Ayat 53:27
إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِinna lladziina laa yu'minuuna bi-l-aakhiratisesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat
- لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰla-yusammuuna l-malaa'ikata tasmiyata l-untsaabenar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan
Terjemahan per kata (9 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَاlaatidak
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
- بِالْآخِرَةِbi-l-aakhiratidengan akhirat
- لَيُسَمُّونَla-yusammuunasungguh mereka menamai
- الْمَلَائِكَةَl-malaa'ikatapara malaikat
- تَسْمِيَةَtasmiyatapenamaan
- الْأُنْثَىٰl-untsaaperempuan
Inti bacaan
Menghapus dari percakapan grup keluarga sebutan merendahkan untuk golongan yang tidak dikenal secara langsung, lalu menyebut mereka dengan nama yang mereka pakai sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ, inna lladziina laa yu'minuuna bi-l-aakhirati) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat". Pelakunya dikenali lewat keadaan mereka, tanpa nama. Kata kerja (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna) yang berarti "beriman" berbentuk kerja yang menunjuk keadaan yang terus berjalan, dan kata sangkal di depannya meniadakan keadaan itu. Kata (بِالْآخِرَةِ, bi-l-aakhirati) yang berarti "kepada akhirat" memakai kata yang sama dengan 53:25, (فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ, fa-li-llaahi l-aakhiratu wa-l-uulaa) yang berarti "maka, milik Allahlah akhirat dan dunia". Dua ayat sebelumnya akhirat disebut milik Allah, dan di ayat ini sebagian orang disebut tidak beriman kepadanya.
Kata kerja utamanya (لَيُسَمُّونَ, la-yusammuuna) yang berarti "benar-benar menamai". Huruf penguat di depannya diterjemahkan "benar-benar". Kata kerja itu berasal dari akar س-م-و, akar yang sama dengan (أَسْمَاءٌ, asmaa'un) yang berarti "nama-nama" dan (سَمَّيْتُمُوهَا, sammaytumuuhaa) yang berarti "yang kalian namakan" di 53:23. Sesudah kata kerjanya, ayat ini menambahkan kata benda dari kata kerja yang sama, (تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ, tasmiyata l-untsaa) yang secara harfiah berarti "penamaan perempuan" dan diterjemahkan "dengan nama perempuan". Pengulangan kata kerja dengan kata bendanya sendiri menegaskan perbuatan menamai itu. Di 53:23 dan ayat ini, akar itu muncul empat kali, semuanya untuk nama dan perbuatan menamai.
Sasaran penamaan itu (الْمَلَائِكَةَ, l-malaa'ikata) yang berarti "para malaikat", bentuk jamak dari kata yang di 53:26 muncul tunggal. Kata (الْأُنْثَىٰ, l-untsaa) yang berarti "perempuan" sama dengan kata di 53:21, (وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, wa-lahu l-untsaa) yang berarti "sedangkan bagi-Nya yang perempuan". Kata yang sama menghubungkan kedua ayat. Di 53:21 bagian perempuan dinisbahkan kepada Allah, dan di ayat ini sebutan perempuan diberikan kepada para malaikat. Surah ini tidak menyatakan secara langsung bahwa al-Lata, al-Uzza, dan Manat (53:19-20) nama para malaikat itu, jadi hubungan keduanya cukup dibaca sejauh kata yang dipakai bersama.
Penamaan yang sama dibantah di tempat lain dengan pertanyaan tentang kesaksian. Ayat 43:19 berbunyi (وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا, wa-ja'aluu l-malaa'ikata lladziina hum 'ibaadu r-rahmaani inaatsan) yang berarti "dan mereka menjadikan malaikat, hamba-hamba Ar-Rahman itu, sebagai perempuan", lalu bertanya (أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ, a-syahiduu khalqahum) yang berarti "apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka?". Ayat 37:150 mengajukan pertanyaan serupa, apakah para malaikat diciptakan berupa perempuan sementara mereka menyaksikannya. Kedua tempat itu menilai penamaan dari sisi pengetahuan, dan 53:28 sesudah ayat ini berbuat serupa.
