وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ

dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰwa-anna ilaa rabbika l-muntahaadan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَنَّwa-annadan bahwa
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. الْمُنْتَهَىٰl-muntahaakesudahan

Inti bacaan

Sebelum memulai rencana besar, menuliskan di halaman pertamanya untuk apa rencana itu kelak dipertanggungjawabkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّ, wa-anna) yang berarti "dan bahwa", butir berikutnya dalam isi lembaran Musa dan Ibrahim sesudah 53:38-41. Kalimatnya pendek, tiga kata sesudah pembuka, tetapi susunannya menentukan maknanya. Keterangan (إِلَىٰ رَبِّكَ, ilaa rabbika) yang berarti "kepada Tuhanmu" diletakkan lebih dulu, sebelum (الْمُنْتَهَىٰ, l-muntahaa) yang berarti "kesudahan". Keterangan yang didahulukan seperti ini membatasi. Kesudahan ada pada Tuhanmu, tidak pada yang lain, dan terjemahan menandainya dengan akhiran "-lah" pada "Tuhanmulah".

Frasa (إِلَىٰ رَبِّكَ, ilaa rabbika) muncul 12 kali, yaitu di 12:50, 22:67, 25:45, 28:87, 53:42, 75:12, 75:30, 79:19, 79:44, 84:6, 94:8, dan 96:8. Di sebagian ayat itu frasanya menunjuk arah seruan atau arah jalan, misalnya 22:67 dan 79:19. Di beberapa ayat lain frasa itu didahulukan di depan kata tentang akhir perjalanan, dengan susunan yang serupa dengan 53:42. Di 75:12 (إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ, ilaa rabbika yawma'idzin al-mustaqarru) yang berarti "kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat menetap", di 75:30 kepada Tuhanmulah penggiringan, dan di 96:8 (إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ, inna ilaa rabbika r-ruj'aa) yang berarti "sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali".

Kata (الْمُنْتَهَىٰ, l-muntahaa) berasal dari akar ن-ه-ي, yang bermakna sampai di ujung atau berhenti pada batas. Kata ini muncul 3 kali. Di 53:14 (عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ, 'inda sidrati l-muntahaa) yang berarti "di sisi pohon bidara di batas akhir", kata itu menunjuk tempat. Di 53:42 kata itu menunjuk akhir perjalanan. Di 79:44 (إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا, ilaa rabbika muntahaahaa) yang berarti "kepada Tuhanmulah kesudahannya", kata itu menunjuk akhir Saat yang ditanyakan orang di 79:42. Karena itu satu kata diberi dua padanan. "Batas akhir" dipakai untuk tempat, sedangkan "kesudahan" dipakai untuk akhir perjalanan.

Akar ن-ه-ي juga dipakai untuk menahan dan melarang, sebab larangan menandai batas yang tidak boleh dilewati. Di 79:40 (وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaa) yang berarti "dan menahan diri dari hawa", orang yang takut akan kedudukan Tuhannya menahan dirinya pada batas. Empat ayat kemudian, surah yang sama menyatakan bahwa kesudahan Saat itu ada pada Tuhanmu. Batas yang dijaga manusia dan batas akhir segala urusan berasal dari akar yang sama.

Kalimat ini membiarkan kesudahan tanpa keterangan tambahan. Terjemahan tidak menambahkan "segala sesuatu" atau "perjalanan", karena Arabnya berhenti pada satu kata. Dalam rangkaian ini yang dibicarakan sebelumnya usaha manusia dan balasannya, sehingga kesudahan itu mencakup usaha itu. Tetapi kata yang dibiarkan umum juga mencakup manusia sendiri dan seluruh urusannya. Akhiran -ka pada (رَبِّكَ, rabbika) yang berarti "Tuhanmu" ditujukan kepada satu orang, sehingga kesudahan itu disampaikan secara pribadi kepada setiap pembaca.

Tafsiran

Ayat ini menjadi titik balik dalam daftar isi lembaran. Sebelum ayat ini, butir-butirnya tentang manusia, yaitu bebannya, usahanya, dan balasannya (53:38-41). Sesudah ayat ini, butir-butirnya tentang Allah dan perbuatan-Nya, yaitu membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, menciptakan sepasang, sampai membinasakan kaum-kaum terdahulu (53:43-54). Kesudahan yang ada pada Tuhanmu menyambung kedua bagian itu. Usaha manusia bermuara kepada-Nya, dan Dia pula sumber keadaan-keadaan yang dialami manusia.

