Ayat 53:30
ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ
Itulah jangkauan pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِdzaalika mablaghuhum mina l-'ilmiitulah jangkauan pengetahuan mereka
- إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِinna rabbaka huwa a'lamu bi-man dhalla 'an sabiilihisesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya
- وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰwa-huwa a'lamu bi-mani htadaadan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk
Terjemahan per kata (16 kata)
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- مَبْلَغُهُمْmablaghuhumjangkauan mereka
- مِنَminadari
- الْعِلْمِl-'ilmiilmu
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- هُوَhuwaDialah
- أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
- بِمَنْbi-manterhadap siapa
- ضَلَّdhallasesat
- عَنْ'andari
- سَبِيلِهِsabiilihijalan-Nya
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
- بِمَنِbi-maniterhadap siapa
- اهْتَدَىٰhtadaamendapat petunjuk
Inti bacaan
Saat menilai orang yang berbeda jalan, menyimpan kesimpulan tentang akhir hidupnya dan memakai waktu itu untuk memeriksa amal sendiri pekan ini.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ, dzaalika mablaghuhum mina l-'ilmi) yang berarti "itulah jangkauan pengetahuan mereka". Kata tunjuk (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu" menunjuk keadaan yang baru disebut di 53:29, yaitu kehendak yang tidak melampaui kehidupan dunia. Kata (مَبْلَغُهُمْ, mablaghuhum) yang berarti "jangkauan mereka" berasal dari akar ب-ل-غ dan tidak muncul dalam bentuk ini di tempat lain dalam Al-Qur'an. Kata kerjanya dipakai untuk mencapai sesuatu, misalnya (لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ, li-tablughuu asyuddakum) yang berarti "hingga kalian mencapai usia dewasa" di 22:5, dan untuk sampai ke suatu tempat di 18:61. Bentuk (مَبْلَغُ, mablaghu) menunjuk titik yang dicapai, sehingga terjemahannya "jangkauan", yaitu sejauh mana pengetahuan mereka sampai.
Kata (الْعِلْمِ, l-'ilmi) yang berarti "pengetahuan" menyambung 53:28, yang menyatakan mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang penamaan para malaikat. Kedua ayat tidak bertentangan. Ayat 53:28 menyangkal pengetahuan mereka tentang perkara gaib itu, sedangkan ayat ini mengakui bahwa mereka punya pengetahuan, dengan jangkauan yang berhenti di dunia. Ayat 30:7 menyatakan hal serupa, (يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, ya'lamuuna zhaahiran mina l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia".
Kalimat kedua berbunyi (إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ, inna rabbaka huwa a'lamu bi-man dhalla 'an sabiilihi) yang berarti "sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya". Kata (أَعْلَمُ, a'lamu) berpola perbandingan dari akar ع-ل-م dan diterjemahkan "lebih mengetahui" seperti di kebanyakan kemunculannya. Kata ganti (هُوَ, huwa) yang disisipkan sesudah Tuhanmu menegaskan pelakunya, sehingga terjemahannya menjadi "Dialah". Kalimat ini muncul kata demi kata di 16:125 dan 68:7, dan 6:117 memakai bentuk yang dekat dengan (مَنْ يَضِلُّ, man yadhillu) yang berarti "siapa yang tersesat". Kata (ضَلَّ, dhalla) yang berarti "sesat" berasal dari akar ض-ل-ل, akar yang dalam surah ini muncul di dua tempat, di ayat ini dan di 53:2, (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ, maa dhalla shaahibukum) yang berarti "kawan kalian tidak sesat".
Kalimat ketiga berbunyi (وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ, wa-huwa a'lamu bi-mani htadaa) yang berarti "dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk". Kata kerja (اهْتَدَىٰ, htadaa) berasal dari akar ه-د-ي, akar yang dalam surah ini juga muncul di dua tempat, di ayat ini dan di 53:23 dalam (الْهُدَىٰ, l-hudaa) yang berarti "petunjuk". Ayat 53:32 memakai kata (أَعْلَمُ, a'lamu) dua kali lagi, sehingga dalam tiga ayat kata itu muncul empat kali.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 53:19. Rangkaian itu berawal dari pertanyaan tentang al-Lata, al-Uzza, dan Manat, lalu bergerak melalui pembagian yang tidak adil, nama-nama tanpa keterangan, angan-angan, syafaat, dan penamaan para malaikat, sampai perintah berpaling di 53:29. Ayat ini memberi dua penutup. Penutup pertama menjelaskan keadaan mereka, dan penutup kedua mengembalikan penilaian kepada Allah.
