Ayat 53:45
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ
dan bahwa Dia menciptakan sepasang: laki-laki dan perempuan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِwa-annahu khalaqa z-zawjaynidan bahwa Dia menciptakan sepasang
- الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰadz-dzakara wa-l-untsaalaki-laki dan perempuan
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- الزَّوْجَيْنِz-zawjaynisepasang
- الذَّكَرَadz-dzakaralaki-laki
- وَالْأُنْثَىٰwa-l-untsaadan perempuan
Inti bacaan
Memberi putri dan putra di rumah jatah pujian, tugas, dan kesempatan belajar yang seimbang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ, wa-annahu khalaqa z-zawjayni) yang berarti "dan bahwa Dia menciptakan sepasang". Berbeda dengan 53:43 dan 53:44, butir ini tidak memakai penegasan (هُوَ, huwa). Di 53:43-44 kalimatnya berbunyi "Dialah yang", sedangkan di sini "Dia menciptakan", dan terjemahan mengikuti perbedaan itu. Butir lain dalam daftar yang juga tanpa penegasan ada di 53:50 (وَأَنَّهُ أَهْلَكَ, wa-annahu ahlaka) yang berarti "dan bahwa Dia membinasakan". Di 75:39, yang isinya serupa, penciptaan sepasang juga disebut tanpa penegasan.
Kata (الزَّوْجَيْنِ, z-zawjayni) berasal dari akar ز-و-ج, yaitu pasangan, dalam bentuk yang menunjuk dua. Karena itu padanannya "sepasang", yang memuat bilangan dua, dan tidak "pasangan" yang bisa berarti satu atau banyak. Bentuk dengan kata sandang ini muncul 2 kali, di 53:45 dan 75:39 (فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ, fa-ja'ala minhu z-zawjayni) yang berarti "lalu Dia menjadikan darinya sepasang". Tanpa kata sandang, bentuk dua ini dipakai untuk muatan bahtera (11:40, 23:27), untuk buah-buahan (13:3), dan untuk segala sesuatu di 51:49 (خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ, khalaqnaa zawjayni) yang berarti "Kami ciptakan berpasang-pasangan".
Sepasang itu dijelaskan oleh (الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ, adz-dzakara wa-l-untsaa) yang berarti "laki-laki dan perempuan". Pasangan kata ini muncul 3 kali, di 53:45, 75:39, dan 92:3 (وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ, wa-maa khalaqa dz-dzakara wa-l-untsaa) yang berarti "demi yang menciptakan laki-laki dan perempuan". Ketiganya diberi padanan yang sama. Kedua kata memakai kata sandang, sehingga yang dimaksud jenisnya, laki-laki sebagai jenis dan perempuan sebagai jenis, tidak orang tertentu.
Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) yang berarti "menciptakan" berasal dari akar خ-ل-ق. Di 75:39 hasil yang sama disebut dengan (فَجَعَلَ, fa-ja'ala) yang berarti "lalu Dia menjadikan", dari akar ج-ع-ل, sesudah 75:38 menyebut (فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ, fa-khalaqa fa-sawwaa) yang berarti "lalu Dia menciptakan dan menyempurnakan". Surah 75 membagi prosesnya menjadi beberapa langkah, dari setetes mani, sesuatu yang melekat, penciptaan dan penyempurnaan, sampai menjadi sepasang. Surah 53 meringkasnya dalam satu kata kerja, lalu 53:46 menyebut bahannya, (مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ, min nuthfatin idzaa tumnaa) yang berarti "dari nutfah ketika dipancarkan".
Pasangan kata yang sama sudah muncul di 53:21 (أَلَكُمُ الذَّكَرُ, a-lakumu dz-dzakaru) yang berarti "apakah bagi kalian yang lelaki", disusul (وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, wa-lahu l-untsaa) yang berarti "sedangkan bagi-Nya yang perempuan". Di sana orang-orang membagi laki-laki dan perempuan antara diri mereka dan Allah. Di 53:45 keduanya disebut sebagai ciptaan-Nya. Allah tidak mengambil salah satu jenis sebagai bagian-Nya, karena Dia yang menciptakan kedua jenis itu.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan daftar dari keadaan hidup ke asal-usul manusia. Sesudah tawa dan tangis di 53:43 serta mati dan hidup di 53:44, butir ini menyebut penciptaan sepasang, lalu 53:46 menyebut bahannya dan 53:47 menyebut penciptaan yang lain. Urutan itu sejalan dengan akhir surah 75. Di 75:37-39 manusia berasal dari setetes mani, lalu dijadikan sepasang, dan 75:40 bertanya (أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ, a-laysa dzaalika bi-qaadirin 'alaa an yuhyiya l-mawtaa) yang berarti "bukankah itu berkuasa menghidupkan orang mati?". Penciptaan pertama menjadi bukti bagi penciptaan kedua, dan surah 53 memakai alur yang sama.