Tafsiran
Ayat ini menyebut sebab sebelum menyebut perbuatannya. Pembaca lebih dulu diberi tahu siapa yang berbicara, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, baru kemudian diberi tahu apa yang mereka ucapkan. Susunan itu mengikat penamaan para malaikat pada sikap terhadap hari kemudian.
Kaitan keduanya dijelaskan oleh 43:19. Setelah menyebut penamaan malaikat sebagai perempuan, ayat itu menutup dengan (سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ, sa-tuktabu syahaadatuhum wa-yus'aluuna) yang berarti "kesaksian mereka akan dituliskan dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban". Penamaan itu diperlakukan sebagai kesaksian, dan kesaksian itu akan ditanyakan. Orang yang tidak beriman kepada akhirat tidak memperhitungkan saat ditanya itu, sehingga lidahnya bebas memberi nama tanpa merasa perlu memiliki dasar. Ayat ini memperlihatkan bahwa cara orang berbicara tentang perkara gaib bergantung pada keyakinannya tentang pertanggungjawaban.
Ayat ini juga menyambung 53:26. Para malaikat yang syafaatnya dibatasi izin di ayat sebelumnya, di ayat ini menjadi sasaran penamaan. Menurut 43:19 mereka hamba-hamba Ar-Rahman, dan penamaan itu memperlakukan mereka menurut bayangan orang yang menamai. Ayat sesudahnya (53:28) menilai penamaan itu dengan ukuran pengetahuan, dan 53:29 memerintahkan untuk berpaling dari orang yang berpaling dari peringatan. Rangkaian 53:27-29 bergerak dari sebab, ke dasar, ke sikap.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengaitkan penamaan para malaikat dengan tidak berimannya orang kepada akhirat. Orang yang tidak merasa akan ditanya bebas memberi sebutan apa saja. Pola ini dikenal dalam keseharian. Sebutan yang kita berikan kepada rekan kerja, kepada tetangga, atau kepada kelompok yang tidak kita kenal sering lahir tanpa pemeriksaan, karena kita merasa sebutan itu tidak akan pernah ditagih. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap sebutan membawa beban. Sebutan yang keluar dari mulut kita tetap tercatat, meskipun orang yang disebut tidak pernah mendengarnya.
- Di 43:19 Allah menyebut penamaan semacam itu sebagai kesaksian yang akan dituliskan. Kata kesaksian mengubah cara memandang ucapan sehari-hari. Ketika kita menyebut seseorang malas, curang, atau tidak tahu diri, kita sebenarnya sedang bersaksi tentang orang itu. Kesaksian menuntut bahwa saksinya pernah melihat. Pertanyaan 43:19 tentang apakah mereka menyaksikan penciptaan para malaikat bisa diajukan pada setiap sebutan yang kita berikan, yaitu apakah kita pernah menyaksikan sendiri hal yang kita sebutkan.
- Berapa banyak sebutan yang kita pakai untuk perkara yang tidak pernah kita saksikan? Kabar tentang orang lain, cerita tentang kelompok lain, atau keyakinan tentang hal gaib sering kita terima lalu kita teruskan dengan kata-kata kita sendiri. Setelah beberapa kali diulang, sebutan itu terasa seperti pengetahuan. Ayat ini memperlihatkan bahwa penamaan yang diulang tetap penamaan. Pengulangan tidak mengubah dasarnya, dan dasar yang tidak ada tetap tidak ada meskipun sebutannya sudah akrab di telinga.
- Ayat ini menaruh keyakinan tentang akhirat di depan ucapan tentang malaikat. Keyakinan tentang akhir jarang terlihat dalam percakapan, tetapi keyakinan itu menentukan seberapa hati-hati orang berbicara. Orang yang yakin akan ditanya cenderung menimbang kata-katanya, sedangkan orang yang tidak yakin cenderung berbicara sesuka hati. Dengan cara ini, iman kepada akhirat hadir dalam hal yang tampak kecil, misalnya dalam keengganan kita menyebarkan sesuatu yang belum pasti, atau dalam kesediaan kita berkata tidak tahu.
