وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍwa-maa lahum bihi min 'ilminpadahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan tentangnya
- إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّin yattabi'uuna illaa zh-zhannamereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan
- وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًاwa-inna zh-zhanna laa yughnii mina l-haqqi syay'andan sesungguhnya dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- لَهُمْlahumbagi mereka
- بِهِbihitentangnya
- مِنْmindari
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- إِنْinjika
- يَتَّبِعُونَyattabi'uunamereka mengikuti
- إِلَّاillaakecuali
- الظَّنَّzh-zhannasangkaan
- وَإِنَّwa-innadan sungguh
- الظَّنَّzh-zhannasangkaan
- لَاlaatidak
- يُغْنِيyughniimencukupkan
- مِنَminadari
- الْحَقِّl-haqqihak
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
Inti bacaan
Prinsip epistemologi sentral: 'mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. dugaan itu sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran', pembedaan tegas antara dugaan/spekulasi dan kebenaran yang berdasar, standar yang berguna menilai klaim apa pun sebelum menerimanya sebagai fakta.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyusun tiga kalimat pendek yang bergerak dari keadaan mereka menuju sebuah ukuran umum.
Yang pertama menyebut mereka tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Bukan sedikit pengetahuan, melainkan tidak ada. Yang sedang mereka bicarakan dengan penuh keyakinan justru perkara yang sama sekali di luar jangkauan mereka.
Yang kedua menyebut apa yang mereka ikuti, yaitu “dugaan” (الظَّنَّ, azh-zhanna). Bukan kebohongan. Perbedaan itu penting, sebab dugaan bisa dipegang dengan jujur, bisa diwariskan dengan tulus, dan bisa menuntun seseorang sejauh kebenaran menuntunnya, sampai suatu saat arahnya ternyata berbeda.
Yang ketiga ukurannya, dan ukuran itu tidak berlaku untuk ayat ini saja. Kalimat “dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran” (لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا, laa yughnii mina l-haqqi syay'an) diulang dengan kata yang persis sama di satu tempat lain (10:36). Di sana ia dipakai untuk menilai kebanyakan orang yang mengikuti dugaan; di sini untuk menilai orang yang berbicara tentang perkara gaib. Dua pokok bahasan, satu ukuran, dan ukurannya nol, bukan sebagian.
Kalimat pembukanya tak terulang di mana pun. Rangkaian “dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bihi min 'ilmin) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Susunannya menegaskan ketiadaan itu dua kali sekaligus, lewat kata sangkal dan lewat kata yang berarti sedikit pun. Bukan pengetahuan yang tipis, melainkan tidak ada sama sekali.
Yang mereka bicarakan disebut di ayat sebelumnya (53:27), yaitu penamaan para malaikat dengan nama perempuan. Pokok itu penting untuk membaca ayat ini dengan tepat. Yang dipersoalkan bukan pendapat tentang perkara yang bisa diselidiki, melainkan pernyataan tentang sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan indra. Justru di wilayah itulah dugaan paling mudah tumbuh, sebab tidak ada yang bisa membantahnya dengan pengamatan.
Perbandingan dengan tempat lain yang memakai ukuran yang sama memperjelas jangkauannya. Di 10:36 kalimat penutup yang persis sama dipakai untuk menilai kebanyakan orang yang mengikuti dugaan dalam perkara keyakinan pada umumnya. Di sini ia dipakai untuk perkara gaib secara khusus. Satu ukuran, dua medan, dan hasilnya sama: nol. Yang menarik, ukuran itu tidak dilunakkan ketika dipakai untuk perkara yang memang tak bisa diperiksa siapa pun. Ketidakmungkinan memeriksa tidak dijadikan alasan untuk membolehkan dugaan; ia justru dijadikan alasan untuk berhenti berbicara.
Tafsiran
Ayat ini menyingkap sesuatu tentang cara manusia berbicara mengenai hal yang tidak bisa diperiksa. Yang sedang dibicarakan orang-orang itu, seperti disebut ayat sebelumnya (53:27), adalah perkara yang sepenuhnya berada di luar jangkauan indra. Justru di wilayah itulah keyakinan paling mudah tumbuh besar, sebab tidak ada satu pengamatan pun yang bisa menghentikannya.
