ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ
kemudian dia akan diberi balasan atasnya dengan balasan yang paling sempurna,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ يُجْزَاهُtsumma yujzaahukemudian dia akan diberi balasan atasnya
- الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰal-jazaa'a l-awfaadengan balasan yang paling sempurna
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- يُجْزَاهُyujzaahudiberi balasan atasnya
- الْجَزَاءَal-jazaa'abalasan
- الْأَوْفَىٰl-awfaayang paling sempurna
Inti bacaan
Menyisihkan sebagian gaji bulan ini untuk tetangga yang sedang kesulitan, tanpa mengungkitnya lagi di kemudian hari.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian". Kata ini menyambung 53:40, yang menyatakan bahwa usaha manusia kelak akan terlihat. Sesudah usaha itu terlihat, barulah balasan datang, sehingga urutannya jelas bagi pembaca. Usaha dijalani, lalu diperlihatkan, kemudian dibalas. Kata yang sama menyambung dua bagian 2:281, (ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ, tsumma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat), yang menyatakan bahwa sesudah manusia dikembalikan kepada Allah, setiap diri menerima dengan sempurna hasil usahanya.
Kata kerjanya (يُجْزَاهُ, yujzaahu) yang berarti "dia akan diberi balasan atasnya". Akarnya ج-ز-ي, yang bermakna membalas atau mengganjar. Bentuknya membiarkan pemberi balasan tanpa nama, sama seperti (يُرَىٰ, yuraa) yang berarti "terlihat" di 53:40. Akhiran -hu pada kata itu menunjuk kembali kepada (سَعْيَهُ, sa'yahu) yang berarti "usahanya" di 53:40. Karena itu terjemahannya memuat kata "atasnya". Tanpa kata itu, kalimat Indonesia kehilangan sambungan dengan usaha yang baru saja disebut, dan pembaca bisa mengira yang dibalas orangnya secara umum. Dengan "atasnya", jelas bahwa balasan diberikan atas usaha yang telah dijalani.
Kata kerja yang sama dipakai di 6:160 (فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا, fa-laa yujzaa illaa mitslahaa) yang berarti "tidak dibalas kecuali seimbang dengannya". Ayat itu berbicara tentang orang yang membawa keburukan, sedangkan orang yang membawa kebaikan memperoleh (عَشْرُ أَمْثَالِهَا, 'asyru amtsaalihaa) yang berarti "sepuluh kali lipatnya". Kalimat itu muncul di 2 ayat, 6:160 dan 40:40, dan keduanya berbicara tentang orang yang mengerjakan keburukan. Kedua ayat itu memperlihatkan bahwa balasan dari akar ini mengikuti ukuran perbuatan. Keburukan tidak dibalas lebih berat daripada keburukannya, sedangkan kebaikan boleh dilipatgandakan.
Balasan itu disebut (الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ, al-jazaa'a l-awfaa) yang berarti "dengan balasan yang paling sempurna". Kata (الْجَزَاءَ, al-jazaa'a) berasal dari akar yang sama dengan kata kerjanya, sehingga akar ج-ز-ي terdengar dua kali berturut-turut. Pengulangan seperti ini menegaskan bahwa balasan itu sungguh-sungguh akan diberikan, lalu ukurannya dijelaskan oleh kata sesudahnya. Kata (الْأَوْفَىٰ, l-awfaa) berasal dari akar و-ف-ي, dalam bentuk yang menyatakan tingkat tertinggi. Maknanya penuh dan genap, tanpa kekurangan sedikit pun.
Akar و-ف-ي menghubungkan ayat ini dengan 53:37 (وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ, wa-ibraahiima lladzii waffaa) yang berarti "dan Ibrahim yang menyempurnakan". Ibrahim disebut sebagai orang yang menyempurnakan, lalu isi lembarannya menjanjikan balasan yang sempurna. Sifat yang dipuji pada Ibrahim kembali sebagai sifat balasan yang diterima manusia. Akar yang sama dipakai untuk menepati janji, misalnya di 9:111 (وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ, wa-man awfaa bi-'ahdihi mina llaahi) yang berarti "dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah". Di 39:70 akar ini muncul lagi dalam (وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ, wa-wuffiyat kullu nafsin maa 'amilat) yang berarti "setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya". Kesempurnaan dalam ayat-ayat ini berarti tidak ada bagian usaha yang tercecer.
Tafsiran
Ayat ini menutup satu rangkaian dalam isi lembaran Musa dan Ibrahim. Rangkaian itu dimulai di 53:38 dengan beban yang tidak berpindah kepada orang lain. Sesudahnya 53:39 menyatakan bahwa milik manusia berasal dari usahanya, 53:40 menyatakan usaha itu akan terlihat, dan 53:41 menyatakan usaha itu akan dibalas. Rangkaian ini menjawab orang di 53:33-34, yang berpaling dan memberi sedikit lalu berhenti memberi. Dia menghitung pemberiannya dengan teliti, seakan-akan setiap pemberian mengurangi miliknya. Ayat ini membalik hitungan itu, karena yang tercatat usahanya, dan yang diterimanya kelak balasan yang penuh.
