Ayat 53:33

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّىٰ

Maka, apakah engkau memperhatikan orang yang berpaling,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَفَرَأَيْتَa-fa-ra'aytamaka, apakah engkau memperhatikan
  2. الَّذِي تَوَلَّىٰalladzii tawallaaorang yang berpaling

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَفَرَأَيْتَa-fa-ra'aytamaka apakah engkau memperhatikan
  2. الَّذِيalladziiyang
  3. تَوَلَّىٰtawallaaberpaling

Inti bacaan

Sebelum menilai perubahan sikap seorang kawan, memperhatikan apa yang dikerjakannya selama beberapa pekan, lalu memeriksa kebiasaan baik sendiri yang sudah ditinggalkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri atas tiga kata. Kata pertama (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) yang berarti "maka, apakah engkau memperhatikan" tersusun dari huruf tanya a-, huruf fa- yang berarti "maka", dan kata kerja dari akar ر-أ-ي yang berarti melihat, dengan pelaku orang kedua tunggal. Bentuk ini muncul empat kali, di 19:77, 26:205, 45:23, dan 53:33, dan keempatnya diterjemahkan sama. Bentuk jamaknya, (أَفَرَأَيْتُمُ, a-fa-ra'aytumu) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan", dipakai di 53:19 untuk mengajak memperhatikan al-Lata dan al-Uzza. Dalam satu surah, bentuk jamak mengajak memperhatikan sembahan, dan bentuk tunggal mengajak memperhatikan seseorang.

Kata kerja dalam (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) berarti melihat, tetapi yang ditanyakan tidak berhenti pada penglihatan mata. Di 26:205 bentuk yang sama diikuti pengandaian, "jika Kami beri mereka kenikmatan bertahun-tahun", sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata tetapi bisa direnungkan. Karena itu kata ini diterjemahkan "memperhatikan", yang mencakup melihat dan menimbang. Pertanyaannya tidak meminta jawaban ya atau tidak. Pertanyaan itu mengarahkan perhatian orang yang ditanya kepada sesuatu, lalu membiarkan kelanjutannya berbicara.

Kata kedua (الَّذِي, alladzii) yang berarti "orang yang" berbentuk tunggal. Di 53:29 kata kerja yang sama dipakai dalam (مَنْ تَوَلَّىٰ, man tawallaa) yang berarti "orang yang berpaling", di dalam perintah untuk berpaling dari mereka. Di ayat ini perhatian dipusatkan pada satu orang. Orang itu tidak dinamai, dan tidak ada ayat lain yang menamainya. Pembaca diberi ciri-cirinya saja, dalam tiga kata kerja yang berurutan di ayat ini dan ayat sesudahnya.

Kata ketiga (تَوَلَّىٰ, tawallaa) yang berarti "berpaling" berasal dari akar و-ل-ي, akar yang berkaitan dengan arah hadap. Di 2:144 bentuk perintahnya berbunyi (فَوَلِّ وَجْهَكَ, fa-walli wajhaka) yang berarti "maka, hadapkanlah wajahmu". Kata tawallaa berlawanan arah dengan itu, karena berarti memalingkan diri dari arah yang tadinya dihadapi. Berpaling karena itu mengandaikan ada yang pernah dihadapi. Bentuk (تَوَلَّىٰ, tawallaa) dipakai dua kali dalam surah ini, di 53:29 dan 53:33. Di 53:29 yang ditinggalkan disebut, (عَنْ ذِكْرِنَا, 'an dzikrinaa) yang berarti "dari peringatan Kami". Di ayat ini kata kerja itu berdiri tanpa keterangan dari apa, sehingga yang ditonjolkan gerakan berpalingnya.

