Ayat 53:48

وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ

dan bahwa Dialah yang mencukupkan dan memberi milik,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰwa-annahu huwa aghnaa wa-aqnaadan bahwa Dialah yang mencukupkan dan memberi milik

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
  2. هُوَhuwaDia
  3. أَغْنَىٰaghnaamencukupkan
  4. وَأَقْنَىٰwa-aqnaadan memberi milik

Inti bacaan

Menyisihkan sebagian dari penghasilan pertama bulan depan untuk tetangga yang kekurangan, sebelum membeli kebutuhan sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ هُوَ, wa-annahu huwa) yang berarti "dan bahwa Dialah". Susunan ini muncul 4 kali, semuanya dalam surah ini, di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49. Kata (هُوَ, huwa) menegaskan pelakunya, sehingga terjemahannya "Dialah yang". Tidak ada pihak lain yang mencukupkan dan memberi milik.

Kata kerja pertama (أَغْنَىٰ, aghnaa) yang berarti "mencukupkan", berakar غ-ن-ي. Dalam bentuk ini kata itu muncul 10 kali, di 7:48, 15:84, 26:207, 39:50, 40:82, 46:26, 53:48, 69:28, 93:8, dan 111:2. Delapan di antaranya kalimat penyangkalan. Harta, kekuatan, atau kumpulan orang tidak mencukupkan pemiliknya pada saat yang menentukan. Contohnya 111:2 (مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ, maa aghnaa 'anhu maaluhu wa-maa kasaba), tentang harta dan hasil usaha yang tidak mencukupkan pemiliknya, dan 69:28 (مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ, maa aghnaa 'annii maaliyah), ucapan orang yang menyesal bahwa hartanya tidak mencukupkan dirinya. Dua kemunculan yang tersisa memakai Allah sebagai pelaku, yaitu 53:48 dan 93:8 (وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ, wa-wajadaka aa'ilan fa-aghnaa), "dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia mencukupkanmu". Polanya berlawanan. Ketika harta menjadi pelaku, kata ini disangkal. Ketika Allah menjadi pelaku, kata ini ditegaskan.

Kata kerja kedua (أَقْنَىٰ, aqnaa) yang berarti "memberi milik", berakar ق-ن-ي. Akar ini dipakai sekali saja dalam Al-Qur'an, di ayat ini. Karena tidak ada ayat lain yang memakainya, maknanya dibaca dari pasangannya dan dari letaknya. Kedua kata berbunyi serupa di ujungnya, seperti pasangan "membuat tertawa dan membuat menangis" di 53:43 dan "mematikan dan menghidupkan" di 53:44. Terjemahan ini memahami aqnaa sebagai pemberian yang tinggal sebagai milik, sesuatu yang datang sesudah cukup. Terjemahan lain ada yang memakai "memberi kekayaan" dan ada yang memakai "memberi kecukupan". Pilihan kedua membuat kedua kata luluh menjadi satu makna, padahal ayat ini menyebut dua pemberian. "Memberi milik" dipilih supaya kedua langkah itu tetap terpisah, dicukupkan dahulu, lalu diberi sesuatu untuk dimiliki.

Rima ayat ini juga bersambung dengan 53:34 (وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا وَأَكْدَىٰ, wa-a'thaa qaliilan wa-akdaa), "dan memberi sedikit lalu berhenti memberi". Di sana ada manusia yang memberi sedikit lalu menahan. Di sini ada Allah yang mencukupkan lalu memberi milik. Akar غ-ن-ي yang sama juga dipakai 92:8 (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ, wa-ammaa man bakhila wa-staghnaa), "adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup". Rasa cukup yang lahir dari diri sendiri diberi bentuk kata yang berbeda dari cukup yang diberikan Allah.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan daftar dari tubuh ke harta. Sesudah tawa dan tangis, mati dan hidup, serta asal manusia dari setetes mani, daftar itu menyentuh apa yang manusia genggam dengan tangannya. Penegasan "Dialah yang" dipakai lagi, karena dalam urusan harta manusia mudah sekali merasa bahwa semuanya hasil usahanya sendiri.

