أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
bahwa seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌallaa taziru waaziratunbahwa seorang pemikul beban tidak memikul
- وِزْرَ أُخْرَىٰwizra ukhraabeban orang lain
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَلَّاallaabahwa tidak
- تَزِرُtazirumemikul
- وَازِرَةٌwaaziratunyang memikul
- وِزْرَwizrabeban
- أُخْرَىٰukhraayang lain
Inti bacaan
Ketika diajak melanggar aturan dengan janji bahwa akibatnya akan ditanggung bersama, menimbang keputusan itu seolah seluruh akibatnya dipikul sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَلَّا, allaa) yang berarti "bahwa tidak". Kata ini gabungan dari dua kata, an yang berarti "bahwa" dan laa yang berarti "tidak". Kata "bahwa" di depannya menandai awal isi lembaran Musa dan Ibrahim yang disebut di 53:36-37. Kalimat ini muncul lima kali, di 6:164, 17:15, 35:18, 39:7, dan 53:38. Di empat ayat lainnya kalimat itu dibuka dengan (وَلَا تَزِرُ, wa-laa taziru) yang berarti "dan tidak memikul", sebagai pernyataan yang berdiri sendiri. Di ayat ini kalimat yang sama menjadi isi sebuah berita, sehingga dibuka dengan "bahwa". Perbedaan kecil ini menunjukkan bahwa prinsip yang sama bisa tampil sebagai pernyataan langsung dan sebagai kutipan dari lembaran lama.
Kata kerja (تَزِرُ, taziru) yang berarti "memikul" dan pelakunya (وَازِرَةٌ, waaziratun) yang berarti "pemikul beban" berasal dari akar yang sama, و-ز-ر. Kalimat pendek ini memuat akar itu pada tiga kata, karena bendanya pun dari akar yang sama, (وِزْرَ, wizra) yang berarti "beban". Terjemahan mengikuti pengulangan itu dengan "memikul", "pemikul beban", dan "beban". Kata pemikul dan kata (أُخْرَىٰ, ukhraa) yang berarti "yang lain" sama-sama berbentuk perempuan. Bentuk itu sejalan dengan kata jiwa, yang dalam Arab diperlakukan sebagai kata perempuan. Di 6:164 kalimat yang sama didahului (وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا, wa-laa taksibu kullu nafsin illaa 'alayhaa) yang berarti "dan tidaklah setiap jiwa mengusahakan sesuatu kecuali atas dirinya sendiri", dengan kata ganti perempuan -haa untuk jiwa.
Kata wizra diterjemahkan "beban", tidak "dosa". Kata yang sama dipakai di 94:2 (وِزْرَكَ, wizraka) yang berarti "bebanmu", untuk beban yang diangkat Allah dari punggung orang yang diajak bicara. Di 20:100 (يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا, yahmilu yawma l-qiyaamati wizran) kata itu berarti "memikul beban pada hari Kiamat". Gambarnya sesuatu yang berat di punggung. Isinya memang akibat perbuatan, tetapi kata itu sendiri tidak mencap pemikulnya sebagai pendosa. Karena itu kelima ayat tadi diterjemahkan dengan kalimat yang sama, "seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain".
Pilihan itu menjaga dua hal. Pertama, pelakunya disebut "pemikul", tidak "orang yang berdosa", sebab setiap jiwa memikul sesuatu. Kedua, gambar yang dipakai Arab tetap utuh, yaitu punggung dan muatannya. Muatan itu tidak bisa dipindahkan ke punggung lain. Gambar itu berlawanan dengan harapan orang yang berpaling di 53:33-34, yang tampak tenang meski memberi sedikit dan berhenti memberi. Orang itu boleh berharap bebannya ringan, tetapi dia tidak bisa berharap bebannya dipindahkan.
Tafsiran
Ayat ini membuka isi lembaran Musa dan Ibrahim dengan prinsip yang juga ditegaskan di empat surah lain. Di 6:164 dan 39:7 kalimat ini disusul kepulangan kepada Tuhan dan pemberitaan, (فَيُنَبِّئُكُمْ, fa-yunabbi'ukum) yang berarti "maka Dia memberitakan kepada kalian". Kata itu berakar sama dengan kata "diberitakan" di 53:36. Di dua ayat itu, prinsip beban pribadi berujung pada kabar tentang perbuatan masing-masing.