Kata ganti engkau dalam (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) berbentuk tunggal, sama dengan pihak yang diajak bicara di 53:29 dengan perintah (فَأَعْرِضْ, fa-a'ridh) yang berarti "maka, berpalinglah". Bentuk perintah itu muncul lima kali di empat surah, di 4:63, 4:81, 6:68, 32:30, dan 53:29, karena Surah 4 memuatnya dua kali. Terjemahan ini memakai kata berpaling untuk keduanya, tetapi akarnya berbeda. Perintah di 53:29 berasal dari akar ع-ر-ض, sedangkan perbuatan orang itu berasal dari akar و-ل-ي. Pihak yang diperintahkan berpaling dari orang itu kemudian diajak memperhatikannya, sehingga berpaling darinya tidak berarti berhenti memperhatikan apa yang dikerjakannya.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian pendek, 53:33-35, yang berpusat pada seorang yang berpaling. Sebelumnya 53:29 memerintahkan berpaling dari orang yang berpaling dari peringatan, dan 53:30-32 berbicara tentang golongan, yang sesat dan yang mendapat petunjuk, yang berbuat jahat dan yang berbuat baik. Di sini pembicaraan menyempit pada satu orang, dan pembaca diminta memperhatikannya.

Susunan yang sama ada di Surah 19. Ayat 19:77 dibuka dengan (أَفَرَأَيْتَ الَّذِي, a-fa-ra'ayta lladzii) yang berarti "maka, apakah engkau memperhatikan orang yang", disusul perbuatan dan ucapan orang itu, lalu 19:78 bertanya (أَطَّلَعَ الْغَيْبَ, a-ththala'a l-ghayba) yang berarti "apakah dia melihat yang gaib". Di Surah 53 urutannya serupa, dengan ajakan memperhatikan di 53:33, perbuatannya di 53:34, lalu pertanyaan tentang pengetahuan yang gaib di 53:35. Di kedua tempat, orang yang diperhatikan bersikap seakan tahu sesuatu yang tidak bisa diketahuinya, dan pertanyaan penutupnya menggugat dasar pengetahuan itu.

Pertanyaan pembuka itu tidak dijawab di ayat ini. Ayat ini berhenti sesudah kata berpaling, dan ayat-ayat berikutnya menyusun jawabannya lewat ciri-ciri orang itu. Dengan susunan ini, pembaca lebih dulu diajak melihat, baru kemudian diberi bahan untuk menilai. Nama, asal-usul, dan waktunya dibiarkan kosong, sehingga pembaca menilai dari perbuatannya saja, dan perbuatan seperti itu bisa dikenali pada orang di zaman mana pun.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah berbicara tentang golongan, Allah meminta pembaca memperhatikan satu orang. Pembicaraan tentang golongan mudah dibaca dari jauh, sebab selalu ada orang lain yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Satu orang dengan perbuatan tertentu lebih sulit dihindari, karena ciri-cirinya bisa dicocokkan satu per satu, termasuk dengan diri sendiri, dan pembaca yang jujur bisa menemukan sebagian ciri itu pada dirinya. Membaca tentang golongan terasa seperti membaca berita, sedangkan membaca tentang satu orang lebih mirip bercermin.
  • Kata yang dipakai berpaling, tidak menentang dan tidak membantah. Orang ini tidak digambarkan sedang berdebat atau memusuhi, tetapi punggungnya diputar, dan itu cukup untuk membuat Allah meminta perhatian khusus kepadanya. Penolakan yang tenang seperti ini jauh lebih umum daripada perlawanan terbuka, dan karena tidak berisik, orang yang menjalaninya jarang merasa sedang menolak apa pun. Tidak ada kata keras dan tidak ada pertengkaran, sehingga dari luar orang itu tampak baik-baik saja.
  • Di 53:29 disebut dari apa orang berpaling, yaitu dari peringatan Allah, sedangkan di ayat ini keterangan itu dibiarkan kosong. Dari apa seseorang sedang berpaling ketika dirinya tidak merasa sedang berpaling? Kekosongan itu memberi ruang bagi pembaca untuk mengisinya sendiri, dengan nasihat yang tidak lagi didengar, janji yang ditinggalkan, atau kebiasaan baik yang berhenti tanpa pernah diputuskan. Tanpa keterangan dari apa, ayat ini tetap bisa mengenai orang yang merasa tidak pernah menolak peringatan mana pun.
  • Allah membuka dengan ajakan memperhatikan, belum dengan penilaian. Penilaian datang kemudian, sesudah perbuatan orang itu diperlihatkan. Urutan ini berbeda dari kebiasaan menilai orang lain lebih dulu lalu mencari bukti sesudahnya. Pembaca diberi bahan sebelum diberi kesimpulan, sehingga kesimpulannya lahir dari apa yang diperhatikannya sendiri. Penilaian yang datang terlalu awal sering membuat orang berhenti melihat, sedangkan pembaca yang diajak memperhatikan masih membuka mata untuk perbuatan berikutnya.
  • Berpaling mengandaikan ada arah yang tadinya dihadapi, sehingga orang yang dibicarakan ini pernah menghadap sebelum memutar diri. Keadaan itu lebih dekat kepada banyak pembaca daripada gambaran orang yang sejak awal menolak, sebab sebagian besar orang yang menjauh dari kebaikan pernah berada di dekatnya. Allah memilih kata yang menyimpan jejak masa sebelum berpaling itu. Jarak antara menghadap dan berpaling bisa sangat pendek, satu putaran badan, dan putaran itu sering tidak terasa sebagai keputusan.
  • Allah tidak memberi nama orang ini, dan tidak ada ayat lain yang menamainya. Tanpa nama, tidak ada cara untuk menaruh orang ini di masa lalu yang sudah selesai lalu merasa aman di masa sekarang. Ciri-cirinya berupa perbuatan yang bisa ditemukan di tempat kerja, di rumah, atau di depan cermin, sehingga ayat ini tetap menunjuk siapa saja yang cocok dengan gambarannya. Nama akan mengubah ayat ini menjadi kisah tentang orang lain, sedangkan ciri-ciri membuatnya tetap terbuka bagi siapa pun yang membacanya.