Letaknya menjawab orang yang digambarkan di 53:33-34, yang membelakangi, memberi sedikit, lalu berhenti memberi. Orang itu menahan sesuatu yang sejak awal bukan buatannya. Kecukupan dan milik yang dia pegang datang dari Allah, sehingga menahannya berarti menahan pemberian orang lain. Surah 92 menempuh jalan yang sama. Di 92:8 ada orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan di 92:11 hartanya tidak mencukupkannya ketika dia binasa. Di 96:6-7 manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup.

Ayat ini juga menyiapkan 53:50. Kaum Ad yang dibinasakan di ayat itu terkenal karena kekuatan dan bangunannya. Di 41:15 mereka bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka, dan di 26:128-129 mereka mendirikan bangunan dengan harapan akan kekal. Kalau kecukupan dan milik diberikan Allah, Dia pula yang berkuasa mengambilnya kembali. Urutan 53:48 lalu 53:50 memperlihatkan kedua sisi itu berdekatan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua pemberian dalam urutan tertentu, dicukupkan lebih dahulu, baru diberi milik. Dunia hari ini sering membalik urutan itu. Orang didorong mengumpulkan milik lebih dulu, dengan harapan rasa cukup akan datang sendiri sesudahnya. Kenyataannya rasa cukup sering tidak pernah datang, karena milik selalu bisa ditambah. Ayat ini meletakkan kecukupan sebagai pemberian Allah yang pertama, sesuatu yang bisa dimiliki orang yang hartanya sedikit dan bisa hilang dari orang yang hartanya banyak.
  • Delapan dari sepuluh kemunculan kata "mencukupkan" dalam bentuk ini berupa penyangkalan. Harta tidak mencukupkan, kumpulan orang tidak mencukupkan, usaha tidak mencukupkan. Di 69:28 kalimat itu diucapkan pemiliknya sendiri, dengan penyesalan yang terlambat. Berapa banyak waktu hidup dihabiskan untuk mengumpulkan sesuatu yang kelak akan kita sebut dengan kalimat yang sama? Ayat ini menyebut pelaku yang kata "mencukupkan"-nya tidak disangkal, yaitu Allah.
  • Ada dua jenis rasa cukup. Sebagian datang dari syukur, karena seseorang tahu siapa yang mencukupkannya. Sebagian lagi datang dari rasa tidak butuh, karena seseorang merasa sudah punya segalanya. Di 92:8 dan 96:7 jenis yang kedua disebut dengan bentuk kata yang lain, merasa diri cukup. Bentuk itu berujung pada kikir dan melampaui batas. Ayat ini menunjuk jenis yang pertama, kecukupan yang tetap ingat asal pemberiannya dari Tuhan.
  • Orang di 53:34 memberi sedikit lalu berhenti. Mungkin dia merasa sudah cukup berbuat baik, atau takut hartanya berkurang. Ayat ini menjawabnya dengan halus, tanpa menyebut namanya. Semua yang dia pegang dicukupkan dan diberikan oleh Allah. Memberi dari milik yang diberikan tidak membuat seseorang kehilangan sesuatu yang sejak awal miliknya sendiri. Pemberi yang sadar bahwa dirinya juga penerima biasanya tidak cepat berhenti memberi.
  • Di 93:8 Allah mendapati seseorang dalam keadaan fakir, lalu mencukupkannya. Kalimatnya pendek dan tenang. Bagi orang yang sedang kesulitan, ayat itu dan ayat ini tidak menjanjikan kekayaan dalam jumlah tertentu. Keduanya menyebut pola, bahwa Allah yang mencukupkan, dan kecukupan bisa datang dalam bentuk yang tidak terduga. Kemiskinan tidak menghapus martabat seseorang, karena kecukupannya tetap berada di tangan Dia yang sama yang mencukupkan orang kaya.
  • Sengketa warisan bisa memutus saudara kandung selama bertahun-tahun. Masing-masing merasa lebih berhak daripada yang lain atas milik yang ditinggalkan. Ayat ini mengingatkan bahwa milik itu diberikan, bukan diciptakan pemiliknya. Di 57:7 manusia diminta berinfak dari apa yang Allah jadikan mereka sebagai pengelolanya. Milik yang dipahami sebagai titipan lebih mudah dibagi, karena tidak ada yang merasa kehilangan sesuatu yang memang bukan miliknya sejak awal.