Al-Qur'an juga memperlihatkan orang yang mencoba melanggar prinsip ini. Di 29:12 orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman, (وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ, wa-l-nahmil khathaayaakum) yang berarti "dan kami akan memikul dosa-dosa kalian". Jawabannya tegas, (وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa hum bi-haamiliina min khathaayaahum min syay'in) yang berarti "padahal mereka tidak akan memikul kesalahan-kesalahan mereka sedikit pun". Ayat 29:13 menambahkan bahwa orang-orang yang menawarkan itu akan memikul beban mereka sendiri ditambah beban lain. Beban mereka bertambah, tetapi beban orang yang mereka ajak tidak berkurang. Ayat 35:18 menutup celah terakhir. Jiwa yang keberatan boleh memanggil kerabatnya, tetapi (لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ, laa yuhmal minhu syay'un) yang berarti "tidak akan dipikulkan sedikit pun darinya". Hubungan darah tidak mengubah hitungan.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengutip prinsip ini dari lembaran Musa dan Ibrahim, dan prinsip yang sama berulang di empat surah lain. Aturan tentang beban pribadi tidak lahir dari satu peristiwa atau satu zaman. Aturan itu sudah tertulis jauh sebelum orang yang berpaling di 53:33 lahir, dan tetap berlaku sesudahnya. Kesinambungan semacam ini memberi pijakan, sebab orang tidak perlu menebak-nebak apakah aturan hari ini akan berubah besok. Allah menjaga aturan ini tetap sama dari lembaran Musa sampai Al-Qur'an.
- Kata yang dipakai "pemikul beban", tidak "orang berdosa". Setiap orang memikul sesuatu, dan ayat ini berbicara kepada semua pemikul tanpa lebih dulu memberi cap. Cara bicara seperti ini membuat pembaca tidak bisa menghindar dengan berkata bahwa ayat ini untuk orang lain yang berdosa. Allah menyebut semua orang sebagai pemikul, lalu menegaskan bahwa muatan di punggung masing-masing tidak berpindah. Tidak ada pembaca yang berdiri di luar kalimat ini sebagai penonton.
- Di 29:12 ada tawaran yang terdengar murah hati, "ikuti jalan kami, kami yang menanggung". Tawaran serupa masih sering terdengar dalam bentuk lain, misalnya jaminan dari atasan bahwa pelanggaran aturan akan ditanggung bersama, atau bujukan dari kawan bahwa risiko akan dibagi. Al-Qur'an menyebut para penawar itu pendusta. Tanggungan yang ditawarkan tidak pernah sungguh bisa diserahkan, dan Allah sudah memberitahukannya lebih dulu. Orang yang menerima tawaran semacam itu tetap memikul akibat keputusannya sendiri.
- Ayat 29:13 menyebut orang yang menyesatkan memikul beban mereka ditambah beban lain. Tambahan itu tidak mengurangi beban orang yang disesatkan. Hitungannya tidak seperti membagi kue, ketika potongan yang diambil satu orang mengurangi bagian orang lain. Beban bisa bertambah pada yang menyesatkan, tetapi tidak bisa berkurang pada yang mengikuti. Keadilan Allah di sini tidak memberi keringanan kepada pengikut yang merasa cuma ikut-ikutan.
- Ayat 35:18 membayangkan jiwa yang keberatan memanggil kerabat dekatnya. Kerabat itu datang, tetapi tidak ada yang bisa dipikulkan kepadanya. Dalam hidup sehari-hari keluarga sering menjadi tempat berbagi beban, dan itu baik. Ayat ini menunjuk batasnya. Ada beban yang tidak bisa dibagi siapa pun, bahkan oleh orang yang amat menyayangi, dan beban itu yang dibawa setiap orang ke hadapan Allah. Kasih sayang tetap berharga, walau tidak bisa memindahkan muatan.
- Kalau tanggung jawab dalam sebuah kelompok dibicarakan sebagai tanggung jawab bersama, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Sering kali mereka yang sedikit bekerja tetapi banyak mengambil keputusan. Rumusan "tanggung jawab bersama" bisa menjadi tempat bersembunyi. Ayat ini memisahkan kembali beban di setiap punggung, dan di hadapan Allah tidak ada rapat yang bisa membagi rata beban yang sudah dipikul sendiri-sendiri. Pembagian tugas di dunia boleh dirundingkan, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan-Nya tidak ikut dirundingkan.