Penutup pertama menempatkan kesalahan mereka pada jangkauan. Pengetahuan mereka tidak kosong dalam segala hal, tetapi pengetahuan itu berhenti di kehidupan dunia, sejalan dengan kehendak mereka yang juga berhenti di sana. Ayat ini memperlihatkan hubungan antara kehendak dan pengetahuan. Orang cenderung mengetahui sejauh yang dikehendakinya, dan kehendak yang tidak melampaui dunia menghasilkan pengetahuan yang tidak melampauinya pula.
Penutup kedua menyebut Tuhan dari orang yang disapa, orang yang sama yang di 53:29 diperintahkan untuk berpaling. Perintah berpaling bisa menimbulkan pertanyaan apakah orang-orang itu sudah pasti sesat untuk selamanya. Ayat ini tidak menjawab pertanyaan itu dengan vonis. Penilaian tentang siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk disebut lebih diketahui Allah, dan kedua golongan disebut dengan susunan yang sejajar. Orang yang disapa cukup berpaling, dan memastikan akhir perjalanan seseorang tidak menjadi tugasnya. Ayat 53:32 memperluas prinsip ini kepada semua orang, (فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ, fa-laa tuzakkuu anfusakum) yang berarti "maka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian", karena (هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ, huwa a'lamu bi-mani ttaqaa) yang berarti "Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa".
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut jangkauan pengetahuan mereka, dan kata jangkauan berlaku bagi siapa saja. Setiap orang mengetahui sampai titik tertentu, lalu berhenti. Masalahnya jarang terletak pada batas itu sendiri. Masalahnya muncul ketika orang tidak menyadari batasnya dan berbicara seolah-olah pengetahuannya menjangkau segala hal. Mengenali titik tempat jangkauan kita berhenti membuat kita lebih mudah berkata cukup sampai di sini, dan lebih mudah bertanya kepada yang lebih mengetahui.
- Ayat 30:7 menyebut orang yang mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai. Gambaran ini dekat dengan kehidupan profesional kita. Seseorang bisa sangat mahir membaca angka, menyusun rencana, dan memenangkan persaingan, sementara pertanyaan tentang untuk apa semua itu tidak pernah disentuh. Kemahiran di satu bidang mudah terasa sebagai kebijaksanaan menyeluruh. Ayat ini membantu membedakan keduanya, sebab jangkauan pengetahuan bisa luas di dalam dunia dan tetap berhenti di tepinya.
- Ayat ini menyambungkan pengetahuan mereka dengan kehendak mereka yang berhenti di dunia. Hubungan itu layak diuji pada diri sendiri. Apa yang kita pelajari dengan sungguh-sungguh dalam setahun terakhir, dan untuk kehendak apa kita mempelajarinya? Jawaban atas pertanyaan itu sering memperlihatkan jangkauan pengetahuan kita lebih jujur daripada daftar kemampuan mana pun. Orang yang ingin melihat lebih jauh perlu lebih dulu menghendaki sesuatu yang lebih jauh.
- Allah menyebut Dia lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Kalimat itu datang tepat sesudah perintah berpaling, seolah menjaga agar berpaling tidak berubah menjadi vonis. Kita sering merasa perlu memastikan status orang yang kita tinggalkan, bahwa orang itu pasti salah dan kita pasti benar. Ayat ini melepaskan kebutuhan itu. Kita boleh mengambil jarak dari orang yang memunggungi peringatan tanpa harus memutuskan akhir perjalanannya, karena keputusan itu tidak pernah menjadi milik kita.