Ayat 53:34

وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا وَأَكْدَىٰ

dan memberi sedikit lalu berhenti memberi?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَعْطَىٰ قَلِيلًاwa-a'thaa qaliilandan memberi sedikit
  2. وَأَكْدَىٰwa-akdaalalu berhenti memberi

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَأَعْطَىٰwa-a'thaadan memberi
  2. قَلِيلًاqaliilansedikit
  3. وَأَكْدَىٰwa-akdaadan berhenti memberi

Inti bacaan

Menjadwalkan pemberian rutin, misalnya sedekah bulanan atau kunjungan ke orang tua, dalam ukuran kecil yang sanggup dijaga, supaya tidak berhenti ketika semangat awal hilang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan gambaran orang yang berpaling dengan dua perbuatan. Perbuatan pertama (وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا, wa-a'thaa qaliilan) yang berarti "dan memberi sedikit". Kata kerja (وَأَعْطَىٰ, wa-a'thaa) berasal dari akar ع-ط-و, dan bentuknya tanpa huruf wa- muncul tiga kali, di 20:50, 53:34, dan 92:5. Di 92:5 kata itu berpasangan dengan takwa, (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ, fa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaa) yang berarti "maka adapun orang yang memberi dan bertakwa". Di ayat ini pasangannya kata lain.

Di 20:50 kata kerja yang sama dipakai untuk Allah, (أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ, a'thaa kulla syay'in khalqahu) yang berarti "memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya". Pemberian itu disusul (ثُمَّ هَدَىٰ, tsumma hadaa) yang berarti "kemudian memberinya petunjuk", sehingga satu pemberian berlanjut dengan pemberian berikutnya. Di ayat ini pemberian disusul berhenti. Kata kerja yang sama, dengan bunyi akhir yang sama, dipakai untuk dua gerakan yang berlawanan arah.