Ayat 53:49

وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰ

dan bahwa Dialah Tuhan Syi'ra,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰwa-annahu huwa rabbu sy-syi'raadan bahwa Dialah Tuhan Syi'ra

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
  2. هُوَhuwaDia
  3. رَبُّrabbuTuhan
  4. الشِّعْرَىٰsy-syi'raaSyi'ra

Inti bacaan

Mencopot aplikasi horoskop dari ponsel, lalu menggantinya dengan kebiasaan berdoa setiap pagi kepada Pencipta semesta.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ هُوَ, wa-annahu huwa) yang berarti "dan bahwa Dialah". Susunan ini muncul 4 kali, di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49, dan ayat ini kemunculan yang terakhir. Di tiga ayat sebelumnya penegasan itu diikuti kata kerja, yaitu membuat tertawa, mematikan, dan mencukupkan. Di sini penegasan itu diikuti kata benda, (رَبُّ, rabbu) yang berarti "Tuhan". Ayat ini tidak membicarakan sesuatu yang Allah perbuat, tetapi siapa Dia terhadap sesuatu.

Kata (رَبُّ, rabbu) berakar ر-ب-ب. Surah ini sudah memakainya di 53:42 untuk "Tuhanmu", tempat segala sesuatu berakhir. Di ayat ini kata itu disandarkan pada satu nama. Susunan serupa dipakai di tempat lain untuk menegaskan bahwa sesuatu yang besar pun punya Tuhan, misalnya 55:17 (رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ, rabbu l-masyriqayni wa-rabbu l-maghribayni), "Tuhan dua tempat terbit dan Tuhan dua tempat terbenam".

Nama (الشِّعْرَىٰ, sy-syi'raa) muncul sekali saja dalam Al-Qur'an, di ayat ini. Al-Qur'an tidak menguraikan wujudnya. Terjemahan lain ada yang menambahkan kata "bintang" di depannya. Terjemahan ini membiarkannya sebagai nama, "Syi'ra", karena teksnya memuat nama itu tanpa keterangan tambahan. Pembaca perlu tahu bahwa kata ini berbeda dari (الشِّعْرَ, sy-syi'ra) yang berarti "syair" di 36:69. Bunyinya dekat dan hurufnya serupa, tetapi ujungnya berbeda, dan maknanya tidak berhubungan dalam ayat ini.

Nama ini juga berujung bunyi -aa, sama dengan ujung ayat-ayat di sekitarnya, seperti (تُمْنَىٰ, tumnaa) di 53:46, (الْأُخْرَىٰ, l-ukhraa) di 53:47, dan (أَقْنَىٰ, aqnaa) di 53:48. Bunyi itu mengikat Syi'ra ke dalam daftar yang sama, sehingga nama di langit terdengar senada dengan tetes mani, kejadian yang lain, dan harta di tangan manusia.

Di 53:1 surah ini dibuka dengan sumpah demi bintang, (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa), "demi bintang ketika jatuh". Pembaca surah ini sudah diarahkan ke langit malam sejak awal. Surah ini juga sudah memperlihatkan di 53:23 bagaimana nama bisa diangkat menjadi sesembahan. Di sana (إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ, in hiya illaa asmaa'un sammaytumuuhaa antum wa-aabaa'ukum) menyebut semua itu nama-nama yang dinamai orang-orang itu dan nenek moyang mereka. Ayat ini menempatkan satu nama lagi di bawah Allah. Apa pun yang dinamai Syi'ra, Allah Tuhannya.

Penegasan (هُوَ, huwa) di sini bekerja seperti di tiga ayat sebelumnya. Kalau ada yang menganggap sesuatu di langit sebagai tuan bagi dirinya, ayat ini menjawab bahwa Dialah, dan bukan yang lain, Tuhan atas sesuatu itu.

Tafsiran

Ayat ini membawa daftar ke titik terjauhnya. Daftar dimulai dari tawa dan tangis di dalam diri, lalu mati dan hidup, asal manusia, kejadian yang lain, dan harta di tangan. Di 53:49 pandangan diangkat ke langit. Sesudah ini daftar berbalik ke bumi dan ke sejarah umat-umat, dimulai dari Ad di 53:50. Jangkauan kuasa yang disebut makin luas di tiap butir, dan Syi'ra menjadi butir yang terjauh dari diri pembaca.