- Kalimat ketiga menyebut Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. Bagian ini berlaku juga bagi orang yang merasa sudah berada di jalan yang benar. Keyakinan bahwa diri sendiri mendapat petunjuk tidak bisa dipastikan manusia, sama seperti kesesatan orang lain. Ayat 53:32 menegaskannya dengan larangan menyucitumbuhkan diri sendiri. Kesadaran ini menjaga orang yang berpaling dari sikap merasa lebih suci, dan membuatnya tetap memeriksa diri meskipun sedang berada di pihak yang memperingatkan.
- Kata mendapat petunjuk dalam ayat ini berasal dari akar yang sama dengan petunjuk di 53:23, petunjuk yang disebut telah datang kepada mereka dari Tuhan mereka. Petunjuk sudah tersedia, dan pembeda antara orang yang sesat dan orang yang mendapat petunjuk terletak pada sikap terhadap petunjuk itu. Kata kerja dalam ayat ini menggambarkan orang yang mengambil petunjuk itu bagi dirinya, dan kabar tentang petunjuk belum cukup untuk itu. Hal yang sama berlaku bagi kita yang membaca. Petunjuk yang sudah sampai ke tangan belum menjadi petunjuk bagi kita sampai kita mengikutinya.
Ayat 53:31
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
Dan milik Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi, agar Dia membalas orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan yang terbaik,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِwa-li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhidan milik Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi
- لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُواli-yajziya lladziina asaa'uu bi-maa 'amiluuagar Dia membalas orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang mereka kerjakan
- وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَىwa-yajziya lladziina ahsanuu bi-l-husnaadan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan yang terbaik
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَمَاwa-maadan apa yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- لِيَجْزِيَli-yajziyaagar Dia membalas
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- أَسَاءُواasaa'uumereka berbuat buruk
- بِمَاbi-maasesuai dengan apa yang
- عَمِلُوا'amiluumereka beramal
- وَيَجْزِيَwa-yajziyadan agar Dia membalas
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- أَحْسَنُواahsanuumereka berbuat baik
- بِالْحُسْنَىbi-l-husnaadengan yang terbaik
Inti bacaan
Saat menegur anak atau rekan, menakar teguran seukuran salah yang terjadi tanpa mengungkit perkara lama, lalu mengakui pula satu jasa baiknya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, wa-li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "dan milik Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi". Kalimat ini muncul enam kali di tiga surah, yaitu di 3:109, 3:129, 4:126, 4:131, 4:132, dan 53:31, dan keenamnya diterjemahkan dengan kalimat yang sama. Angkanya berbeda karena Surah 4 memuatnya tiga kali dan Surah 3 dua kali. Kata (وَلِلَّهِ, wa-li-llaahi) yang berarti "dan milik Allah" diletakkan di awal, sebelum isi langit dan bumi disebut. Dengan urutan itu, pemiliknya dikenalkan lebih dulu, lalu segala yang dimiliki-Nya menyusul.
Sesudah kepemilikan itu datang tujuannya, (لِيَجْزِيَ, li-yajziya) yang berarti "agar Dia membalas". Huruf li- di depan kata kerja ini menandai maksud, sehingga kepemilikan atas langit dan bumi langsung dikaitkan dengan pembalasan. Susunan (لِيَجْزِيَ الَّذِينَ, li-yajziya lladziina) yang berarti "agar Dia membalas orang-orang yang" muncul empat kali, di 10:4, 30:45, 34:4, dan 53:31. Di tiga ayat lain itu, yang dibalas orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Di ayat ini dua golongan disebut berurutan, orang yang berbuat jahat dan orang yang berbuat baik, dan masing-masing mendapat kata kerjanya sendiri, karena (وَيَجْزِيَ, wa-yajziya) yang berarti "dan membalas" diulang untuk golongan kedua.
