat sembahan, sedangkan di ayat ini syafaat para malaikat yang berada di langit.
Kekecualiannya berbunyi (إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ, illaa min ba'di an ya'dzana llaahu) yang berarti "kecuali setelah Allah mengizinkan". Kata (بَعْدِ, ba'di) yang berarti "setelah" menaruh izin lebih dulu dalam urutan, dan syafaat baru berguna sesudahnya. Rangkaian yang sama bersama kata izin ada di 10:3, (مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ, maa min syafii'in illaa min ba'di idznihi) yang berarti "tidak ada pemberi syafaat kecuali setelah izin-Nya", sedangkan 2:255 memakai (إِلَّا بِإِذْنِهِ, illaa bi-idznihi) yang berarti "kecuali dengan izin-Nya". Kata kerja (يَأْذَنَ, ya'dzana) yang berarti "mengizinkan" berasal dari akar أ-ذ-ن, dan pemberi izinnya disebut dengan nama, Allah.
Penutupnya berbunyi (لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ, li-man yasyaa'u wa-yardhaa) yang berarti "bagi siapa yang Dia kehendaki dan ridai". Dua kata kerja itu, (يَشَاءُ, yasyaa'u) dari akar ش-ي-أ dan (وَيَرْضَىٰ, wa-yardhaa) dari akar ر-ض-و, dihubungkan dengan huruf penghubung sehingga keduanya berlaku bersama. Izin dan rida juga berpasangan di 20:109, (إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا, illaa man adzina lahu r-rahmaanu wa-radhiya lahu qawlan) yang berarti "kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Ar-Rahman dan yang diridai perkataannya".
Teks ayat ini tidak memastikan apakah (لِمَنْ, li-man) yang berarti "bagi siapa" menunjuk malaikat yang memohonkan atau orang yang dimohonkan. Ayat 21:28 memakai susunan yang dekat untuk hamba-hamba yang dimuliakan, yang di 21:26 dituduh sebagai anak Ar-Rahman, (وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ, wa-laa yasyfa'uuna illaa li-mani rtadhaa) yang berarti "dan mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang Dia ridai". Di sana yang diridai orang yang dimohonkan. Kedua bacaan berujung pada keputusan yang sama, karena kehendak dan rida itu milik Allah dan tidak dimiliki malaikat.
Tafsiran
Ayat ini berpindah dari nama-nama buatan manusia ke makhluk yang benar-benar ada. Di 53:23 al-Lata, al-Uzza, dan Manat disebut nama-nama yang dinamakan manusia tanpa keterangan dari Allah. Di ayat ini yang dibicarakan para malaikat di langit, yang keberadaannya diakui Al-Qur'an. Pergeseran itu memperluas jangkauan bantahannya. Kalau makhluk yang berada di langit pun syafaatnya tidak mencukupkan kecuali setelah izin, harapan kepada nama-nama tanpa keterangan tidak punya pijakan sama sekali.
Susunannya menyambung dua ayat sebelumnya. Ayat 53:24 bertanya apakah manusia memperoleh apa yang diangankannya, dan 53:25 menjawab bahwa akhirat dan dunia milik Allah. Ayat ini menerapkan jawaban itu pada syafaat. Hal yang sama dinyatakan terang di 39:44, (قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا, qul li-llaahi sy-syafaa'atu jamii'an) yang berarti "katakanlah, milik Allahlah syafaat seluruhnya".
Ayat ini membantah anggapan bahwa ada perantara yang bisa bertindak atas kehendaknya sendiri. Syafaat tetap ada, tetapi tempatnya sesudah izin. Pemberi syafaat semulia apa pun tetap menunggu izin itu, dan izin itu mengikuti kehendak dan rida yang dimiliki Allah saja.
