فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Maka, berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَاfa-a'ridh 'an man tawallaa 'an dzikrinaamaka, berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami
- وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَاwa-lam yurid illaa l-hayaata d-dunyaadan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia
Terjemahan per kata (11 kata)
- فَأَعْرِضْfa-a'ridhmaka berpalinglah
- عَنْ'andari
- مَنْmanorang yang
- تَوَلَّىٰtawallaaberpaling
- عَنْ'andari
- ذِكْرِنَاdzikrinaaperingatan Kami
- وَلَمْwa-lamdan tidak
- يُرِدْyuridmenghendaki
- إِلَّاillaakecuali
- الْحَيَاةَl-hayaatakehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
Inti bacaan
Menetapkan batas ajakan, misalnya dua kali, ketika mengajak teman meninggalkan kebiasaan buruk, sesudah itu cukup mendoakannya dan tetap memberi salam seperti biasa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan perintah (فَأَعْرِضْ, fa-a'ridh) yang berarti "maka, berpalinglah". Awalan pada kata itu, yang diterjemahkan "maka", menjadikan perintah ini akibat dari ayat-ayat sebelumnya. Kata kerja perintah itu berasal dari akar ع-ر-ض dan berbentuk tunggal, sehingga ditujukan kepada satu orang yang disapa. Perintah yang sama, lengkap dengan awalannya, muncul juga di 4:63, 4:81, 6:68, dan 32:30. Di 4:63 perintah itu bergandeng dengan perintah lain, (فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ, fa-a'ridh 'anhum wa-'izhhum) yang berarti "berpalinglah dari mereka, nasihatilah mereka". Berpaling dalam perintah-perintah ini, dengan begitu, tidak berarti berhenti menyampaikan.
Sasaran berpaling disebut (عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا, 'an man tawallaa 'an dzikrinaa) yang berarti "dari orang yang berpaling dari peringatan Kami". Kata kerja (تَوَلَّىٰ, tawallaa) berasal dari akar lain, و-ل-ي, yang dalam bentuk ini menggambarkan memunggungi sesuatu yang sudah datang kepadanya. Bahasa Indonesia memakai kata berpaling untuk keduanya, sedangkan teks Arabnya memakai dua akar. Ayat ini karena itu tidak mengulang kata yang sama. Perintah kepada yang disapa memakai ع-ر-ض, dan perbuatan orang yang ditinggalkan memakai و-ل-ي.
Kata (ذِكْرِنَا, dzikrinaa) yang berarti "peringatan Kami" berasal dari akar ذ-ك-ر. Berpaling dari peringatan disebut dengan terjemahan yang sama di 20:124, (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي, wa-man a'radha 'an dzikrii) yang berarti "dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku", dan di 72:17. Di 20:124 orang yang berpaling dari peringatan digambarkan dengan akar ع-ر-ض, akar yang di ayat ini dipakai untuk perintah kepada yang disapa. Akar yang sama bisa tercela atau terpuji, bergantung pada apa yang dipunggungi.
Sifat kedua orang itu berbunyi (وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, wa-lam yurid illaa l-hayaata d-dunyaa) yang berarti "dan tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia". Kata kerja (يُرِدْ, yurid) berasal dari akar ر-و-د dan didahului kata sangkal (وَلَمْ, wa-lam) yang meniadakan kehendak itu pada masa yang sudah berjalan. Susunan sangkal dan kecuali membatasi kehendaknya pada kehidupan dunia. Kata (الدُّنْيَا, d-dunyaa) yang berarti "dunia" berasal dari akar د-ن-و, akar yang sama dengan (دَنَا, danaa) yang berarti "mendekat" di 53:8. Empat ayat sebelumnya, 53:25 menyebut dunia dengan kata lain, (وَالْأُولَىٰ, wa-l-uulaa) yang secara harfiah berarti "dan yang pertama" dan diterjemahkan "dunia" karena berpasangan dengan akhirat. Surah ini dengan begitu memakai dua kata untuk dunia dalam lima ayat.
Tafsiran
Ayat ini mengubah arah pembicaraan. Sejak 53:19, ayat-ayat surah ini berbicara tentang nama-nama, pembagian, syafaat, dan penamaan para malaikat, dan semuanya berupa bantahan. Di ayat ini bantahan itu berhenti dan diganti sebuah perintah kepada orang yang disapa, yaitu berpaling dari orang yang sudah berpaling. Awalan pada perintah itu menjadikannya akibat dari semua yang sudah dibantah. Setelah keterangan diberikan dan dugaan dinilai, sikap terhadap orang yang memunggungi peringatan menjadi soal berikutnya.
