ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ

Itulah jangkauan pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِdzaalika mablaghuhum mina l-'ilmiitulah jangkauan pengetahuan mereka
  2. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِinna rabbaka huwa a'lamu bi-man dhalla 'an sabiilihisesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya
  3. وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰwa-huwa a'lamu bi-mani htadaadan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. مَبْلَغُهُمْmablaghuhumjangkauan mereka
  3. مِنَminadari
  4. الْعِلْمِl-'ilmiilmu
  5. إِنَّinnasesungguhnya
  6. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  7. هُوَhuwaDialah
  8. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  9. بِمَنْbi-manterhadap siapa
  10. ضَلَّdhallasesat
  11. عَنْ'andari
  12. سَبِيلِهِsabiilihijalan-Nya
  13. وَهُوَwa-huwadan Dia
  14. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  15. بِمَنِbi-maniterhadap siapa
  16. اهْتَدَىٰhtadaamendapat petunjuk

Inti bacaan

Saat menilai orang yang berbeda jalan, menyimpan kesimpulan tentang akhir hidupnya dan memakai waktu itu untuk memeriksa amal sendiri pekan ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ, dzaalika mablaghuhum mina l-'ilmi) yang berarti "itulah jangkauan pengetahuan mereka". Kata tunjuk (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu" menunjuk keadaan yang baru disebut di 53:29, yaitu kehendak yang tidak melampaui kehidupan dunia. Kata (مَبْلَغُهُمْ, mablaghuhum) yang berarti "jangkauan mereka" berasal dari akar ب-ل-غ dan tidak muncul dalam bentuk ini di tempat lain dalam Al-Qur'an. Kata kerjanya dipakai untuk mencapai sesuatu, misalnya (لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ, li-tablughuu asyuddakum) yang berarti "hingga kalian mencapai usia dewasa" di 22:5, dan untuk sampai ke suatu tempat di 18:61. Bentuk (مَبْلَغُ, mablaghu) menunjuk titik yang dicapai, sehingga terjemahannya "jangkauan", yaitu sejauh mana pengetahuan mereka sampai.

Kata (الْعِلْمِ, l-'ilmi) yang berarti "pengetahuan" menyambung 53:28, yang menyatakan mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang penamaan para malaikat. Kedua ayat tidak bertentangan. Ayat 53:28 menyangkal pengetahuan mereka tentang perkara gaib itu, sedangkan ayat ini mengakui bahwa mereka punya pengetahuan, dengan jangkauan yang berhenti di dunia. Ayat 30:7 menyatakan hal serupa, (يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, ya'lamuuna zhaahiran mina l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia".

Kalimat kedua berbunyi (إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ, inna rabbaka huwa a'lamu bi-man dhalla 'an sabiilihi) yang berarti "sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya". Kata (أَعْلَمُ, a'lamu) berpola perbandingan dari akar ع-ل-م dan diterjemahkan "lebih mengetahui" seperti di kebanyakan kemunculannya. Kata ganti (هُوَ, huwa) yang disisipkan sesudah Tuhanmu menegaskan pelakunya, sehingga terjemahannya menjadi "Dialah". Kalimat ini muncul kata demi kata di 16:125 dan 68:7, dan 6:117 memakai bentuk yang dekat dengan (مَنْ يَضِلُّ, man yadhillu) yang berarti "siapa yang tersesat". Kata (ضَلَّ, dhalla) yang berarti "sesat" berasal dari akar ض-ل-ل, akar yang dalam surah ini muncul di dua tempat, di ayat ini dan di 53:2, (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ, maa dhalla shaahibukum) yang berarti "kawan kalian tidak sesat".

Kalimat ketiga berbunyi (وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ, wa-huwa a'lamu bi-mani htadaa) yang berarti "dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk". Kata kerja (اهْتَدَىٰ, htadaa) berasal dari akar ه-د-ي, akar yang dalam surah ini juga muncul di dua tempat, di ayat ini dan di 53:23 dalam (الْهُدَىٰ, l-hudaa) yang berarti "petunjuk". Ayat 53:32 memakai kata (أَعْلَمُ, a'lamu) dua kali lagi, sehingga dalam tiga ayat kata itu muncul empat kali.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 53:19. Rangkaian itu berawal dari pertanyaan tentang al-Lata, al-Uzza, dan Manat, lalu bergerak melalui pembagian yang tidak adil, nama-nama tanpa keterangan, angan-angan, syafaat, dan penamaan para malaikat, sampai perintah berpaling di 53:29. Ayat ini memberi dua penutup. Penutup pertama menjelaskan keadaan mereka, dan penutup kedua mengembalikan penilaian kepada Allah.

