وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰ
dan bahwa atas-Nyalah kejadian yang lain,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰwa-anna 'alayhi n-nasy'ata l-ukhraadan bahwa atas-Nyalah kejadian yang lain
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَنَّwa-annadan bahwa
- عَلَيْهِ'alayhiatas-Nya
- النَّشْأَةَn-nasy'atakejadian
- الْأُخْرَىٰl-ukhraayang lain
Inti bacaan
Menyiapkan pesan sederhana dan menitipkannya kepada keluarga, sebagai persiapan untuk hari sesudah kematian.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّ, wa-anna) yang berarti "dan bahwa", tanpa akhiran -hu yang dipakai 53:43-45 dan 53:48-50. Kalimatnya tidak berbunyi "bahwa Dia berbuat sesuatu", tetapi "bahwa atas-Nya ada sesuatu". Sorotannya berpindah dari perbuatan ke tanggungan.
Kata (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "atas-Nya". Akhiran -hi menunjuk Allah, Tuhan yang disebut di 53:42. Keterangan ini didahulukan sebelum pokok kalimatnya, sehingga terjemahannya "atas-Nyalah". Susunan serupa dipakai di tempat lain ketika Allah berbicara tentang tanggungan-Nya sendiri. Di 75:17 (إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ, inna 'alaynaa jam'ahu wa-qur'aanahu) berarti "sesungguhnya atas Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya", dan di 92:12 (إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ, inna 'alaynaa la-l-hudaa) berarti "sesungguhnya atas Kamilah petunjuk itu". Pola itu muncul lagi di 88:26 (ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ, tsumma inna 'alaynaa hisaabahum) berarti "kemudian sesungguhnya atas Kamilah perhitungan mereka". Di ketiga ayat itu Allah berbicara sebagai "Kami", sedangkan di 53:47 Dia dibicarakan sebagai "Dia". Bentuknya berbeda, tetapi maknanya sejalan. Kejadian yang lain menjadi tanggungan yang Allah pikul sendiri, bukan kemungkinan yang dibiarkan terbuka.
Kata (النَّشْأَةَ, n-nasy'ata) yang berarti "kejadian" berakar ن-ش-أ, dan kata benda ini muncul 3 kali, di 29:20, 53:47, dan 56:62. Di 56:62 (وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الْأُولَىٰ, wa-la-qad 'alimtumu n-nasy'ata l-uulaa) berarti "sungguh, kalian benar-benar telah mengetahui kejadian yang pertama", sedangkan di 29:20 (ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ, tsumma llaahu yunsyi'u n-nasy'ata l-aakhirata) berarti "kemudian Allah menumbuhkan kejadian yang akhir". Kata kerja dari akar yang sama dipakai surah ini di 53:32 (إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ, idz ansya'akum mina l-ardhi), "sejak Dia menumbuhkan kalian dari bumi".
Terjemahan memakai "kejadian", bukan "penciptaan", karena "penciptaan" disediakan untuk akar خ-ل-ق. Ayat 29:20 memuat keduanya dalam satu kalimat, (بَدَأَ الْخَلْقَ, bada'a l-khalqa) "memulai penciptaan", lalu "kejadian yang akhir", dan perbedaan yang sama terasa di sini. Ayat 53:45 memakai (خَلَقَ, khalaqa) "menciptakan" untuk sepasang manusia, sedangkan 53:47 berganti ke akar ن-ش-أ untuk kejadian yang kedua.
Kata (الْأُخْرَىٰ, l-ukhraa) berarti "yang lain". Bentuk ini muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 2:282, 39:42, 49:9, 53:20, dan 53:47. Surah ini memakainya dua kali. Di 53:20 (وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ, wa-manaata ts-tsaalitsata l-ukhraa) kata itu menempel pada Manat, "yang ketiga, yang lain". Di 53:47 kata yang sama menempel pada kejadian yang Allah tanggung. Di 39:42 kata itu menunjuk nyawa yang Allah lepaskan kembali sesudah tidur. Terjemahan membedakan "yang lain" di ayat ini dari "yang akhir" di 29:20. Sebutan "yang akhir" menandai urutan, sedangkan "yang lain" menandai bahwa kejadian itu berbeda dari yang pertama.
Tafsiran
Ayat ini menutup satu lingkaran dalam daftar. Di 53:44 Allah mematikan dan menghidupkan, di 53:45-46 Dia menciptakan sepasang manusia dari setetes mani, dan di 53:47 ada kejadian yang lain. Kejadian yang pertama sudah dialami setiap pembaca, sedangkan yang lain masih menunggu. Surah 56 menarik kesimpulan dari pasangan itu secara terang. Di 56:62 manusia diingatkan bahwa mereka sudah mengetahui kejadian yang pertama, lalu ditanya mengapa mereka tidak mengambil pelajaran. Surah ini meletakkan keduanya berdampingan dan membiarkan pembaca menarik simpulannya sendiri.
