Ayat 53:38

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

bahwa seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌallaa taziru waaziratunbahwa seorang pemikul beban tidak memikul
  2. وِزْرَ أُخْرَىٰwizra ukhraabeban orang lain

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَلَّاallaabahwa tidak
  2. تَزِرُtazirumemikul
  3. وَازِرَةٌwaaziratunyang memikul
  4. وِزْرَwizrabeban
  5. أُخْرَىٰukhraayang lain

Inti bacaan

Ketika diajak melanggar aturan dengan janji bahwa akibatnya akan ditanggung bersama, menimbang keputusan itu seolah seluruh akibatnya dipikul sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَلَّا, allaa) yang berarti "bahwa tidak". Kata ini gabungan dari dua kata, an yang berarti "bahwa" dan laa yang berarti "tidak". Kata "bahwa" di depannya menandai awal isi lembaran Musa dan Ibrahim yang disebut di 53:36-37. Kalimat ini muncul lima kali, di 6:164, 17:15, 35:18, 39:7, dan 53:38. Di empat ayat lainnya kalimat itu dibuka dengan (وَلَا تَزِرُ, wa-laa taziru) yang berarti "dan tidak memikul", sebagai pernyataan yang berdiri sendiri. Di ayat ini kalimat yang sama menjadi isi sebuah berita, sehingga dibuka dengan "bahwa". Perbedaan kecil ini menunjukkan bahwa prinsip yang sama bisa tampil sebagai pernyataan langsung dan sebagai kutipan dari lembaran lama.

Kata kerja (تَزِرُ, taziru) yang berarti "memikul" dan pelakunya (وَازِرَةٌ, waaziratun) yang berarti "pemikul beban" berasal dari akar yang sama, و-ز-ر. Kalimat pendek ini memuat akar itu pada tiga kata, karena bendanya pun dari akar yang sama, (وِزْرَ, wizra) yang berarti "beban". Terjemahan mengikuti pengulangan itu dengan "memikul", "pemikul beban", dan "beban". Kata pemikul dan kata (أُخْرَىٰ, ukhraa) yang berarti "yang lain" sama-sama berbentuk perempuan. Bentuk itu sejalan dengan kata jiwa, yang dalam Arab diperlakukan sebagai kata perempuan. Di 6:164 kalimat yang sama didahului (وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا, wa-laa taksibu kullu nafsin illaa 'alayhaa) yang berarti "dan tidaklah setiap jiwa mengusahakan sesuatu kecuali atas dirinya sendiri", dengan kata ganti perempuan -haa untuk jiwa.

Kata wizra diterjemahkan "beban", tidak "dosa". Kata yang sama dipakai di 94:2 (وِزْرَكَ, wizraka) yang berarti "bebanmu", untuk beban yang diangkat Allah dari punggung orang yang diajak bicara. Di 20:100 (يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا, yahmilu yawma l-qiyaamati wizran) kata itu berarti "memikul beban pada hari Kiamat". Gambarnya sesuatu yang berat di punggung. Isinya memang akibat perbuatan, tetapi kata itu sendiri tidak mencap pemikulnya sebagai pendosa. Karena itu kelima ayat tadi diterjemahkan dengan kalimat yang sama, "seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain".

Pilihan itu menjaga dua hal. Pertama, pelakunya disebut "pemikul", tidak "orang yang berdosa", sebab setiap jiwa memikul sesuatu. Kedua, gambar yang dipakai Arab tetap utuh, yaitu punggung dan muatannya. Muatan itu tidak bisa dipindahkan ke punggung lain. Gambar itu berlawanan dengan harapan orang yang berpaling di 53:33-34, yang tampak tenang meski memberi sedikit dan berhenti memberi. Orang itu boleh berharap bebannya ringan, tetapi dia tidak bisa berharap bebannya dipindahkan.

Tafsiran

Ayat ini membuka isi lembaran Musa dan Ibrahim dengan prinsip yang juga ditegaskan di empat surah lain. Di 6:164 dan 39:7 kalimat ini disusul kepulangan kepada Tuhan dan pemberitaan, (فَيُنَبِّئُكُمْ, fa-yunabbi'ukum) yang berarti "maka Dia memberitakan kepada kalian". Kata itu berakar sama dengan kata "diberitakan" di 53:36. Di dua ayat itu, prinsip beban pribadi berujung pada kabar tentang perbuatan masing-masing.

