وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
dan bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِwa-an laysa li-l-insaanidan bahwa manusia tidak memperoleh
- إِلَّا مَا سَعَىٰillaa maa sa'aakecuali apa yang telah dia usahakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَأَنْwa-andan bahwa
- لَيْسَlaysabukanlah
- لِلْإِنْسَانِli-l-insaanibagi manusia
- إِلَّاillaakecuali
- مَاmaaapa yang
- سَعَىٰsa'aatelah dia usahakan
Inti bacaan
Menuliskan satu cita-cita yang lama tertunda, kemudian menetapkan tindakan pertama yang bisa dikerjakan sore ini juga beserta jamnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنْ, wa-an) yang berarti "dan bahwa". Kata ini melanjutkan isi lembaran Musa dan Ibrahim yang dimulai di 53:38. Dalam rangkaian ini, ayat 53:38 dibuka dengan (أَلَّا, allaa), ayat 53:39 dengan wa-an, dan ayat 53:40 dengan (وَأَنَّ, wa-anna). Ketiganya berarti "bahwa", sehingga pembaca tahu isi berita yang sama masih berlanjut. Tanpa kata penghubung ini, ayat 53:39 bisa terbaca sebagai kalimat baru yang lepas dari lembaran Musa dan Ibrahim. Dengan kata ini, pembaca tahu bahwa prinsip tentang usaha termasuk isi lembaran lama yang sama.
Inti ayat ini (لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ, laysa li-l-insaani) yang berarti "tidak ada bagi manusia". Huruf li- pada (لِلْإِنْسَانِ, li-l-insaani) menandai milik atau hak, sehingga terjemahan memakai kata "memperoleh". Kata yang sama muncul di 53:24 (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa) yang berarti "ataukah manusia memperoleh apa yang dia angankan?". Kedua ayat berdiri sebagai kontras dalam surah yang sama. Di 53:24 yang ditanyakan apakah angan-angan menjadi milik manusia. Di 53:39 jawabannya diberikan, bahwa milik manusia berasal dari usahanya. Angan tetap boleh ada, tetapi angan tidak pernah tercatat sebagai milik.
Sesudahnya datang (إِلَّا مَا سَعَىٰ, illaa maa sa'aa) yang berarti "kecuali apa yang telah dia usahakan". Susunan laysa sampai illaa menolak semua kemungkinan lebih dulu, lalu mengecualikan satu. Susunan yang sama ada di 11:16 (لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ, laysa lahum fii l-aakhirati illaa n-naaru) yang diterjemahkan "tidak memperoleh di akhirat kecuali api". Terjemahan 53:39 mengikuti urutan itu, penolakan dulu, pengecualian kemudian, supaya tekanan kalimat Arab tidak hilang. Urutan itu membuat pembaca lebih dulu mendengar penolakan yang menyeluruh, lalu menemukan satu pintu yang tersisa.
Kata kerja (سَعَىٰ, sa'aa) berasal dari akar س-ع-ي yang bermakna bergerak dengan sungguh-sungguh. Gambarnya terlihat pada pemakaiannya di tempat lain. Tongkat Musa menjadi ular yang merayap cepat di 20:20 (تَسْعَىٰ, tas'aa). Seorang lelaki datang bergegas di 28:20 (يَسْعَىٰ, yas'aa). Orang-orang beriman diminta bersegera di 62:9 (فَاسْعَوْا, fa-s'aw). Ketika dipakai untuk perbuatan, akar ini menjadi "usaha", yaitu kerja yang dijalani dengan gerak dan tenaga. Bentuk lampaunya diterjemahkan "telah dia usahakan", karena yang dihitung usaha yang sudah dijalani. Frasa maa sa'aa muncul 2 kali, di 53:39 dan 79:35 (يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ, yatadzakkaru l-insaanu maa sa'aa), ketika manusia mengingat apa yang telah dia usahakan.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi 53:38 dari sisi yang berlawanan. Ayat 53:38 menyatakan bahwa manusia tidak memikul beban orang lain. Ayat 53:39 menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain hasil usahanya sendiri. Dua ayat ini menutup dua pintu sekaligus. Beban orang lain tidak bisa dilimpahkan kepadanya, dan hasil orang lain tidak bisa diakui sebagai miliknya. Surah ini sudah menyinggung soal yang sama di 53:24, ketika bertanya apakah manusia memperoleh apa yang dia angankan. Ayat 53:39 menjawab bahwa ukuran milik manusia terletak pada usahanya, tidak pada angannya.