Golongan pertama disebut (الَّذِينَ أَسَاءُوا, lladziina asaa'uu) yang berarti "orang-orang yang berbuat jahat". Kata kerja (أَسَاءُوا, asaa'uu) berasal dari akar س-و-ء, akar yang juga memberi kata untuk keburukan, dan bentuk ini muncul dua kali, di 30:10 dan 53:31. Balasan untuk mereka ditautkan pada (بِمَا عَمِلُوا, bi-maa 'amiluu) yang berarti "sesuai dengan apa yang mereka kerjakan". Ukurannya perbuatan mereka sendiri, tanpa tambahan di atasnya, dan tanpa perbuatan pihak lain yang ikut ditimpakan kepada mereka.
Golongan kedua disebut (الَّذِينَ أَحْسَنُوا, lladziina ahsanuu) yang berarti "orang-orang yang berbuat baik", dari akar ح-س-ن. Balasan mereka (بِالْحُسْنَى, bi-l-husnaa) yang berarti "dengan yang terbaik", kata dari akar yang sama dengan perbuatannya, dalam bentuk yang menyatakan tingkat tertinggi. Pada golongan pertama ukurannya apa yang mereka kerjakan, sedangkan pada golongan kedua ukuran itu diganti dengan yang terbaik. Kata (بِالْحُسْنَى, bi-l-husnaa) muncul tiga kali di dua surah, di 53:31, 92:6, dan 92:9, karena Surah 92 memuatnya dua kali. Susunan yang dekat ada di 10:26, (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ, li-lladziina ahsanuu l-husnaa wa-ziyaadatun) yang berarti "bagi orang-orang yang berbuat baik, yang terbaik dan tambahan".
Perbedaan ukuran itu dinyatakan dengan angka di 6:160. Kebaikan dibalas (فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا, fa-lahu 'asyru amtsaalihaa) yang berarti "baginya sepuluh kali lipatnya", sedangkan keburukan (فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا, fa-laa yujzaa illaa mitslahaa) yang berarti "tidak dibalas kecuali seimbang dengannya". Kata kerja (يُجْزَىٰ, yujzaa) di sana berasal dari akar ج-ز-ي, akar yang sama dengan (لِيَجْزِيَ, li-yajziya) di ayat ini, sehingga dua ayat itu berbicara tentang pembalasan yang sama dari dua arah yang berlawanan.
Tafsiran
Ayat ini menyambung 53:30, yang ditutup dengan pernyataan bahwa Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk. Pengetahuan itu tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ayat ini menyebut ujungnya, yaitu pembalasan, dan menaruh dasarnya pada kepemilikan atas seluruh langit dan bumi.
Kepemilikan dipakai sebagai dasar karena pihak yang membalas bukan pihak luar. Dia pemilik segala yang di langit dan di bumi, termasuk pelaku perbuatan itu sendiri. Tidak ada wilayah di luar milik-Nya tempat seseorang bisa menghindar, dan tidak ada pemilik lain yang ikut menentukan ukurannya. Di 53:26 syafaat para malaikat di langit sedikit pun tidak mencukupkan kecuali setelah Allah mengizinkan, dan ayat ini memberi latarnya dari sisi lain, sebab langit tempat para malaikat itu berada pun milik-Nya.
Ketimpangan dua balasan tidak mengurangi keadilan. Orang yang berbuat jahat tidak menerima lebih dari perbuatannya, dan orang yang berbuat baik menerima lebih tanpa mengambil apa pun dari pihak lain. Ayat 6:160 menutup keterangan tentang dua ukuran itu dengan (وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ, wa-hum laa yuzhlamuuna) yang berarti "dan mereka tidak dizalimi". Kemurahan diberikan pada satu sisi, sementara sisi yang lain dijaga dengan ukuran yang tepat.
Ayat ini berakhir dengan koma karena kalimatnya belum selesai. Orang-orang yang berbuat baik di ujungnya diterangkan oleh 53:32, yang dimulai dengan "orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji". Janji tentang yang terbaik karena itu tertuju kepada orang yang digambarkan di sana, lengkap dengan kekurangannya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut diri-Nya pemilik segala yang di langit dan di bumi, lalu langsung menyebut pembalasan. Urutan itu terasa ketika seseorang berharap perbuatannya luput dari hitungan karena terjadi di tempat yang sepi, di kota yang jauh, atau di ruang yang tidak diawasi siapa pun. Tempat-tempat itu tetap bagian dari milik-Nya, begitu pula pelakunya. Rasa aman karena tidak ada yang melihat bersandar pada anggapan bahwa ada wilayah yang tidak dimiliki siapa pun, dan ayat ini meniadakan wilayah semacam itu.
