وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍwa-maa lahum bihi min 'ilminpadahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya
- إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّin yattabi'uuna illaa zh-zhannamereka hanya mengikuti dugaan
- وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًاwa-inna zh-zhanna laa yughnii mina l-haqqi syay'andan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- لَهُمْlahumbagi mereka
- بِهِbihitentangnya
- مِنْmindari
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- إِنْintidaklah
- يَتَّبِعُونَyattabi'uunamereka mengikuti
- إِلَّاillaakecuali
- الظَّنَّzh-zhannadugaan
- وَإِنَّwa-innadan sungguh
- الظَّنَّzh-zhannadugaan
- لَاlaatidak
- يُغْنِيyughniimencukupkan
- مِنَminadari
- الْحَقِّl-haqqihak
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
Inti bacaan
Ketika menerima kabar yang hendak diteruskan, menanyakan sumbernya sampai ke orang yang benar-benar menyaksikan, dan berkata belum tahu bila rantainya putus.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini tersusun dari tiga kalimat pendek. Kalimat pertama, (وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bihi min 'ilmin) yang berarti "padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya", menyangkal pengetahuan mereka dengan dua lapis. Kata sangkal (وَمَا, wa-maa) meniadakan kepemilikan, dan (مِنْ, min) di depan kata benda tak tentu (عِلْمٍ, 'ilmin) yang berarti "pengetahuan" menjangkau sekecil apa pun pengetahuan itu, sehingga terjemahannya memuat "sedikit pun". Kata ganti (بِهِ, bihi) yang berarti "tentangnya" merujuk kembali pada penamaan para malaikat di 53:27.
Rangkaian yang sama muncul di empat tempat lain. Ayat 4:157 dan 18:5 memakai (مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, maa lahum bihi min 'ilmin) tanpa huruf penghubung, sedangkan 43:20 dan 45:24 memakai (بِذَٰلِكَ, bi-dzaalika) yang berarti "tentang itu" di tempat kata gantinya. Di keempat tempat itu, yang dinilai sebuah pernyataan tentang sesuatu yang tidak disaksikan pembicaranya. Ayat 4:157 menilai perselisihan tentang terbunuhnya Almasih, 18:5 menilai ucapan bahwa Allah mengambil seorang anak (18:4), 43:20 menilai ucapan mereka tentang penyembahan malaikat (43:19-20), dan 45:24 menilai anggapan bahwa tidak ada yang membinasakan manusia selain masa. Dua di antaranya, 18:5 dan 43:20, menyangkut perkara yang sama dengan surah ini, yaitu anak bagi Allah dan para malaikat.
Kalimat kedua, (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna) yang berarti "mereka hanya mengikuti dugaan", memakai susunan pembatas (إِنْ, in) dan (إِلَّا, illaa) yang menyisakan dugaan sebagai pegangan mereka. Kalimat yang sama muncul di 53:23, 6:116, dan 10:66, dan dengan kata ganti kalian di 6:148. Kata (الظَّنَّ, zh-zhanna) yang berarti "dugaan" berasal dari akar ظ-ن-ن. Di semua tempat yang memakai susunan mengikuti dugaan ini, termasuk 4:157 dan 10:36, kata itu diterjemahkan "dugaan". Kata kerja dari akar lain, خ-ر-ص, menyertainya di 6:116, 6:148, dan 10:66, dan muncul sendirian di 43:20. Kata kerja itu diterjemahkan "mengira-ngira", supaya kedua akar tetap terbedakan dalam terjemahan.
Kalimat ketiga, (وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا, wa-inna zh-zhanna laa yughnii mina l-haqqi syay'an) yang berarti "dan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran", terulang kata demi kata di 10:36 tanpa huruf penghubung di depannya. Kata (الْحَقِّ, l-haqqi) yang berarti "kebenaran" berasal dari akar ح-ق-ق. Kata kerja (يُغْنِي, yughnii) berasal dari akar غ-ن-ي yang dua ayat sebelumnya dipakai untuk syafaat para malaikat, (لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا, laa tughnii syafaa'atuhum syay'an) yang berarti "syafaat mereka sedikit pun tidak mencukupkan". Kedua ayat ditutup dengan (شَيْئًا, syay'an) yang berarti "sedikit pun". Dalam jarak dua ayat, syafaat yang tidak berizin dan dugaan yang tidak berpengetahuan diukur dengan kata kerja yang sama dan sama-sama dinilai tidak mencukupkan.
Tafsiran
Ayat ini bergerak dari yang khusus ke yang umum dalam tiga langkah. Mula-mula keadaan mereka, yaitu tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Lalu apa yang mereka pegang sebagai gantinya, yaitu dugaan. Lalu ukurannya, dan kalimat ukuran itu tidak lagi berbicara tentang mereka. Kalimat terakhir berbicara tentang dugaan pada umumnya, sehingga pembaca yang mengikuti tiga langkah itu berpindah dari menilai orang lain ke berdiri di dalam jangkauan kalimat yang sama.
