أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَمْ لَمْ يُنَبَّأْam lam yunabba'ataukah belum diberitakan kepadanya
- بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰbi-maa fii shuhufi muusaaapa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa
Terjemahan per kata (7 kata)
- أَمْamataukah
- لَمْlamtidak
- يُنَبَّأْyunabba'diberitakan
- بِمَاbi-maaapa yang
- فِيfiidalam
- صُحُفِshuhufilembaran-lembaran
- مُوسَىٰmuusaaMusa
Inti bacaan
Sebelum membela sebuah kebiasaan, mencari dan membaca dulu keterangan tertulis yang sudah tersedia tentangnya, misalnya aturan kantor, petunjuk dokter, atau ayat yang terkait.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَمْ, am) yang berarti "ataukah". Kata ini menyambung pertanyaan dari ayat sebelumnya. Di 53:35 orang yang berpaling ditanya apakah dia memegang pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia melihat (فَهُوَ يَرَىٰ, fa-huwa yaraa). Ayat 53:36 membuka kemungkinan kedua. Kalau dia tidak memegang pengetahuan gaib, apakah berita dari lembaran-lembaran lama belum sampai kepadanya? Surah ini sudah memakai kata am dengan cara serupa di 53:24 (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa), ketika angan-angan manusia diuji dengan pertanyaan.
Sesudahnya datang (لَمْ يُنَبَّأْ, lam yunabba') yang berarti "belum diberitakan kepadanya". Kata kerjanya berasal dari akar ن-ب-أ yang bermakna kabar. Bentuknya menandai bahwa berita itu disampaikan kepada dirinya oleh pihak lain. Dia ditempatkan sebagai penerima kabar, tidak sebagai orang yang menemukan sendiri. Bentuk yang sama muncul di 75:13 (يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ, yunabba'u l-insaanu) yang berarti "diberitakan kepada manusia", dan di sana kabarnya datang pada hari perhitungan. Arah kedua ayat ini berlawanan. Di 53:36 kabar itu bisa diterima selagi manusia masih hidup, sedangkan di 75:13 kabar tentang perbuatannya sendiri akan disampaikan tanpa dia bisa menolak.
Isi kabarnya ditunjuk dengan (بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ, bi-maa fii shuhufi muusaa) yang berarti "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa". Kata (صُحُفِ, shuhufi) berbentuk jamak dan diterjemahkan "lembaran-lembaran". Padanan yang sama dipakai di 87:18 (الصُّحُفِ الْأُولَىٰ, sh-shuhufi l-uulaa) yang berarti "lembaran-lembaran yang terdahulu", di 20:133 yang memuat susunan Arab yang sama, dan di 87:19 (صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ, shuhufi ibraahiima wa-muusaa) yang berarti "lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa". Kata "kitab" dibiarkan untuk akar ك-ت-ب, sehingga pembaca bisa membedakan dua kata Arab yang berlainan. Lembaran yang sama juga dipakai untuk catatan perbuatan, misalnya di 81:10 (الصُّحُفُ نُشِرَتْ, sh-shuhufu nusyirat) yang berarti "lembaran-lembaran dibentangkan".
Kata depan bi- pada (بِمَا, bi-maa) menandai isi berita, yaitu apa yang diberitakan. Isi itu belum diurai di ayat ini. Ayat 53:36 menunjuk tempatnya lebih dulu, lembaran Musa, lalu 53:37 menambahkan nama kedua, Ibrahim. Isinya baru diurai mulai 53:38. Sementara itu kata ganti "kepadanya" menunjuk orang yang sama sejak 53:33 (الَّذِي تَوَلَّىٰ, alladzii tawallaa) yang berarti "orang yang berpaling". Dia memberi sedikit lalu berhenti memberi, dan sekarang dia ditanya dari mana dia merasa aman dengan sikap itu.
Tafsiran
Ayat ini menggeser ujian dari pengetahuan tentang yang gaib ke pengetahuan yang sudah tertulis. Dua pertanyaan di 53:35 dan 53:36 menutup semua jalan bagi orang yang berpaling. Kalau dia tidak melihat yang gaib, maka pengetahuannya tentang akibat perbuatan harus datang dari kabar. Kabar itu sudah lama ada dalam lembaran Musa dan Ibrahim. Isinya diurai sesudah ini, mulai dari tidak adanya pemikul beban yang memikul beban orang lain (53:38), lalu bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan (53:39), sampai bahwa usahanya akan terlihat (53:40) dan dibalas (53:41). Rangkaian itu berbicara langsung kepada orang yang memberi sedikit lalu berhenti memberi. Tidak ada orang lain yang bisa mengambil alih bebannya.