Ayat ini juga menjawab 53:21-22. Di sana orang-orang ditanya apakah bagi mereka yang lelaki, sedangkan bagi Allah yang perempuan, lalu pembagian itu disebut tidak adil. Di 53:45 kedua jenis itu disebut sebagai ciptaan-Nya, sehingga pembagian di 53:21 runtuh dengan sendirinya. Kedua jenis itu berasal dari bahan yang sama di 53:46, dan tidak ada yang lebih dekat kepada-Nya karena jenisnya. Asal yang satu itu menjadi dasar bagi kesetaraan balasan di hadapan-Nya. Ayat 40:40 menyebut amal saleh laki-laki maupun perempuan yang beriman dibalas sama, yaitu masuk taman dan diberi rezeki tanpa perhitungan.
Renungan dan Hikmah
- Sepasang memuat dua bagian yang saling melengkapi. Di banyak tempat laki-laki dan perempuan dibicarakan sebagai dua pihak yang bersaing, siapa lebih kuat, siapa lebih berhak, siapa lebih pintar. Ayat ini menyebut keduanya sebagai sepasang yang diciptakan Allah. Sepasang tidak utuh kalau salah satu bagiannya dianggap kalah. Sepatu sebelah kanan tidak lebih mulia daripada yang kiri, dan keduanya berguna karena berdua. Perdebatan tentang siapa yang lebih unggul kehilangan pijakan ketika keduanya dilihat sebagai buatan tangan yang sama.
- Ayat 53:21-22 mencela pembagian yang memberikan yang lelaki kepada diri sendiri dan yang perempuan kepada Allah. Pembagian itu lahir dari anggapan bahwa satu jenis lebih berharga. Anggapan serupa masih hidup dalam bentuk lain, misalnya anak laki-laki lebih disyukuri dan anak perempuan lebih dikhawatirkan. Kekecewaan ketika yang lahir anak perempuan, seperti wajah yang menjadi hitam di 16:58, mengulang sikap yang dicela surah ini. Ayat 53:45 meletakkan keduanya sebagai ciptaan Allah yang sama, sehingga tidak ada kelahiran yang pantas disambut dengan muka masam.
- Kedua jenis itu berasal dari bahan yang sama, setetes nutfah ketika dipancarkan (53:46). Asal yang sederhana ini tidak memberi ruang bagi kesombongan. Laki-laki tidak lahir dari bahan yang lebih mulia, dan perempuan tidak dari bahan yang lebih rendah. Allah menciptakan kedua jenis manusia dari setetes cairan yang sama. Kebanggaan atas jenis kelamin, seperti kebanggaan atas suku atau warna kulit, runtuh ketika asal-usulnya diingat. Ayat 49:13 menyebut manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, lalu menimbang kemuliaan dengan takwa.
- Di 40:40 amal saleh dari laki-laki maupun perempuan yang beriman dibalas dengan taman dan rezeki tanpa perhitungan. Di 3:195 Tuhan menyatakan bahwa Dia tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian mereka dari sebagian yang lain. Balasan yang sempurna di 53:41 tidak membedakan jenis. Di tempat kerja, perempuan sering harus bekerja dua kali lebih keras untuk diakui setara. Hitungan Allah tidak mengenal potongan seperti itu, sehingga usaha yang sama mendapat timbangan yang sama, siapa pun pelakunya.
- Ayat 51:49 menyebut bahwa dari segala sesuatu Allah menciptakan berpasang-pasangan, agar manusia mengambil pelajaran. Daftar di 53:43-45 berisi pasangan-pasangan, tawa dan tangis, mati dan hidup, laki-laki dan perempuan. Manusia yang hidup di antara pasangan-pasangan ini mudah ingin menghapus salah satu sisinya, ingin tawa tanpa tangis dan hidup tanpa mati. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa kedua sisi dibuat oleh tangan yang sama, dan masing-masing dikenali lewat pasangannya. Apakah yang satu bisa dipahami tanpa yang lain?
