أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّىٰ
Maka, apakah engkau memperhatikan orang yang berpaling,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَرَأَيْتَa-fa-ra'aytamaka, apakah engkau memperhatikan
- الَّذِي تَوَلَّىٰalladzii tawallaaorang yang berpaling
Terjemahan per kata (3 kata)
- أَفَرَأَيْتَa-fa-ra'aytamaka apakah engkau memperhatikan
- الَّذِيalladziiyang
- تَوَلَّىٰtawallaaberpaling
Inti bacaan
Sebelum menilai perubahan sikap seorang kawan, memperhatikan apa yang dikerjakannya selama beberapa pekan, lalu memeriksa kebiasaan baik sendiri yang sudah ditinggalkan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas tiga kata. Kata pertama (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) yang berarti "maka, apakah engkau memperhatikan" tersusun dari huruf tanya a-, huruf fa- yang berarti "maka", dan kata kerja dari akar ر-أ-ي yang berarti melihat, dengan pelaku orang kedua tunggal. Bentuk ini muncul empat kali, di 19:77, 26:205, 45:23, dan 53:33, dan keempatnya diterjemahkan sama. Bentuk jamaknya, (أَفَرَأَيْتُمُ, a-fa-ra'aytumu) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan", dipakai di 53:19 untuk mengajak memperhatikan al-Lata dan al-Uzza. Dalam satu surah, bentuk jamak mengajak memperhatikan sembahan, dan bentuk tunggal mengajak memperhatikan seseorang.
Kata kerja dalam (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) berarti melihat, tetapi yang ditanyakan tidak berhenti pada penglihatan mata. Di 26:205 bentuk yang sama diikuti pengandaian, "jika Kami beri mereka kenikmatan bertahun-tahun", sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata tetapi bisa direnungkan. Karena itu kata ini diterjemahkan "memperhatikan", yang mencakup melihat dan menimbang. Pertanyaannya tidak meminta jawaban ya atau tidak. Pertanyaan itu mengarahkan perhatian orang yang ditanya kepada sesuatu, lalu membiarkan kelanjutannya berbicara.
Kata kedua (الَّذِي, alladzii) yang berarti "orang yang" berbentuk tunggal. Di 53:29 kata kerja yang sama dipakai dalam (مَنْ تَوَلَّىٰ, man tawallaa) yang berarti "orang yang berpaling", di dalam perintah untuk berpaling dari mereka. Di ayat ini perhatian dipusatkan pada satu orang. Orang itu tidak dinamai, dan tidak ada ayat lain yang menamainya. Pembaca diberi ciri-cirinya saja, dalam tiga kata kerja yang berurutan di ayat ini dan ayat sesudahnya.
Kata ketiga (تَوَلَّىٰ, tawallaa) yang berarti "berpaling" berasal dari akar و-ل-ي, akar yang berkaitan dengan arah hadap. Di 2:144 bentuk perintahnya berbunyi (فَوَلِّ وَجْهَكَ, fa-walli wajhaka) yang berarti "maka, hadapkanlah wajahmu". Kata tawallaa berlawanan arah dengan itu, karena berarti memalingkan diri dari arah yang tadinya dihadapi. Berpaling karena itu mengandaikan ada yang pernah dihadapi. Bentuk (تَوَلَّىٰ, tawallaa) dipakai dua kali dalam surah ini, di 53:29 dan 53:33. Di 53:29 yang ditinggalkan disebut, (عَنْ ذِكْرِنَا, 'an dzikrinaa) yang berarti "dari peringatan Kami". Di ayat ini kata kerja itu berdiri tanpa keterangan dari apa, sehingga yang ditonjolkan gerakan berpalingnya.
Kata ganti engkau dalam (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) berbentuk tunggal, sama dengan pihak yang diajak bicara di 53:29 dengan perintah (فَأَعْرِضْ, fa-a'ridh) yang berarti "maka, berpalinglah". Bentuk perintah itu muncul lima kali di empat surah, di 4:63, 4:81, 6:68, 32:30, dan 53:29, karena Surah 4 memuatnya dua kali. Terjemahan ini memakai kata berpaling untuk keduanya, tetapi akarnya berbeda. Perintah di 53:29 berasal dari akar ع-ر-ض, sedangkan perbuatan orang itu berasal dari akar و-ل-ي. Pihak yang diperintahkan berpaling dari orang itu kemudian diajak memperhatikannya, sehingga berpaling darinya tidak berarti berhenti memperhatikan apa yang dikerjakannya.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian pendek, 53:33-35, yang berpusat pada seorang yang berpaling. Sebelumnya 53:29 memerintahkan berpaling dari orang yang berpaling dari peringatan, dan 53:30-32 berbicara tentang golongan, yang sesat dan yang mendapat petunjuk, yang berbuat jahat dan yang berbuat baik. Di sini pembicaraan menyempit pada satu orang, dan pembaca diminta memperhatikannya.