- Kata kerja menamai dalam ayat ini menunjuk keadaan yang terus berjalan, dan kata bendanya diulang sesudahnya. Penamaan itu digambarkan sebagai kebiasaan yang mengakar, tidak sebagai ucapan sekali lepas. Kebiasaan menamai sesuatu tanpa dasar jarang terasa sebagai kesalahan karena sudah menjadi cara bicara. Istilah yang kita warisi dari lingkungan, julukan untuk kelompok tertentu, atau sebutan untuk perkara gaib bisa bertahan bertahun-tahun tanpa pernah diperiksa. Ayat ini mengajak melihat kebiasaan semacam itu sebagai sesuatu yang bisa, dan perlu, ditimbang ulang.
- Para malaikat yang dinamai dalam ayat ini disebut di 43:19 sebagai hamba-hamba Ar-Rahman. Penamaan yang tidak berdasar memperlakukan mereka menurut bayangan orang yang menamai, dan kedudukan mereka sebagai hamba-Nya tertutup oleh sebutan itu. Hal yang serupa terjadi ketika kita memberi sebutan kepada orang lain. Sebutan yang keliru bisa menutupi kedudukan sebenarnya dari orang yang disebut, dan orang itu dikenal orang lain lewat sebutan kita, tidak lewat dirinya sendiri. Kehati-hatian menyebut orang, dengan begitu, termasuk cara menjaga kehormatannya.
Ayat 53:28
وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍwa-maa lahum bihi min 'ilminpadahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya
- إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّin yattabi'uuna illaa zh-zhannamereka hanya mengikuti dugaan
- وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًاwa-inna zh-zhanna laa yughnii mina l-haqqi syay'andan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- لَهُمْlahumbagi mereka
- بِهِbihitentangnya
- مِنْmindari
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- إِنْintidaklah
- يَتَّبِعُونَyattabi'uunamereka mengikuti
- إِلَّاillaakecuali
- الظَّنَّzh-zhannadugaan
- وَإِنَّwa-innadan sungguh
- الظَّنَّzh-zhannadugaan
- لَاlaatidak
- يُغْنِيyughniimencukupkan
- مِنَminadari
- الْحَقِّl-haqqihak
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
Inti bacaan
Ketika menerima kabar yang hendak diteruskan, menanyakan sumbernya sampai ke orang yang benar-benar menyaksikan, dan berkata belum tahu bila rantainya putus.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini tersusun dari tiga kalimat pendek. Kalimat pertama, (وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bihi min 'ilmin) yang berarti "padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya", menyangkal pengetahuan mereka dengan dua lapis. Kata sangkal (وَمَا, wa-maa) meniadakan kepemilikan, dan (مِنْ, min) di depan kata benda tak tentu (عِلْمٍ, 'ilmin) yang berarti "pengetahuan" menjangkau sekecil apa pun pengetahuan itu, sehingga terjemahannya memuat "sedikit pun". Kata ganti (بِهِ, bihi) yang berarti "tentangnya" merujuk kembali pada penamaan para malaikat di 53:27.
Rangkaian yang sama muncul di empat tempat lain. Ayat 4:157 dan 18:5 memakai (مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, maa lahum bihi min 'ilmin) tanpa huruf penghubung, sedangkan 43:20 dan 45:24 memakai (بِذَٰلِكَ, bi-dzaalika) yang berarti "tentang itu" di tempat kata gantinya. Di keempat tempat itu, yang dinilai sebuah pernyataan tentang sesuatu yang tidak disaksikan pembicaranya. Ayat 4:157 menilai perselisihan tentang terbunuhnya Almasih, 18:5 menilai ucapan bahwa Allah mengambil seorang anak (18:4), 43:20 menilai ucapan mereka tentang penyembahan malaikat (43:19-20), dan 45:24 menilai anggapan bahwa tidak ada yang membinasakan manusia selain masa. Dua di antaranya, 18:5 dan 43:20, menyangkut perkara yang sama dengan surah ini, yaitu anak bagi Allah dan para malaikat.
Kalimat kedua, (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna) yang berarti "mereka hanya mengikuti dugaan", memakai susunan pembatas (إِنْ, in) dan (إِلَّا, illaa) yang menyisakan dugaan sebagai pegangan mereka. Kalimat yang sama muncul di 53:23, 6:116, dan 10:66, dan dengan kata ganti kalian di 6:148. Kata (الظَّنَّ, zh-zhanna) yang berarti "dugaan" berasal dari akar ظ-ن-ن. Di semua tempat yang memakai susunan mengikuti dugaan ini, termasuk 4:157 dan 10:36, kata itu diterjemahkan "dugaan". Kata kerja dari akar lain, خ-ر-ص, menyertainya di 6:116, 6:148, dan 10:66, dan muncul sendirian di 43:20. Kata kerja itu diterjemahkan "mengira-ngira", supaya kedua akar tetap terbedakan dalam terjemahan.
