إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِinna lladziina laa yu'minuuna bi-l-aakhiratisesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat
  2. لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰla-yusammuuna l-malaa'ikata tasmiyata l-untsaabenar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. لَاlaatidak
  4. يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
  5. بِالْآخِرَةِbi-l-aakhiratidengan akhirat
  6. لَيُسَمُّونَla-yusammuunasungguh mereka menamai
  7. الْمَلَائِكَةَl-malaa'ikatapara malaikat
  8. تَسْمِيَةَtasmiyatapenamaan
  9. الْأُنْثَىٰl-untsaaperempuan

Inti bacaan

Menghapus dari percakapan grup keluarga sebutan merendahkan untuk golongan yang tidak dikenal secara langsung, lalu menyebut mereka dengan nama yang mereka pakai sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ, inna lladziina laa yu'minuuna bi-l-aakhirati) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat". Pelakunya dikenali lewat keadaan mereka, tanpa nama. Kata kerja (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna) yang berarti "beriman" berbentuk kerja yang menunjuk keadaan yang terus berjalan, dan kata sangkal di depannya meniadakan keadaan itu. Kata (بِالْآخِرَةِ, bi-l-aakhirati) yang berarti "kepada akhirat" memakai kata yang sama dengan 53:25, (فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ, fa-li-llaahi l-aakhiratu wa-l-uulaa) yang berarti "maka, milik Allahlah akhirat dan dunia". Dua ayat sebelumnya akhirat disebut milik Allah, dan di ayat ini sebagian orang disebut tidak beriman kepadanya.

Kata kerja utamanya (لَيُسَمُّونَ, la-yusammuuna) yang berarti "benar-benar menamai". Huruf penguat di depannya diterjemahkan "benar-benar". Kata kerja itu berasal dari akar س-م-و, akar yang sama dengan (أَسْمَاءٌ, asmaa'un) yang berarti "nama-nama" dan (سَمَّيْتُمُوهَا, sammaytumuuhaa) yang berarti "yang kalian namakan" di 53:23. Sesudah kata kerjanya, ayat ini menambahkan kata benda dari kata kerja yang sama, (تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ, tasmiyata l-untsaa) yang secara harfiah berarti "penamaan perempuan" dan diterjemahkan "dengan nama perempuan". Pengulangan kata kerja dengan kata bendanya sendiri menegaskan perbuatan menamai itu. Di 53:23 dan ayat ini, akar itu muncul empat kali, semuanya untuk nama dan perbuatan menamai.

Sasaran penamaan itu (الْمَلَائِكَةَ, l-malaa'ikata) yang berarti "para malaikat", bentuk jamak dari kata yang di 53:26 muncul tunggal. Kata (الْأُنْثَىٰ, l-untsaa) yang berarti "perempuan" sama dengan kata di 53:21, (وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, wa-lahu l-untsaa) yang berarti "sedangkan bagi-Nya yang perempuan". Kata yang sama menghubungkan kedua ayat. Di 53:21 bagian perempuan dinisbahkan kepada Allah, dan di ayat ini sebutan perempuan diberikan kepada para malaikat. Surah ini tidak menyatakan secara langsung bahwa al-Lata, al-Uzza, dan Manat (53:19-20) nama para malaikat itu, jadi hubungan keduanya cukup dibaca sejauh kata yang dipakai bersama.

Penamaan yang sama dibantah di tempat lain dengan pertanyaan tentang kesaksian. Ayat 43:19 berbunyi (وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ إِنَاثًا, wa-ja'aluu l-malaa'ikata lladziina hum 'ibaadu r-rahmaani inaatsan) yang berarti "dan mereka menjadikan malaikat, hamba-hamba Ar-Rahman itu, sebagai perempuan", lalu bertanya (أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ, a-syahiduu khalqahum) yang berarti "apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka?". Ayat 37:150 mengajukan pertanyaan serupa, apakah para malaikat diciptakan berupa perempuan sementara mereka menyaksikannya. Kedua tempat itu menilai penamaan dari sisi pengetahuan, dan 53:28 sesudah ayat ini berbuat serupa.

Tafsiran

Ayat ini menyebut sebab sebelum menyebut perbuatannya. Pembaca lebih dulu diberi tahu siapa yang berbicara, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, baru kemudian diberi tahu apa yang mereka ucapkan. Susunan itu mengikat penamaan para malaikat pada sikap terhadap hari kemudian.

Kaitan keduanya dijelaskan oleh 43:19. Setelah menyebut penamaan malaikat sebagai perempuan, ayat itu menutup dengan (سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ, sa-tuktabu syahaadatuhum wa-yus'aluuna) yang berarti "kesaksian mereka akan dituliskan dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban". Penamaan itu diperlakukan sebagai kesaksian, dan kesaksian itu akan ditanyakan. Orang yang tidak beriman kepada akhirat tidak memperhitungkan saat ditanya itu, sehingga lidahnya bebas memberi nama tanpa merasa perlu memiliki dasar. Ayat ini memperlihatkan bahwa cara orang berbicara tentang perkara gaib bergantung pada keyakinannya tentang pertanggungjawaban.

