الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui kalian sejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian. Maka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

Terjemahan bertahap (8 jeda)

  1. الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَalladziina yajtanibuuna kabaa'ira l-itsmi wa-l-fawaahisyaorang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji
  2. إِلَّا اللَّمَمَillaa l-lamamakecuali dosa-dosa kecil
  3. إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِinna rabbaka waasi'u l-maghfiratisesungguhnya Tuhanmu luas ampunan-Nya
  4. هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْhuwa a'lamu bikumDia lebih mengetahui kalian
  5. إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِidz ansya'akum mina l-ardhisejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi
  6. وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْwa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikumdan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian
  7. فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْfa-laa tuzakkuu anfusakummaka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian
  8. هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰhuwa a'lamu bi-mani ttaqaaDia lebih mengetahui siapa yang bertakwa

Terjemahan per kata (31 kata)

  1. الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
  2. يَجْتَنِبُونَyajtanibuunamereka menjauhi
  3. كَبَائِرَkabaa'iradosa-dosa besar
  4. الْإِثْمِl-itsmidosa
  5. وَالْفَوَاحِشَwa-l-fawaahisyadan kekejian
  6. إِلَّاillaakecuali
  7. اللَّمَمَl-lamamadosa kecil
  8. إِنَّinnasesungguhnya
  9. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  10. وَاسِعُwaasi'uMahaluas
  11. الْمَغْفِرَةِl-maghfiratiampunan
  12. هُوَhuwaDia
  13. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  14. بِكُمْbikumkepada kalian
  15. إِذْidzketika
  16. أَنْشَأَكُمْansya'akummenumbuhkan kalian
  17. مِنَminadari
  18. الْأَرْضِl-ardhibumi
  19. وَإِذْwa-idzdan ketika
  20. أَنْتُمْantumkalian
  21. أَجِنَّةٌajinnatunjanin
  22. فِيfiidalam
  23. بُطُونِbuthuuniperut
  24. أُمَّهَاتِكُمْummahaatikumibu-ibu kalian
  25. فَلَاfa-laamaka janganlah
  26. تُزَكُّواtuzakkuukalian menyucitumbuhkan
  27. أَنْفُسَكُمْanfusakumdiri kalian
  28. هُوَhuwaDia
  29. أَعْلَمُa'lamulebih mengetahui
  30. بِمَنِbi-maniterhadap siapa
  31. اتَّقَىٰttaqaabertakwa

Inti bacaan

Setiap malam menyebut satu kesalahan kecil hari itu dan memohon ampun atasnya, tanpa membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih buruk.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menerangkan orang-orang yang berbuat baik di ujung ayat sebelumnya. Mereka disebut (يَجْتَنِبُونَ, yajtanibuuna) yang berarti "mereka menjauhi", kata kerja yang menandai perbuatan yang terus berlangsung. Akarnya ج-ن-ب juga memberi kata untuk sisi atau samping, seperti (وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ, wa-sh-shaahibi bi-l-janbi) di 4:36 yang berarti "dan teman sejawat", secara harfiah teman yang berada di samping. Menjauhi di sini bergambar menyingkir ke samping dari sesuatu.

Sasaran yang dijauhi disebut (كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ, kabaa'ira l-itsmi wa-l-fawaahisya) yang berarti "dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji". Rangkaian (يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ, yajtanibuuna kabaa'ira l-itsmi wa-l-fawaahisya) muncul dua kali, di 42:37 dan 53:32, dan keduanya diterjemahkan sama. Kata untuk perbuatan-perbuatan keji dengan kata sandang al- muncul empat kali, di 6:151, 7:33, 42:37, dan 53:32. Bentuknya jamak dan bertakrif, sehingga yang ditunjuk golongan perbuatan yang sudah dikenal. Di keempat tempat itu golongan ini dijauhi, dilarang didekati, atau diharamkan, misalnya (وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ, wa-laa taqrabuu l-fawaahisya) di 6:151 yang berarti "dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji".

Pengecualiannya berbunyi (إِلَّا اللَّمَمَ, illaa l-lamama) yang berarti "kecuali dosa-dosa kecil". Kata (اللَّمَمَ, l-lamama) muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini (53:32). Akarnya ل-م-م dipakai di tiga ayat lain (6:150, 33:18, 89:19) dengan makna yang jauh berbeda, sehingga tidak ada ayat kedua yang bisa menunjukkan batas persis kata ini. Dari susunannya dapat dipastikan dua perkara. Kata ini berdiri di luar dua golongan sebelumnya, sehingga maknanya dosa yang tidak termasuk dosa besar dan tidak termasuk perbuatan keji. Kalimat sesudahnya langsung menyebut ampunan, dan ampunan diperlukan untuk dosa, sehingga yang kecil itu tetap terhitung dosa dan tidak berubah menjadi sesuatu yang dibolehkan.