- Balasan untuk kejahatan diukur dengan apa yang dikerjakan, sedangkan balasan untuk kebaikan diukur dengan yang terbaik. Timbangan ini berlawanan dengan kebiasaan banyak orang dalam menilai sesamanya, yang cenderung mengingat satu kesalahan lebih lama daripada sepuluh kebaikan. Allah tidak membesarkan kesalahan melampaui ukurannya, tetapi melebihkan kebaikan melampaui ukurannya. Di tempat kerja, di rumah, atau di ruang publik, timbangan manusia sering terbalik dari timbangan ini tanpa disadari oleh yang memegangnya.
- Kalau orang yang berbuat baik menerima lebih dari yang dikerjakannya, apakah itu masih adil bagi yang lain? Ayat ini memberi setiap golongan kalimatnya sendiri dan kata kerjanya sendiri, sehingga tidak ada yang diambil dari satu pihak untuk diberikan kepada pihak lain. Kelebihan yang diterima satu golongan datang dari kemurahan pemiliknya, dan kemurahan itu tidak memotong hak siapa pun. Keadilan dan kemurahan di sini tidak saling menyingkirkan, karena keduanya bekerja pada sisi yang berbeda.
- Frasa "sesuai dengan apa yang mereka kerjakan" menaruh ukuran hukuman pada perbuatan pelakunya sendiri. Tidak ada tambahan karena marahnya pihak yang dirugikan, dan tidak ada potongan karena kedudukan pelaku atau kedekatannya dengan orang berkuasa. Di dunia, berat ringannya hukuman sering bergantung pada siapa yang dihukum dan siapa yang sedang marah. Dalam pembalasan yang Allah sebut di sini, kedua pertimbangan itu tidak ikut menimbang, sehingga yang tersisa perbuatan itu sendiri.
- Orang yang berbuat baik kadang menyimpan hitungan tentang berapa yang sudah diberikan dan berapa yang kembali kepadanya. Allah tidak memakai takaran itu untuk mereka. Balasannya disebut yang terbaik, tanpa angka dan tanpa rincian, dan di 10:26 masih ditambah lagi. Hitungan pribadi tentang kebaikan sendiri, sepanjang apa pun catatannya, menjadi terlalu kecil di samping janji itu, sehingga menghitung-hitung kebaikan kehilangan alasannya.
- Kalimat kepemilikan yang sama dipakai di 4:131 sesudah kemungkinan manusia kufur, lalu ditutup dengan (وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا, wa-kaana llaahu ghaniyyan hamiidan) yang berarti "Allah berkecukupan lagi terpuji". Pemilik langit dan bumi tidak bertambah kaya oleh kebaikan manusia dan tidak berkurang oleh kekufuran mereka. Pembalasan di ayat ini karena itu tidak lahir dari kepentingan pemiliknya. Hasilnya kembali kepada pelaku, berupa ukuran yang setimpal atau berupa yang terbaik.
Ayat 53:32
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.
