وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا وَأَكْدَىٰ
dan memberi sedikit lalu berhenti memberi?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَعْطَىٰ قَلِيلًاwa-a'thaa qaliilandan memberi sedikit
- وَأَكْدَىٰwa-akdaalalu berhenti memberi
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَأَعْطَىٰwa-a'thaadan memberi
- قَلِيلًاqaliilansedikit
- وَأَكْدَىٰwa-akdaadan berhenti memberi
Inti bacaan
Menjadwalkan pemberian rutin, misalnya sedekah bulanan atau kunjungan ke orang tua, dalam ukuran kecil yang sanggup dijaga, supaya tidak berhenti ketika semangat awal hilang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan gambaran orang yang berpaling dengan dua perbuatan. Perbuatan pertama (وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا, wa-a'thaa qaliilan) yang berarti "dan memberi sedikit". Kata kerja (وَأَعْطَىٰ, wa-a'thaa) berasal dari akar ع-ط-و, dan bentuknya tanpa huruf wa- muncul tiga kali, di 20:50, 53:34, dan 92:5. Di 92:5 kata itu berpasangan dengan takwa, (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ, fa-ammaa man a'thaa wa-ttaqaa) yang berarti "maka adapun orang yang memberi dan bertakwa". Di ayat ini pasangannya kata lain.
Di 20:50 kata kerja yang sama dipakai untuk Allah, (أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ, a'thaa kulla syay'in khalqahu) yang berarti "memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya". Pemberian itu disusul (ثُمَّ هَدَىٰ, tsumma hadaa) yang berarti "kemudian memberinya petunjuk", sehingga satu pemberian berlanjut dengan pemberian berikutnya. Di ayat ini pemberian disusul berhenti. Kata kerja yang sama, dengan bunyi akhir yang sama, dipakai untuk dua gerakan yang berlawanan arah.
Kata (قَلِيلًا, qaliilan) yang berarti "sedikit" berasal dari akar ق-ل-ل, dan kata yang sama bisa mengukur jumlah atau waktu. Di 23:114 kata ini mengukur lamanya tinggal, (إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا, in labitstum illaa qaliilan) yang berarti "kalian tidak tinggal kecuali sebentar". Di ayat ini keduanya mungkin, pemberian yang kecil jumlahnya atau pemberian yang singkat masanya, dan kelanjutan ayat cocok dengan keduanya.
Perbuatan kedua (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa) yang berarti "lalu berhenti memberi". Kata ini muncul sekali di seluruh Al-Qur'an (53:34), dan akarnya ك-د-ي tidak dipakai di ayat mana pun selain ayat ini. Maknanya karena itu dibaca dari letaknya. Kata ini berdiri berhadapan dengan memberi sedikit dan disambung dengan huruf wa-, sehingga keduanya membentuk satu gerakan, memberi lalu berhenti.
Kata (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa) juga berdiri tanpa sasaran. Tidak ada keterangan tentang apa yang berhenti diberikan, kepada siapa, atau berapa sisanya, dan terjemahan ini tidak menambahkan kata sisanya yang tidak ada di teks. Karena itu dipilih "berhenti memberi". Kata menahan akan meminta sesuatu yang ditahan, sedangkan teksnya membiarkan tempat itu kosong.
Tiga kata kerja yang menggambarkan orang ini, (تَوَلَّىٰ, tawallaa) di 53:33, (وَأَعْطَىٰ, wa-a'thaa), dan (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa), sama-sama berbentuk lampau. Ketiganya menandai perbuatan yang sudah terjadi, sehingga orang itu digambarkan lewat perbuatan yang sudah selesai, dan perbuatan terakhir dalam urutannya berhenti. Ketiganya juga berakhir dengan bunyi -aa, bunyi yang menutup sebagian besar ayat di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan wujud berpaling yang disebut di ayat sebelumnya. Orang itu tidak digambarkan sebagai orang yang tidak pernah memberi. Pemberiannya ada, walaupun sedikit, lalu berhenti, sehingga berpalingnya berupa kebaikan yang dihentikan di tengah jalan.