Sesudah pengakuan itu datang (إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ, inna rabbaka waasi'u l-maghfirati) yang berarti "sesungguhnya Tuhanmu luas ampunan-Nya". Rangkaian ini muncul sekali (53:32). Kata (وَاسِعُ, waasi'u) dari akar و-س-ع juga berdiri sebagai sifat Allah di ayat lain, misalnya (إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ, inna llaaha waasi'un 'aliimun) di 2:115 yang berarti "sesungguhnya Allah luas lagi berilmu". Di ayat ini keluasan itu diikatkan pada ampunan secara khusus.

Alasan berikutnya dibuka dengan (هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ, huwa a'lamu bikum) yang berarti "Dia lebih mengetahui kalian", lalu dua waktu disebut. Waktu pertama (إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ, idz ansya'akum mina l-ardhi) yang berarti "sejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi", dan rangkaian yang sama ada di 11:61. Kata kerja (أَنْشَأَكُمْ, ansya'akum) berasal dari akar ن-ش-أ dan diterjemahkan "menumbuhkan" di kedua tempat. Waktu kedua (وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ, wa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikum) yang berarti "dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu kalian". Kata (أَجِنَّةٌ, ajinnatun) muncul sekali (53:32), sedangkan rangkaian (بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ, buthuuni ummahaatikum) muncul tiga kali, di 16:78, 39:6, dan 53:32.

Larangannya berbunyi (فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ, fa-laa tuzakkuu anfusakum) yang berarti "maka, janganlah kalian menyucitumbuhkan diri kalian", dan rangkaian ini muncul sekali (53:32). Kata kerja (تُزَكُّوا, tuzakkuu) berasal dari akar ز-ك-و, akar yang juga memberi (الزَّكَاةَ, z-zakaata) di 2:43 yang berarti "zakat". Terjemahan ini memakai kata gabungan menyucitumbuhkan, yaitu membuat suci sekaligus membuat tumbuh baik, untuk kata kerja dari akar ini. Kata kerja yang sama dipakai dengan arah yang baik di 91:9, (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا, qad aflaha man zakkaahaa) yang berarti "sungguh beruntung orang yang menyucitumbuhkannya", yaitu menyucitumbuhkan jiwanya. Sebagai pekerjaan, menyucitumbuhkan jiwa dipuji di sana.

Larangan di ayat ini jatuh pada perkara lain, dan penutupnya menunjukkan perkara itu, (هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ, huwa a'lamu bi-mani ttaqaa) yang berarti "Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa". Rangkaian ini muncul sekali (53:32). Alasannya soal pengetahuan dan penilaian, sehingga yang dilarang menyatakan diri sudah suci. Pasangan terdekatnya ada di 4:49, (يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ, yuzakkuuna anfusahum) yang berarti "menyucitumbuhkan diri mereka", disusul (بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ, bali llaahu yuzakkii man yasyaa'u) yang berarti "sebenarnya Allah menyucitumbuhkan siapa yang Dia kehendaki". Di kedua ayat, pernyataan suci atas diri sendiri ditolak, dan penilaiannya dikembalikan kepada Allah.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi janji di 53:31 dengan gambaran orang yang dijanjikan. Gambaran itu memuat pengakuan yang jarang ada dalam pujian, yaitu dosa-dosa kecil yang tetap tersisa. Penyertaan itu bentuk ketelitian, tidak kelonggaran. Gambaran yang menghapus semua kekurangan akan menghasilkan ukuran yang tidak bisa dipenuhi manusia mana pun, dan ukuran semacam itu berhenti berguna.

Letak keluasan ampunan tepat sesudah pengakuan itu, sebelum kebaikan mereka disebut lebih jauh. Urutan ini menunjukkan untuk apa ampunan disediakan. Ampunan tidak menunggu kesempurnaan, tetapi disebut tepat ketika kekurangan diakui. Kalau urutannya dibalik, ampunan akan terbaca sebagai hadiah bagi orang yang sudah bersih.