Bentuk pertanyaannya tidak meminta keterangan baru. Sebuah pertanyaan tentang kabar yang "belum" sampai mengandaikan bahwa kabar itu sudah dikirim dan sudah tersedia. Soalnya ada pada penerimanya. Pasangan ayat ini, 75:13, memperlihatkan kelanjutannya. Kabar yang tidak diambil semasa hidup akan diberitakan juga, kali ini tentang perbuatan dirinya sendiri, pada hari ketika kabar itu tidak bisa lagi mengubah apa pun. Penyebutan Musa dan Ibrahim juga menegaskan bahwa isi yang akan diurai berasal dari lembaran-lembaran lama. Allah menyebutnya di 87:18 sebagai lembaran-lembaran yang terdahulu, dan orang yang berpaling tidak bisa berdalih bahwa aturan ini baru saja dibuat.
Renungan dan Hikmah
- Allah tidak bertanya apakah orang itu setuju dengan isi lembaran Musa. Dia bertanya apakah kabarnya belum sampai. Pertanyaan semacam itu memindahkan beban dari pengirim ke penerima. Banyak orang merasa belum pernah diberi tahu tentang akibat sebuah sikap, padahal keterangan itu tersimpan dalam jangkauan tangannya selama bertahun-tahun. Kabar yang tidak dibuka tetap terhitung sebagai kabar yang sudah dikirim, dan ketidaktahuan yang dipilih sendiri sulit disebut ketidaktahuan. Pertanyaan Allah di ayat ini bekerja seperti cermin bagi siapa saja yang pernah berkata bahwa dia tidak tahu.
- Orang di 53:35 bersikap seolah dia melihat yang gaib, lalu ayat 53:36 bertanya apakah dia pernah membaca yang sudah tertulis. Dua sikap ini sering hidup berdampingan. Keyakinan yang amat kokoh tentang masa depan kerap dipegang oleh orang yang tidak pernah memeriksa sumber tertulis yang tersedia. Rasa pasti ternyata bisa tumbuh tanpa bacaan, dan pada titik itu pertanyaan Allah menusuk, karena kepastian tanpa bacaan tidak punya pijakan selain perasaan.
- Kata kerja yang sama muncul lagi di 75:13, ketika manusia diberi kabar tentang apa yang dia dahulukan dan dia akhirkan. Kabar yang ditolak di dunia tidak hilang, sebab kabar itu datang lagi dalam bentuk lain, kali ini tentang diri sendiri, dan tidak bisa ditunda. Ada orang yang menghindari laporan keuangan, hasil periksa kesehatan, atau kritik atas pekerjaannya karena takut isinya. Isi yang tidak dibaca tetap berjalan, dan Allah memastikan kabarnya akan sampai juga.
- Lembaran yang ditunjuk milik Musa dan Ibrahim, dua nama yang dikenal jauh sebelum ayat ini dibacakan. Isinya tentang beban, usaha, dan balasan, dan tidak ada yang baru di sana. Orang sering menolak sebuah prinsip dengan alasan prinsip itu baru muncul atau baru dipaksakan. Allah menutup alasan itu dengan menunjuk bahwa aturannya tertulis dalam lembaran-lembaran yang terdahulu, yang umurnya lebih tua daripada sikap orang yang menolaknya. Umur sebuah aturan tidak membuktikan kebenarannya, tetapi umur itu mematahkan dalih bahwa aturan itu dibuat mendadak.
- Orang yang berpaling memberi sedikit lalu berhenti memberi, dan tampak tenang dengan keputusannya. Dari mana ketenangan semacam itu datang, kalau dia tidak melihat yang gaib dan tidak membaca kabar yang tersedia? Pertanyaan itu dibiarkan menggantung dalam ayat, dan setiap pembaca bisa mengajukannya kepada dirinya sendiri. Ketenangan yang tidak bisa menjawab asal-usulnya layak diperiksa ulang, sebelum kabar di 75:13 datang lebih dulu.
- Bentuk "diberitakan" menempatkan manusia sebagai penerima. Penerima tidak menentukan isi kabar, tetapi dia menentukan apakah kabar itu dibuka. Kebebasan ini nyata dan sekaligus berat. Seorang anak yang tidak membuka surat dari sekolah tetap akan menerima akibat dari isi surat itu. Allah memberi kabar lebih dulu, lalu menunggu apa yang diperbuat penerimanya, dan penantian itu sendiri bentuk kemurahan.