Kata (قَلِيلًا, qaliilan) yang berarti "sedikit" berasal dari akar ق-ل-ل, dan kata yang sama bisa mengukur jumlah atau waktu. Di 23:114 kata ini mengukur lamanya tinggal, (إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا, in labitstum illaa qaliilan) yang berarti "kalian tidak tinggal kecuali sebentar". Di ayat ini keduanya mungkin, pemberian yang kecil jumlahnya atau pemberian yang singkat masanya, dan kelanjutan ayat cocok dengan keduanya.

Perbuatan kedua (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa) yang berarti "lalu berhenti memberi". Kata ini muncul sekali di seluruh Al-Qur'an (53:34), dan akarnya ك-د-ي tidak dipakai di ayat mana pun selain ayat ini. Maknanya karena itu dibaca dari letaknya. Kata ini berdiri berhadapan dengan memberi sedikit dan disambung dengan huruf wa-, sehingga keduanya membentuk satu gerakan, memberi lalu berhenti.

Kata (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa) juga berdiri tanpa sasaran. Tidak ada keterangan tentang apa yang berhenti diberikan, kepada siapa, atau berapa sisanya, dan terjemahan ini tidak menambahkan kata sisanya yang tidak ada di teks. Karena itu dipilih "berhenti memberi". Kata menahan akan meminta sesuatu yang ditahan, sedangkan teksnya membiarkan tempat itu kosong.

Tiga kata kerja yang menggambarkan orang ini, (تَوَلَّىٰ, tawallaa) di 53:33, (وَأَعْطَىٰ, wa-a'thaa), dan (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa), sama-sama berbentuk lampau. Ketiganya menandai perbuatan yang sudah terjadi, sehingga orang itu digambarkan lewat perbuatan yang sudah selesai, dan perbuatan terakhir dalam urutannya berhenti. Ketiganya juga berakhir dengan bunyi -aa, bunyi yang menutup sebagian besar ayat di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan wujud berpaling yang disebut di ayat sebelumnya. Orang itu tidak digambarkan sebagai orang yang tidak pernah memberi. Pemberiannya ada, walaupun sedikit, lalu berhenti, sehingga berpalingnya berupa kebaikan yang dihentikan di tengah jalan.

Surah 92 menyusun dua orang yang berlawanan. Di 92:5-6 ada orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan yang terbaik, dan di 92:8-9 ada orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan yang terbaik. Tiga kata dari gambaran itu muncul juga di rangkaian ini. Kata yang terbaik ada di 53:31, bertakwa di 53:32, dan memberi di ayat ini. Orang di ayat ini berada di antara dua gambaran Surah 92. Dia memberi, seperti orang pertama, tetapi pemberiannya berhenti, sehingga ujungnya mendekati orang kedua. Di 92:19-20 orang yang memberi itu digambarkan tidak sedang membalas budi siapa pun, tetapi mencari wajah Tuhannya, dan tujuan seperti itu tidak habis ketika balasan dari manusia tidak datang.