Kalimat ketiga, (وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا, wa-inna zh-zhanna laa yughnii mina l-haqqi syay'an) yang berarti "dan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran", terulang kata demi kata di 10:36 tanpa huruf penghubung di depannya. Kata (الْحَقِّ, l-haqqi) yang berarti "kebenaran" berasal dari akar ح-ق-ق. Kata kerja (يُغْنِي, yughnii) berasal dari akar غ-ن-ي yang dua ayat sebelumnya dipakai untuk syafaat para malaikat, (لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا, laa tughnii syafaa'atuhum syay'an) yang berarti "syafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkan". Kedua ayat ditutup dengan (شَيْئًا, syay'an) yang berarti "sedikit pun". Dalam jarak dua ayat, syafaat yang tidak berizin dan dugaan yang tidak berpengetahuan diukur dengan kata kerja yang sama dan sama-sama dinilai tidak mencukupkan.
Tafsiran
Ayat ini bergerak dari yang khusus ke yang umum dalam tiga langkah. Mula-mula keadaan mereka, yaitu tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Lalu apa yang mereka pegang sebagai gantinya, yaitu dugaan. Lalu ukurannya, dan kalimat ukuran itu tidak lagi berbicara tentang mereka. Kalimat terakhir berbicara tentang dugaan pada umumnya, sehingga pembaca yang mengikuti tiga langkah itu berpindah dari menilai orang lain ke berdiri di dalam jangkauan kalimat yang sama.
Ukurannya tidak dilunakkan untuk perkara gaib. Penamaan para malaikat menyangkut sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan pengamatan, dan orang mudah merasa leluasa menduga tentang hal yang tidak bisa dibuktikan siapa pun. Ayat ini membalik anggapan itu. Ketidakmungkinan memeriksa dijadikan alasan untuk berhenti berbicara, sampai keterangan datang dari pihak yang mengetahui. Ayat 53:23 sudah menyebut keterangan itu, petunjuk dari Tuhan mereka yang telah datang kepada mereka.
Al-Qur'an membedakan dugaan dari kebohongan. Ayat 18:5, yang juga menilai ucapan tentang anak bagi Allah, ditutup dengan (إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا, in yaquuluuna illaa kadziban) yang berarti "mereka hanya mengatakan kebohongan", sedangkan ayat ini ditutup dengan dugaan. Dugaan bisa dipegang dengan tulus, dan ayat ini tidak menuduh pemegangnya berdusta. Penilaiannya tetap tegas karena ukurannya diletakkan pada hasil, yaitu apakah dugaan itu mencukupkan terhadap kebenaran, tanpa bergantung pada ketulusan pemegangnya.
Ukuran yang sama dipakai di 10:36 untuk kebanyakan orang yang mengikuti dugaan. Dua tempat itu membahas dua pokok yang berbeda, dan hasilnya sama di keduanya, karena kalimat ukurannya sama kata demi kata. Pengulangan itu memperlihatkan bahwa penilaian terhadap dugaan berlaku sebagai kaidah yang dipakai berulang, tidak terikat pada satu peristiwa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang penamaan itu, padahal mereka membicarakannya dengan yakin. Keyakinan dan pengetahuan ternyata bisa terpisah jauh. Perkara yang dibicarakan di sini tidak bisa dijangkau tanpa kabar dari Allah, yaitu keadaan para malaikat. Untuk perkara seperti itu, tidak mengetahui tidak bisa diperbaiki dengan belajar lebih rajin atau berpikir lebih keras. Keadaan itu tetap sampai ada yang memberitahukan, dan kesadaran tentang batas ini membuat kita lebih hemat berbicara tentang hal-hal yang memang tidak pernah sampai kepada kita.