Ayat ini juga menjadi dasar bagi janji-janji sebelumnya. Di 53:31 Allah membalas orang yang berbuat buruk dan orang yang berbuat baik, dan di 53:39-41 usaha manusia akan terlihat lalu dibalas dengan sempurna. Semua janji itu membutuhkan tempat. Kehidupan yang pertama sering berakhir sebelum usaha seseorang terlihat penuh. Kejadian yang lain, yang Allah tanggung sendiri, menjadi tempat janji-janji itu ditepati.
Surah ini memakai kata "yang lain" dua kali, untuk dua hal yang berlawanan. Di 53:20 Manat disebut "yang ketiga, yang lain", salah satu nama yang dijadikan tumpuan tanpa keterangan dari Allah, sebagaimana diterangkan 53:23. Di 53:47 "yang lain" menunjuk kejadian yang Allah pikul sendiri. Pembaca surah ini disodori dua tumpuan yang sama-sama disebut "yang lain", satu buatan manusia dan satu tanggungan Allah.
Renungan dan Hikmah
- Banyak janji dalam hidup kita bergantung pada orang yang bisa lupa, berubah pikiran, atau meninggal lebih dulu. Janji perusahaan bisa hilang ketika perusahaan itu tutup. Ayat ini memakai bentuk yang berbeda. Kejadian yang lain tidak digantungkan pada siapa pun selain Allah, dan disebut sebagai tanggungan-Nya. Di 88:26 perhitungan manusia juga disebut tanggungan-Nya. Janji yang dipikul sendiri oleh yang berjanji terasa lain dari janji yang dilempar kepada pihak ketiga.
- Surah ini menyebut dua hal dengan kata "yang lain". Keduanya Manat dan kejadian sesudah mati. Manat nama yang dijadikan tumpuan tanpa keterangan dari Allah, sedangkan kejadian sesudah mati Allah tanggung sendiri. Setiap zaman punya tumpuan yang ditaruh di samping Allah, seperti koneksi, jabatan, atau orang yang dianggap bisa mengatur segalanya. Ayat ini mengajak menimbang ke mana harapan tentang masa depan sebenarnya disandarkan, kepada yang dinamai manusia atau kepada yang dijanjikan Tuhan.
- Keraguan tentang hidup sesudah mati sering datang dari rasa bahwa kejadian itu terlalu jauh untuk dibayangkan. Padahal kejadian yang pertama juga pernah tidak terbayangkan. Seseorang yang dulu tidak ada lalu menjadi ada sudah mengalami keajaiban yang lebih besar daripada yang dia ragukan. Ingatan manusia pendek, sehingga keajaiban yang sudah lewat terasa biasa dan yang belum terjadi terasa mustahil. Di 56:62 Allah menyebut bahwa manusia sudah mengetahui kejadian yang pertama. Kalau yang pertama tidak diragukan, apa yang membuat yang kedua terasa mustahil?
- Di 39:42 kata "yang lain" dipakai untuk nyawa yang Allah lepaskan kembali sesudah tidur. Setiap malam kita menyerahkan kesadaran tanpa bisa menjamin akan bangun, dan setiap pagi kita menerimanya kembali. Lelapnya tidur pun tidak pernah kita atur sendiri. Pengalaman kecil itu terulang ribuan kali sepanjang umur. Tanpa kita sadari, tidur menjadi latihan harian untuk kejadian yang lain. Bangun pagi bukan hak yang otomatis, tetapi pemberian yang Allah ulang setiap hari.
- Ada orang yang dizalimi dan tidak pernah mendapat keadilan selama hidupnya. Ada pula orang baik yang usahanya tidak dihargai sampai dia meninggal. Kalau hidup berakhir di kubur, cerita mereka berakhir tanpa penyelesaian. Ayat ini menyebut kejadian yang lain sebagai tanggungan Allah, dan di sanalah balasan yang dijanjikan 53:41 menemukan tempatnya. Harapan ini tidak meniadakan usaha menegakkan keadilan sekarang. Harapan itu menjaga agar orang yang kalah di dunia tidak kehilangan pegangan.
- Ayat ini menyebut kejadian yang lain tanpa rincian bentuknya. Banyak orang ingin tahu lebih, dan tidak sedikit yang mengisi kekosongan itu dengan gambaran karangan sendiri. Ayat ini memilih diam tentang rinciannya dan tegas tentang penanggungnya. Mungkin itu cukup untuk pembaca yang jujur. Pembaca cukup tahu bahwa kejadian itu ada di tangan Allah, sedangkan bentuknya boleh tetap menjadi rahasia-Nya sampai tiba waktunya.