Daftar ini, menurut 53:36-37, termasuk isi lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim. Ibrahim punya kisah sendiri dengan langit malam. Di 6:76 dia melihat sebuah bintang dan menyebutnya Tuhannya, lalu ketika bintang itu terbenam dia berkata bahwa dia tidak suka kepada yang terbenam. Di 6:78 dia berlepas diri dari semua yang dipersekutukan kaumnya. Jalan pikir Ibrahim berhenti pada kesimpulan yang dinyatakan ayat ini secara ringkas. Benda langit tidak bisa menjadi Tuhan, karena benda itu sendiri punya Tuhan.

Al-Qur'an mengulang sikap yang sama di 41:37. Matahari dan bulan disebut sebagai tanda-tanda Allah, lalu manusia dilarang bersujud kepada keduanya dan diminta bersujud kepada Allah yang menciptakannya. Ayat ini memakai satu nama saja, tetapi arahnya sama. Kekaguman kepada langit dialihkan kepada Tuhan langit.

Renungan dan Hikmah

  • Foto-foto langit malam dari teleskop modern memperlihatkan bintang dan galaksi yang tidak terhitung. Banyak orang merasa kecil ketika melihatnya, dan perasaan itu wajar. Ayat ini menambahkan keterangan lain. Sejauh dan sebesar apa pun sesuatu di langit, benda itu punya Tuhan. Kekaguman tidak berhenti pada benda yang dikagumi, tetapi berlanjut kepada Allah yang menjadi Tuhannya. Rasa kecil di hadapan langit berubah menjadi rasa dekat kepada Dia yang memelihara langit itu.
  • Rubrik ramalan bintang masih dibaca banyak orang, kadang sebagai hiburan, kadang dengan sungguh-sungguh. Ada yang menunda keputusan karena bintangnya dianggap tidak baik minggu ini. Ayat ini menyebut bahwa Allah Tuhan atas nama yang ada di langit. Kalau benda langit sendiri punya Tuhan, masuk akalkah menyerahkan arah hidup kepadanya? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan marah atau dengan mengejek orang yang membacanya. Cukup dengan menyadari siapa yang berkuasa atas bintang yang dibaca, dan kepada siapa keputusan hidup pantas dimintakan petunjuk.
  • Di 53:23 surah ini berbicara tentang nama-nama yang dinamai manusia sendiri lalu diangkat menjadi tumpuan. Setiap zaman punya nama-nama semacam itu. Merek, tokoh, atau lembaga bisa diangkat begitu tinggi sampai orang merasa hidupnya bergantung padanya. Ayat ini menaruh satu nama besar di bawah Allah dengan kalimat pendek. Nama apa pun, setinggi apa pun kita mengangkatnya, tetap punya Tuhan di atasnya. Mengingat hal sederhana itu membuat kekaguman kepada manusia dan lembaga tetap pada ukurannya.
  • Ibrahim di 6:76 melihat bintang, lalu melihatnya terbenam. Dia menolak menjadikan sesuatu yang terbenam sebagai Tuhan. Ukurannya sederhana dan bisa dipakai siapa saja. Apa pun yang bisa hilang, pudar, atau jatuh tidak layak dijadikan sandaran terakhir. Jabatan terbenam, popularitas terbenam, tubuh yang kuat pun terbenam. Allah, Tuhan atas semua itu, tidak terbenam, dan kepada-Nya harapan yang terakhir bisa disandarkan tanpa takut kehilangan.
  • Ada orang yang merasa lebih dekat dengan alam daripada dengan Tuhan. Gunung, laut, dan langit malam memberi rasa tenang yang sulit dijelaskan. Di 41:37 Al-Qur'an menyebut matahari dan bulan sebagai tanda-tanda Allah, lalu meminta manusia bersujud kepada Allah yang menciptakannya. Rasa tenang di hadapan alam tidak ditolak. Rasa itu diarahkan, dari ciptaan yang indah kepada Pencipta yang membuatnya indah.
  • Al-Qur'an menyebut Syi'ra sekali dan tidak menguraikannya. Ada godaan untuk mengisi kekosongan itu dengan data ilmiah terbaru, seolah ayat ini baru bermakna kalau cocok dengan temuan astronomi. Ayat ini sudah bermakna dengan sendirinya. Pesannya bukan tentang sifat benda langit itu, tetapi tentang siapa Tuhannya. Menahan diri dari tafsir yang berlebihan juga bentuk hormat kepada firman Allah, yang tahu kapan harus merinci dan kapan cukup menyebut nama.