- Ayat ini menyebut pegangan mereka dugaan, dan pilihan kata itu penting. Dugaan berbeda dari kebohongan, sebab dugaan bisa dipegang dengan jujur dan diwariskan dengan tulus. Pembedaan itu menutup pembelaan yang sering dipakai orang, yaitu bahwa mereka tidak berdusta. Pembelaan itu benar, dan ayat ini memang tidak menuduh mereka berdusta. Ayat ini menolak menjadikan dugaan sebagai dasar untuk berbicara tentang Allah dan makhluk-Nya, betapa pun tulus pemegangnya. Ketulusan membuat seseorang layak dihormati, tetapi ketulusan tidak mengubah dugaan menjadi pengetahuan.
- Kalimat penutupnya menyebut dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Kata sedikit pun menutup jalan tengah yang sering diambil, yaitu menganggap dugaan yang kuat lebih baik daripada tidak ada apa-apa. Dalam perkara yang bisa diperiksa, dugaan yang kuat memang berguna sebagai titik awal pemeriksaan. Dalam perkara yang dibicarakan ayat ini, dugaan tidak punya jalan menuju kebenaran, sehingga nilainya sebagai dasar tidak bertambah seberapa pun kuatnya. Ukuran ini mengajarkan untuk membedakan dugaan yang masih bisa diperiksa dari dugaan yang tidak akan pernah bisa diperiksa.
- Kalau dugaan bisa dipegang dengan jujur dan diwariskan dengan tulus, bagaimana kita membedakan yang kita ketahui dari yang kita duga? Cara yang sederhana dimulai dengan bertanya dari mana kita mengetahuinya. Pertanyaan itu lalu diajukan sekali lagi pada jawabannya sendiri, apakah sumber itu sesuatu yang kita ketahui atau sesuatu yang kita dengar dari orang yang juga tidak tahu. Rantai pertanyaan ini sering berhenti lebih cepat daripada yang kita kira, dan titik berhentinya memperlihatkan batas antara pengetahuan dan dugaan kita.
- Kalimat terakhir ayat ini tidak lagi berbicara tentang mereka. Kalimat itu berbicara tentang dugaan pada umumnya, sehingga ukuran yang dipakai untuk menilai orang-orang yang menamai malaikat berlaku juga bagi siapa pun yang membacanya. Membaca ayat ini dengan jujur berarti memakai ukuran yang sama pada keyakinan sendiri, termasuk keyakinan tentang Allah yang sudah terasa pasti karena sering diulang di sekitar kita. Ukuran itu tidak memihak, dan kekuatannya terletak pada ketidakberpihakannya.
- Ayat ini tidak menyuruh mereka menduga dengan lebih hati-hati, dan tidak menyediakan jawaban pengganti di kalimat yang sama. Sikap yang tersisa berhenti pada tidak tahu. Berhenti pada tidak tahu sering terasa seperti kekalahan, padahal sikap itu jujur ketika bahannya memang tidak ada. Sikap itu juga punya akibat yang menenangkan. Orang yang berani berkata tidak tahu pada perkara yang memang tidak diketahuinya lebih bisa dipercaya pada perkara yang dikatakannya tahu. Kejujuran di satu sisi menjadi jaminan bagi sisi yang lain.
Ayat 53:29
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Maka, berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَاfa-a'ridh 'an man tawallaa 'an dzikrinaamaka, berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami
- وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَاwa-lam yurid illaa l-hayaata d-dunyaadan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia
Terjemahan per kata (11 kata)
- فَأَعْرِضْfa-a'ridhmaka berpalinglah
- عَنْ'andari
- مَنْmanorang yang
- تَوَلَّىٰtawallaaberpaling
- عَنْ'andari
- ذِكْرِنَاdzikrinaaperingatan Kami
- وَلَمْwa-lamdan tidak
- يُرِدْyuridmenghendaki
- إِلَّاillaakecuali
- الْحَيَاةَl-hayaatakehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
Inti bacaan
Menetapkan batas ajakan, misalnya dua kali, ketika mengajak teman meninggalkan kebiasaan buruk, sesudah itu cukup mendoakannya dan tetap memberi salam seperti biasa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan perintah (فَأَعْرِضْ, fa-a'ridh) yang berarti "maka, berpalinglah". Awalan pada kata itu, yang diterjemahkan "maka", menjadikan perintah ini akibat dari ayat-ayat sebelumnya. Kata kerja perintah itu berasal dari akar ع-ر-ض dan berbentuk tunggal, sehingga ditujukan kepada satu orang yang disapa. Perintah yang sama, lengkap dengan awalannya, muncul juga di 4:63, 4:81, 6:68, dan 32:30. Di 4:63 perintah itu bergandeng dengan perintah lain, (فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ, fa-a'ridh 'anhum wa-'izhhum) yang berarti "berpalinglah dari mereka, nasihatilah mereka". Berpaling dalam perintah-perintah ini, dengan begitu, tidak berarti berhenti menyampaikan.