Alasan berhentinya dibiarkan tanpa keterangan. Ayat berikutnya langsung bertanya apakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia melihat. Pertanyaan itu memberi arah bacaan. Orang yang berhenti memberi bertindak seakan sudah melihat bahwa pemberiannya tidak diperlukan lagi, atau bahwa dirinya aman tanpa melanjutkannya. Keyakinan seperti itu memerlukan pengetahuan yang tidak dimilikinya, dan 53:35 menggugat pengetahuan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mencatat bahwa orang ini pernah memberi. Pemberian pertamanya tidak dihapus, tetapi juga tidak menjadi ukuran. Gambaran tentang dirinya ditutup dengan berhenti, dan penutup itu yang menentukan arah seluruh gambaran. Banyak kebaikan dimulai dengan semangat lalu mengering pelan-pelan, dan permulaan yang baik tidak menjamin apa pun tentang ujungnya. Allah mencatat keduanya, dan urutan keduanya memperlihatkan ke arah mana orang itu bergerak.
  • Pada titik mana sedikit mulai terasa sudah cukup? Pemberian kecil sering terasa besar bagi yang memberi, karena dirinya ingat setiap rupiah dan setiap jam yang dikeluarkan. Rasa sudah cukup itu bisa datang jauh sebelum kebutuhan orang yang diberi selesai. Ayat ini memperlihatkan seseorang yang berhenti di titik itu, tanpa memberi tahu apakah dia merasa sudah memberi banyak. Ukuran cukup yang dipakai pemberi sering berasal dari rasa lelahnya sendiri, tidak dari kebutuhan orang yang menerima.
  • Allah tidak mencatat alasan orang ini berhenti. Alasan yang biasa dipakai manusia untuk berhenti memberi hampir selalu terdengar masuk akal, misalnya keadaan sedang sulit, orang yang dibantu tidak berterima kasih, atau sudah ada pihak lain yang membantu. Ayat ini tidak menimbang alasan-alasan itu satu per satu. Perbuatannya yang dicatat, dan perbuatannya berhenti. Tanpa alasan tertulis, pembaca tidak bisa berlindung di balik alasan yang sama ketika dirinya sendiri berhenti.
  • Kata berhenti memberi berdiri tanpa sasaran, sehingga tidak terikat pada harta saja. Pemberian bisa berupa uang, waktu, perhatian, bantuan, atau kesetiaan pada sebuah janji. Allah membiarkan tempat itu kosong, dan setiap jenis pemberian yang pernah dimulai lalu dihentikan bisa masuk ke dalamnya. Pembaca bisa menemukan dirinya di sini meski tidak pernah memberi uang kepada siapa pun. Kunjungan kepada orang tua yang makin jarang, perhatian kepada kawan yang pernah dibantu, atau janji kepada Allah sendiri bisa berhenti dengan cara yang sama.
  • Di 92:5 Allah memasangkan memberi dengan bertakwa, sedangkan di ayat ini memberi dipasangkan dengan berhenti. Pemberian yang ditopang takwa, yang di 92:20 disebut mencari wajah Tuhannya, tidak bergantung pada terima kasih orang yang diberi. Pemberian yang tidak ditopang apa pun mudah berhenti begitu hasilnya tidak tampak atau terasa merugikan. Perbedaan itu tidak terlihat pada awalnya, karena keduanya sama-sama dimulai dengan memberi. Waktu yang kemudian membedakannya, karena pemberian yang bersandar kepada Allah masih berjalan ketika yang lain sudah berhenti.
  • Tiga kata kerja yang menggambarkan orang ini berbentuk lampau, dan yang terakhir berhenti. Allah menggambarkannya lewat perbuatan terakhir itu, tidak lewat perbuatan pertamanya. Seseorang bisa merasa masih termasuk pemberi karena pernah memberi, padahal gambaran yang tersisa tentang dirinya pemberian yang sudah berhenti. Sebutan pemberi tidak melekat karena satu atau dua pemberian di masa lalu, tetapi karena pemberian yang masih berjalan.

Ayat 53:35

أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَىٰ

Apakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia melihat?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِa-'indahu 'ilmu l-ghaybiapakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib
  2. فَهُوَ يَرَىٰfa-huwa yaraasehingga dia melihat

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَعِنْدَهُa-'indahuapakah di sisinya
  2. عِلْمُ'ilmupengetahuan
  3. الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
  4. فَهُوَfa-huwamaka dia
  5. يَرَىٰyaraaia lihat

Inti bacaan

Sebelum membatalkan bantuan atau rencana baik karena yakin hasilnya sia-sia, menuliskan dasar keyakinan itu dan memisahkan yang diketahui dari yang ditebak.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini bertanya (أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ, a-'indahu 'ilmu l-ghaybi) yang berarti "apakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib". Kata (أَعِنْدَهُ, a-'indahu) tersusun dari huruf tanya a-, kata 'inda yang berarti "di sisi", dan akhiran -hu yang berarti "nya". Bentuk ini muncul sekali (53:35). Pertanyaan serupa ada di 52:41 dan 68:47, (أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ, am 'indahumu l-ghaybu) yang berarti "ataukah di sisi mereka ada yang gaib". Di sana yang ditanyakan golongan dan yang gaib itu sendiri, sedangkan di sini satu orang dan pengetahuan tentang yang gaib.

