Ayat 53:43
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
dan bahwa Dialah yang membuat tertawa dan membuat menangis,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰwa-annahu huwa adhaka wa-abkaadan bahwa Dialah yang membuat tertawa dan membuat menangis
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
- هُوَhuwaDia
- أَضْحَكَadhakamembuat tertawa
- وَأَبْكَىٰwa-abkaadan membuat menangis
Inti bacaan
Menahan jempol sebelum mengirim tanggapan bercanda di bawah berita bencana, lalu mendoakan para korbannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ, wa-annahu) yang berarti "dan bahwa Dia". Akhiran -hu menunjuk kepada Tuhanmu yang baru disebut di 53:42. Sesudahnya datang (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia", kata ganti yang berdiri sendiri. Kata ini tidak diperlukan untuk membentuk kalimat, karena akhiran -hu sudah menunjuk kepada Allah. Kehadirannya menegaskan pelakunya, sehingga maknanya menjadi Dialah, dan tidak ada yang lain, yang membuat tertawa dan membuat menangis. Terjemahan menandainya dengan "Dialah yang".
Susunan (وَأَنَّهُ هُوَ, wa-annahu huwa) muncul 4 kali, semuanya dalam surah ini, yaitu di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49. Butir lain dalam daftar yang sama memakai (وَأَنَّهُ, wa-annahu) tanpa penegasan itu, misalnya 53:45 dan 53:50. Terjemahan membedakan keduanya. Butir dengan penegasan diterjemahkan "Dialah yang", sedangkan butir tanpa penegasan diterjemahkan "Dia", supaya pembaca Indonesia merasakan tekanan yang ada di Arabnya.
Kata kerja (أَضْحَكَ, adhaka) yang berarti "membuat tertawa" berasal dari akar ض-ح-ك, yaitu tertawa. Bentuknya menyatakan bahwa pelaku menyebabkan pihak lain tertawa. Pasangannya (وَأَبْكَىٰ, wa-abkaa) yang berarti "dan membuat menangis" berasal dari akar ب-ك-ي, yaitu menangis, dalam bentuk yang sama. Kedua bentuk yang menyebabkan ini tidak dipakai di ayat lain. Kata "menjadikan" tidak dipakai di sini, karena kata itu disediakan untuk akar ج-ع-ل, misalnya (فَجَعَلَ, fa-ja'ala) yang berarti "lalu Dia menjadikan" di 75:39. Dua kata kerja Arab di ayat ini diberi dua kata kerja Indonesia, "membuat tertawa" dan "membuat menangis", supaya pembaca melihat dua perbuatan.
Akar ض-ح-ك dan ب-ك-ي muncul bersama di 3 ayat, yaitu 9:82, 53:43, dan 53:60. Di 9:82 (فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا, fa-l-yadhakuu qaliilan wa-l-yabkuu katsiiran) yang berarti "maka biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak", kedua keadaan itu ditimbang dengan ukuran sedikit dan banyak. Di 53:60 (وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ, wa-tadhakuuna wa-laa tabkuuna) yang berarti "dan kalian tertawa dan tidak menangis", surah ini mengembalikan pasangan itu kepada orang-orang yang mendengar peringatan. Di 53:43 keduanya disebut sebagai perbuatan Allah, sedangkan di 53:60 keduanya menjadi sikap manusia terhadap peringatan-Nya.
Tertawa disebut lebih dulu, lalu menangis. Di ayat berikutnya urutannya berlawanan arah, karena mati disebut lebih dulu, lalu hidup. Dua pasangan itu tidak mengikuti satu pola tetap, misalnya selalu dari yang menyenangkan ke yang menyedihkan. Penekanannya ada pada kedua ujung setiap pasangan, yang sama-sama berada pada Dia.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian perbuatan Allah sesudah 53:42 menyatakan bahwa kesudahan ada pada-Nya. Butir pertamanya tentang tawa dan tangis, dua keadaan yang dialami setiap manusia sejak bayi. Keduanya terasa sangat pribadi, datang dari dalam diri, dan sering dianggap sepenuhnya milik orang yang mengalaminya. Ayat ini menyatakan bahwa Allah yang membuat tertawa dan membuat menangis. Kabar gembira, kehilangan, lelucon, dan perpisahan menjadi sebab yang tampak, tetapi di balik semua sebab itu ada Dia.