Terjemahan bertahap (8 jeda)
- الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَalladziina yajtanibuuna kabaa'ira l-itsmi wa-l-fawaahisyaorang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji
- إِلَّا اللَّمَمَillaa l-lamamakecuali dosa-dosa kecil
- إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِinna rabbaka waasi'u l-maghfiratisesungguhnya Tuhanmu luas ampunan-Nya
- هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْhuwa a'lamu bikumDia lebih mengetahui kalian
- إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِidz ansya'akum mina l-ardhisejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi
- وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْwa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikumdan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian
- فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْfa-laa tuzakkuu anfusakummaka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian
- هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰhuwa a'lamu bi-mani ttaqaaDia lebih mengetahui siapa yang bertakwa
Terjemahan per kata (31 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- يَجْتَنِبُونَyajtanibuunamereka menjauhi
- كَبَائِرَkabaa'iradosa-dosa besar
- الْإِثْمِl-itsmidosa
- وَالْفَوَاحِشَwa-l-fawaahisyadan kekejian
- إِلَّاillaakecuali
- اللَّمَمَl-lamamadosa kecil
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- وَاسِعُwaasi'uMahaluas
- الْمَغْفِرَةِl-maghfiratiampunan
- هُوَhuwaDia
- أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
- بِكُمْbikumkepada kalian
- إِذْidzketika
- أَنْشَأَكُمْansya'akummenumbuhkan kalian
- مِنَminadari
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- أَنْتُمْantumkalian
- أَجِنَّةٌajinnatunjanin
- فِيfiidalam
- بُطُونِbuthuuniperut
- أُمَّهَاتِكُمْummahaatikumibu-ibu kalian
- فَلَاfa-laamaka janganlah
- تُزَكُّواtuzakkuukalian menyucitumbuhkan
- أَنْفُسَكُمْanfusakumdiri kalian
- هُوَhuwaDia
- أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
- بِمَنِbi-maniterhadap siapa
- اتَّقَىٰttaqaabertakwa
Inti bacaan
Setiap malam menyebut satu kesalahan kecil hari itu dan memohon ampun atasnya, tanpa membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih buruk.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menerangkan orang-orang yang berbuat baik di ujung ayat sebelumnya. Mereka disebut (يَجْتَنِبُونَ, yajtanibuuna) yang berarti "mereka menjauhi", kata kerja yang menandai perbuatan yang terus berlangsung. Akarnya ج-ن-ب juga memberi kata untuk sisi atau samping, seperti (وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ, wa-sh-shaahibi bi-l-janbi) di 4:36 yang berarti "dan teman sejawat", secara harfiah teman yang berada di samping. Menjauhi di sini bergambar menyingkir ke samping dari sesuatu.
Sasaran yang dijauhi disebut (كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ, kabaa'ira l-itsmi wa-l-fawaahisya) yang berarti "dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji". Rangkaian (يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ, yajtanibuuna kabaa'ira l-itsmi wa-l-fawaahisya) muncul dua kali, di 42:37 dan 53:32, dan keduanya diterjemahkan sama. Kata untuk perbuatan-perbuatan keji dengan kata sandang al- muncul empat kali, di 6:151, 7:33, 42:37, dan 53:32. Bentuknya jamak dan bertakrif, sehingga yang ditunjuk golongan perbuatan yang sudah dikenal. Di keempat tempat itu golongan ini dijauhi, dilarang didekati, atau diharamkan, misalnya (وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ, wa-laa taqrabuu l-fawaahisya) di 6:151 yang berarti "dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji".
Pengecualiannya berbunyi (إِلَّا اللَّمَمَ, illaa l-lamama) yang berarti "kecuali dosa-dosa kecil". Kata (اللَّمَمَ, l-lamama) muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini (53:32). Akarnya ل-م-م dipakai di tiga ayat lain (6:150, 33:18, 89:19) dengan makna yang jauh berbeda, sehingga tidak ada ayat kedua yang bisa menunjukkan batas persis kata ini. Dari susunannya dapat dipastikan dua perkara. Kata ini berdiri di luar dua golongan sebelumnya, sehingga maknanya dosa yang tidak termasuk dosa besar dan tidak termasuk perbuatan keji. Kalimat sesudahnya langsung menyebut ampunan, dan ampunan diperlukan untuk dosa, sehingga yang kecil itu tetap terhitung dosa dan tidak berubah menjadi sesuatu yang dibolehkan.
Sesudah pengakuan itu datang (إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ, inna rabbaka waasi'u l-maghfirati) yang berarti "sesungguhnya Tuhanmu luas ampunan-Nya". Rangkaian ini muncul sekali (53:32). Kata (وَاسِعُ, waasi'u) dari akar و-س-ع juga berdiri sebagai sifat Allah di ayat lain, misalnya (إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ, inna llaaha waasi'un 'aliimun) di 2:115 yang berarti "sesungguhnya Allah luas lagi berilmu". Di ayat ini keluasan itu diikatkan pada ampunan secara khusus.