Al-Qur'an juga memperlihatkan orang yang mencoba melanggar prinsip ini. Di 29:12 orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, (وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ, wa-l-nahmil khathaayaakum) yang berarti "dan kami akan memikul dosa-dosa kalian". Jawabannya tegas, (وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa hum bi-haamiliina min khathaayaahum min syay'in) yang berarti "padahal mereka tidak akan memikul dosa-dosa mereka sedikit pun". Ayat 29:13 menambahkan bahwa orang-orang yang menawarkan itu akan memikul beban mereka sendiri ditambah beban lain. Beban mereka bertambah, tetapi beban orang yang mereka ajak tidak berkurang. Ayat 35:18 menutup celah terakhir. Jiwa yang keberatan boleh memanggil kerabatnya, tetapi (لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ, laa yuhmal minhu syay'un) yang berarti "tidak akan dipikulkan sedikit pun darinya". Hubungan darah tidak mengubah hitungan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengutip prinsip ini dari lembaran Musa dan Ibrahim, dan prinsip yang sama berulang di empat surah lain. Aturan tentang beban pribadi tidak lahir dari satu peristiwa atau satu zaman. Aturan itu sudah tertulis jauh sebelum orang yang berpaling di 53:33 lahir, dan tetap berlaku sesudahnya. Kesinambungan semacam ini memberi pijakan, sebab orang tidak perlu menebak-nebak apakah aturan hari ini akan berubah besok. Allah menjaga aturan ini tetap sama dari lembaran Musa sampai Al-Qur'an.
  • Kata yang dipakai "pemikul beban", tidak "orang berdosa". Setiap orang memikul sesuatu, dan ayat ini berbicara kepada semua pemikul tanpa lebih dulu memberi cap. Cara bicara seperti ini membuat pembaca tidak bisa menghindar dengan berkata bahwa ayat ini untuk orang lain yang berdosa. Allah menyebut semua orang sebagai pemikul, lalu menegaskan bahwa muatan di punggung masing-masing tidak berpindah. Tidak ada pembaca yang berdiri di luar kalimat ini sebagai penonton.
  • Di 29:12 ada tawaran yang terdengar murah hati, "ikuti jalan kami, kami yang menanggung". Tawaran serupa masih sering terdengar dalam bentuk lain, misalnya jaminan dari atasan bahwa pelanggaran aturan akan ditanggung bersama, atau bujukan dari kawan bahwa risiko akan dibagi. Al-Qur'an menyebut para penawar itu pendusta. Tanggungan yang ditawarkan tidak pernah sungguh bisa diserahkan, dan Allah sudah memberitahukannya lebih dulu. Orang yang menerima tawaran semacam itu tetap memikul akibat keputusannya sendiri.
  • Ayat 29:13 menyebut orang yang menyesatkan memikul beban mereka ditambah beban lain. Tambahan itu tidak mengurangi beban orang yang disesatkan. Hitungannya tidak seperti membagi kue, ketika potongan yang diambil satu orang mengurangi bagian orang lain. Beban bisa bertambah pada yang menyesatkan, tetapi tidak bisa berkurang pada yang mengikuti. Keadilan Allah di sini tidak memberi keringanan kepada pengikut yang merasa cuma ikut-ikutan.
  • Ayat 35:18 membayangkan jiwa yang keberatan memanggil kerabat dekatnya. Kerabat itu datang, tetapi tidak ada yang bisa dipikulkan kepadanya. Dalam hidup sehari-hari keluarga sering menjadi tempat berbagi beban, dan itu baik. Ayat ini menunjuk batasnya. Ada beban yang tidak bisa dibagi siapa pun, bahkan oleh orang yang amat menyayangi, dan beban itu yang dibawa setiap orang ke hadapan Allah. Kasih sayang tetap berharga, walau tidak bisa memindahkan muatan.
  • Kalau tanggung jawab dalam sebuah kelompok dibicarakan sebagai tanggung jawab bersama, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Sering kali mereka yang sedikit bekerja tetapi banyak mengambil keputusan. Rumusan "tanggung jawab bersama" bisa menjadi tempat bersembunyi. Ayat ini memisahkan kembali muatan setiap punggung, dan di hadapan Allah tidak ada rapat yang bisa membagi rata beban yang sudah dipikul sendiri-sendiri.