Penutup pertama menempatkan kesalahan mereka pada jangkauan. Pengetahuan mereka tidak kosong dalam segala hal, tetapi pengetahuan itu berhenti di kehidupan dunia, sejalan dengan kehendak mereka yang juga berhenti di sana. Ayat ini memperlihatkan hubungan antara kehendak dan pengetahuan. Orang cenderung mengetahui sejauh yang dikehendakinya, dan kehendak yang tidak melampaui dunia menghasilkan pengetahuan yang tidak melampauinya pula.

Penutup kedua menyebut Tuhan dari orang yang disapa, orang yang sama yang di 53:29 diperintahkan untuk berpaling. Perintah berpaling bisa menimbulkan pertanyaan apakah orang-orang itu sudah pasti sesat untuk selamanya. Ayat ini tidak menjawab pertanyaan itu dengan vonis. Penilaian tentang siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk disebut lebih diketahui Allah, dan kedua golongan disebut dengan susunan yang sejajar. Orang yang disapa cukup berpaling, dan memastikan akhir perjalanan seseorang tidak menjadi tugasnya. Ayat 53:32 memperluas prinsip ini kepada semua orang, (فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ, fa-laa tuzakkuu anfusakum) yang berarti "maka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian", karena (هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ, huwa a'lamu bi-mani ttaqaa) yang berarti "Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa".

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut jangkauan pengetahuan mereka, dan kata jangkauan berlaku bagi siapa saja. Setiap orang mengetahui sampai titik tertentu, lalu berhenti. Masalahnya jarang terletak pada batas itu sendiri. Masalahnya muncul ketika orang tidak menyadari batasnya dan berbicara seolah-olah pengetahuannya menjangkau segala hal. Mengenali titik tempat jangkauan kita berhenti membuat kita lebih mudah berkata cukup sampai di sini, dan lebih mudah bertanya kepada yang lebih mengetahui.
  • Ayat 30:7 menyebut orang yang mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai. Gambaran ini dekat dengan kehidupan profesional kita. Seseorang bisa sangat mahir membaca angka, menyusun rencana, dan memenangkan persaingan, sementara pertanyaan tentang untuk apa semua itu tidak pernah disentuh. Kemahiran di satu bidang mudah terasa sebagai kebijaksanaan menyeluruh. Ayat ini membantu membedakan keduanya, sebab jangkauan pengetahuan bisa luas di dalam dunia dan tetap berhenti di tepinya.
  • Ayat ini menyambungkan pengetahuan mereka dengan kehendak mereka yang berhenti di dunia. Hubungan itu layak diuji pada diri sendiri. Apa yang kita pelajari dengan sungguh-sungguh dalam setahun terakhir, dan untuk kehendak apa kita mempelajarinya? Jawaban atas pertanyaan itu sering memperlihatkan jangkauan pengetahuan kita lebih jujur daripada daftar kemampuan mana pun. Orang yang ingin melihat lebih jauh perlu lebih dulu menghendaki sesuatu yang lebih jauh.
  • Allah menyebut Dia lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Kalimat itu datang tepat sesudah perintah berpaling, seolah menjaga agar berpaling tidak berubah menjadi vonis. Kita sering merasa perlu memastikan status orang yang kita tinggalkan, bahwa orang itu pasti salah dan kita pasti benar. Ayat ini melepaskan kebutuhan itu. Kita boleh mengambil jarak dari orang yang memunggungi peringatan tanpa harus memutuskan akhir perjalanannya, karena keputusan itu tidak pernah menjadi milik kita.
  • Kalimat ketiga menyebut Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. Bagian ini berlaku juga bagi orang yang merasa sudah berada di jalan yang benar. Keyakinan bahwa diri sendiri mendapat petunjuk tidak bisa dipastikan manusia, sama seperti kesesatan orang lain. Ayat 53:32 menegaskannya dengan larangan menyucitumbuhkan diri sendiri. Kesadaran ini menjaga orang yang berpaling dari sikap merasa lebih suci, dan membuatnya tetap memeriksa diri meskipun sedang berada di pihak yang memperingatkan.
  • Kata mendapat petunjuk dalam ayat ini berasal dari akar yang sama dengan petunjuk di 53:23, petunjuk yang disebut telah datang kepada mereka dari Tuhan mereka. Petunjuk sudah tersedia, dan pembeda antara orang yang sesat dan orang yang mendapat petunjuk terletak pada sikap terhadap petunjuk itu. Kata kerja dalam ayat ini menggambarkan orang yang mengambil petunjuk itu bagi dirinya, dan kabar tentang petunjuk belum cukup untuk itu. Hal yang sama berlaku bagi kita yang membaca. Petunjuk yang sudah sampai ke tangan belum menjadi petunjuk bagi kita sampai kita mengikutinya.