Ayat 53:38
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
bahwa seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌallaa taziru waaziratunbahwa seorang pemikul beban tidak memikul
- وِزْرَ أُخْرَىٰwizra ukhraabeban orang lain
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَلَّاallaabahwa tidak
- تَزِرُtazirumemikul
- وَازِرَةٌwaaziratunyang memikul
- وِزْرَwizrabeban
- أُخْرَىٰukhraayang lain
Inti bacaan
Ketika diajak melanggar aturan dengan janji bahwa akibatnya akan ditanggung bersama, menimbang keputusan itu seolah seluruh akibatnya dipikul sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَلَّا, allaa) yang berarti "bahwa tidak". Kata ini gabungan dari dua kata, an yang berarti "bahwa" dan laa yang berarti "tidak". Kata "bahwa" di depannya menandai awal isi lembaran Musa dan Ibrahim yang disebut di 53:36-37. Kalimat ini muncul lima kali, di 6:164, 17:15, 35:18, 39:7, dan 53:38. Di empat ayat lainnya kalimat itu dibuka dengan (وَلَا تَزِرُ, wa-laa taziru) yang berarti "dan tidak memikul", sebagai pernyataan yang berdiri sendiri. Di ayat ini kalimat yang sama menjadi isi sebuah berita, sehingga dibuka dengan "bahwa". Perbedaan kecil ini menunjukkan bahwa prinsip yang sama bisa tampil sebagai pernyataan langsung dan sebagai kutipan dari lembaran lama.
Kata kerja (تَزِرُ, taziru) yang berarti "memikul" dan pelakunya (وَازِرَةٌ, waaziratun) yang berarti "pemikul beban" berasal dari akar yang sama, و-ز-ر. Kalimat pendek ini memuat akar itu pada tiga kata, karena bendanya pun dari akar yang sama, (وِزْرَ, wizra) yang berarti "beban". Terjemahan mengikuti pengulangan itu dengan "memikul", "pemikul beban", dan "beban". Kata pemikul dan kata (أُخْرَىٰ, ukhraa) yang berarti "yang lain" sama-sama berbentuk perempuan. Bentuk itu sejalan dengan kata jiwa, yang dalam Arab diperlakukan sebagai kata perempuan. Di 6:164 kalimat yang sama didahului (وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا, wa-laa taksibu kullu nafsin illaa 'alayhaa) yang berarti "dan tidaklah setiap jiwa mengusahakan sesuatu kecuali atas dirinya sendiri", dengan kata ganti perempuan -haa untuk jiwa.
Kata wizra diterjemahkan "beban", tidak "dosa". Kata yang sama dipakai di 94:2 (وِزْرَكَ, wizraka) yang berarti "bebanmu", untuk beban yang diangkat Allah dari punggung orang yang diajak bicara. Di 20:100 (يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا, yahmilu yawma l-qiyaamati wizran) kata itu berarti "memikul beban pada hari Kiamat". Gambarnya sesuatu yang berat di punggung. Isinya memang akibat perbuatan, tetapi kata itu sendiri tidak mencap pemikulnya sebagai pendosa. Karena itu kelima ayat tadi diterjemahkan dengan kalimat yang sama, "seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain".
Pilihan itu menjaga dua hal. Pertama, pelakunya disebut "pemikul", tidak "orang yang berdosa", sebab setiap jiwa memikul sesuatu. Kedua, gambar yang dipakai Arab tetap utuh, yaitu punggung dan muatannya. Muatan itu tidak bisa dipindahkan ke punggung lain. Gambar itu berlawanan dengan harapan orang yang berpaling di 53:33-34, yang tampak tenang meski memberi sedikit dan berhenti memberi. Orang itu boleh berharap bebannya ringan, tetapi dia tidak bisa berharap bebannya dipindahkan.
Tafsiran
Ayat ini membuka isi lembaran Musa dan Ibrahim dengan prinsip yang juga ditegaskan di empat surah lain. Di 6:164 dan 39:7 kalimat ini disusul kepulangan kepada Tuhan dan pemberitaan, (فَيُنَبِّئُكُمْ, fa-yunabbi'ukum) yang berarti "maka Dia memberitakan kepada kalian". Kata itu berakar sama dengan kata "diberitakan" di 53:36. Di dua ayat itu, prinsip beban pribadi berujung pada kabar tentang perbuatan masing-masing.