Surah ini ditutup dengan pasangan yang sama. Di 53:59-61 orang-orang ditanya apakah mereka heran terhadap tuturan ini, lalu digambarkan tertawa dan tidak menangis, sedang mereka lengah. Tawa yang di 53:43 datang dari Allah dipakai di 53:60 untuk menertawakan peringatan-Nya. Ayat 83:29 dan 83:34 memperlihatkan tawa yang berbalik arah, karena orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman, lalu pada hari itu orang-orang yang beriman menertawakan mereka. Penegasan (هُوَ, huwa) di ayat ini mengingatkan bahwa tawa dan tangis tidak berada di tangan orang yang sedang tertawa. Dialah yang membuat keduanya, dan Dia pula yang bisa membalik keadaan. Karena itu tawa dan tangis sama-sama bisa menjadi jalan untuk mengingat-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Tawa sering diperlakukan seperti milik sendiri. Orang merasa berhak tertawa kapan saja dan atas apa saja, termasuk atas kesusahan orang lain yang sedang jatuh. Ayat ini menyebut Allah sebagai yang membuat tertawa, sehingga tawa itu pemberian yang datang dari luar kendali, sama seperti tangis. Kesadaran bahwa tawa dipinjamkan membuat orang lebih berhati-hati memakainya. Tawa yang menertawakan orang lemah terasa lain ketika diingat bahwa Pemberi tawa itu juga yang kelak membalik keadaan, seperti tergambar di 83:29 dan 83:34.
- Di banyak tempat, menangis dianggap tanda lemah, terutama bagi laki-laki, dan anak laki-laki diajari menahan air mata sejak kecil. Ayat ini menyebut tangis sebagai perbuatan Allah, setara dengan tawa, tanpa menilai yang satu lebih mulia. Di 17:109 orang-orang yang diberi pengetahuan menyungkurkan wajah seraya menangis, dan tangis itu menambah kekhusyukan mereka. Air mata yang datang dari Allah tidak perlu disembunyikan seperti aib. Kadang menangis menjadi cara yang jujur untuk mengakui bahwa diri ini kecil di hadapan-Nya.
- Surah ini ditutup dengan gambaran orang yang tertawa dan tidak menangis ketika mendengar peringatan. Tawa itu sendiri tidak tercela, karena Allah yang memberikannya. Celaannya tertuju pada tawa yang ditempatkan di tempat yang keliru. Di zaman ketika segala sesuatu bisa dijadikan lelucon, termasuk berita bencana dan kematian orang lain, gambaran ini terasa dekat sekali. Potongan video tentang musibah dibagikan dengan emoji tertawa. Apakah semua hal pantas ditertawakan, atau ada saat ketika tangis lebih tepat?
- Di 27:19 Sulaiman mendengar perkataan seekor semut, lalu (فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا, fa-tabassama dhaahikan min qawlihaa) yang berarti "maka dia tersenyum seraya tertawa karena perkataannya". Sesudah itu dia langsung berdoa agar diilhami untuk bersyukur atas nikmat Allah. Tawanya tidak berhenti pada kelucuan, tetapi mengantarnya kepada Pemberi nikmat. Tawa seperti ini berbeda dengan tawa di 53:60 yang menjauhkan dari peringatan. Keduanya sama-sama berasal dari Allah, dan arahnya ditentukan oleh orang yang tertawa. Ada tawa yang mendekatkan kepada-Nya, ada pula tawa yang melalaikan.
- Banyak orang mengukur hidupnya dari suasana hati. Hari yang penuh tawa dianggap hari baik, dan hari yang penuh tangis dianggap hari buruk. Ayat ini meletakkan keduanya di tangan yang sama. Allah yang membuat tertawa juga yang membuat menangis, dan keduanya bisa datang di hari yang sama. Tangis tidak berarti Allah menjauh, dan tawa tidak berarti Dia sedang rida. Keduanya keadaan yang diberikan, sedangkan yang ditimbang kelak usaha di dalam keadaan itu, seperti disebut di 53:39-41.
- Di 9:82 tawa dan tangis diberi takaran, sedikit untuk tawa dan banyak untuk tangis, sebagai balasan atas apa yang diusahakan. Takaran tawa dan tangis tidak selalu seimbang dalam satu hidup, karena ada masa yang berat tangisnya dan ada masa yang penuh tawa. Ayat 9:82 memperlihatkan bahwa takaran itu pun dapat menjadi balasan. Tawa yang banyak di dunia bisa berganti tangis yang panjang, dan 83:34 memperlihatkan sebaliknya. Orang yang sedang lapang menimbang tawanya, sedangkan orang yang sedang sempit tahu tangisnya tidak luput dari hitungan Allah.