Rangkaian (عِلْمُ الْغَيْبِ, 'ilmu l-ghaybi) muncul sekali (53:35). Kata untuk pengetahuan sudah dua kali dipakai sebelumnya dalam surah ini. Di 53:28 orang-orang yang menamai malaikat dengan nama perempuan disebut (وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bihi min 'ilmin) yang berarti "padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya", dan di 53:30 disebut (مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ, mablaghuhum mina l-'ilmi) yang berarti "jangkauan pengetahuan mereka". Di ayat ini kata yang sama kembali dalam bentuk pertanyaan, diarahkan kepada satu orang.

Penutupnya (فَهُوَ يَرَىٰ, fa-huwa yaraa) yang berarti "sehingga dia melihat". Huruf fa- menandai akibat, sehingga melihat di sini hasil dari pengetahuan tadi. Kata (فَهُوَ, fa-huwa) yang berarti "maka dia" menaruh orang itu sendiri di depan penglihatannya. Kata kerja (يَرَىٰ, yaraa) tidak diberi sasaran, dan terjemahan ini tidak menambahkan akhiran -nya, sehingga apa yang dilihat dibiarkan tanpa keterangan, sebagaimana teks Arabnya.

Kata (يَرَىٰ, yaraa) berasal dari akar ر-أ-ي, akar yang sama dengan kata pembuka 53:33, (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta). Pembaca diminta memperhatikan orang itu, lalu orang itu ditanya apakah dia melihat. Bentuk yang sama dipakai di 53:12 untuk hamba yang disebut di 53:10, (أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ, a-fa-tumaaruunahu 'alaa maa yaraa) yang berarti "maka, apakah kalian membantahnya tentang apa yang dia lihat". Di sana penglihatan yang benar-benar terjadi dibantah, sedangkan di sini penglihatan yang tidak punya dasar dipertanyakan, dua keadaan yang berlawanan dengan kata kerja yang sama.

Di 19:78 pertanyaan serupa memakai kata kerja lain, (أَطَّلَعَ الْغَيْبَ, a-ththala'a l-ghayba) yang berarti "apakah dia melihat yang gaib". Di sana kata kerjanya langsung mengenai yang gaib. Di ayat ini yang gaib didahului pengetahuan, lalu melihat datang sebagai akibatnya, sehingga pertanyaannya menyasar dua lapis sekaligus, pengetahuannya dan penglihatan yang lahir dari pengetahuan itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian yang dibuka di 53:33 dengan pertanyaan tentang dasar. Orang yang berpaling lalu berhenti memberi bertindak seakan sudah tahu ujung perbuatannya. Pertanyaan ayat ini menggugat sumber keyakinan itu. Kalau dia tidak memegang pengetahuan tentang yang gaib, penglihatan yang dia andalkan tidak punya dasar.

Pengetahuan tentang yang gaib disebut di 72:26 sebagai milik Allah, (عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا, 'aalimu l-ghaybi fa-laa yuzhhiru 'alaa ghaybihi ahadan) yang berarti "Dia mengetahui yang gaib, lalu Dia tidak memperlihatkan gaib-Nya kepada siapa pun", kecuali kepada rasul yang Dia ridai (72:27). Jawaban pertanyaan di ayat ini karena itu sudah tersedia di tempat lain dalam Al-Qur'an, dan orang itu tidak memegang pengetahuan yang ditanyakan.

Pertanyaannya berlanjut di 53:36 dengan pilihan kedua, (أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ, am lam yunabba' bi-maa fii shuhufi muusaa) yang berarti "ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa". Kalau pengetahuan tentang yang gaib tidak dimilikinya, yang tersedia baginya berita yang sudah disampaikan, dan isi berita itu dirinci oleh ayat-ayat sesudahnya.