Al-Qur'an juga memperlihatkan orang yang mencoba melanggar prinsip ini. Di 29:12 orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, (وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ, wa-l-nahmil khathaayaakum) yang berarti "dan kami akan memikul dosa-dosa kalian". Jawabannya tegas, (وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa hum bi-haamiliina min khathaayaahum min syay'in) yang berarti "padahal mereka tidak akan memikul dosa-dosa mereka sedikit pun". Ayat 29:13 menambahkan bahwa orang-orang yang menawarkan itu akan memikul beban mereka sendiri ditambah beban lain. Beban mereka bertambah, tetapi beban orang yang mereka ajak tidak berkurang. Ayat 35:18 menutup celah terakhir. Jiwa yang keberatan boleh memanggil kerabatnya, tetapi (لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ, laa yuhmal minhu syay'un) yang berarti "tidak akan dipikulkan sedikit pun darinya". Hubungan darah tidak mengubah hitungan.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengutip prinsip ini dari lembaran Musa dan Ibrahim, dan prinsip yang sama berulang di empat surah lain. Aturan tentang beban pribadi tidak lahir dari satu peristiwa atau satu zaman. Aturan itu sudah tertulis jauh sebelum orang yang berpaling di 53:33 lahir, dan tetap berlaku sesudahnya. Kesinambungan semacam ini memberi pijakan, sebab orang tidak perlu menebak-nebak apakah aturan hari ini akan berubah besok. Allah menjaga aturan ini tetap sama dari lembaran Musa sampai Al-Qur'an.
- Kata yang dipakai "pemikul beban", tidak "orang berdosa". Setiap orang memikul sesuatu, dan ayat ini berbicara kepada semua pemikul tanpa lebih dulu memberi cap. Cara bicara seperti ini membuat pembaca tidak bisa menghindar dengan berkata bahwa ayat ini untuk orang lain yang berdosa. Allah menyebut semua orang sebagai pemikul, lalu menegaskan bahwa muatan di punggung masing-masing tidak berpindah. Tidak ada pembaca yang berdiri di luar kalimat ini sebagai penonton.
- Di 29:12 ada tawaran yang terdengar murah hati, "ikuti jalan kami, kami yang menanggung". Tawaran serupa masih sering terdengar dalam bentuk lain, misalnya jaminan dari atasan bahwa pelanggaran aturan akan ditanggung bersama, atau bujukan dari kawan bahwa risiko akan dibagi. Al-Qur'an menyebut para penawar itu pendusta. Tanggungan yang ditawarkan tidak pernah sungguh bisa diserahkan, dan Allah sudah memberitahukannya lebih dulu. Orang yang menerima tawaran semacam itu tetap memikul akibat keputusannya sendiri.
- Ayat 29:13 menyebut orang yang menyesatkan memikul beban mereka ditambah beban lain. Tambahan itu tidak mengurangi beban orang yang disesatkan. Hitungannya tidak seperti membagi kue, ketika potongan yang diambil satu orang mengurangi bagian orang lain. Beban bisa bertambah pada yang menyesatkan, tetapi tidak bisa berkurang pada yang mengikuti. Keadilan Allah di sini tidak memberi keringanan kepada pengikut yang merasa cuma ikut-ikutan.
- Ayat 35:18 membayangkan jiwa yang keberatan memanggil kerabat dekatnya. Kerabat itu datang, tetapi tidak ada yang bisa dipikulkan kepadanya. Dalam hidup sehari-hari keluarga sering menjadi tempat berbagi beban, dan itu baik. Ayat ini menunjuk batasnya. Ada beban yang tidak bisa dibagi siapa pun, bahkan oleh orang yang amat menyayangi, dan beban itu yang dibawa setiap orang ke hadapan Allah. Kasih sayang tetap berharga, walau tidak bisa memindahkan muatan.
- Kalau tanggung jawab dalam sebuah kelompok dibicarakan sebagai tanggung jawab bersama, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Sering kali mereka yang sedikit bekerja tetapi banyak mengambil keputusan. Rumusan "tanggung jawab bersama" bisa menjadi tempat bersembunyi. Ayat ini memisahkan kembali beban di setiap punggung, dan di hadapan Allah tidak ada rapat yang bisa membagi rata beban yang sudah dipikul sendiri-sendiri. Pembagian tugas di dunia boleh dirundingkan, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan-Nya tidak ikut dirundingkan.
