مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ

dari setetes mani ketika dipancarkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰmin nuthfatin idzaa tumnaadari setetes mani ketika dipancarkan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. مِنْmindari
  2. نُطْفَةٍnuthfatinsetetes mani
  3. إِذَاidzaaketika
  4. تُمْنَىٰtumnaadipancarkan

Inti bacaan

Mendoakan pasangan kerabat yang belum dikaruniai anak, dan berhenti menanyakan kapan mereka punya momongan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini tidak punya kata kerja sendiri. Kata kerjanya dipinjam dari 53:45, sehingga kedua ayat terbaca sebagai satu kalimat utuh. Allah menciptakan sepasang, laki-laki dan perempuan, dari setetes mani ketika dipancarkan. Ayat ini dibuka dengan (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani". Kata depan (مِنْ, min) menandai bahan asal, jadi ayat ini menjawab pertanyaan yang ditinggalkan 53:45, yaitu sepasang manusia itu diciptakan dari apa.

Kata (نُطْفَةٍ, nuthfatin) berakar ن-ط-ف. Dalam bentuk ini kata itu muncul 9 kali, di 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19. Hampir semuanya berpola sama, manusia diciptakan dari setetes mani. Terjemahan ini memakai "setetes mani" di semua tempat itu, supaya pembaca yang membuka ayat-ayat tadi bertemu kata yang sama. Kata ini datang tanpa kata sandang, sehingga ayat ini tidak menunjuk tetes tertentu yang sudah dikenal pembaca, tetapi setetes apa saja, asal yang sama bagi setiap orang.

Kata kerjanya (تُمْنَىٰ, tumnaa) yang berarti "dipancarkan". Bentuknya menandai perbuatan yang dikenai, sehingga pelakunya tidak disebut. Kata kerja ini muncul di 3 ayat, yaitu 53:46, 56:58, dan 75:37. Di 75:37 bentuknya (يُمْنَىٰ, yumnaa), dalam pertanyaan apakah manusia dahulu bukan setetes mani yang dipancarkan. Di 56:58 bentuknya (أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ, a-fa-ra'aytum maa tumnuuna) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan apa yang kalian pancarkan?" Pertanyaan itu disusul 56:59 (أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ, a-antum takhluquunahu am nahnu l-khaaliquuna), "apakah kalian yang menciptakannya atau Kami yang menciptakan?" Di 56:58 manusia disebut sebagai pihak yang memancarkan, lalu 56:59 memisahkan pancaran dari penciptaan. Pancaran berasal dari manusia, tetapi penciptaan dari tetes itu milik Allah.

Kata (إِذَا, idzaa) di ayat ini berarti "ketika". Kata yang sama membuka surah ini di 53:1 (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa), "demi bintang ketika jatuh". Terjemahan memakai "ketika" di kedua tempat, karena keduanya menunjuk satu saat yang lewat dengan cepat, bintang yang jatuh dan tetes yang dipancarkan.

Kata kerja (تُمْنَىٰ, tumnaa) berakar م-ن-ي. Akar yang sama dipakai surah ini di 53:24 (أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ, am li-l-insaani maa tamannaa), yang bertanya apakah manusia akan memperoleh apa yang dia angankan. Angan-angan manusia dan tetes asal dirinya datang dari akar yang sama. Terjemahan Indonesia tidak bisa menampakkan pertalian itu, karena bahasa Indonesia memakai dua kata yang tidak berhubungan, "angan" dan "mani".

Tafsiran

Ayat ini menutup kalimat yang dibuka 53:45. Sesudah menyebut sepasang laki-laki dan perempuan, daftar itu menunjuk asal keduanya, setetes mani. Susunan ini sejajar dengan 75:37-39. Di sana urutannya bergerak dari setetes mani yang dipancarkan, lalu sesuatu yang melekat, lalu penciptaan dan penyempurnaan, sampai sepasang laki-laki dan perempuan. Di 53:45-46 urutannya dibalik. Pembaca lebih dulu diperlihatkan manusia yang sudah jadi, lalu diajak menoleh ke tetes tempat dia bermula.

Letak ayat ini dalam daftar juga bermakna. Di 53:44 Allah disebut sebagai yang mematikan dan menghidupkan, dan di 53:47 disebut kejadian yang lain. Setetes mani berdiri di antara keduanya sebagai bukti yang bisa diperiksa setiap orang pada dirinya sendiri. Kalau tetes yang tidak berbentuk bisa menjadi manusia yang lengkap, kejadian yang kedua tidak lebih sulit. Jalan pikiran ini dinyatakan terang di 36:77-79, ketika orang yang bertanya siapa yang bisa menghidupkan tulang yang hancur dijawab dengan asal penciptaannya sendiri.