Ayat 53:44
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا
dan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَاwa-annahu huwa amaata wa-ahyaadan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
- هُوَhuwaDia
- أَمَاتَamaatamematikan
- وَأَحْيَاwa-ahyaadan menghidupkan
Inti bacaan
Menjenguk atau menelepon kerabat yang sedang sakit minggu ini, dan ikut mengantar jenazah bila ada tetangga yang meninggal.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memakai susunan yang sama dengan 53:43, (وَأَنَّهُ هُوَ, wa-annahu huwa) yang berarti "dan bahwa Dialah". Penegasan (هُوَ, huwa) di sini punya latar yang jelas dalam Al-Qur'an. Di 2:258 ada orang yang berhujah dengan Ibrahim tentang Tuhannya, karena Allah memberinya kerajaan. Ibrahim berkata (رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ, rabbiya lladzii yuhyii wa-yumiitu) yang berarti "Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan". Lawannya menjawab (أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ, anaa uhyii wa-umiitu) yang berarti "aku menghidupkan dan mematikan". Jawaban itu menunjukkan bahwa perbuatan mematikan dan menghidupkan bisa diakui manusia untuk dirinya sendiri. Penegasan di 53:44 menolak pengakuan seperti itu, sehingga maknanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, dan tidak ada yang lain.
Ibrahim berbicara dengan kata-kata yang serupa di 26:81 (وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ, wa-lladzii yumiitunii tsumma yuhyiini) yang berarti "dan yang mematikanku, kemudian menghidupkanku". Ayat 53:37 menyebut lembaran Ibrahim sebagai salah satu sumber daftar ini. Ucapan Ibrahim di 26:81 dan butir 53:44 memakai dua akar yang sama dengan urutan yang sama, mati lebih dulu lalu hidup. Apa yang diucapkan Ibrahim tentang dirinya di 26:81 muncul lagi sebagai butir dalam lembarannya.
Kata kerja (أَمَاتَ, amaata) yang berarti "mematikan" berasal dari akar م-و-ت, yaitu mati, dalam bentuk yang menyatakan membuat mati. Bentuk yang sama dipakai di 2:259 (فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ, fa-amaatahu llaahu mi'ata 'aamin) yang berarti "maka Allah mematikannya seratus tahun", lalu Allah membangkitkannya. Di 80:21 (ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ, tsumma amaatahu fa-aqbarahu) yang berarti "kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya". Di ayat-ayat itu kematian disebut sebagai perbuatan yang dikerjakan Allah, tidak sebagai peristiwa yang terjadi dengan sendirinya.
Pasangannya (وَأَحْيَا, wa-ahyaa) yang berarti "dan menghidupkan" berasal dari akar ح-ي-ي, yaitu hidup. Mati disebut lebih dulu daripada hidup, sebaliknya dari kebiasaan bahasa sehari-hari yang menyebut "hidup dan mati". Urutan ini juga ada di 67:2 (الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ, alladzii khalaqa l-mawta wa-l-hayaata) yang berarti "yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan". Di 40:11 orang-orang berkata (أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ, amattanaa tsnatayni wa-ahyaytanaa tsnatayni) yang berarti "Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali". Ayat 2:28 memberi keterangannya, (وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ, wa-kuntum amwaatan fa-ahyaakum) yang berarti "padahal kalian dahulu mati, lalu Dia menghidupkan kalian", kemudian Dia mematikan dan menghidupkan lagi. Keadaan mati mendahului kehidupan pertama, sehingga kata "menghidupkan" di 53:44 mencakup kehidupan pertama dan kehidupan sesudah mati.
Tafsiran
Ayat ini melebarkan jangkauan daftar. Di 53:43 yang disebut keadaan di dalam hidup, yaitu tawa dan tangis. Di 53:44 yang disebut batas-batas hidup itu sendiri, yaitu mati dan hidup. Keduanya berada di tangan Allah, dan penegasan (هُوَ, huwa) menutup kemungkinan ada pihak lain yang ikut memegangnya, seperti yang diakui lawan Ibrahim di 2:258. Daftar ini berasal dari lembaran Musa dan Ibrahim (53:36-37), dan Ibrahim memegang keyakinan yang sama di dua keadaan. Di hadapan orang yang diberi kerajaan, dia menyebut Tuhannya sebagai yang menghidupkan dan mematikan. Ketika berbicara kepada bapaknya dan kaumnya di 26:70-81, dia menyebut Tuhannya sebagai yang akan mematikannya lalu menghidupkannya.