Rangkaian ini juga menggemakan tema surah. Di 53:28 dan 53:30 pengetahuan manusia diukur dan ditemukan pendek, sedangkan Allah disebut lebih mengetahui. Di sini ukuran yang sama dikenakan kepada satu orang, lewat satu pertanyaan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak bertanya apa yang diyakini orang ini, tetapi dari mana keyakinan itu datang. Pertanyaan tentang sumber sering lebih tajam daripada bantahan atas isi, sebab keyakinan yang tidak bersumber tidak perlu dibantah panjang, cukup diminta menunjukkan asalnya. Kebiasaan menanyakan sumber, termasuk atas keyakinan sendiri, menyaring banyak hal sebelum sempat menjadi keputusan. Pertanyaan tentang sumber juga lebih adil, karena tidak menuduh isi sebuah keyakinan sebelum dasarnya diperiksa.
  • Keyakinan yang kuat bisa terasa seperti penglihatan. Orang yang yakin sebuah usaha pasti gagal, atau sebuah pemberian pasti sia-sia, merasa seakan sudah melihat ujungnya. Dalam pertanyaan Allah, melihat datang sesudah pengetahuan tentang yang gaib, dan pengetahuan itu tidak dipegang manusia. Rasa yakin tanpa pengetahuan itu tetap sebuah rasa, sekuat apa pun rasanya. Semakin kuat rasa itu, semakin jarang orang memeriksa dari mana rasa itu datang.
  • Berapa banyak keputusan diambil atas dasar sesuatu yang belum terjadi? Orang berhenti membantu karena yakin bantuan itu tidak akan berguna, menolak nasihat karena yakin sudah tahu akhirnya, atau menunda kebaikan karena yakin waktunya masih panjang. Semuanya bersandar pada penglihatan atas sesuatu yang gaib, dan pertanyaan ayat ini berlaku untuk masing-masing. Keputusan kecil seperti itu jarang terasa sebagai ramalan, padahal semuanya menebak apa yang belum terjadi.
  • Pertanyaan ini disusul pilihan kedua di 53:36, apakah orang itu belum diberi tahu isi lembaran-lembaran Musa. Manusia tidak memegang yang gaib, tetapi dia tidak dibiarkan tanpa pegangan, karena Allah menyampaikan berita. Orang yang berhenti memberi karena merasa tahu ujungnya sedang mengandalkan penglihatan yang tidak ada, sementara berita yang ada dibiarkan tidak dibaca. Pengetahuan tentang yang gaib tidak bisa dijangkau, tetapi berita dari Allah bisa dibaca kapan saja.
  • Pembaca diminta memperhatikan orang ini di 53:33, lalu di ayat ini orang itu ditanya apakah dia melihat. Dua pertanyaan tentang melihat itu mengarah ke dua pihak. Allah bertanya kepada orang itu, dan pertanyaan yang sama tetap berlaku bagi setiap pembaca yang pernah bertindak seakan tahu ujung sesuatu, sehingga pembaca yang tadi diajak memperhatikan ikut menjadi yang ditanya. Pertanyaan itu tidak meminta jawaban lisan, tetapi meminta pembaca memeriksa dasar keputusannya sendiri.
  • Di 72:26 Allah disebut mengetahui yang gaib dan tidak memperlihatkannya kepada siapa pun kecuali rasul yang Dia ridai. Kalimat itu menutup kemungkinan bahwa seseorang bisa memperoleh pengetahuan itu sendiri, lewat pengalaman, kepintaran, atau perasaan. Ramalan tentang nasib, keyakinan bahwa sebuah usaha pasti sia-sia, dan kepastian tentang siapa yang selamat berdiri di wilayah yang sama, wilayah yang menurut ayat itu tidak dibuka bagi manusia. Batas ini tidak mengecilkan manusia, tetapi membebaskannya dari beban memastikan hal-hal yang memang tidak diberikan kepadanya.