Pertanyaan yang wajar muncul, apakah ayat ini menolak karunia yang melebihi usaha. Al-Qur'an sendiri menjawabnya. Ayat 35:30 menyebut Allah menyempurnakan pahala mereka, lalu (وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ, wa-yaziidahum min fadhlihi) yang berarti "dan menambah bagi mereka dari karunia-Nya". Ayat 53:39 berbicara tentang apa yang menjadi hak manusia. Tambahan di atas hak itu datang dari Allah sebagai karunia, dan manusia tidak bisa menuntutnya sebagai miliknya. Usaha pun tidak otomatis bernilai baik. Ayat 18:104 menyebut orang (ضَلَّ سَعْيُهُمْ, dhalla sa'yuhum) yang berarti "usahanya sia-sia", padahal mereka mengira sedang berbuat sebaik-baiknya. Ayat 17:19 menyebut usaha yang diganjar, yaitu usaha orang yang menghendaki akhirat dan berusaha ke arahnya sambil beriman.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini bertanya di 53:24 apakah manusia memperoleh apa yang dia angankan, lalu menjawab di 53:39 bahwa manusia tidak memperoleh kecuali apa yang telah dia usahakan. Angan-angan terasa dekat karena tinggal dibayangkan, sedangkan usaha terasa jauh karena menuntut tenaga. Allah menaruh milik manusia pada yang kedua. Banyak rencana hidup berhenti sebagai angan yang dirawat bertahun-tahun, dan ayat ini tenang saja menyebut bahwa angan semacam itu tidak pernah menjadi milik siapa pun.
- Hasil orang tua, nama keluarga, atau jasa kelompok tidak tercatat sebagai usaha pribadi. Ayat ini menyebut "manusia" tanpa keterangan asal-usul, dan ukurannya sama untuk semua. Orang yang lahir di keluarga terpandang dan orang yang lahir tanpa nama berdiri di garis awal yang sama di hadapan Allah. Ada keadilan yang menenangkan di sini, sekaligus ada peringatan bagi mereka yang terbiasa hidup dari nama besar. Nama besar bisa membuka pintu di dunia, tetapi pintu itu tidak ikut dihitung sebagai langkah pribadi.
- Kata kerja ini berakar pada gerak yang sungguh-sungguh, seperti orang yang bergegas di 28:20. Usaha dalam pengertian ini tidak sama dengan niat yang disimpan atau rencana yang ditulis rapi, sebab usaha berupa gerak yang terjadi. Banyak orang menilai dirinya dari niat, sementara orang lain menilainya dari perbuatan. Ayat ini memakai ukuran yang kedua, dan Allah menghitung langkah yang benar-benar diambil. Langkah kecil yang benar-benar diambil lebih berat dalam hitungan ini daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.
- Ayat 18:104 menyebut orang yang usahanya sia-sia sementara mereka mengira sedang berbuat sebaik-baiknya. Kerja keras bisa diarahkan ke tempat yang salah, dan rasa lelah tidak menjamin arahnya benar. Orang bisa menghabiskan puluhan tahun membangun sesuatu yang ternyata tidak berguna. Ayat 53:39 menyebut usaha sebagai ukuran, dan ayat-ayat lain mengingatkan bahwa Allah juga melihat ke mana usaha itu diarahkan. Arah yang benar lebih menentukan daripada jumlah keringat.
- Ayat 35:30 menyebut Allah menambah karunia-Nya di atas pahala. Manusia berhak atas hasil usahanya, dan tambahan di atasnya tidak bisa diajukan sebagai tagihan. Pemahaman ini meredam dua sikap yang sama-sama keliru, yaitu merasa layak menerima lebih tanpa berusaha, dan merasa usaha sendiri cukup untuk menuntut segalanya. Di antara keduanya ada ruang untuk bekerja sungguh-sungguh sambil berharap pada kemurahan Allah.
- Kalau yang dimiliki manusia sebatas apa yang telah dia usahakan, apa yang tersisa dari satu hari yang dilewatkan tanpa usaha apa pun? Pertanyaan ini tidak menuntut semua hari diisi kerja keras, karena istirahat pun bisa menjadi bagian dari usaha yang terarah. Ayat 79:35 menggambarkan manusia yang kelak mengingat apa yang telah dia usahakan, dan ingatan itu akan tersusun dari hari-hari biasa seperti hari ini. Hari yang tampak kecil ikut menentukan isi ingatan itu.