Ayat 53:39
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
dan bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِwa-an laysa li-l-insaanidan bahwa manusia tidak memperoleh
- إِلَّا مَا سَعَىٰillaa maa sa'aakecuali apa yang telah dia usahakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَأَنْwa-andan bahwa
- لَيْسَlaysabukanlah
- لِلْإِنْسَانِli-l-insaanibagi manusia
- إِلَّاillaakecuali
- مَاmaaapa yang
- سَعَىٰsa'aatelah dia usahakan
Inti bacaan
Menuliskan satu cita-cita yang lama tertunda, kemudian menetapkan tindakan pertama yang bisa dikerjakan sore ini juga beserta jamnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنْ, wa-an) yang berarti "dan bahwa". Kata ini melanjutkan isi lembaran Musa dan Ibrahim yang dimulai di 53:38. Dalam rangkaian ini, ayat 53:38 dibuka dengan (أَلَّا, allaa), ayat 53:39 dengan wa-an, dan ayat 53:40 dengan (وَأَنَّ, wa-anna). Ketiganya berarti "bahwa", sehingga pembaca tahu isi berita yang sama masih berlanjut. Tanpa kata penghubung ini, ayat 53:39 bisa terbaca sebagai kalimat baru yang lepas dari lembaran Musa dan Ibrahim. Dengan kata ini, pembaca tahu bahwa prinsip tentang usaha termasuk isi lembaran lama yang sama.
Inti ayat ini (لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ, laysa li-l-insaani) yang berarti "tidak ada bagi manusia". Huruf li- pada (لِلْإِنْسَانِ, li-l-insaani) menandai milik atau hak, sehingga terjemahan memakai kata "memperoleh". Kata yang sama muncul di 53:24 (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa) yang berarti "ataukah manusia memperoleh apa yang dia angankan?". Kedua ayat berdiri sebagai kontras dalam surah yang sama. Di 53:24 yang ditanyakan apakah angan-angan menjadi milik manusia. Di 53:39 jawabannya diberikan, bahwa milik manusia berasal dari usahanya. Angan tetap boleh ada, tetapi angan tidak pernah tercatat sebagai milik.
Sesudahnya datang (إِلَّا مَا سَعَىٰ, illaa maa sa'aa) yang berarti "kecuali apa yang telah dia usahakan". Susunan laysa sampai illaa menolak semua kemungkinan lebih dulu, lalu mengecualikan satu. Susunan yang sama ada di 11:16 (لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ, laysa lahum fii l-aakhirati illaa n-naaru) yang diterjemahkan "tidak memperoleh di akhirat kecuali api". Terjemahan 53:39 mengikuti urutan itu, penolakan dulu, pengecualian kemudian, supaya tekanan kalimat Arab tidak hilang. Urutan itu membuat pembaca lebih dulu mendengar penolakan yang menyeluruh, lalu menemukan satu pintu yang tersisa.
Kata kerja (سَعَىٰ, sa'aa) berasal dari akar س-ع-ي yang bermakna bergerak dengan sungguh-sungguh. Gambarnya terlihat pada pemakaiannya di tempat lain. Tongkat Musa menjadi ular yang merayap cepat di 20:20 (تَسْعَىٰ, tas'aa). Seorang lelaki datang bergegas di 28:20 (يَسْعَىٰ, yas'aa). Orang-orang beriman diminta bersegera di 62:9 (فَاسْعَوْا, fa-s'aw). Ketika dipakai untuk perbuatan, akar ini menjadi "usaha", yaitu kerja yang dijalani dengan gerak dan tenaga. Bentuk lampaunya diterjemahkan "telah dia usahakan", karena yang dihitung usaha yang sudah dijalani. Frasa maa sa'aa muncul 2 kali, di 53:39 dan 79:35 (يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ, yatadzakkaru l-insaanu maa sa'aa), ketika manusia mengingat apa yang telah dia usahakan.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi 53:38 dari sisi yang berlawanan. Ayat 53:38 menyatakan bahwa manusia tidak memikul beban orang lain. Ayat 53:39 menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain hasil usahanya sendiri. Dua ayat ini menutup dua pintu sekaligus. Beban orang lain tidak bisa dilimpahkan kepadanya, dan hasil orang lain tidak bisa diakui sebagai miliknya. Surah ini sudah menyinggung soal yang sama di 53:24, ketika bertanya apakah manusia memperoleh apa yang dia angankan. Ayat 53:39 menjawab bahwa ukuran milik manusia terletak pada usahanya, tidak pada angannya.