Alasan berikutnya dibuka dengan (هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ, huwa a'lamu bikum) yang berarti "Dia lebih mengetahui kalian", lalu dua waktu disebut. Waktu pertama (إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ, idz ansya'akum mina l-ardhi) yang berarti "sejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi", dan rangkaian yang sama ada di 11:61. Kata kerja (أَنْشَأَكُمْ, ansya'akum) berasal dari akar ن-ش-أ dan diterjemahkan "menumbuhkan" di kedua tempat. Waktu kedua (وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ, wa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikum) yang berarti "dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian". Kata (أَجِنَّةٌ, ajinnatun) muncul sekali (53:32), sedangkan rangkaian (بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ, buthuuni ummahaatikum) muncul tiga kali, di 16:78, 39:6, dan 53:32.
Larangannya berbunyi (فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ, fa-laa tuzakkuu anfusakum) yang berarti "maka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian", dan rangkaian ini muncul sekali (53:32). Kata kerja (تُزَكُّوا, tuzakkuu) berasal dari akar ز-ك-و, akar yang juga memberi (الزَّكَاةَ, z-zakaata) di 2:43 yang berarti "zakat". Terjemahan ini memakai kata gabungan menyucitumbuhkan, yaitu membuat suci sekaligus membuat tumbuh baik, untuk kata kerja dari akar ini. Kata kerja yang sama dipakai dengan arah yang baik di 91:9, (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا, qad aflaha man zakkaahaa) yang berarti "sungguh beruntung orang yang menyucitumbuhkannya", yaitu menyucitumbuhkan jiwanya. Sebagai pekerjaan, menyucitumbuhkan jiwa dipuji di sana.
Larangan di ayat ini jatuh pada perkara lain, dan penutupnya menunjukkan perkara itu, (هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ, huwa a'lamu bi-mani ttaqaa) yang berarti "Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa". Rangkaian ini muncul sekali (53:32). Alasannya soal pengetahuan dan penilaian, sehingga yang dilarang menyatakan diri sudah suci. Pasangan terdekatnya ada di 4:49, (يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ, yuzakkuuna anfusahum) yang berarti "menyucitumbuhkan diri mereka", disusul (بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ, bali llaahu yuzakkii man yasyaa'u) yang berarti "sebenarnya Allah menyucitumbuhkan siapa yang Dia kehendaki". Di kedua ayat, pernyataan suci atas diri sendiri ditolak, dan penilaiannya dikembalikan kepada Allah.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi janji di 53:31 dengan gambaran orang yang dijanjikan. Gambaran itu memuat pengakuan yang jarang ada dalam pujian, yaitu dosa-dosa kecil yang tetap tersisa. Penyertaan itu bentuk ketelitian, tidak kelonggaran. Gambaran yang menghapus semua kekurangan akan menghasilkan ukuran yang tidak bisa dipenuhi manusia mana pun, dan ukuran semacam itu berhenti berguna.
Letak keluasan ampunan tepat sesudah pengakuan itu, sebelum kebaikan mereka disebut lebih jauh. Urutan ini menunjukkan untuk apa ampunan disediakan. Ampunan tidak menunggu kesempurnaan, tetapi disebut tepat ketika kekurangan diakui. Kalau urutannya dibalik, ampunan akan terbaca sebagai hadiah bagi orang yang sudah bersih.
Larangan penutupnya menutup jalan yang masih terbuka bagi orang yang sudah menjauhi dosa besar, yaitu merasa dirinya bersih. Alasannya bukan bahwa penilaian itu sulit, tetapi bahwa sudah ada yang mengenal manusia sejak dari bumi dan sejak dalam kandungan, dua keadaan yang tidak diingat siapa pun. Penilaian diri ditarik karena ada pengetahuan yang jauh lebih panjang daripada ingatan orangnya sendiri.