Ayat sesudahnya (53:27) langsung beralih ke apa yang diperbuat sebagian orang terhadap para malaikat itu, yaitu menamai mereka dengan nama perempuan. Urutan itu menaruh dua hal berdampingan, syafaat para malaikat yang dibatasi izin dan penamaan para malaikat yang tidak berdasar. Ayat 53:28 lalu menyebut dasar penamaan itu dugaan, sehingga ketiga ayat membentuk satu bantahan tentang cara berbicara mengenai para malaikat.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut betapa banyak malaikat, lalu menyatakan syafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkan. Jumlah yang besar tidak mengubah hasilnya. Dalam keseharian, orang sering mengumpulkan banyak surat rekomendasi, banyak nama pendukung, atau banyak kenalan di tempat yang tepat, dengan anggapan bahwa bobot permohonan bertambah seiring banyaknya pendukung. Ayat ini memperlihatkan ukuran lain. Bila keputusan ada pada satu pihak, jumlah pemohon tidak menggeser keputusan itu, dan tenaga yang habis untuk mengumpulkan dukungan bisa lebih berguna bila dipakai untuk memeriksa apakah yang dimohonkan memang layak.
- Urutan dalam ayat ini jelas, izin lebih dulu dan syafaat sesudahnya. Syafaat yang berguna tidak pernah mendahului izin. Urutan itu sering terbalik dalam kebiasaan kita. Kita mencari orang yang bisa membukakan pintu sebelum bertanya apakah pintu itu memang boleh dibuka. Kita sibuk menyiapkan siapa yang akan berbicara untuk kita, lalu baru belakangan memikirkan apakah yang kita minta pantas. Ayat ini menaruh pertanyaan tentang izin Allah di depan, sehingga pertanyaan tentang siapa yang memohonkan menjadi urusan kedua.
- Para malaikat disebut berada di langit, kedudukan yang tidak dimiliki makhluk mana pun di bumi. Kedudukan setinggi itu tetap tidak memberi mereka wewenang sendiri untuk mencukupkan syafaat. Bagi siapa saja yang memegang jabatan, gambaran ini menenangkan sekaligus menertibkan. Kewenangan yang kita pegang di kantor, di keluarga, atau di masyarakat datang bersama batasnya, dan batas itu tidak hilang karena kedudukan kita tinggi. Mengetahui batas sendiri membuat kita lebih jujur ketika orang lain datang meminta sesuatu yang berada di luar wewenang kita.
- Allah menyebut dua syarat berdampingan, yang Dia kehendaki dan yang Dia ridai. Sesuatu bisa terjadi karena dikehendaki, dan sesuatu bisa diterima karena diridai. Ayat ini meminta keduanya sekaligus. Pembedaan itu berguna ketika kita menilai perbuatan sendiri. Banyak hal yang kita jalani terjadi karena memang dibiarkan terjadi, tetapi terjadinya sesuatu belum berarti sesuatu itu diterima dengan rida. Pertanyaan yang lebih jujur tentang pekerjaan kita menyangkut dua hal, apakah pekerjaan itu berjalan dan apakah pekerjaan itu layak diridai.
- Ayat ini membuat sebuah pertanyaan sulit dihindari. Ketika kita berharap pada seseorang yang dekat dengan pengambil keputusan, kepada siapa sebenarnya harapan itu bersandar? Harapan kepada perantara mudah terasa lebih nyata daripada harapan kepada pengambil keputusan itu sendiri, karena perantara bisa dilihat, diajak bicara, dan dibalas budinya. Ayat ini mengembalikan pandangan ke pihak yang memberi izin. Harapan kepada perantara tidak dilarang di sini. Harapan itu ditempatkan di bawah izin Allah, dan kesadaran itu membuat kita tidak menggantungkan diri pada kedekatan dengan orang.
- Ayat ini tidak menyangkal adanya syafaat. Ayat ini menyebut syafaat yang berguna, yaitu syafaat yang datang setelah izin. Keseimbangan itu mudah hilang ke dua arah. Sebagian orang menggantungkan seluruh harapannya pada perantara, dan sebagian lain menolak segala bentuk perantaraan sebagai hal yang sia-sia. Ayat ini berdiri di tengah. Pertolongan dari sesama, doa orang lain, dan kebaikan yang dimohonkan untuk kita tetap bernilai, dengan catatan bahwa nilainya bersumber dari izin dan rida, tidak bersumber dari kedudukan yang memohonkan.