Susunan yang sama ada di Surah 19. Ayat 19:77 dibuka dengan (أَفَرَأَيْتَ الَّذِي, a-fa-ra'ayta lladzii) yang berarti "maka, apakah engkau memperhatikan orang yang", disusul perbuatan dan ucapan orang itu, lalu 19:78 bertanya (أَطَّلَعَ الْغَيْبَ, a-ththala'a l-ghayba) yang berarti "apakah dia melihat yang gaib". Di Surah 53 urutannya serupa, dengan ajakan memperhatikan di 53:33, perbuatannya di 53:34, lalu pertanyaan tentang pengetahuan yang gaib di 53:35. Di kedua tempat, orang yang diperhatikan bersikap seakan tahu sesuatu yang tidak bisa diketahuinya, dan pertanyaan penutupnya menggugat dasar pengetahuan itu.
Pertanyaan pembuka itu tidak dijawab di ayat ini. Ayat ini berhenti sesudah kata berpaling, dan ayat-ayat berikutnya menyusun jawabannya lewat ciri-ciri orang itu. Dengan susunan ini, pembaca lebih dulu diajak melihat, baru kemudian diberi bahan untuk menilai. Nama, asal-usul, dan waktunya dibiarkan kosong, sehingga pembaca menilai dari perbuatannya saja, dan perbuatan seperti itu bisa dikenali pada orang di zaman mana pun.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah berbicara tentang golongan, Allah meminta pembaca memperhatikan satu orang. Pembicaraan tentang golongan mudah dibaca dari jauh, sebab selalu ada orang lain yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Satu orang dengan perbuatan tertentu lebih sulit dihindari, karena ciri-cirinya bisa dicocokkan satu per satu, termasuk dengan diri sendiri, dan pembaca yang jujur bisa menemukan sebagian ciri itu pada dirinya. Membaca tentang golongan terasa seperti membaca berita, sedangkan membaca tentang satu orang lebih mirip bercermin.
- Kata yang dipakai berpaling, tidak menentang dan tidak membantah. Orang ini tidak digambarkan sedang berdebat atau memusuhi, tetapi punggungnya diputar, dan itu cukup untuk membuat Allah meminta perhatian khusus kepadanya. Penolakan yang tenang seperti ini jauh lebih umum daripada perlawanan terbuka, dan karena tidak berisik, orang yang menjalaninya jarang merasa sedang menolak apa pun. Tidak ada kata keras dan tidak ada pertengkaran, sehingga dari luar orang itu tampak baik-baik saja.
- Di 53:29 disebut dari apa orang berpaling, yaitu dari peringatan Allah, sedangkan di ayat ini keterangan itu dibiarkan kosong. Dari apa seseorang sedang berpaling ketika dirinya tidak merasa sedang berpaling? Kekosongan itu memberi ruang bagi pembaca untuk mengisinya sendiri, dengan nasihat yang tidak lagi didengar, janji yang ditinggalkan, atau kebiasaan baik yang berhenti tanpa pernah diputuskan. Tanpa keterangan dari apa, ayat ini tetap bisa mengenai orang yang merasa tidak pernah menolak peringatan mana pun.
- Allah membuka dengan ajakan memperhatikan, belum dengan penilaian. Penilaian datang kemudian, sesudah perbuatan orang itu diperlihatkan. Urutan ini berbeda dari kebiasaan menilai orang lain lebih dulu lalu mencari bukti sesudahnya. Pembaca diberi bahan sebelum diberi kesimpulan, sehingga kesimpulannya lahir dari apa yang diperhatikannya sendiri. Penilaian yang datang terlalu awal sering membuat orang berhenti melihat, sedangkan pembaca yang diajak memperhatikan masih membuka mata untuk perbuatan berikutnya.
- Berpaling mengandaikan ada arah yang tadinya dihadapi, sehingga orang yang dibicarakan ini pernah menghadap sebelum memutar diri. Keadaan itu lebih dekat kepada banyak pembaca daripada gambaran orang yang sejak awal menolak, sebab sebagian besar orang yang menjauh dari kebaikan pernah berada di dekatnya. Allah memilih kata yang menyimpan jejak masa sebelum berpaling itu. Jarak antara menghadap dan berpaling bisa sangat pendek, satu putaran badan, dan putaran itu sering tidak terasa sebagai keputusan.
- Allah tidak memberi nama orang ini, dan tidak ada ayat lain yang menamainya. Tanpa nama, tidak ada cara untuk menaruh orang ini di masa lalu yang sudah selesai lalu merasa aman di masa sekarang. Ciri-cirinya berupa perbuatan yang bisa ditemukan di tempat kerja, di rumah, atau di depan cermin, sehingga ayat ini tetap menunjuk siapa saja yang cocok dengan gambarannya. Nama akan mengubah ayat ini menjadi kisah tentang orang lain, sedangkan ciri-ciri membuatnya tetap terbuka bagi siapa pun yang membacanya.