- Di 75:40, sesudah menggambarkan penciptaan sepasang dari setetes mani, Al-Qur'an bertanya apakah Pencipta itu tidak berkuasa menghidupkan orang mati. Rangkaian 53:45-47 bergerak dengan urutan yang sama. Orang yang ragu tentang kebangkitan diajak melihat asal dirinya sendiri. Setiap anak yang lahir menjadi bukti kecil bahwa Allah sanggup membuat kehidupan dari sesuatu yang tampak tidak berarti. Kelahiran yang disaksikan sehari-hari di ruang bersalin mengingatkan pada penciptaan kedua yang belum disaksikan siapa pun.
Ayat 53:46
مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ
dari setetes mani ketika dipancarkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰmin nuthfatin idzaa tumnaadari setetes mani ketika dipancarkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- مِنْmindari
- نُطْفَةٍnuthfatinsetetes mani
- إِذَاidzaaketika
- تُمْنَىٰtumnaadipancarkan
Inti bacaan
Mendoakan pasangan kerabat yang belum dikaruniai anak, dan berhenti menanyakan kapan mereka punya momongan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini tidak punya kata kerja sendiri. Kata kerjanya dipinjam dari 53:45, sehingga kedua ayat terbaca sebagai satu kalimat utuh. Allah menciptakan sepasang, laki-laki dan perempuan, dari setetes mani ketika dipancarkan. Ayat ini dibuka dengan (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani". Kata depan (مِنْ, min) menandai bahan asal, jadi ayat ini menjawab pertanyaan yang ditinggalkan 53:45, yaitu sepasang manusia itu diciptakan dari apa.
Kata (نُطْفَةٍ, nuthfatin) berakar ن-ط-ف. Dalam bentuk ini kata itu muncul 9 kali, di 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19. Hampir semuanya berpola sama, manusia diciptakan dari setetes mani. Terjemahan ini memakai "setetes mani" di semua tempat itu, supaya pembaca yang membuka ayat-ayat tadi bertemu kata yang sama. Kata ini datang tanpa kata sandang, sehingga ayat ini tidak menunjuk tetes tertentu yang sudah dikenal pembaca, tetapi setetes apa saja, asal yang sama bagi setiap orang.
Kata kerjanya (تُمْنَىٰ, tumnaa) yang berarti "dipancarkan". Bentuknya menandai perbuatan yang dikenai, sehingga pelakunya tidak disebut. Kata kerja ini muncul di 3 ayat, yaitu 53:46, 56:58, dan 75:37. Di 75:37 bentuknya (يُمْنَىٰ, yumnaa), dalam pertanyaan apakah manusia dahulu bukan setetes mani yang dipancarkan. Di 56:58 bentuknya (أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ, a-fa-ra'aytum maa tumnuuna) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan apa yang kalian pancarkan?" Pertanyaan itu disusul 56:59 (أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ, a-antum takhluquunahu am nahnu l-khaaliquuna), "apakah kalian yang menciptakannya atau Kami yang menciptakan?" Di 56:58 manusia disebut sebagai pihak yang memancarkan, lalu 56:59 memisahkan pancaran dari penciptaan. Pancaran berasal dari manusia, tetapi penciptaan dari tetes itu milik Allah.
Kata (إِذَا, idzaa) di ayat ini berarti "ketika". Kata yang sama membuka surah ini di 53:1 (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa), "demi bintang ketika jatuh". Terjemahan memakai "ketika" di kedua tempat, karena keduanya menunjuk satu saat yang lewat dengan cepat, bintang yang jatuh dan tetes yang dipancarkan.
Kata kerja (تُمْنَىٰ, tumnaa) berakar م-ن-ي. Akar yang sama dipakai surah ini di 53:24 (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa), yang bertanya apakah manusia akan memperoleh apa yang dia angankan. Angan-angan manusia dan tetes asal dirinya datang dari akar yang sama. Terjemahan Indonesia tidak bisa menampakkan pertalian itu, karena bahasa Indonesia memakai dua kata yang tidak berhubungan, "angan" dan "mani".
Tafsiran
Ayat ini menutup kalimat yang dibuka 53:45. Sesudah menyebut sepasang laki-laki dan perempuan, daftar itu menunjuk asal keduanya, setetes mani. Susunan ini sejajar dengan 75:37-39. Di sana urutannya bergerak dari setetes mani yang dipancarkan, lalu sesuatu yang melekat, lalu penciptaan dan penyempurnaan, sampai sepasang laki-laki dan perempuan. Di 53:45-46 urutannya dibalik. Pembaca lebih dulu diperlihatkan manusia yang sudah jadi, lalu diajak menoleh ke tetes tempat dia bermula.