Kesempurnaan balasan ini perlu dibaca bersama 6:160. Balasan untuk keburukan tidak melebihi keburukannya, sedangkan balasan untuk kebaikan bisa dilipatgandakan. Sempurna di sini berarti tepat dan utuh, sehingga tidak ada yang dirugikan. Karena itu 2:281 dan 6:160 ditutup dengan kalimat yang sama, (وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ, wa-hum laa yuzhlamuuna) yang berarti "dan mereka tidak dizalimi". Balasan yang sempurna membutuhkan Pemberi balasan yang mengetahui seluruh usaha, termasuk usaha yang sudah dilupakan pelakunya. Ayat berikutnya, 53:42, menunjuk kepada-Nya sebagai tempat semua itu berakhir.
Renungan dan Hikmah
- Banyak usaha kecil menghilang dari ingatan pelakunya sendiri. Menahan marah di jalan, merapikan pekerjaan yang tidak akan diperiksa, dan mendengarkan keluhan teman sampai selesai terasa lewat begitu saja, tanpa bekas. Ayat ini menyebut balasannya sempurna, dan 39:70 memakai akar yang sama untuk setiap jiwa yang diberi balasan sesuai apa yang dikerjakannya. Allah tidak membulatkan hitungan ke bawah. Usaha yang pelakunya sendiri sudah lupa tetap ada dalam hitungan-Nya, utuh dan tanpa potongan, menunggu hari ketika semuanya dibuka.
- Orang yang pernah berbuat salah sering membayangkan hukuman yang jauh lebih besar daripada kesalahannya, karena rasa bersalah membesarkan segalanya. Ayat 6:160 menyatakan keburukan tidak dibalas kecuali seimbang dengannya, sedangkan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Timbangan Allah condong kepada kebaikan. Kesempurnaan balasan di 53:41 tidak berarti keburukan dihitung berlipat. Kesempurnaan itu berarti tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Orang yang takut dihukum melampaui kesalahannya dapat bernapas lebih lega, dan orang yang berbuat baik tahu kebaikannya tidak ditimbang dengan pelit.
- Orang di 53:34 memberi sedikit lalu berhenti, sebab dia menghitung setiap pemberian sebagai kehilangan. Hitungannya teliti, tetapi arahnya keliru. Dia mencatat apa yang keluar dari tangannya, lalu lupa bahwa yang keluar itu tercatat sebagai usahanya, dan Allah membalas usaha dengan balasan yang sempurna. Pemberian yang ditahan karena takut rugi ternyata kesempatan yang dilewatkan. Di tengah kebiasaan menghitung untung dan rugi setiap kebaikan, pertanyaannya menjadi tajam. Siapa yang sesungguhnya rugi, orang yang memberi atau orang yang berhenti memberi?
- Ibrahim disebut di 53:37 sebagai orang yang menyempurnakan, lalu empat ayat kemudian akar yang sama muncul lagi sebagai sifat balasan. Orang yang menyempurnakan tugasnya mendapati Allah menyempurnakan balasannya. Di dunia kerja, orang yang menuntaskan pekerjaannya sering tidak mendapat imbalan yang setara, karena atasan lupa, rekan mengambil nama, dan laporan tidak dibaca. Ayat ini memindahkan tempat imbalan itu dari tangan manusia yang pelupa ke tangan Allah, yang menurut 9:111 tidak tertandingi dalam menepati janji.
- Di awal ayat ini, kata "kemudian" menyimpan jarak waktu. Balasan tidak selalu datang begitu usaha selesai. Kadang usaha dijalani bertahun-tahun tanpa hasil yang tampak, sampai pelakunya mulai ragu apakah semua itu ada gunanya. Ayat ini tidak menjanjikan kecepatan, tetapi kepastian dan keutuhan. Jarak yang dibawa kata "kemudian" tidak berarti Allah lupa, sebab usaha itu sudah terlihat oleh-Nya sejak 53:40. Menunggu sambil tahu bahwa tidak ada yang hilang terasa berbeda dengan menunggu tanpa kepastian apa pun.
- Banyak orang menolong sambil dalam hati menunggu balasan dari orang yang ditolongnya, entah ucapan terima kasih, pujian, atau bantuan di lain waktu. Ketika balasan itu tidak datang, kebaikan terasa sia-sia dan hati menjadi pahit. Di 76:9 orang-orang yang memberi makan berkata (لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا, laa nuriidu minkum jazaa'an wa-laa syukuuran) yang berarti "Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian". Kata balasan di sana berasal dari akar yang sama dengan 53:41. Balasan yang sempurna datang dari Allah, sehingga orang yang ditolong tidak perlu menjadi pembayarnya.