Pertanyaan yang wajar muncul, apakah ayat ini menolak karunia yang melebihi usaha. Al-Qur'an sendiri menjawabnya. Ayat 35:30 menyebut Allah menyempurnakan pahala mereka, lalu (وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ, wa-yaziidahum min fadhlihi) yang berarti "dan menambah karunia-Nya". Ayat 53:39 berbicara tentang apa yang menjadi hak manusia. Tambahan di atas hak itu datang dari Allah sebagai karunia, dan manusia tidak bisa menuntutnya sebagai miliknya. Usaha pun tidak otomatis bernilai baik. Ayat 18:104 menyebut orang (ضَلَّ سَعْيُهُمْ, dhalla sa'yuhum) yang berarti "usahanya sia-sia", padahal mereka mengira sedang berbuat sebaik-baiknya. Ayat 17:19 menyebut usaha yang diganjar, yaitu usaha orang yang menghendaki akhirat dan berusaha ke arahnya sambil beriman.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini bertanya di 53:24 apakah manusia memperoleh apa yang dia angankan, lalu menjawab di 53:39 bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan. Angan-angan terasa dekat karena tinggal dibayangkan, sedangkan usaha terasa jauh karena menuntut tenaga. Allah menaruh milik manusia pada yang kedua. Banyak rencana hidup berhenti sebagai angan yang dirawat bertahun-tahun, dan ayat ini tenang saja menyebut bahwa angan semacam itu tidak pernah menjadi milik siapa pun.
- Hasil orang tua, nama keluarga, atau jasa kelompok tidak tercatat sebagai usaha pribadi. Ayat ini menyebut "manusia" tanpa keterangan asal-usul, dan ukurannya sama untuk semua. Orang yang lahir di keluarga terpandang dan orang yang lahir tanpa nama berdiri di garis awal yang sama di hadapan Allah. Ada keadilan yang menenangkan di sini, sekaligus ada peringatan bagi mereka yang terbiasa hidup dari nama besar. Nama besar bisa membuka pintu di dunia, tetapi pintu itu tidak ikut dihitung sebagai langkah pribadi.
- Kata kerja ini berakar pada gerak yang sungguh-sungguh, seperti orang yang bergegas di 28:20. Usaha dalam pengertian ini tidak sama dengan niat yang disimpan atau rencana yang ditulis rapi, sebab usaha berupa gerak yang terjadi. Banyak orang menilai dirinya dari niat, sementara orang lain menilainya dari perbuatan. Ayat ini memakai ukuran yang kedua, dan Allah menghitung langkah yang benar-benar diambil. Langkah kecil yang benar-benar diambil lebih berat dalam hitungan ini daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.
- Ayat 18:104 menyebut orang yang usahanya sia-sia sementara mereka mengira sedang berbuat sebaik-baiknya. Kerja keras bisa diarahkan ke tempat yang salah, dan rasa lelah tidak menjamin arahnya benar. Orang bisa menghabiskan puluhan tahun membangun sesuatu yang ternyata tidak berguna. Ayat 53:39 menyebut usaha sebagai ukuran, dan ayat-ayat lain mengingatkan bahwa Allah juga melihat ke mana usaha itu diarahkan. Arah yang benar lebih menentukan daripada jumlah keringat.
- Ayat 35:30 menyebut Allah menambah karunia-Nya di atas pahala. Manusia berhak atas hasil usahanya, dan tambahan di atasnya tidak bisa diajukan sebagai tagihan. Pemahaman ini meredam dua sikap yang sama-sama keliru, yaitu merasa layak menerima lebih tanpa berusaha, dan merasa usaha sendiri cukup untuk menuntut segalanya. Di antara keduanya ada ruang untuk bekerja sungguh-sungguh sambil berharap pada kemurahan Allah.
- Kalau yang dimiliki manusia sebatas apa yang telah dia usahakan, apa yang tersisa dari satu hari yang dilewatkan tanpa usaha apa pun? Pertanyaan ini tidak menuntut semua hari diisi kerja keras, karena istirahat pun bisa menjadi bagian dari usaha yang terarah. Ayat 79:35 menggambarkan manusia yang kelak mengingat apa yang telah dia usahakan, dan ingatan itu akan tersusun dari hari-hari biasa seperti hari ini. Hari yang tampak kecil ikut menentukan isi ingatan itu.