Rangkaian 53:30-32 memakai "Dia lebih mengetahui" dua kali di 53:30 dan dua kali di ayat ini. Di 53:30 pengetahuan itu menilai siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk, sedangkan di sini pengetahuan yang sama menahan manusia dari menilai dirinya sendiri. Penilaian ke luar dan penilaian ke dalam sama-sama dikembalikan kepada-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka menjauhi dosa besar, lalu menambahkan bahwa dosa-dosa kecil masih ada pada mereka. Kekurangan itu tidak dihapus dari gambaran orang baik. Pengakuan di tengah pujian menjaga dua jenis pembaca sekaligus. Pembaca yang merasa dirinya sudah bersih tidak menemukan cerminnya di sini, dan pembaca yang merasa terlalu kotor untuk masuk hitungan juga tidak, sebab orang yang dipuji pun masih membawa kesalahan kecil. Allah memuji mereka tanpa lebih dulu menghapus kekurangan itu dari gambarannya.
- Alasan yang diberikan Allah bukan bahwa penilaian itu sulit, tetapi bahwa Dia sudah mengenal manusia sejak dari bumi dan sejak masih janin. Pengenalan itu mendahului seluruh perjalanan hidup seseorang, termasuk bagian yang tidak pernah bisa diingat orangnya sendiri. Menyebut diri suci di hadapan Dia yang mengenal sejak sebelum ingatan terbentuk menjadi janggal, karena tidak ada bagian dari perjalanan itu yang berlangsung tanpa disaksikan. Cerita hidup yang disusun seseorang tentang dirinya selalu dimulai dari bagian yang dia ingat, sedangkan pengetahuan Allah dimulai jauh sebelum itu.
- Menjaga diri dan merasa sudah terjaga letaknya berdekatan. Kapan mensyukuri kebaikan yang sudah dikerjakan berubah menjadi menilai diri sendiri suci? Batas itu biasanya terasa ketika perbandingan dengan orang lain mulai masuk. Syukur tidak memerlukan pembanding, karena yang disyukuri pemberian Allah dan pemberian itu tidak menjadi lebih besar ketika orang lain tampak lebih kecil. Penilaian diri hampir selalu memerlukan pembanding, dan pada titik itu larangan ini mulai bekerja.
- Kata (اللَّمَمَ, l-lamama) untuk dosa-dosa kecil muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini (53:32), sehingga tidak ada ayat kedua yang menentukan batasnya. Kalau daftarnya diberikan, orang bisa mengerjakan seluruh isi daftar sampai batas terakhir lalu merasa aman. Tanpa rincian, pembaca tertahan di tempat yang tidak nyaman, tetap berhati-hati tanpa pernah bisa memastikan sudah cukup, sambil tetap berharap pada ampunan Allah yang luas. Kehati-hatian dan harapan itu berjalan bersama, dan tidak satu pun dari keduanya boleh ditinggalkan demi yang lain.
- Allah menyebut sifat baik mereka, menyebut luasnya ampunan-Nya, lalu melarang mereka menyatakan diri suci. Pujian dan larangan memuji diri diletakkan dalam satu ayat. Orang yang besar kemungkinannya merasa suci bukan orang yang jauh dari kebaikan, tetapi orang yang memang sedang menjaga dirinya, sebab dialah yang punya bahan untuk merasa begitu. Peringatan ini karena itu tertuju kepada yang baru saja dipuji. Orang yang tidak pernah menjaga dirinya jarang tergoda menyebut dirinya suci, sedangkan orang yang sudah lama menjaga diri punya catatan panjang untuk dijadikan alasan.
- Keluasan ampunan Tuhanmu disebut sesudah dosa-dosa kecil diakui, tanpa syarat kesempurnaan apa pun. Sebagian orang menunda kembali kepada Allah sampai merasa cukup bersih untuk menghadap. Urutan ayat ini berjalan ke arah sebaliknya. Kekurangan yang diakui menjadi tempat ampunan itu disebut, sehingga menunggu diri bersih lebih dulu berarti menunda sesuatu yang tidak pernah dijadikan syarat. Orang yang menunggu sampai merasa layak bisa menunggu sepanjang hidupnya, karena rasa layak itu sendiri dekat dengan rasa suci yang dilarang di ujung ayat ini.