وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ
dan Ibrahim yang menyempurnakan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰwa-ibraahiima lladzii waffaadan Ibrahim yang menyempurnakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِبْرَاهِيمَwa-ibraahiimadan Ibrahim
- الَّذِيlladziiyang
- وَفَّىٰwaffaamenyempurnakan
Inti bacaan
Mendaftar tiga urusan yang tertunda, misalnya surat yang belum dibalas atau perbaikan rumah yang tertinggal, kemudian merampungkan satu di antaranya sebelum menyentuh urusan baru.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَإِبْرَاهِيمَ, wa-ibraahiima) yang berarti "dan Ibrahim". Nama ini bersambung dengan Musa di ayat sebelumnya, sehingga lembaran yang dimaksud milik Musa dan Ibrahim. Ujung nama Ibrahim di sini mengikuti kedudukan Musa sebagai pemilik lembaran. Hubungan itu dikuatkan oleh 87:19 (صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ, shuhufi ibraahiima wa-muusaa) yang berarti "lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa". Di sana dua nama yang sama disebut sebagai pemilik lembaran dengan urutan terbalik, Ibrahim lebih dulu.
Ibrahim dikenalkan lewat (الَّذِي وَفَّىٰ, lladzii waffaa) yang berarti "yang menyempurnakan". Kata kerja (وَفَّىٰ, waffaa) berasal dari akar و-ف-ي yang bermakna memenuhi sampai penuh. Huruf tengahnya digandakan, dan di ayat-ayat lain bentuk ini dipakai untuk pemenuhan yang tuntas. Bentuk lampau yang sama muncul di 24:39 (فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ, fa-waffaahu hisaabahu) yang berarti "lalu Dia menyempurnakan perhitungannya". Bentuk pasifnya di 2:281 (تُوَفَّىٰ, tuwaffaa) diterjemahkan "disempurnakan", dan bentuk tujuannya di 35:30 (لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ, li-yuwaffiyahum ujuurahum) diterjemahkan "agar Dia menyempurnakan pahala mereka". Terjemahan 53:37 mengikuti pola itu. Kata "menepati" menuntut objek berupa janji, padahal objek itu tidak tertulis dalam ayat.
Di 24:39 objeknya jelas, yaitu perhitungan. Di 53:37 objek itu dibiarkan terbuka. Ayat ini tidak menulis janji, perintah, atau ujian sebagai sesuatu yang disempurnakan. Terjemahan mempertahankan keterbukaan itu dan tidak menambahkan kata dalam kurung. Akibatnya sifat "yang menyempurnakan" berlaku untuk sikap Ibrahim secara menyeluruh, tidak untuk satu peristiwa tertentu. Al-Qur'an memang mencatat satu contoh di 2:124 (فَأَتَمَّهُنَّ, fa-atammahunna), kata yang menggambarkan Ibrahim menuntaskan ujian berupa beberapa kalimat. Kata di 2:124 berasal dari akar lain, ت-م-م. Terjemahan Indonesia memakai kata "menyempurnakan" untuk keduanya, tetapi di dalam Arabnya keduanya dua kata yang berbeda.
Kata waffaa berdiri berlawanan dengan dua kata di ayat-ayat sebelumnya. Orang yang berpaling di 53:34 disebut (وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا, wa-a'thaa qaliilan) yang berarti "dan memberi sedikit", lalu (وَأَكْدَىٰ, wa-akdaa) yang berarti "dan berhenti memberi". Ibrahim disebut dengan satu kata yang maknanya kebalikan dari berhenti, yaitu menuntaskan. Akar و-ف-ي muncul lagi empat ayat kemudian, di 53:41 (الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ, al-jazaa'a l-awfaa), sebagai sifat balasan yang diberikan. Dengan begitu satu akar dipakai untuk perbuatan yang tuntas dan untuk balasan yang tuntas dalam satu rangkaian ayat.
Tafsiran
Ayat ini menempatkan dua orang berdampingan. Di satu sisi ada orang yang berpaling, yang memberi sedikit lalu berhenti (53:33-34). Di sisi lain ada Ibrahim, yang menyempurnakan. Ayat ini tidak mengangkat mukjizat Ibrahim, keluarganya, atau negerinya. Ibrahim dikenalkan lewat satu kata kerja, dan kata kerja itu dipilih tepat untuk menjawab sikap orang yang berhenti di tengah jalan. Isi lembaran yang diurai sesudahnya pun berkisar pada soal yang sama, yaitu beban yang dipikul sendiri, usaha yang dihitung, usaha yang terlihat, dan balasan yang sempurna.