Butir ini juga menjadi dasar bagi 53:41. Balasan yang sempurna menuntut kehidupan sesudah mati, sebab banyak usaha belum dibalas ketika pelakunya meninggal. Dia yang mematikan juga yang menghidupkan, sehingga kematian tidak memutus perhitungan. Tiga ayat kemudian 53:47 menegaskannya dengan (وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰ, wa-anna 'alayhi n-nasy'ata l-ukhraa) yang berarti "dan bahwa atas-Nyalah kejadian yang lain". Ayat 67:2 menyebut tujuan kematian dan kehidupan diciptakan, yaitu untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya. Hidup dan mati tidak berdiri sendiri, karena keduanya bingkai bagi usaha yang kelak terlihat dan dibalas.
Renungan dan Hikmah
- Orang di 2:258 merasa bisa menghidupkan dan mematikan karena Allah memberinya kerajaan. Kuasa yang dipinjamkan disangka milik sendiri. Pola ini tidak berhenti di masa lalu. Pihak yang memegang kekuasaan atas nyawa, entah dalam perang, penjara, atau keputusan di rumah sakit, mudah merasa memegang hidup dan mati orang lain. Ayat 53:44 meletakkan kembali keduanya di tangan Allah. Kekuasaan manusia sebatas menjadi sebab, dan sebab itu pun berjalan dengan izin-Nya, seperti disebut di 3:145 tentang setiap yang bernyawa.
- Ayat ini menyebut mati lebih dulu, lalu hidup, dan 2:28 menjelaskan bahwa manusia dahulu mati sebelum dihidupkan. Sebelum lahir, setiap orang tidak ada. Kehidupan yang sekarang dijalani datang sesudah ketiadaan itu, sebagai pemberian yang tidak pernah diminta. Orang yang mengingat asal ini sulit menganggap hidupnya hak yang pasti. Setiap pagi bangun tidur menjadi pengulangan kecil dari pemberian yang sama, seperti tergambar di 39:42. Allah yang menghidupkan dari ketiadaan tidak kesulitan menghidupkan kembali sesudah kematian.
- Ibrahim di 26:81 berkata tentang Tuhannya, "dan yang mematikanku, kemudian menghidupkanku". Kalimat itu diucapkan tentang dirinya sendiri, tidak tentang manusia pada umumnya. Keyakinan bahwa Allah mematikan dan menghidupkan terdengar berbeda ketika diucapkan tentang orang lain dan ketika diucapkan tentang diri sendiri. Membicarakan kematian sebagai pengetahuan umum terasa mudah. Mengucapkan bahwa Dia yang akan mematikanku membutuhkan ketenangan yang lain. Bagaimana rasanya mengucapkan kalimat Ibrahim itu dengan jujur tentang diri sendiri?
- Banyak orang meninggal sebelum kebaikannya dibalas atau kezalimannya diadili. Orang jujur meninggal dalam keadaan miskin, sedangkan penindas meninggal tenang di ranjangnya. Kalau kematian menjadi akhir segalanya, ketidakadilan seperti itu tidak akan pernah terselesaikan. Ayat 53:44 menyebut Allah sebagai yang mematikan dan menghidupkan, dan 53:47 menyebut kejadian yang lain. Hitungan tidak terputus oleh kematian. Keyakinan ini memberi ketenangan kepada korban yang tidak sempat melihat keadilan, dan peringatan kepada pelaku yang merasa sudah lolos.
- Ayat 67:2 menyebut kematian dan kehidupan diciptakan untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya. Rentang antara lahir dan mati, yang terasa panjang ketika dijalani, sesungguhnya ruang ujian. Allah yang memegang kedua ujungnya menentukan panjang ruang itu, sedangkan manusia mengisi bagian tengahnya. Tidak ada yang tahu kapan ujian selesai, dan tidak ada yang bisa meminta tambahan waktu ketika saatnya tiba. Karena itu setiap hari yang masih tersisa menjadi kesempatan yang belum tentu terulang.
- Kata kerja menghidupkan juga dipakai untuk manusia di 5:32, (وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا, wa-man ahyaahaa fa-ka'annamaa ahyaa n-naasa jamii'an), tentang orang yang menghidupkan satu jiwa seakan-akan menghidupkan seluruh manusia. Menghidupkan di sana berarti menjaga dan menyelamatkan nyawa. Allah yang menghidupkan memberi manusia bagian kecil dalam perbuatan itu. Menolong orang sakit, mencegah pembunuhan, dan menyelamatkan orang dari bahaya menjadi cara ikut menjaga apa yang Dia hidupkan. Penegasan di 53:44 tidak meniadakan peran itu, karena manusia menjaga, sedangkan Dia yang menghidupkan.