أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَىٰ

Apakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia melihat?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِa-'indahu 'ilmu l-ghaybiapakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib
  2. فَهُوَ يَرَىٰfa-huwa yaraasehingga dia melihat

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَعِنْدَهُa-'indahuapakah di sisinya
  2. عِلْمُ'ilmupengetahuan
  3. الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
  4. فَهُوَfa-huwamaka dia
  5. يَرَىٰyaraaia lihat

Inti bacaan

Sebelum membatalkan bantuan atau rencana baik karena yakin hasilnya sia-sia, menuliskan dasar keyakinan itu dan memisahkan yang diketahui dari yang ditebak.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini bertanya (أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ, a-'indahu 'ilmu l-ghaybi) yang berarti "apakah di sisinya ada pengetahuan tentang yang gaib". Kata (أَعِنْدَهُ, a-'indahu) tersusun dari huruf tanya a-, kata 'inda yang berarti "di sisi", dan akhiran -hu yang berarti "nya". Bentuk ini muncul sekali (53:35). Pertanyaan serupa ada di 52:41 dan 68:47, (أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ, am 'indahumu l-ghaybu) yang berarti "ataukah di sisi mereka ada yang gaib". Di sana yang ditanyakan golongan dan yang gaib itu sendiri, sedangkan di sini satu orang dan pengetahuan tentang yang gaib.

Rangkaian (عِلْمُ الْغَيْبِ, 'ilmu l-ghaybi) muncul sekali (53:35). Kata untuk pengetahuan sudah dua kali dipakai sebelumnya dalam surah ini. Di 53:28 orang-orang yang menamai malaikat dengan nama perempuan disebut (وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bihi min 'ilmin) yang berarti "padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya", dan di 53:30 disebut (مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ, mablaghuhum mina l-'ilmi) yang berarti "jangkauan pengetahuan mereka". Di ayat ini kata yang sama kembali dalam bentuk pertanyaan, diarahkan kepada satu orang.

Penutupnya (فَهُوَ يَرَىٰ, fa-huwa yaraa) yang berarti "sehingga dia melihat". Huruf fa- menandai akibat, sehingga melihat di sini hasil dari pengetahuan tadi. Kata (فَهُوَ, fa-huwa) yang berarti "maka dia" menaruh orang itu sendiri di depan penglihatannya. Kata kerja (يَرَىٰ, yaraa) tidak diberi sasaran, dan terjemahan ini tidak menambahkan akhiran -nya, sehingga apa yang dilihat dibiarkan tanpa keterangan, sebagaimana teks Arabnya.

Kata (يَرَىٰ, yaraa) berasal dari akar ر-أ-ي, akar yang sama dengan kata pembuka 53:33, (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta). Pembaca diminta memperhatikan orang itu, lalu orang itu ditanya apakah dia melihat. Bentuk yang sama dipakai di 53:12 untuk hamba yang disebut di 53:10, (أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ, a-fa-tumaaruunahu 'alaa maa yaraa) yang berarti "maka, apakah kalian membantahnya tentang apa yang dia lihat". Di sana penglihatan yang benar-benar terjadi dibantah, sedangkan di sini penglihatan yang tidak punya dasar dipertanyakan, dua keadaan yang berlawanan dengan kata kerja yang sama.

Di 19:78 pertanyaan serupa memakai kata kerja lain, (أَطَّلَعَ الْغَيْبَ, a-ththala'a l-ghayba) yang berarti "apakah dia melihat yang gaib". Di sana kata kerjanya langsung mengenai yang gaib. Di ayat ini yang gaib didahului pengetahuan, lalu melihat datang sebagai akibatnya, sehingga pertanyaannya menyasar dua lapis sekaligus, pengetahuannya dan penglihatan yang lahir dari pengetahuan itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian yang dibuka di 53:33 dengan pertanyaan tentang dasar. Orang yang berpaling lalu berhenti memberi bertindak seakan sudah tahu ujung perbuatannya. Pertanyaan ayat ini menggugat sumber keyakinan itu. Kalau dia tidak memegang pengetahuan tentang yang gaib, penglihatan yang dia andalkan tidak punya dasar.

Pengetahuan tentang yang gaib disebut di 72:26 sebagai milik Allah, (عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا, 'aalimu l-ghaybi fa-laa yuzhhiru 'alaa ghaybihi ahadan) yang berarti "Dia mengetahui yang gaib, lalu Dia tidak memperlihatkan gaib-Nya kepada siapa pun", kecuali kepada rasul yang Dia ridai (72:27). Jawaban pertanyaan di ayat ini karena itu sudah tersedia di tempat lain dalam Al-Qur'an, dan orang itu tidak memegang pengetahuan yang ditanyakan.