Ayat 53:50

وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَىٰ

dan bahwa Dia membinasakan Ad yang terdahulu,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنَّهُ أَهْلَكَwa-annahu ahlakadan bahwa Dia membinasakan
  2. عَادًا الْأُولَىٰ'aadan al-uulaaAd yang terdahulu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
  2. أَهْلَكَahlakamembinasakan
  3. عَادًا'aadanAd
  4. الْأُولَىٰal-uulaayang terdahulu

Inti bacaan

Mengunjungi situs sejarah atau museum bersama keluarga, lalu membicarakan sebab runtuhnya bangsa yang dahulu kuat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ, wa-annahu) yang berarti "dan bahwa Dia", tanpa penegasan (هُوَ, huwa). Butir dengan penegasan dalam daftar ini ada di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49, sedangkan butir tanpa penegasan ada di 53:45 dan 53:50. Terjemahan mengikuti perbedaan itu. Di sini bunyinya "Dia membinasakan", bukan "Dialah yang membinasakan".

Kata kerja (أَهْلَكَ, ahlaka) berarti "membinasakan", berakar ه-ل-ك. Tulisan Arab yang sama bisa dibaca sebagai dua kata yang berbeda. Sebagai kata kerja, ahlaka berarti "membinasakan", seperti di 28:78 (أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ, a-wa-lam ya'lam anna llaaha qad ahlaka min qablihi mina l-quruuni), "tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi-generasi sebelumnya". Sebagai kata benda dengan akhiran -ka, tulisan itu berarti "keluargamu", seperti di 20:132. Konteks kalimat yang menentukan. Di 53:50 kata itu diikuti nama kaum, sehingga maknanya membinasakan.

Ayat 28:78 membicarakan orang yang merasa hartanya diperoleh karena ilmunya sendiri, lalu diingatkan bahwa Allah telah membinasakan generasi yang lebih kuat dan lebih banyak kekayaannya. Pertalian itu bermakna bagi urutan surah ini. Di 53:48 Allah disebut sebagai yang mencukupkan dan memberi milik, dan dua ayat kemudian Dia disebut membinasakan kaum yang kuat.

Nama (عَادًا, 'aadan) berarti "Ad". Dalam bentuk ini nama itu muncul 4 kali, di 11:60, 25:38, 29:38, dan 53:50. Arabnya tidak memuat kata "kaum", dan terjemahan ini tidak menambahkannya. Al-Qur'an memberi gambaran tentang mereka di ayat-ayat lain. Di 41:15 (فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ, fa-ammaa 'aadun fa-stakbaruu fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi), mereka menyombongkan diri di bumi tanpa hak, lalu berkata (وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً, wa-qaaluu man asyaddu minnaa quwwatan), "dan mereka berkata, siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?" Di 69:6 mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin dan menderu.

Kata (الْأُولَىٰ, al-uulaa) berarti "yang terdahulu". Terjemahan tidak memakai "yang pertama", karena Al-Qur'an sendiri menempatkan kaum Nuh sebelum Ad. Di 7:69 Ad disebut sebagai pengganti sesudah kaum Nuh, dan surah ini menyebut kaum Nuh di 53:52 dengan keterangan "sebelumnya". Di 7:74 (مِنْ بَعْدِ عَادٍ, min ba'di 'aadin) berarti "setelah Ad", tentang Tsamud yang datang sesudah mereka. Dengan begitu, Ad terdahulu dibandingkan Tsamud yang disebut di 53:51, bukan umat pertama yang dibinasakan. Surah ini memakai kata yang sama di 53:56 untuk para pemberi peringatan yang terdahulu.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian terakhir daftar, yaitu sejarah umat-umat. Sesudah butir tentang diri, tubuh, harta, dan langit, daftar itu menyebut Ad, lalu Tsamud di 53:51, kaum Nuh di 53:52, dan negeri yang dijungkirbalikkan di 53:53-54. Rangkaian itu ditutup 53:55 dengan pertanyaan nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih engkau ragukan. Penyebutan kebinasaan disusul pertanyaan tentang nikmat, sehingga pembaca diajak melihat bahwa peringatan tentang umat yang binasa juga termasuk nikmat.