Ayat 53:39

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِwa-an laysa li-l-insaanidan bahwa manusia tidak memperoleh
  2. إِلَّا مَا سَعَىٰillaa maa sa'aakecuali apa yang telah dia usahakan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَأَنْwa-andan bahwa
  2. لَيْسَlaysabukanlah
  3. لِلْإِنْسَانِli-l-insaanibagi manusia
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. مَاmaaapa yang
  6. سَعَىٰsa'aatelah dia usahakan

Inti bacaan

Menuliskan satu cita-cita yang lama tertunda, kemudian menetapkan tindakan pertama yang bisa dikerjakan sore ini juga beserta jamnya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنْ, wa-an) yang berarti "dan bahwa". Kata ini melanjutkan isi lembaran Musa dan Ibrahim yang dimulai di 53:38. Dalam rangkaian ini, ayat 53:38 dibuka dengan (أَلَّا, allaa), ayat 53:39 dengan wa-an, dan ayat 53:40 dengan (وَأَنَّ, wa-anna). Ketiganya berarti "bahwa", sehingga pembaca tahu isi berita yang sama masih berlanjut. Tanpa kata penghubung ini, ayat 53:39 bisa terbaca sebagai kalimat baru yang lepas dari lembaran Musa dan Ibrahim. Dengan kata ini, pembaca tahu bahwa prinsip tentang usaha termasuk isi lembaran lama yang sama.

Inti ayat ini (لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ, laysa li-l-insaani) yang berarti "tidak ada bagi manusia". Huruf li- pada (لِلْإِنْسَانِ, li-l-insaani) menandai milik atau hak, sehingga terjemahan memakai kata "memperoleh". Kata yang sama muncul di 53:24 (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa) yang berarti "ataukah manusia memperoleh apa yang dia angankan?". Kedua ayat berdiri sebagai kontras dalam surah yang sama. Di 53:24 yang ditanyakan apakah angan-angan menjadi milik manusia. Di 53:39 jawabannya diberikan, bahwa milik manusia berasal dari usahanya. Angan tetap boleh ada, tetapi angan tidak pernah tercatat sebagai milik.

Sesudahnya datang (إِلَّا مَا سَعَىٰ, illaa maa sa'aa) yang berarti "kecuali apa yang telah dia usahakan". Susunan laysa sampai illaa menolak semua kemungkinan lebih dulu, lalu mengecualikan satu. Susunan yang sama ada di 11:16 (لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ, laysa lahum fii l-aakhirati illaa n-naaru) yang diterjemahkan "tidak memperoleh di akhirat kecuali api". Terjemahan 53:39 mengikuti urutan itu, penolakan dulu, pengecualian kemudian, supaya tekanan kalimat Arab tidak hilang. Urutan itu membuat pembaca lebih dulu mendengar penolakan yang menyeluruh, lalu menemukan satu pintu yang tersisa.

Kata kerja (سَعَىٰ, sa'aa) berasal dari akar س-ع-ي yang bermakna bergerak dengan sungguh-sungguh. Gambarnya terlihat pada pemakaiannya di tempat lain. Tongkat Musa menjadi ular yang merayap cepat di 20:20 (تَسْعَىٰ, tas'aa). Seorang lelaki datang bergegas di 28:20 (يَسْعَىٰ, yas'aa). Orang-orang beriman diminta bersegera di 62:9 (فَاسْعَوْا, fa-s'aw). Ketika dipakai untuk perbuatan, akar ini menjadi "usaha", yaitu kerja yang dijalani dengan gerak dan tenaga. Bentuk lampaunya diterjemahkan "telah dia usahakan", karena yang dihitung usaha yang sudah dijalani. Frasa maa sa'aa muncul 2 kali, di 53:39 dan 79:35 (يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ, yatadzakkaru l-insaanu maa sa'aa), ketika manusia mengingat apa yang telah dia usahakan.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi 53:38 dari sisi yang berlawanan. Ayat 53:38 menyatakan bahwa manusia tidak memikul beban orang lain. Ayat 53:39 menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain hasil usahanya sendiri. Dua ayat ini menutup dua pintu sekaligus. Beban orang lain tidak bisa dilimpahkan kepadanya, dan hasil orang lain tidak bisa diakui sebagai miliknya. Surah ini sudah menyinggung soal yang sama di 53:24, ketika bertanya apakah manusia memperoleh apa yang dia angankan. Ayat 53:39 menjawab bahwa ukuran milik manusia terletak pada usahanya, tidak pada angannya.