Ayat ini juga menyambung 53:26. Para malaikat yang syafaatnya dibatasi izin di ayat sebelumnya, di ayat ini menjadi sasaran penamaan. Menurut 43:19 mereka hamba-hamba Ar-Rahman, dan penamaan itu memperlakukan mereka menurut bayangan orang yang menamai. Ayat sesudahnya (53:28) menilai penamaan itu dengan ukuran pengetahuan, dan 53:29 memerintahkan untuk berpaling dari orang yang berpaling dari peringatan. Rangkaian 53:27-29 bergerak dari sebab, ke dasar, ke sikap.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengaitkan penamaan para malaikat dengan tidak berimannya orang kepada akhirat. Orang yang tidak merasa akan ditanya bebas memberi sebutan apa saja. Pola ini dikenal dalam keseharian. Sebutan yang kita berikan kepada rekan kerja, kepada tetangga, atau kepada kelompok yang tidak kita kenal sering lahir tanpa pemeriksaan, karena kita merasa sebutan itu tidak akan pernah ditagih. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap sebutan membawa beban. Sebutan yang keluar dari mulut kita tetap tercatat, meskipun orang yang disebut tidak pernah mendengarnya.
  • Di 43:19 Allah menyebut penamaan semacam itu sebagai kesaksian yang akan dituliskan. Kata kesaksian mengubah cara memandang ucapan sehari-hari. Ketika kita menyebut seseorang malas, curang, atau tidak tahu diri, kita sebenarnya sedang bersaksi tentang orang itu. Kesaksian menuntut bahwa saksinya pernah melihat. Pertanyaan 43:19 tentang apakah mereka menyaksikan penciptaan para malaikat bisa diajukan pada setiap sebutan yang kita berikan, yaitu apakah kita pernah menyaksikan sendiri hal yang kita sebutkan.
  • Berapa banyak sebutan yang kita pakai untuk perkara yang tidak pernah kita saksikan? Kabar tentang orang lain, cerita tentang kelompok lain, atau keyakinan tentang hal gaib sering kita terima lalu kita teruskan dengan kata-kata kita sendiri. Setelah beberapa kali diulang, sebutan itu terasa seperti pengetahuan. Ayat ini memperlihatkan bahwa penamaan yang diulang tetap penamaan. Pengulangan tidak mengubah dasarnya, dan dasar yang tidak ada tetap tidak ada meskipun sebutannya sudah akrab di telinga.
  • Ayat ini menaruh keyakinan tentang akhirat di depan ucapan tentang malaikat. Keyakinan tentang akhir jarang terlihat dalam percakapan, tetapi keyakinan itu menentukan seberapa hati-hati orang berbicara. Orang yang yakin akan ditanya cenderung menimbang kata-katanya, sedangkan orang yang tidak yakin cenderung berbicara sesuka hati. Dengan cara ini, iman kepada akhirat hadir dalam hal yang tampak kecil, misalnya dalam keengganan kita menyebarkan sesuatu yang belum pasti, atau dalam kesediaan kita berkata tidak tahu.
  • Kata kerja menamai dalam ayat ini menunjuk keadaan yang terus berjalan, dan kata bendanya diulang sesudahnya. Penamaan itu digambarkan sebagai kebiasaan yang mengakar, tidak sebagai ucapan sekali lepas. Kebiasaan menamai sesuatu tanpa dasar jarang terasa sebagai kesalahan karena sudah menjadi cara bicara. Istilah yang kita warisi dari lingkungan, julukan untuk kelompok tertentu, atau sebutan untuk perkara gaib bisa bertahan bertahun-tahun tanpa pernah diperiksa. Ayat ini mengajak melihat kebiasaan semacam itu sebagai sesuatu yang bisa, dan perlu, ditimbang ulang.
  • Para malaikat yang dinamai dalam ayat ini disebut di 43:19 sebagai hamba-hamba Ar-Rahman. Penamaan yang tidak berdasar memperlakukan mereka menurut bayangan orang yang menamai, dan kedudukan mereka sebagai hamba-Nya tertutup oleh sebutan itu. Hal yang serupa terjadi ketika kita memberi sebutan kepada orang lain. Sebutan yang keliru bisa menutupi kedudukan sebenarnya dari orang yang disebut, dan orang itu dikenal orang lain lewat sebutan kita, tidak lewat dirinya sendiri. Kehati-hatian menyebut orang, dengan begitu, termasuk cara menjaga kehormatannya.