Letak ayat ini sesudah 53:48 membuat urutannya berbicara. Allah yang mencukupkan dan memberi milik juga membinasakan kaum yang merasa kekuatan dan bangunannya akan kekal. Di 26:128-129 Hud bertanya kepada Ad mengapa mereka mendirikan tanda di setiap tempat tinggi dan membuat bangunan seakan mereka akan kekal. Di 41:15 mereka bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka, dan ayat yang sama menjawab bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka.

Ayat ini tidak menceritakan kisah Ad. Namanya cukup disebut, karena kisahnya dirinci di surah-surah lain dan rangkaian ini, menurut 53:36-37, termasuk isi lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim. Sorotannya bukan rincian azab, tetapi siapa yang membinasakan. Butir ini berdiri sejajar dengan butir tentang mematikan dan menghidupkan di 53:44. Kuasa yang sama mengatur hidup dan mati satu orang, juga hidup dan mati satu bangsa.

Renungan dan Hikmah

  • Ad bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Pertanyaan itu masih diucapkan hari ini dengan bahasa lain, oleh negara yang merasa tidak terkalahkan, perusahaan yang merasa tidak tergantikan, atau orang yang merasa tidak tersentuh hukum. Al-Qur'an menjawab pertanyaan itu di ayat yang sama, 41:15. Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka. Kekuatan yang lupa asal penciptaannya sedang menulis akhir ceritanya sendiri.
  • Di 28:78 orang yang merasa hartanya hasil ilmunya sendiri diingatkan bahwa Allah telah membinasakan generasi yang lebih kuat dan lebih kaya. Surah ini meletakkan dua butir berdekatan, Allah yang memberi milik di 53:48 dan Allah yang membinasakan Ad di 53:50. Harta dan kekuatan tidak menjadi pelindung dari kebinasaan. Keduanya pemberian yang bisa ditarik kembali oleh Dia yang memberikannya. Orang yang menyadarinya memegang hartanya dengan tangan terbuka, karena tahu genggamannya tidak pernah menjadi jaminan.
  • Orang datang ke reruntuhan kota kuno untuk berfoto dan mengagumi kemegahannya. Al-Qur'an menyebut umat-umat terdahulu dengan tujuan yang berbeda. Nama mereka disebut agar pembaca bertanya apa yang membuat mereka binasa. Ketika kita berdiri di depan sisa bangunan besar yang ditinggalkan penghuninya, apa yang sebenarnya kita cari, keindahannya atau pelajarannya? Ayat ini memilih yang kedua dan menyebut siapa yang berkuasa atas akhir sebuah bangsa, yaitu Allah.
  • Ad tidak dibinasakan tanpa peringatan. Di 26:123-124 Hud, saudara mereka sendiri, datang dan bertanya apakah mereka tidak bertakwa. Mereka menjawab di 26:136 bahwa sama saja bagi mereka, dinasihati atau tidak. Kebinasaan datang sesudah peringatan yang panjang dan penolakan yang disengaja. Pola ini memperlihatkan kesabaran Allah. Dia memberi waktu dan peringatan, dan pintu itu ditutup oleh penolakan mereka sendiri.
  • Di 7:74 Tsamud diingatkan bahwa mereka dijadikan pengganti sesudah Ad. Mereka mewarisi tanah dan kesempatan, tetapi tidak mewarisi pelajarannya, dan 53:51 menyebut mereka tepat sesudah Ad. Hal serupa terjadi pada lembaga dan pemerintahan yang menggantikan pendahulunya yang runtuh, lalu mengulang kesalahan yang sama. Al-Qur'an mencatat urutan itu agar pengganti berikutnya membaca apa yang terjadi pada yang sebelumnya dan mengingat Allah.
  • Rangkaian kebinasaan ini ditutup di 53:55 dengan pertanyaan tentang nikmat Tuhanmu. Menyebut umat yang binasa lalu bertanya tentang nikmat terasa ganjil pada pembacaan pertama. Tetapi peringatan yang datang sebelum terlambat memang nikmat. Orang yang diberi tahu tentang jurang sebelum dia sampai di tepinya sedang ditolong. Kisah Ad yang disebut di sini termasuk pertolongan itu, kabar dari Allah tentang jalan yang pernah berakhir buruk.