Surah 92 menyusun dua orang yang berlawanan. Di 92:5-6 ada orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan yang terbaik, dan di 92:8-9 ada orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan yang terbaik. Tiga kata dari gambaran itu muncul juga di rangkaian ini. Kata yang terbaik ada di 53:31, bertakwa di 53:32, dan memberi di ayat ini. Orang di ayat ini berada di antara dua gambaran Surah 92. Dia memberi, seperti orang pertama, tetapi pemberiannya berhenti, sehingga ujungnya mendekati orang kedua. Di 92:19-20 orang yang memberi itu digambarkan tidak sedang membalas budi siapa pun, tetapi mencari wajah Tuhannya, dan tujuan seperti itu tidak habis ketika balasan dari manusia tidak datang.
Alasan berhentinya dibiarkan tanpa keterangan. Ayat berikutnya langsung bertanya apakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia melihat. Pertanyaan itu memberi arah bacaan. Orang yang berhenti memberi bertindak seakan sudah melihat bahwa pemberiannya tidak diperlukan lagi, atau bahwa dirinya aman tanpa melanjutkannya. Keyakinan seperti itu memerlukan pengetahuan yang tidak dimilikinya, dan 53:35 menggugat pengetahuan itu.
Renungan dan Hikmah
- Allah mencatat bahwa orang ini pernah memberi. Pemberian pertamanya tidak dihapus, tetapi juga tidak menjadi ukuran. Gambaran tentang dirinya ditutup dengan berhenti, dan penutup itu yang menentukan arah seluruh gambaran. Banyak kebaikan dimulai dengan semangat lalu mengering pelan-pelan, dan permulaan yang baik tidak menjamin apa pun tentang ujungnya. Allah mencatat keduanya, dan urutan keduanya memperlihatkan ke arah mana orang itu bergerak.
- Pada titik mana sedikit mulai terasa sudah cukup? Pemberian kecil sering terasa besar bagi yang memberi, karena dirinya ingat setiap rupiah dan setiap jam yang dikeluarkan. Rasa sudah cukup itu bisa datang jauh sebelum kebutuhan orang yang diberi selesai. Ayat ini memperlihatkan seseorang yang berhenti di titik itu, tanpa memberi tahu apakah dia merasa sudah memberi banyak. Ukuran cukup yang dipakai pemberi sering berasal dari rasa lelahnya sendiri, tidak dari kebutuhan orang yang menerima.
- Allah tidak mencatat alasan orang ini berhenti. Alasan yang biasa dipakai manusia untuk berhenti memberi hampir selalu terdengar masuk akal, misalnya keadaan sedang sulit, orang yang dibantu tidak berterima kasih, atau sudah ada pihak lain yang membantu. Ayat ini tidak menimbang alasan-alasan itu satu per satu. Perbuatannya yang dicatat, dan perbuatannya berhenti. Tanpa alasan tertulis, pembaca tidak bisa berlindung di balik alasan yang sama ketika dirinya sendiri berhenti.
- Kata berhenti memberi berdiri tanpa sasaran, sehingga tidak terikat pada harta saja. Pemberian bisa berupa uang, waktu, perhatian, bantuan, atau kesetiaan pada sebuah janji. Allah membiarkan tempat itu kosong, dan setiap jenis pemberian yang pernah dimulai lalu dihentikan bisa masuk ke dalamnya. Pembaca bisa menemukan dirinya di sini meski tidak pernah memberi uang kepada siapa pun. Kunjungan kepada orang tua yang makin jarang, perhatian kepada kawan yang pernah dibantu, atau janji kepada Allah sendiri bisa berhenti dengan cara yang sama.
- Di 92:5 Allah memasangkan memberi dengan bertakwa, sedangkan di ayat ini memberi dipasangkan dengan berhenti. Pemberian yang ditopang takwa, yang di 92:20 disebut mencari wajah Tuhannya, tidak bergantung pada terima kasih orang yang diberi. Pemberian yang tidak ditopang apa pun mudah berhenti begitu hasilnya tidak tampak atau terasa merugikan. Perbedaan itu tidak terlihat pada awalnya, karena keduanya sama-sama dimulai dengan memberi. Waktu yang kemudian membedakannya, karena pemberian yang bersandar kepada Allah masih berjalan ketika yang lain sudah berhenti.
- Tiga kata kerja yang menggambarkan orang ini berbentuk lampau, dan yang terakhir berhenti. Allah menggambarkannya lewat perbuatan terakhir itu, tidak lewat perbuatan pertamanya. Seseorang bisa merasa masih termasuk pemberi karena pernah memberi, padahal gambaran yang tersisa tentang dirinya pemberian yang sudah berhenti. Sebutan pemberi tidak melekat karena satu atau dua pemberian di masa lalu, tetapi karena pemberian yang masih berjalan.