Surah ini juga memakai akar yang sama untuk angan-angan di 53:24. Di sana manusia digambarkan menginginkan banyak hal, termasuk perantara yang dia pilih sendiri, dan 53:25 menjawab bahwa akhirat dan dunia milik Allah. Di sini manusia diingatkan dari mana dia datang. Kedua ayat itu tidak dipertemukan secara terang, tetapi siapa pun yang membaca surah ini utuh akan melewati keduanya dan merasakan jaraknya, angan-angan yang tinggi di satu sisi dan asal yang sederhana di sisi lain.

Renungan dan Hikmah

  • Tidak ada orang yang ingat pernah menjadi setetes mani. Ingatan kita mulai jauh sesudah itu, ketika kita sudah bisa berjalan dan berbicara. Al-Qur'an mengisi bagian yang tidak kita ingat itu. Di 76:1 manusia ditanya apakah dia tidak pernah melewati masa ketika dirinya belum menjadi sesuatu yang dapat disebut. Ayat ini menyebut saat pertama itu dengan tenang, tanpa menghina dan tanpa memuji. Allah mengenal kita sejak sebelum kita mengenal diri sendiri, dan pengetahuan itu tidak menunggu ingatan kita siap.
  • Orang tua sering berkata "anak saya" dengan rasa memiliki yang penuh. Rasa itu wajar, karena merekalah yang menjaga dan membesarkan. Ayat ini memisahkan dua hal dengan halus. Tetes itu dipancarkan, dan pelakunya dibiarkan tanpa nama, sedangkan yang menciptakan disebut jelas di 53:45, yaitu Allah. Pertanyaan 56:59 bergema di sini, apakah kalian yang menciptakannya atau Kami? Kalau anak bukan buatan kita sepenuhnya, apakah kita masih berhak menentukan seluruh jalan hidupnya seakan dia milik kita saja?
  • Dua ayat lain menyebut setetes mani lalu langsung melompat ke akhir yang pahit. Di 16:4 dan 36:77 manusia yang diciptakan dari setetes mani tiba-tiba menjadi pembantah atau penentang yang nyata. Jarak antara keduanya pendek sekali di dalam kalimat. Tetes yang tidak berdaya itu tumbuh menjadi lidah yang membantah Penciptanya sendiri. Ayat ini tidak mencela, tetapi cukup mengingatkan dari mana suara yang lantang itu dulu berasal, lalu membiarkan pembaca menimbang sendiri pantas tidaknya suara itu diarahkan kepada Allah.
  • Surah yang sama memakai akar yang sama untuk angan-angan manusia di 53:24. Manusia pandai berangan, tentang kedudukan, tentang pertolongan yang bisa dia atur, tentang masa depan yang dia bayangkan pasti. Tidak ada yang salah dengan angan-angan, asal ukurannya terjaga. Angan-angan yang lupa asal akan membesar tanpa batas, sedangkan angan-angan yang ingat asal tahu bahwa semuanya bergantung pada Allah, pemilik akhirat dan dunia sebagaimana ditegaskan 53:25.
  • Banyak orang ragu tentang hidup sesudah mati karena merasa tidak punya bukti yang bisa disentuh. Ayat ini menunjuk bukti yang terdekat, yaitu tubuh kita sendiri yang dahulu setetes mani. Di 56:62 Allah berkata bahwa manusia sudah mengetahui kejadian yang pertama, lalu bertanya mengapa mereka tidak mengambil pelajaran. Iman di sini tidak dibangun dari hal yang jauh dan tersembunyi. Iman itu dibangun dari hal yang setiap hari kita bawa ke mana-mana tanpa kita pikirkan.
  • Ada pasangan yang bertahun-tahun menunggu anak. Mereka menjalani pemeriksaan, pengobatan, dan doa, sementara orang di sekitar terus bertanya. Ayat ini memberi tempat bagi mereka. Pancaran tidak sama dengan penciptaan, dan penciptaan tetap di tangan Allah. Di 42:49-50 Dia menganugerahkan anak perempuan, anak laki-laki, atau keduanya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Ketiadaan anak bukan tanda kurang usaha, dan kehadiran anak bukan hasil usaha semata.