Urutannya patut dicermati. Mereka berpaling lebih dulu, dan perintah berpaling datang sesudahnya sebagai tanggapan. Ayat ini tidak memerintahkan meninggalkan orang yang belum mendengar. Sasaran perintahnya orang yang sudah menerima peringatan lalu memunggunginya, dan yang kehendaknya berhenti pada kehidupan dunia. Kedua sifat itu disebut berdampingan, sehingga berpaling dari peringatan terbaca sebagai akibat dari kehendak yang sudah dipersempit.
Tempat-tempat lain memperlihatkan bentuk berpaling yang dimaksud. Di 4:63 perintah berpaling bergandeng dengan perintah menasihati dan mengatakan perkataan yang membekas pada jiwa mereka. Di 32:30 perintah itu bergandeng dengan perintah menunggu. Berpaling di sini berarti berhenti mengejar mereka, sambil tetap membiarkan peringatan tersedia bagi siapa pun yang kembali. Ayat sesudahnya (53:30) memberi alasan terakhir, yaitu jangkauan pengetahuan mereka memang berhenti di situ, dan penilaian tentang siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk dikembalikan kepada Allah.
Renungan dan Hikmah
- Perintah dalam ayat ini melepaskan beban yang sering dipikul orang yang peduli. Tidak semua orang harus dikejar sampai berubah. Orang yang sudah mendengar lalu memunggungi, dan yang kehendaknya tidak melampaui kehidupan dunia, tidak menjadi tanggungan yang harus diselesaikan dengan paksaan. Dalam keluarga atau di tempat kerja, kita kadang menghabiskan tenaga untuk meyakinkan orang yang sudah menutup diri, lalu kehabisan tenaga untuk orang yang masih mau mendengar. Ayat ini memberi izin untuk berhenti mengejar tanpa merasa gagal.
- Di 4:63, Allah menggandengkan perintah berpaling dengan perintah menasihati. Berpaling dalam Al-Qur'an tidak selalu berarti memutus hubungan. Sikap ini sulit dijaga, karena kita cenderung memilih salah satu dari dua ujung, terus membujuk atau memutus sama sekali. Ayat-ayat itu memperlihatkan jalan ketiga, yaitu berhenti mengejar sambil tetap menyediakan kata yang baik ketika ada kesempatan. Orang yang kita tinggalkan dengan cara seperti itu masih bisa kembali tanpa harus melewati tembok permusuhan yang kita bangun sendiri.
- Ayat ini menyebut dua perbuatan berpaling dengan dua akar yang berbeda. Orang-orang itu berpaling lebih dulu dari peringatan, dan perintah kepada yang disapa datang sebagai tanggapan. Urutan ini penting ketika kita menimbang sikap sendiri terhadap orang lain. Menjauh dari seseorang yang belum pernah mendengar penjelasan kita berbeda dengan menjauh dari seseorang yang sudah mendengar lalu memunggunginya. Sebelum mengambil jarak, pertanyaan yang jujur menyangkut apa yang sudah kita sampaikan, dan apakah penyampaian itu sudah cukup jelas.
- Allah menyebut orang itu tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia. Kehendak yang dibatasi seperti itu tidak selalu tampak sebagai keserakahan. Kehendak itu bisa tampak sebagai kesibukan yang wajar, target kerja, cicilan, dan rencana lima tahun yang semuanya berhenti di dalam hidup ini. Pertanyaan yang ditinggalkan ayat ini sederhana, tetapi berat. Dari semua yang kita kehendaki dalam sepekan terakhir, adakah yang melampaui kehidupan dunia?
- Kata dunia dalam ayat ini berasal dari akar yang sama dengan mendekat di 53:8. Dari akarnya, kehidupan dunia terbaca sebagai kehidupan yang dekat, yang ada di depan mata dan bisa diraih sekarang. Kedekatan itu membuat dunia mudah memenuhi seluruh pandangan. Hal yang jauh, seperti akhirat, perlu diingatkan karena tidak terlihat dari tempat kita berdiri. Dari sini tampak mengapa ayat ini menyandingkan berpaling dari peringatan dengan kehendak yang berhenti di dunia. Peringatan menunjuk yang jauh, dan orang yang pandangannya penuh oleh yang dekat tidak lagi melihat perlunya diingatkan.
- Peringatan dalam ayat ini disebut milik Kami, jadi yang dipunggungi orang-orang itu peringatan dari Allah sendiri. Menghindari peringatan jarang terjadi dengan penolakan terbuka. Lebih sering kita menghindarinya dengan cara halus, menunda membaca, mengalihkan pembicaraan, atau menyibukkan diri dengan hal lain setiap kali pengingat datang. Ayat ini menamai sikap itu berpaling, betapa pun halus caranya. Mengenali cara-cara halus itu dalam diri sendiri sudah menjadi awal untuk tidak termasuk orang yang disebut ayat ini.