Sasaran berpaling disebut (عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا, 'an man tawallaa 'an dzikrinaa) yang berarti "dari orang yang berpaling dari peringatan Kami". Kata kerja (تَوَلَّىٰ, tawallaa) berasal dari akar lain, و-ل-ي, yang dalam bentuk ini menggambarkan memunggungi sesuatu yang sudah datang kepadanya. Bahasa Indonesia memakai kata berpaling untuk keduanya, sedangkan teks Arabnya memakai dua akar. Ayat ini karena itu tidak mengulang kata yang sama. Perintah kepada yang disapa memakai ع-ر-ض, dan perbuatan orang yang ditinggalkan memakai و-ل-ي.
Kata (ذِكْرِنَا, dzikrinaa) yang berarti "peringatan Kami" berasal dari akar ذ-ك-ر. Berpaling dari peringatan disebut dengan terjemahan yang sama di 20:124, (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي, wa-man a'radha 'an dzikrii) yang berarti "dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku", dan di 72:17. Di 20:124 orang yang berpaling dari peringatan digambarkan dengan akar ع-ر-ض, akar yang di ayat ini dipakai untuk perintah kepada yang disapa. Akar yang sama bisa tercela atau terpuji, bergantung pada apa yang dipunggungi.
Sifat kedua orang itu berbunyi (وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, wa-lam yurid illaa l-hayaata d-dunyaa) yang berarti "dan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia". Kata kerja (يُرِدْ, yurid) berasal dari akar ر-و-د dan didahului kata sangkal (وَلَمْ, wa-lam) yang meniadakan kehendak itu pada masa yang sudah berjalan. Susunan sangkal dan kecuali membatasi kehendaknya pada kehidupan dunia. Kata (الدُّنْيَا, d-dunyaa) yang berarti "dunia" berasal dari akar د-ن-و, akar yang sama dengan (دَنَا, danaa) yang berarti "mendekat" di 53:8. Empat ayat sebelumnya, 53:25 menyebut dunia dengan kata lain, (وَالْأُولَىٰ, wa-l-uulaa) yang secara harfiah berarti "dan yang pertama" dan diterjemahkan "dunia" karena berpasangan dengan akhirat. Surah ini dengan begitu memakai dua kata untuk dunia dalam lima ayat.
Tafsiran
Ayat ini mengubah arah pembicaraan. Sejak 53:19, ayat-ayat surah ini berbicara tentang nama-nama, pembagian, syafaat, dan penamaan para malaikat, dan semuanya berupa bantahan. Di ayat ini bantahan itu berhenti dan diganti sebuah perintah kepada orang yang disapa, yaitu berpaling dari orang yang sudah berpaling. Awalan pada perintah itu menjadikannya akibat dari semua yang sudah dibantah. Setelah keterangan diberikan dan dugaan dinilai, sikap terhadap orang yang memunggungi peringatan menjadi soal berikutnya.
Urutannya patut dicermati. Mereka berpaling lebih dulu, dan perintah berpaling datang sesudahnya sebagai tanggapan. Ayat ini tidak memerintahkan meninggalkan orang yang belum mendengar. Sasaran perintahnya orang yang sudah menerima peringatan lalu memunggunginya, dan yang kehendaknya berhenti pada kehidupan dunia. Kedua sifat itu disebut berdampingan, sehingga berpaling dari peringatan terbaca sebagai akibat dari kehendak yang sudah dipersempit.