Keterbukaan objek membuat sifat ini menyeluruh. Pembaca tidak diarahkan kepada satu janji atau satu perintah saja. Ayat ini menonjolkan watak seseorang yang tidak meninggalkan pekerjaannya setengah jadi. Ayat 2:124 memberi satu contoh watak itu. Sesudah Ibrahim menuntaskan ujiannya, Allah menjadikannya pemimpin bagi manusia. Ketika Ibrahim bertanya tentang anak cucunya, jawabannya berbunyi (لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ, laa yanaalu 'ahdii zh-zhaalimiina) yang berarti "janji-Ku tidak sampai kepada orang-orang yang zalim". Kedudukan Ibrahim tidak mengalir otomatis kepada anak cucunya. Pesan itu sejalan dengan isi lembaran yang segera diurai di 53:38-39, bahwa beban dan usaha melekat pada pemiliknya masing-masing.
Renungan dan Hikmah
- Allah memperkenalkan Ibrahim di ayat ini dengan satu kata kerja, "yang menyempurnakan". Tidak ada gelar, keajaiban, atau silsilah yang ikut disebut. Orang biasanya dikenang lewat jabatan atau prestasi yang mencolok, sedangkan ayat ini memilih cara lain, yaitu mengenang seseorang lewat kebiasaannya menuntaskan. Cara itu terbuka bagi siapa saja, karena menuntaskan tidak memerlukan kedudukan, cukup kesediaan untuk tidak berhenti di tengah. Seorang tukang yang selalu membereskan sisa pekerjaannya dikenang dengan cara serupa oleh orang-orang di sekitarnya.
- Dua ayat sebelumnya bercerita tentang orang yang memberi sedikit lalu berhenti memberi. Pola itu akrab dalam hidup sehari-hari. Sebuah proyek dimulai dengan semangat, sumbangan rutin berhenti di bulan ketiga, janji membantu tetangga surut sesudah minggu pertama. Allah meletakkan Ibrahim tepat sesudah pola itu, seakan menunjukkan bahwa ukuran seseorang tidak ada pada semangat awalnya. Ukurannya ada pada apa yang tersisa ketika semangat itu sudah habis. Ibrahim disebut di titik itu, ketika orang lain sudah pulang.
- Ayat ini tidak menulis apa yang disempurnakan Ibrahim. Keterbukaan itu membuat pembaca tidak bisa membatasi teladannya pada satu urusan. Orang sering tuntas dalam pekerjaan yang dilihat atasan, tetapi longgar dalam urusan rumah atau urusan yang tidak ada saksinya. Sifat yang disebut tanpa objek tidak memberi celah untuk memilih bidang, dan karena itu terasa berat ketika diterapkan pada seluruh hidup. Allah membiarkan kata itu tanpa batas, dan pembaca yang jujur akan menemukan bidang hidupnya yang masih setengah jadi.
- Akar yang sama dipakai dua kali dalam rangkaian ini. Ibrahim disebut "yang menyempurnakan", lalu di 53:41 balasan yang diberikan Allah disifati dengan akar yang sama. Perbuatan yang tuntas bertemu balasan yang tuntas, dan susunan ini memberi rasa adil yang tenang. Allah tidak menjanjikan balasan yang lebih kecil dari perbuatan, sehingga orang yang bekerja sampai penuh tidak perlu cemas pekerjaannya dibalas setengah. Rasa cemas itu wajar di dunia, tempat upah sering tidak sepadan dengan kerja.
- Di 2:124 Ibrahim bertanya tentang anak cucunya, dan Allah menjawab bahwa janji-Nya tidak sampai kepada orang-orang yang zalim. Anak cucu tidak otomatis mewarisi kedudukan. Banyak orang merasa terhormat karena nenek moyangnya terhormat, atau merasa tenang karena berasal dari keluarga yang saleh. Ayat 53:37 menyebut Ibrahim karena perbuatannya, dan ayat-ayat sesudahnya menegaskan bahwa beban dan usaha tidak berpindah tangan.
- Apa yang membedakan pekerjaan yang selesai sembilan puluh persen dari pekerjaan yang tuntas? Selisihnya kecil di atas kertas, tetapi bagian terakhir sering terasa amat melelahkan dan sepi dari pujian. Pada bagian itu kebanyakan orang berhenti. Ayat ini menyebut Ibrahim lewat kata yang menuntut bagian terakhir itu, dan Allah tampaknya tidak memandang ringan sisa kecil yang ditinggalkan orang lain.