Ayat 53:40
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
dan bahwa usahanya kelak akan terlihat,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنَّ سَعْيَهُwa-anna sa'yahudan bahwa usahanya
- سَوْفَ يُرَىٰsawfa yuraakelak akan terlihat
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَنَّwa-annadan bahwa
- سَعْيَهُsa'yahuusahanya
- سَوْفَsawfakelak
- يُرَىٰyuraaterlihat
Inti bacaan
Setiap malam mencatat satu pekerjaan baik yang tak diketahui siapa pun, sebagai pengingat bahwa pekerjaan semacam itu tetap terhitung.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّ, wa-anna) yang berarti "dan bahwa". Kata ini melanjutkan isi lembaran Musa dan Ibrahim sesudah (أَلَّا, allaa) di 53:38 dan (وَأَنْ, wa-an) di 53:39. Rangkaian "dan bahwa" berlanjut sesudah 53:41, misalnya di 53:42 (وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ, wa-anna ilaa rabbika l-muntahaa) yang berarti "dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan", lalu terus sampai 53:50. Dengan begitu isi lembaran itu tersusun seperti daftar panjang yang butir-butirnya diawali kata yang sama. Susunan daftar ini memudahkan pembaca mengingat isinya satu per satu.
Pokok kalimatnya (سَعْيَهُ, sa'yahu) yang berarti "usahanya". Kata ini kata benda dari akar yang sama dengan (سَعَىٰ, sa'aa) di 53:39. Di 53:39 usaha disebut sebagai perbuatan yang telah dijalani. Di 53:40 usaha itu menjadi sesuatu yang utuh, yang bisa ditunjuk dan dilihat. Perbuatan yang sudah lewat tetap tersimpan sebagai sesuatu yang utuh. Kata benda yang sama dipakai di 17:19 (كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا, kaana sa'yuhum masykuuran) untuk usaha yang diganjar, di 18:104 untuk usaha yang sia-sia, dan di 92:4 (إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ, inna sa'yakum la-syattaa) yang berarti "sesungguhnya usaha kalian benar-benar beraneka ragam".
Kalimat ditutup dengan (سَوْفَ يُرَىٰ, sawfa yuraa) yang berarti "kelak akan terlihat". Kata (سَوْفَ, sawfa) menunjuk waktu yang akan datang. Kata (يُرَىٰ, yuraa) berasal dari akar ر-أ-ي yang bermakna melihat, dalam bentuk yang membiarkan pelihatnya tanpa nama. Bentuk yang sama muncul di 46:25 (لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ, laa yuraa illaa masaakinuhum) yang diterjemahkan "tidak terlihat kecuali tempat-tempat tinggal mereka". Terjemahan 53:40 memakai padanan yang sama. Kata "diperlihatkan" menuntut dua pihak, yaitu yang memperlihatkan dan yang diperlihatkan, sehingga pembaca terdorong menambahkan "kepadanya". Kata "terlihat" menjaga kalimat ini sependek Arabnya. Siapa yang melihat dibiarkan terbuka, sama seperti dalam Arabnya.
Akar ر-أ-ي menghubungkan ayat ini dengan pertanyaan di 53:35 (فَهُوَ يَرَىٰ, fa-huwa yaraa) yang berarti "sehingga dia melihat". Di sana orang yang berpaling bersikap seolah dia bisa melihat yang gaib. Di 53:40 arahnya berlawanan, karena usahanya yang akan terlihat. Rangkaian ini juga dibuka dengan akar yang sama di 53:33 (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) yang berarti "maka, apakah engkau memperhatikan". Tiga kata dari satu akar menandai perpindahan dari orang yang diperhatikan, ke orang yang merasa melihat, sampai ke usaha yang kelak dilihat. Orang yang merasa menjadi pengamat ternyata berakhir sebagai pihak yang diamati.
Tafsiran
Ayat ini menutup tiga butir pertama isi lembaran sebelum balasan disebut di 53:41. Urutannya jelas. Beban tidak berpindah (53:38), milik manusia berasal dari usahanya (53:39), usaha itu akan terlihat (53:40), lalu dibalas dengan balasan yang sempurna (53:41). Usaha dilihat lebih dulu, baru dibalas. Balasan tidak dijatuhkan atas dugaan, sebab perbuatan yang menjadi dasarnya ditampakkan lebih dulu. Urutan ini menjawab kecemasan orang yang takut dihakimi atas sesuatu yang tidak dia perbuat.
Siapa yang melihat dibiarkan terbuka dalam ayat ini, dan ayat-ayat lain mengisi beberapa kemungkinan. Di 9:105 (فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ, fa-sa-yaraa llaahu 'amalakum) yang berarti "maka Allah akan melihat pekerjaan kalian", disusul Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Di 99:7-8 pelakunya sendiri akan melihat perbuatannya, seberat zarah pun, (يَرَهُ, yarahu) yang berarti "dia akan melihatnya". Ayat 21:94 menambahkan bahwa usaha orang yang beriman tidak diingkari, (وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ, wa-innaa lahu kaatibuuna) yang berarti "dan sesungguhnya Kamilah yang mencatat untuknya". Ayat 53:40 tidak memilih salah satu. Usaha itu terlihat, oleh Allah lebih dulu, oleh pelakunya, dan oleh pihak-pihak lain yang disebut di 9:105.