Susunan ayatnya bergerak dari yang khusus ke yang umum dalam tiga langkah pendek. Mula-mula keadaan mereka: tidak punya pengetahuan sama sekali. Lalu apa yang mereka pegang sebagai gantinya: dugaan. Lalu ukurannya, dan ukuran itu tidak lagi berbicara tentang mereka melainkan tentang dugaan pada umumnya. Pembaca yang mengikuti tiga langkah itu berpindah dari menonton orang lain menjadi berdiri di dalam jangkauan kalimatnya sendiri.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ukurannya tidak dilunakkan untuk perkara gaib. Orang biasanya merasa berhak berspekulasi lebih bebas justru tentang hal yang tak bisa dibuktikan, dengan alasan bahwa tidak ada yang bisa memastikan. Ayat ini membalik alasan itu. Ketidakmungkinan memeriksa tidak dijadikan izin untuk menduga; ia dijadikan alasan untuk berhenti. Yang tidak bisa diketahui bukan wilayah bebas, melainkan wilayah yang harus dibiarkan kosong sampai keterangannya datang dari pihak yang mengetahuinya.
Ukuran yang sama muncul sekali lagi di 10:36 untuk medan yang berbeda, yaitu keyakinan pada umumnya. Dua tempat, dua pokok bahasan, satu ukuran, dan angkanya nol di kedua tempat. Pengulangan dengan kata yang sama persis di dua surah yang berjauhan memberi bobot tambahan: ini bukan penilaian yang lahir dari satu keadaan, melainkan kaidah yang dipakai berulang. Ayat ini menegaskan bahwa dugaan semata, sekuat apa pun diyakini, tidak pernah bisa menggantikan kebenaran yang berdasar wahyu.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Nol. Yang mereka bicarakan dengan penuh keyakinan justru hal yang sama sekali tak mereka ketahui. Yang mereka bicarakan di sini perkara yang memang tidak bisa dijangkau siapa pun tanpa kabar dari Allah, yaitu keadaan para malaikat. Untuk perkara seperti itu, tidak mengetahui bukan kekurangan yang bisa diperbaiki dengan belajar lebih rajin. Ia keadaan yang tetap sampai ada yang memberitahukan.
- Yang mereka ikuti disebut dugaan. Bukan kebohongan. Sesuatu yang belum diperiksa bisa menuntun orang sejauh yang dituntun kebenaran. Menyebutnya dugaan dan bukan kebohongan juga menutup pembelaan yang paling sering dipakai. Orang bisa berkata ia tidak berdusta, dan itu benar. Ayat ini tidak menuduhnya berdusta; ia cuma menolak menerima dugaan sebagai dasar.
- Allah menutup dengan menyebut dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Nol, bukan sebagian. Yang mendekati benar dan yang benar dipisahkan sepenuhnya. Kata sedikit pun menutup jalan tengah yang biasa diambil orang, yaitu menganggap dugaan yang kuat lebih baik daripada tidak ada apa-apa. Menurut ayat ini nilainya sama, dan keduanya sama-sama bukan pengetahuan.
- Allah menyebut yang mereka ikuti dugaan, bukan kebohongan, dan ukuran yang Dia pakai nol, bukan sebagian. Kalau dugaan bisa dipegang dengan jujur dan diwariskan dengan tulus, bagaimana kita membedakan yang kita ketahui dari yang sekadar kita duga? Cara paling sederhana membedakannya: tanyakan dari mana kita mengetahuinya, lalu periksa apakah jawaban itu sendiri sesuatu yang kita ketahui atau sesuatu yang kita dengar dari orang yang juga tidak tahu.
- Ayat sebelumnya menyebut orang yang tidak beriman kepada akhirat menamai para malaikat dengan nama perempuan. Jadi dugaan yang ditolak di sini bukan dugaan tentang perkara sehari-hari, melainkan dugaan tentang sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan. Itu membuat ukurannya masuk akal. Untuk perkara yang bisa diperiksa, dugaan masih bisa diperbaiki dengan memeriksa. Untuk perkara yang tidak bisa diperiksa sama sekali, dugaan tidak punya jalan menuju kebenaran, dan karena itu Allah menyebut nilainya nol, bukan sebagian.
- Ayat ini tidak menyuruh mereka menebak dengan lebih hati-hati. Ia juga tidak menyediakan jawaban yang benar sebagai gantinya di kalimat itu. Yang ditawarkan cuma satu, yaitu berhenti. Berhenti pada tidak tahu terasa seperti kekalahan, padahal itulah satu-satunya sikap yang jujur ketika bahannya memang tidak ada. Dan sikap itu punya akibat yang menenangkan: orang yang berani berkata tidak tahu pada perkara yang memang tidak diketahuinya jauh lebih bisa dipercaya pada perkara yang ia katakan tahu. Kejujuran di satu sisi menjadi jaminan bagi sisi yang lain, dan tanpa itu keduanya sama-sama tak bernilai. Orang yang tak pernah berkata tidak tahu sudah kehilangan cara untuk dipercaya.