Larangan penutupnya menutup jalan yang masih terbuka bagi orang yang sudah menjauhi dosa besar, yaitu merasa dirinya bersih. Alasannya bukan bahwa penilaian itu sulit, tetapi bahwa sudah ada yang mengenal manusia sejak dari bumi dan sejak dalam kandungan, dua keadaan yang tidak diingat siapa pun. Penilaian diri ditarik karena ada pengetahuan yang jauh lebih panjang daripada ingatan orangnya sendiri.

Rangkaian 53:30-32 memakai "Dia lebih mengetahui" dua kali di 53:30 dan dua kali di ayat ini. Di 53:30 pengetahuan itu menilai siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk, sedangkan di sini pengetahuan yang sama menahan manusia dari menilai dirinya sendiri. Penilaian ke luar dan penilaian ke dalam sama-sama dikembalikan kepada-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka menjauhi dosa besar, lalu menambahkan bahwa dosa-dosa kecil masih ada pada mereka. Kekurangan itu tidak dihapus dari gambaran orang baik. Pengakuan di tengah pujian menjaga dua jenis pembaca sekaligus. Pembaca yang merasa dirinya sudah bersih tidak menemukan cerminnya di sini, dan pembaca yang merasa terlalu kotor untuk masuk hitungan juga tidak, sebab orang yang dipuji pun masih membawa kesalahan kecil. Allah memuji mereka tanpa lebih dulu menghapus kekurangan itu dari gambarannya.
  • Alasan yang diberikan Allah bukan bahwa penilaian itu sulit, tetapi bahwa Dia sudah mengenal manusia sejak dari bumi dan sejak masih janin. Pengenalan itu mendahului seluruh perjalanan hidup seseorang, termasuk bagian yang tidak pernah bisa diingat orangnya sendiri. Menyebut diri suci di hadapan Dia yang mengenal sejak sebelum ingatan terbentuk menjadi janggal, karena tidak ada bagian dari perjalanan itu yang berlangsung tanpa disaksikan. Cerita hidup yang disusun seseorang tentang dirinya selalu dimulai dari bagian yang dia ingat, sedangkan pengetahuan Allah dimulai jauh sebelum itu.
  • Menjaga diri dan merasa sudah terjaga letaknya berdekatan. Kapan mensyukuri kebaikan yang sudah dikerjakan berubah menjadi menilai diri sendiri suci? Batas itu biasanya terasa ketika perbandingan dengan orang lain mulai masuk. Syukur tidak memerlukan pembanding, karena yang disyukuri pemberian Allah dan pemberian itu tidak menjadi lebih besar ketika orang lain tampak lebih kecil. Penilaian diri hampir selalu memerlukan pembanding, dan pada titik itu larangan ini mulai bekerja.
  • Kata (اللَّمَمَ, l-lamama) untuk dosa-dosa kecil muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini (53:32), sehingga tidak ada ayat kedua yang menentukan batasnya. Kalau daftarnya diberikan, orang bisa mengerjakan seluruh isi daftar sampai batas terakhir lalu merasa aman. Tanpa rincian, pembaca tertahan di tempat yang tidak nyaman, tetap berhati-hati tanpa pernah bisa memastikan sudah cukup, sambil tetap berharap pada ampunan Allah yang luas. Kehati-hatian dan harapan itu berjalan bersama, dan tidak satu pun dari keduanya boleh ditinggalkan demi yang lain.
  • Allah menyebut sifat baik mereka, menyebut luasnya ampunan-Nya, lalu melarang mereka menyatakan diri suci. Pujian dan larangan memuji diri diletakkan dalam satu ayat. Orang yang besar kemungkinannya merasa suci bukan orang yang jauh dari kebaikan, tetapi orang yang memang sedang menjaga dirinya, sebab dialah yang punya bahan untuk merasa begitu. Peringatan ini karena itu tertuju kepada yang baru saja dipuji. Orang yang tidak pernah menjaga dirinya jarang tergoda menyebut dirinya suci, sedangkan orang yang sudah lama menjaga diri punya catatan panjang untuk dijadikan alasan.
  • Keluasan ampunan Tuhanmu disebut sesudah dosa-dosa kecil diakui, tanpa syarat kesempurnaan apa pun. Sebagian orang menunda kembali kepada Allah sampai merasa cukup bersih untuk menghadap. Urutan ayat ini berjalan ke arah sebaliknya. Kekurangan yang diakui menjadi tempat ampunan itu disebut, sehingga menunggu diri bersih lebih dulu berarti menunda sesuatu yang tidak pernah dijadikan syarat. Orang yang menunggu sampai merasa layak bisa menunggu sepanjang hidupnya, karena rasa layak itu sendiri dekat dengan rasa suci yang dilarang di ujung ayat ini.