Ayat ini juga menjawab orang di 53:33-35, yang berpaling dan bersikap seolah dia melihat yang gaib. Orang yang merasa cukup dengan dirinya digambarkan di 96:6-7 sebagai manusia yang melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup, lalu 96:8 menutupnya dengan kalimat yang susunannya serupa dengan 53:42. Rasa cukup diri tidak mengubah arah akhir perjalanan. Di 84:6 (إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ, innaka kaadihun ilaa rabbika kadhan fa-mulaaqiihi) yang berarti "sesungguhnya engkau bersusah-payah menuju Tuhanmu dengan susah-payah, maka engkau akan menemui-Nya", arah itu digambarkan sebagai perjalanan yang melelahkan dan berakhir dengan pertemuan. Setiap butir sesudah 53:42 lalu menjelaskan siapa Tuhan yang menjadi ujung perjalanan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini berbicara kepada satu orang, "kepada Tuhanmulah", tidak kepada kerumunan. Di tengah keramaian, orang mudah merasa ikut arus bersama banyak orang, sehingga tanggung jawab terasa terbagi rata dan menipis. Ayat ini memisahkan setiap pembacanya dari kerumunan itu. Perjalanan setiap orang berakhir kepada Tuhannya sendiri, Dia yang memelihara sejak awal. Kesudahan itu tidak berupa kekosongan, karena yang menanti di ujung jalan Tuhan yang sudah dikenal sejak langkah pertama, dan bukan tempat asing tanpa tuan.
  • Banyak rencana disusun seolah tidak punya ujung. Karier dirancang puluhan tahun ke depan, rumah dibangun untuk anak cucu, dan nama dijaga agar dikenang lama. Merencanakan tidak salah. Ayat ini menambahkan garis di ujung setiap rencana, yaitu kesudahan yang ada pada Tuhanmu. Rencana yang disusun sambil mengingat garis itu cenderung lebih jujur, sebab ukurannya tidak berhenti pada apa yang dilihat orang ketika rencana itu berhasil. Apa yang tersisa dari sebuah rencana ketika rencana itu sampai di hadapan Allah?
  • Di 79:42 orang bertanya tentang Saat itu, "Kapan tibanya?" Jawaban yang datang dua ayat kemudian tidak memuat tanggal, tetapi "kepada Tuhanmulah kesudahannya". Pertanyaan tentang kapan dijawab dengan kepada siapa. Rasa ingin tahu tentang akhir dunia sering berhenti pada tebak-tebakan waktu, ramalan, dan hitungan angka yang beredar dari mulut ke mulut. Al-Qur'an memindahkan perhatian dari jam ke arah. Orang yang tahu ke mana dia menuju tidak terlalu cemas tentang kapan dia sampai, karena Allah yang memegang kesudahan itu.
  • Di 79:40, akar yang sama dengan kesudahan dipakai untuk menahan diri dari hawa. Menahan diri pada batas-batas kecil seperti latihan menghadapi batas akhir. Keinginan yang dituruti tanpa rem memperlakukan hidup seolah tidak punya ujung. Setiap kali berhenti di depan sesuatu yang diinginkan tetapi tidak baik, diri sendiri sedang diingatkan bahwa hidup ini berakhir kepada Tuhannya. Larangan kecil hari ini dan kesudahan besar kelak tersambung dalam satu akar, dan keduanya menunjuk kepada Allah yang menetapkan batas.
  • Orang yang merasa serba cukup di 96:7 melampaui batas karena lupa bahwa ada ujung. Harta, jabatan, dan kesehatan memberi rasa aman yang mudah disangka abadi. Ayat 96:8 menutup gambaran itu dengan pengingat yang sama dengan 53:42, bahwa kepada Tuhanmulah tempat kembali. Rasa cukup itu tidak dicela karena nikmatnya, tetapi karena membuat orang lupa arah. Ketika semua kebutuhan terpenuhi, pertanyaan tentang kesudahan terasa jauh dan tidak mendesak. Pada saat seperti itu pengingat ini sangat diperlukan.
  • Ayat 84:6 menyebut manusia bersusah-payah menuju Tuhannya dan akan menemui-Nya. Kelelahan sehari-hari, bangun pagi, bekerja, mengurus rumah, dan merawat orang sakit, sering terasa berputar di tempat tanpa arah. Ayat 53:42 dan 84:6 memberi kelelahan itu tujuan. Lelah yang sama terasa berbeda ketika pelakunya tahu ke mana lelahnya bermuara. Pertemuan dengan Allah di ujung jalan menjadikan setiap langkah bagian dari perjalanan yang sampai, dan tidak menjadi putaran yang habis tanpa hasil.