Renungan dan Hikmah
- Orang di 53:35 bersikap seolah dia bisa melihat yang gaib. Lima ayat kemudian, kedudukannya berbalik, karena usahanya yang akan terlihat. Banyak orang merasa berada di posisi pengamat, menilai orang lain, menakar keadaan, merasa paham jalannya dunia. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap pengamat juga sedang diamati. Allah melihat usaha itu lebih dulu, jauh sebelum pelakunya sempat menyusun penilaian tentang dirinya sendiri. Pengamat yang lupa bahwa dirinya sedang diamati biasanya amat keras dalam menilai orang lain.
- Kata "kelak" menunjuk waktu yang belum tiba. Banyak usaha tidak terlihat hari ini. Kerja di balik layar, perawatan orang tua yang sakit, dan kejujuran dalam urusan kecil yang tidak diketahui siapa pun sering luput dari pujian. Ayat ini tidak menjanjikan pengakuan segera. Ayat ini menjanjikan bahwa usaha itu akan terlihat, dan Allah yang menentukan waktunya. Menunggu waktu itu tidak mudah, tetapi penantian tidak mengurangi nilai usaha yang sudah dijalani.
- Ayat ini membiarkan pelihatnya tanpa nama. Ayat 9:105 menyebut Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, sedangkan 99:7-8 menyebut pelakunya sendiri. Keterbukaan ini membuat usaha tidak bisa disembunyikan dari satu pihak dengan berharap pihak lain tidak tahu. Orang terbiasa merapikan pekerjaan ketika diperiksa atasan dan membiarkannya berantakan ketika tidak ada yang mengawasi. Ayat ini tidak menyisakan waktu tanpa pengawasan. Kalimat ini terdengar berat, tetapi juga membebaskan dari kebiasaan bekerja demi dilihat.
- Urutan dalam rangkaian ini, dari terlihat lalu dibalas, menunjukkan cara Allah mengadili. Balasan tidak datang tanpa bukti, sebab perbuatan dibentangkan lebih dulu, seperti lembaran yang dibuka di 81:10. Di dunia orang sering dihukum atas desas-desus atau dipuji atas citra. Ayat ini menggambarkan pengadilan yang dasarnya perbuatan itu sendiri, dan pelakunya ikut melihat apa yang menjadi dasar putusan. Tidak ada putusan yang jatuh tanpa pelakunya tahu sebabnya.
- Ayat 21:94 menyebut bahwa usaha orang yang beriman tidak diingkari dan Allah mencatatnya. Di tempat kerja, usaha seseorang sering diaku sebagai milik orang lain, atau hilang dalam laporan tanpa nama. Rasa kecewa karena tidak dihargai itu nyata. Ayat 53:40 tidak menghapus kecewa itu, tetapi memindahkan tempat penghitungannya, karena catatan yang menentukan tidak disimpan di meja atasan. Allah menyimpan catatan itu tanpa lupa dan tanpa pilih kasih.
- Seandainya seluruh usaha satu minggu terakhir diputar ulang di depan mata sendiri, bagian mana yang ingin dipercepat, dan bagian mana yang ingin ditonton lebih lama? Ayat ini menjanjikan pemutaran semacam itu. Pertanyaan tadi tidak perlu dijawab sekarang. Ada gunanya membayangkan bahwa usaha hari ini kelak akan terlihat utuh, tanpa sunting dan tanpa penjelasan tambahan dari pelakunya. Bayangan itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menjernihkan pilihan hari ini.
Ayat 53:41
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ
kemudian dia akan diberi balasan atasnya dengan balasan yang paling sempurna,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ يُجْزَاهُtsumma yujzaahukemudian dia akan diberi balasan atasnya
- الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰal-jazaa'a l-awfaadengan balasan yang paling sempurna
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- يُجْزَاهُyujzaahudiberi balasan atasnya
- الْجَزَاءَal-jazaa'abalasan
- الْأَوْفَىٰl-awfaayang paling sempurna
Inti bacaan
Menyisihkan sebagian gaji bulan ini untuk tetangga yang sedang kesulitan, tanpa mengungkitnya lagi di kemudian hari.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian". Kata ini menyambung 53:40, yang menyatakan bahwa usaha manusia kelak akan terlihat. Sesudah usaha itu terlihat, barulah balasan datang, sehingga urutannya jelas bagi pembaca. Usaha dijalani, lalu diperlihatkan, kemudian dibalas. Kata yang sama menyambung dua bagian 2:281, (ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ, tsumma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat), yang menyatakan bahwa sesudah manusia dikembalikan kepada Allah, setiap diri menerima dengan sempurna hasil usahanya.