Pertanyaan yang wajar muncul, apakah ayat ini menolak karunia yang melebihi usaha. Al-Qur'an sendiri menjawabnya. Ayat 35:30 menyebut Allah menyempurnakan pahala mereka, lalu (وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ, wa-yaziidahum min fadhlihi) yang berarti "dan menambah karunia-Nya". Ayat 53:39 berbicara tentang apa yang menjadi hak manusia. Tambahan di atas hak itu datang dari Allah sebagai karunia, dan manusia tidak bisa menuntutnya sebagai miliknya. Usaha pun tidak otomatis bernilai baik. Ayat 18:104 menyebut orang (ضَلَّ سَعْيُهُمْ, dhalla sa'yuhum) yang berarti "usahanya sia-sia", padahal mereka mengira sedang berbuat sebaik-baiknya. Ayat 17:19 menyebut usaha yang diganjar, yaitu usaha orang yang menghendaki akhirat dan berusaha ke arahnya sambil beriman.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini bertanya di 53:24 apakah manusia memperoleh apa yang dia angankan, lalu menjawab di 53:39 bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan. Angan-angan terasa dekat karena tinggal dibayangkan, sedangkan usaha terasa jauh karena menuntut tenaga. Allah menaruh milik manusia pada yang kedua. Banyak rencana hidup berhenti sebagai angan yang dirawat bertahun-tahun, dan ayat ini tenang saja menyebut bahwa angan semacam itu tidak pernah menjadi milik siapa pun.
  • Hasil orang tua, nama keluarga, atau jasa kelompok tidak tercatat sebagai usaha pribadi. Ayat ini menyebut "manusia" tanpa keterangan asal-usul, dan ukurannya sama untuk semua. Orang yang lahir di keluarga terpandang dan orang yang lahir tanpa nama berdiri di garis awal yang sama di hadapan Allah. Ada keadilan yang menenangkan di sini, sekaligus ada peringatan bagi mereka yang terbiasa hidup dari nama besar. Nama besar bisa membuka pintu di dunia, tetapi pintu itu tidak ikut dihitung sebagai langkah pribadi.
  • Kata kerja ini berakar pada gerak yang sungguh-sungguh, seperti orang yang bergegas di 28:20. Usaha dalam pengertian ini tidak sama dengan niat yang disimpan atau rencana yang ditulis rapi, sebab usaha berupa gerak yang terjadi. Banyak orang menilai dirinya dari niat, sementara orang lain menilainya dari perbuatan. Ayat ini memakai ukuran yang kedua, dan Allah menghitung langkah yang benar-benar diambil.
  • Ayat 18:104 menyebut orang yang usahanya sia-sia sementara mereka mengira sedang berbuat sebaik-baiknya. Kerja keras bisa diarahkan ke tempat yang salah, dan rasa lelah tidak menjamin arahnya benar. Orang bisa menghabiskan puluhan tahun membangun sesuatu yang ternyata tidak berguna. Ayat 53:39 menyebut usaha sebagai ukuran, dan ayat-ayat lain mengingatkan bahwa Allah juga melihat ke mana usaha itu diarahkan. Arah yang benar lebih menentukan daripada jumlah keringat.
  • Ayat 35:30 menyebut Allah menambah karunia-Nya di atas pahala. Manusia berhak atas hasil usahanya, dan tambahan di atasnya tidak bisa diajukan sebagai tagihan. Pemahaman ini meredam dua sikap yang sama-sama keliru, yaitu merasa layak menerima lebih tanpa berusaha, dan merasa usaha sendiri cukup untuk menuntut segalanya. Di antara keduanya ada ruang untuk bekerja sungguh-sungguh sambil berharap pada kemurahan Allah.
  • Kalau yang dimiliki manusia sebatas apa yang telah dia usahakan, apa yang tersisa dari satu hari yang dilewatkan tanpa usaha apa pun? Pertanyaan ini tidak menuntut semua hari diisi kerja keras, karena istirahat pun bisa menjadi bagian dari usaha yang terarah. Ayat 79:35 menggambarkan manusia yang kelak mengingat apa yang telah dia usahakan, dan ingatan itu akan tersusun dari hari-hari biasa seperti hari ini. Hari yang tampak kecil ikut menentukan isi ingatan itu.