Letak ayat ini dalam daftar juga bermakna. Di 53:44 Allah disebut sebagai yang mematikan dan menghidupkan, dan di 53:47 disebut kejadian yang lain. Setetes mani berdiri di antara keduanya sebagai bukti yang bisa diperiksa setiap orang pada dirinya sendiri. Kalau tetes yang tidak berbentuk bisa menjadi manusia yang lengkap, kejadian yang kedua tidak lebih sulit. Jalan pikiran ini dinyatakan terang di 36:77-79, ketika orang yang bertanya siapa yang bisa menghidupkan tulang yang hancur dijawab dengan asal penciptaannya sendiri.
Surah ini juga memakai akar yang sama untuk angan-angan di 53:24. Di sana manusia digambarkan menginginkan banyak hal, termasuk perantara yang dia pilih sendiri, dan 53:25 menjawab bahwa akhirat dan dunia milik Allah. Di sini manusia diingatkan dari mana dia datang. Kedua ayat itu tidak dipertemukan secara terang, tetapi siapa pun yang membaca surah ini utuh akan melewati keduanya dan merasakan jaraknya, angan-angan yang tinggi di satu sisi dan asal yang sederhana di sisi lain.
Renungan dan Hikmah
- Tidak ada orang yang ingat pernah menjadi setetes mani. Ingatan kita mulai jauh sesudah itu, ketika kita sudah bisa berjalan dan berbicara. Al-Qur'an mengisi bagian yang tidak kita ingat itu. Di 76:1 manusia ditanya apakah dia tidak pernah melewati masa ketika dirinya belum menjadi sesuatu yang dapat disebut. Ayat ini menyebut saat pertama itu dengan tenang, tanpa menghina dan tanpa memuji. Allah mengenal kita sejak sebelum kita mengenal diri sendiri, dan pengetahuan itu tidak menunggu ingatan kita siap.
- Orang tua sering berkata "anak saya" dengan rasa memiliki yang penuh. Rasa itu wajar, karena merekalah yang menjaga dan membesarkan. Ayat ini memisahkan dua hal dengan halus. Tetes itu dipancarkan, dan pelakunya dibiarkan tanpa nama, sedangkan yang menciptakan disebut jelas di 53:45, yaitu Allah. Pertanyaan 56:59 bergema di sini, apakah kalian yang menciptakannya atau Kami? Kalau anak bukan buatan kita sepenuhnya, apakah kita masih berhak menentukan seluruh jalan hidupnya seakan dia milik kita saja?
- Dua ayat lain menyebut setetes mani lalu langsung melompat ke akhir yang pahit. Di 16:4 dan 36:77 manusia yang diciptakan dari setetes mani tiba-tiba menjadi pembantah atau penentang yang nyata. Jarak antara keduanya pendek sekali di dalam kalimat. Tetes yang tidak berdaya itu tumbuh menjadi lidah yang membantah Penciptanya sendiri. Ayat ini tidak mencela, tetapi cukup mengingatkan dari mana suara yang lantang itu dulu berasal, lalu membiarkan pembaca menimbang sendiri pantas tidaknya suara itu diarahkan kepada Allah.
- Surah yang sama memakai akar yang sama untuk angan-angan manusia di 53:24. Manusia pandai berangan, tentang kedudukan, tentang pertolongan yang bisa dia atur, tentang masa depan yang dia bayangkan pasti. Tidak ada yang salah dengan angan-angan, asal ukurannya terjaga. Angan-angan yang lupa asal akan membesar tanpa batas, sedangkan angan-angan yang ingat asal tahu bahwa semuanya bergantung pada Allah, pemilik akhirat dan dunia sebagaimana ditegaskan 53:25.
- Banyak orang ragu tentang hidup sesudah mati karena merasa tidak punya bukti yang bisa disentuh. Ayat ini menunjuk bukti yang terdekat, yaitu tubuh kita sendiri yang dahulu setetes mani. Di 56:62 Allah berkata bahwa manusia sudah mengetahui kejadian yang pertama, lalu bertanya mengapa mereka tidak mengambil pelajaran. Iman di sini tidak dibangun dari hal yang jauh dan tersembunyi. Iman itu dibangun dari hal yang setiap hari kita bawa ke mana-mana tanpa kita pikirkan.
- Ada pasangan yang bertahun-tahun menunggu anak. Mereka menjalani pemeriksaan, pengobatan, dan doa, sementara orang di sekitar terus bertanya. Ayat ini memberi tempat bagi mereka. Pancaran tidak sama dengan penciptaan, dan penciptaan tetap di tangan Allah. Di 42:49-50 Dia menganugerahkan anak perempuan, anak laki-laki, atau keduanya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Ketiadaan anak bukan tanda kurang usaha, dan kehadiran anak bukan hasil usaha semata.