Kata kerjanya (يُجْزَاهُ, yujzaahu) yang berarti "dia akan diberi balasan atasnya". Akarnya ج-ز-ي, yang bermakna membalas atau mengganjar. Bentuknya membiarkan pemberi balasan tanpa nama, sama seperti (يُرَىٰ, yuraa) yang berarti "terlihat" di 53:40. Akhiran -hu pada kata itu menunjuk kembali kepada (سَعْيَهُ, sa'yahu) yang berarti "usahanya" di 53:40. Karena itu terjemahannya memuat kata "atasnya". Tanpa kata itu, kalimat Indonesia kehilangan sambungan dengan usaha yang baru saja disebut, dan pembaca bisa mengira yang dibalas orangnya secara umum. Dengan "atasnya", jelas bahwa balasan diberikan atas usaha yang telah dijalani.
Kata kerja yang sama dipakai di 6:160 (فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا, fa-laa yujzaa illaa mitslahaa) yang berarti "tidak dibalas kecuali seimbang dengannya". Ayat itu berbicara tentang orang yang membawa keburukan, sedangkan orang yang membawa kebaikan memperoleh (عَشْرُ أَمْثَالِهَا, 'asyru amtsaalihaa) yang berarti "sepuluh kali lipatnya". Kalimat itu muncul di 2 ayat, 6:160 dan 40:40, dan keduanya berbicara tentang orang yang mengerjakan keburukan. Kedua ayat itu memperlihatkan bahwa balasan dari akar ini mengikuti ukuran perbuatan. Keburukan tidak dibalas lebih berat daripada keburukannya, sedangkan kebaikan boleh dilipatgandakan.
Balasan itu disebut (الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ, al-jazaa'a l-awfaa) yang berarti "dengan balasan yang paling sempurna". Kata (الْجَزَاءَ, al-jazaa'a) berasal dari akar yang sama dengan kata kerjanya, sehingga akar ج-ز-ي terdengar dua kali berturut-turut. Pengulangan seperti ini menegaskan bahwa balasan itu sungguh-sungguh akan diberikan, lalu ukurannya dijelaskan oleh kata sesudahnya. Kata (الْأَوْفَىٰ, l-awfaa) berasal dari akar و-ف-ي, dalam bentuk yang menyatakan tingkat tertinggi. Maknanya penuh dan genap, tanpa kekurangan sedikit pun.
Akar و-ف-ي menghubungkan ayat ini dengan 53:37 (وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ, wa-ibraahiima lladzii waffaa) yang berarti "dan Ibrahim yang menyempurnakan". Ibrahim disebut sebagai orang yang menyempurnakan, lalu isi lembarannya menjanjikan balasan yang sempurna. Sifat yang dipuji pada Ibrahim kembali sebagai sifat balasan yang diterima manusia. Akar yang sama dipakai untuk menepati janji, misalnya di 9:111 (وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ, wa-man awfaa bi-'ahdihi mina llaahi) yang berarti "dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah". Di 39:70 akar ini muncul lagi dalam (وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ, wa-wuffiyat kullu nafsin maa 'amilat) yang berarti "setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya". Kesempurnaan dalam ayat-ayat ini berarti tidak ada bagian usaha yang tercecer.
Tafsiran
Ayat ini menutup satu rangkaian dalam isi lembaran Musa dan Ibrahim. Rangkaian itu dimulai di 53:38 dengan beban yang tidak berpindah kepada orang lain. Sesudahnya 53:39 menyatakan bahwa milik manusia berasal dari usahanya, 53:40 menyatakan usaha itu akan terlihat, dan 53:41 menyatakan usaha itu akan dibalas. Rangkaian ini menjawab orang di 53:33-34, yang berpaling dan memberi sedikit lalu berhenti memberi. Dia menghitung pemberiannya dengan teliti, seakan-akan setiap pemberian mengurangi miliknya. Ayat ini membalik hitungan itu, karena yang tercatat usahanya, dan yang diterimanya kelak balasan yang penuh.