Pertanyaannya berlanjut di 53:36 dengan pilihan kedua, (أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ, am lam yunabba' bi-maa fii shuhufi muusaa) yang berarti "ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa". Kalau pengetahuan tentang yang gaib tidak dimilikinya, yang tersedia baginya berita yang sudah disampaikan, dan isi berita itu dirinci oleh ayat-ayat sesudahnya.

Rangkaian ini juga menggemakan tema surah. Di 53:28 dan 53:30 pengetahuan manusia diukur dan ditemukan pendek, sedangkan Allah disebut lebih mengetahui. Di sini ukuran yang sama dikenakan kepada satu orang, lewat satu pertanyaan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak bertanya apa yang diyakini orang ini, tetapi dari mana keyakinan itu datang. Pertanyaan tentang sumber sering lebih tajam daripada bantahan atas isi, sebab keyakinan yang tidak bersumber tidak perlu dibantah panjang, cukup diminta menunjukkan asalnya. Kebiasaan menanyakan sumber, termasuk atas keyakinan sendiri, menyaring banyak hal sebelum sempat menjadi keputusan. Pertanyaan tentang sumber juga lebih adil, karena tidak menuduh isi sebuah keyakinan sebelum dasarnya diperiksa.
  • Keyakinan yang kuat bisa terasa seperti penglihatan. Orang yang yakin sebuah usaha pasti gagal, atau sebuah pemberian pasti sia-sia, merasa seakan sudah melihat ujungnya. Dalam pertanyaan Allah, melihat datang sesudah pengetahuan tentang yang gaib, dan pengetahuan itu tidak dipegang manusia. Rasa yakin tanpa pengetahuan itu tetap sebuah rasa, sekuat apa pun rasanya. Semakin kuat rasa itu, semakin jarang orang memeriksa dari mana rasa itu datang.
  • Berapa banyak keputusan diambil atas dasar sesuatu yang belum terjadi? Orang berhenti membantu karena yakin bantuan itu tidak akan berguna, menolak nasihat karena yakin sudah tahu akhirnya, atau menunda kebaikan karena yakin waktunya masih panjang. Semuanya bersandar pada penglihatan atas sesuatu yang gaib, dan pertanyaan ayat ini berlaku untuk masing-masing. Keputusan kecil seperti itu jarang terasa sebagai ramalan, padahal semuanya menebak apa yang belum terjadi.
  • Pertanyaan ini disusul pilihan kedua di 53:36, apakah orang itu belum diberi tahu isi lembaran-lembaran Musa. Manusia tidak memegang yang gaib, tetapi dia tidak dibiarkan tanpa pegangan, karena Allah menyampaikan berita. Orang yang berhenti memberi karena merasa tahu ujungnya sedang mengandalkan penglihatan yang tidak ada, sementara berita yang ada dibiarkan tidak dibaca. Pengetahuan tentang yang gaib tidak bisa dijangkau, tetapi berita dari Allah bisa dibaca kapan saja.
  • Pembaca diminta memperhatikan orang ini di 53:33, lalu di ayat ini orang itu ditanya apakah dia melihat. Dua pertanyaan tentang melihat itu mengarah ke dua pihak. Allah bertanya kepada orang itu, dan pertanyaan yang sama tetap berlaku bagi setiap pembaca yang pernah bertindak seakan tahu ujung sesuatu, sehingga pembaca yang tadi diajak memperhatikan ikut menjadi yang ditanya. Pertanyaan itu tidak meminta jawaban lisan, tetapi meminta pembaca memeriksa dasar keputusannya sendiri.
  • Di 72:26 Allah disebut mengetahui yang gaib dan tidak memperlihatkannya kepada siapa pun kecuali rasul yang Dia ridai. Kalimat itu menutup kemungkinan bahwa seseorang bisa memperoleh pengetahuan itu sendiri, lewat pengalaman, kepintaran, atau perasaan. Ramalan tentang nasib, keyakinan bahwa sebuah usaha pasti sia-sia, dan kepastian tentang siapa yang selamat berdiri di wilayah yang sama, wilayah yang menurut ayat itu tidak dibuka bagi manusia. Batas ini tidak mengecilkan manusia, tetapi membebaskannya dari beban memastikan hal-hal yang memang tidak diberikan kepadanya.