Ukurannya tidak dilunakkan untuk perkara gaib. Penamaan para malaikat menyangkut sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan pengamatan, dan orang mudah merasa leluasa menduga tentang hal yang tidak bisa dibuktikan siapa pun. Ayat ini membalik anggapan itu. Ketidakmungkinan memeriksa dijadikan alasan untuk berhenti berbicara, sampai keterangan datang dari pihak yang mengetahui. Ayat 53:23 sudah menyebut keterangan itu, petunjuk dari Tuhan mereka yang telah datang kepada mereka.
Al-Qur'an membedakan dugaan dari kebohongan. Ayat 18:5, yang juga menilai ucapan tentang anak bagi Allah, ditutup dengan (إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا, in yaquuluuna illaa kadziban) yang berarti "mereka hanya mengatakan kebohongan", sedangkan ayat ini ditutup dengan dugaan. Dugaan bisa dipegang dengan tulus, dan ayat ini tidak menuduh pemegangnya berdusta. Penilaiannya tetap tegas karena ukurannya diletakkan pada hasil, yaitu apakah dugaan itu mencukupkan terhadap kebenaran, tanpa bergantung pada ketulusan pemegangnya.
Ukuran yang sama dipakai di 10:36 untuk kebanyakan orang yang mengikuti dugaan. Dua tempat itu membahas dua pokok yang berbeda, dan hasilnya sama di keduanya, karena kalimat ukurannya sama kata demi kata. Pengulangan itu memperlihatkan bahwa penilaian terhadap dugaan berlaku sebagai kaidah yang dipakai berulang, tidak terikat pada satu peristiwa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang penamaan itu, padahal mereka membicarakannya dengan yakin. Keyakinan dan pengetahuan ternyata bisa terpisah jauh. Perkara yang dibicarakan di sini tidak bisa dijangkau tanpa kabar dari Allah, yaitu keadaan para malaikat. Untuk perkara seperti itu, tidak mengetahui tidak bisa diperbaiki dengan belajar lebih rajin atau berpikir lebih keras. Keadaan itu tetap sampai ada yang memberitahukan, dan kesadaran tentang batas ini membuat kita lebih hemat berbicara tentang hal-hal yang memang tidak pernah sampai kepada kita.
- Ayat ini menyebut pegangan mereka dugaan, dan pilihan kata itu penting. Dugaan berbeda dari kebohongan, sebab dugaan bisa dipegang dengan jujur dan diwariskan dengan tulus. Pembedaan itu menutup pembelaan yang sering dipakai orang, yaitu bahwa mereka tidak berdusta. Pembelaan itu benar, dan ayat ini memang tidak menuduh mereka berdusta. Ayat ini menolak menjadikan dugaan sebagai dasar untuk berbicara tentang Allah dan makhluk-Nya, betapa pun tulus pemegangnya. Ketulusan membuat seseorang layak dihormati, tetapi ketulusan tidak mengubah dugaan menjadi pengetahuan.
- Kalimat penutupnya menyebut dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Kata sedikit pun menutup jalan tengah yang sering diambil, yaitu menganggap dugaan yang kuat lebih baik daripada tidak ada apa-apa. Dalam perkara yang bisa diperiksa, dugaan yang kuat memang berguna sebagai titik awal pemeriksaan. Dalam perkara yang dibicarakan ayat ini, dugaan tidak punya jalan menuju kebenaran, sehingga nilainya sebagai dasar tidak bertambah seberapa pun kuatnya. Ukuran ini mengajarkan untuk membedakan dugaan yang masih bisa diperiksa dari dugaan yang tidak akan pernah bisa diperiksa.
- Kalau dugaan bisa dipegang dengan jujur dan diwariskan dengan tulus, bagaimana kita membedakan yang kita ketahui dari yang kita duga? Cara yang sederhana dimulai dengan bertanya dari mana kita mengetahuinya. Pertanyaan itu lalu diajukan sekali lagi pada jawabannya sendiri, apakah sumber itu sesuatu yang kita ketahui atau sesuatu yang kita dengar dari orang yang juga tidak tahu. Rantai pertanyaan ini sering berhenti lebih cepat daripada yang kita kira, dan titik berhentinya memperlihatkan batas antara pengetahuan dan dugaan kita.
- Kalimat terakhir ayat ini tidak lagi berbicara tentang mereka. Kalimat itu berbicara tentang dugaan pada umumnya, sehingga ukuran yang dipakai untuk menilai orang-orang yang menamai malaikat berlaku juga bagi siapa pun yang membacanya. Membaca ayat ini dengan jujur berarti memakai ukuran yang sama pada keyakinan sendiri, termasuk keyakinan tentang Allah yang sudah terasa pasti karena sering diulang di sekitar kita. Ukuran itu tidak memihak, dan kekuatannya terletak pada ketidakberpihakannya.
- Ayat ini tidak menyuruh mereka menduga dengan lebih hati-hati, dan tidak menyediakan jawaban pengganti di kalimat yang sama. Sikap yang tersisa berhenti pada tidak tahu. Berhenti pada tidak tahu sering terasa seperti kekalahan, padahal sikap itu jujur ketika bahannya memang tidak ada. Sikap itu juga punya akibat yang menenangkan. Orang yang berani berkata tidak tahu pada perkara yang memang tidak diketahuinya lebih bisa dipercaya pada perkara yang dikatakannya tahu. Kejujuran di satu sisi menjadi jaminan bagi sisi yang lain.