Kesempurnaan balasan ini perlu dibaca bersama 6:160. Balasan untuk keburukan tidak melebihi keburukannya, sedangkan balasan untuk kebaikan bisa dilipatgandakan. Sempurna di sini berarti tepat dan utuh, sehingga tidak ada yang dirugikan. Karena itu 2:281 dan 6:160 ditutup dengan kalimat yang sama, (وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ, wa-hum laa yuzhlamuuna) yang berarti "dan mereka tidak dizalimi". Balasan yang sempurna membutuhkan Pemberi balasan yang mengetahui seluruh usaha, termasuk usaha yang sudah dilupakan pelakunya. Ayat berikutnya, 53:42, menunjuk kepada-Nya sebagai tempat semua itu berakhir.
Renungan dan Hikmah
- Banyak usaha kecil menghilang dari ingatan pelakunya sendiri. Menahan marah di jalan, merapikan pekerjaan yang tidak akan diperiksa, dan mendengarkan keluhan teman sampai selesai terasa lewat begitu saja, tanpa bekas. Ayat ini menyebut balasannya sempurna, dan 39:70 memakai akar yang sama untuk setiap jiwa yang diberi balasan sesuai apa yang dikerjakannya. Allah tidak membulatkan hitungan ke bawah. Usaha yang pelakunya sendiri sudah lupa tetap ada dalam hitungan-Nya, utuh dan tanpa potongan, menunggu hari ketika semuanya dibuka.
- Orang yang pernah berbuat salah sering membayangkan hukuman yang jauh lebih besar daripada kesalahannya, karena rasa bersalah membesarkan segalanya. Ayat 6:160 menyatakan keburukan tidak dibalas kecuali seimbang dengannya, sedangkan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Timbangan Allah condong kepada kebaikan. Kesempurnaan balasan di 53:41 tidak berarti keburukan dihitung berlipat. Kesempurnaan itu berarti tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Orang yang takut dihukum melampaui kesalahannya dapat bernapas lebih lega, dan orang yang berbuat baik tahu kebaikannya tidak ditimbang dengan pelit.
- Orang di 53:34 memberi sedikit lalu berhenti, sebab dia menghitung setiap pemberian sebagai kehilangan. Hitungannya teliti, tetapi arahnya keliru. Dia mencatat apa yang keluar dari tangannya, lalu lupa bahwa yang keluar itu tercatat sebagai usahanya, dan Allah membalas usaha dengan balasan yang sempurna. Pemberian yang ditahan karena takut rugi ternyata kesempatan yang dilewatkan. Di tengah kebiasaan menghitung untung dan rugi setiap kebaikan, pertanyaannya menjadi tajam. Siapa yang sesungguhnya rugi, orang yang memberi atau orang yang berhenti memberi?
- Ibrahim disebut di 53:37 sebagai orang yang menyempurnakan, lalu empat ayat kemudian akar yang sama muncul lagi sebagai sifat balasan. Orang yang menyempurnakan tugasnya mendapati Allah menyempurnakan balasannya. Di dunia kerja, orang yang menuntaskan pekerjaannya sering tidak mendapat imbalan yang setara, karena atasan lupa, rekan mengambil nama, dan laporan tidak dibaca. Ayat ini memindahkan tempat imbalan itu dari tangan manusia yang pelupa ke tangan Allah, yang menurut 9:111 tidak tertandingi dalam menepati janji.
- Di awal ayat ini, kata "kemudian" menyimpan jarak waktu. Balasan tidak selalu datang begitu usaha selesai. Kadang usaha dijalani bertahun-tahun tanpa hasil yang tampak, sampai pelakunya mulai ragu apakah semua itu ada gunanya. Ayat ini tidak menjanjikan kecepatan, tetapi kepastian dan keutuhan. Jarak yang dibawa kata "kemudian" tidak berarti Allah lupa, sebab usaha itu sudah terlihat oleh-Nya sejak 53:40. Menunggu sambil tahu bahwa tidak ada yang hilang terasa berbeda dengan menunggu tanpa kepastian apa pun.
- Banyak orang menolong sambil dalam hati menunggu balasan dari orang yang ditolongnya, entah ucapan terima kasih, pujian, atau bantuan di lain waktu. Ketika balasan itu tidak datang, kebaikan terasa sia-sia dan hati menjadi pahit. Di 76:9 orang-orang yang memberi makan berkata (لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا, laa nuriidu minkum jazaa'an wa-laa syukuuran) yang berarti "Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian". Kata balasan di sana berasal dari akar yang sama dengan 53:41. Balasan yang sempurna datang dari Allah, sehingga orang yang ditolong tidak perlu menjadi pembayarnya.