Tempat-tempat lain memperlihatkan bentuk berpaling yang dimaksud. Di 4:63 perintah berpaling bergandeng dengan perintah menasihati dan mengatakan perkataan yang membekas pada jiwa mereka. Di 32:30 perintah itu bergandeng dengan perintah menunggu. Berpaling di sini berarti berhenti mengejar mereka, sambil tetap membiarkan peringatan tersedia bagi siapa pun yang kembali. Ayat sesudahnya (53:30) memberi alasan terakhir, yaitu jangkauan pengetahuan mereka memang berhenti di situ, dan penilaian tentang siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk dikembalikan kepada Allah.
Renungan dan Hikmah
- Perintah dalam ayat ini melepaskan beban yang sering dipikul orang yang peduli. Tidak semua orang harus dikejar sampai berubah. Orang yang sudah mendengar lalu memunggungi, dan yang kehendaknya tidak melampaui kehidupan dunia, tidak menjadi tanggungan yang harus diselesaikan dengan paksaan. Dalam keluarga atau di tempat kerja, kita kadang menghabiskan tenaga untuk meyakinkan orang yang sudah menutup diri, lalu kehabisan tenaga untuk orang yang masih mau mendengar. Ayat ini memberi izin untuk berhenti mengejar tanpa merasa gagal.
- Di 4:63, Allah menggandengkan perintah berpaling dengan perintah menasihati. Berpaling dalam Al-Qur'an tidak selalu berarti memutus hubungan. Sikap ini sulit dijaga, karena kita cenderung memilih salah satu dari dua ujung, terus membujuk atau memutus sama sekali. Ayat-ayat itu memperlihatkan jalan ketiga, yaitu berhenti mengejar sambil tetap menyediakan kata yang baik ketika ada kesempatan. Orang yang kita tinggalkan dengan cara seperti itu masih bisa kembali tanpa harus melewati tembok permusuhan yang kita bangun sendiri.
- Ayat ini menyebut dua perbuatan berpaling dengan dua akar yang berbeda. Orang-orang itu berpaling lebih dulu dari peringatan, dan perintah kepada yang disapa datang sebagai tanggapan. Urutan ini penting ketika kita menimbang sikap sendiri terhadap orang lain. Menjauh dari seseorang yang belum pernah mendengar penjelasan kita berbeda dengan menjauh dari seseorang yang sudah mendengar lalu memunggunginya. Sebelum mengambil jarak, pertanyaan yang jujur menyangkut apa yang sudah kita sampaikan, dan apakah penyampaian itu sudah cukup jelas.
- Allah menyebut orang itu tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia. Kehendak yang dibatasi seperti itu tidak selalu tampak sebagai keserakahan. Kehendak itu bisa tampak sebagai kesibukan yang wajar, target kerja, cicilan, dan rencana lima tahun yang semuanya berhenti di dalam hidup ini. Pertanyaan yang ditinggalkan ayat ini sederhana, tetapi berat. Dari semua yang kita kehendaki dalam sepekan terakhir, adakah yang melampaui kehidupan dunia?
- Kata dunia dalam ayat ini berasal dari akar yang sama dengan mendekat di 53:8. Dari akarnya, kehidupan dunia terbaca sebagai kehidupan yang dekat, yang ada di depan mata dan bisa diraih sekarang. Kedekatan itu membuat dunia mudah memenuhi seluruh pandangan. Hal yang jauh, seperti akhirat, perlu diingatkan karena tidak terlihat dari tempat kita berdiri. Dari sini tampak mengapa ayat ini menyandingkan berpaling dari peringatan dengan kehendak yang berhenti di dunia. Peringatan menunjuk yang jauh, dan orang yang pandangannya penuh oleh yang dekat tidak lagi melihat perlunya diingatkan.
- Peringatan dalam ayat ini disebut milik Kami, jadi yang dipunggungi orang-orang itu peringatan dari Allah sendiri. Menghindari peringatan jarang terjadi dengan penolakan terbuka. Lebih sering kita menghindarinya dengan cara halus, menunda membaca, mengalihkan pembicaraan, atau menyibukkan diri dengan hal lain setiap kali pengingat datang. Ayat ini menamai sikap itu berpaling, betapa pun halus caranya. Mengenali cara-cara halus itu dalam diri sendiri sudah menjadi awal untuk tidak termasuk orang yang disebut ayat ini.