وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ
dan bahwa Dialah yang mencukupkan dan memberi milik,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰwa-annahu huwa aghnaa wa-aqnaadan bahwa Dialah yang mencukupkan dan memberi milik
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
- هُوَhuwaDia
- أَغْنَىٰaghnaamencukupkan
- وَأَقْنَىٰwa-aqnaadan memberi milik
Inti bacaan
Menyisihkan sebagian waktu dan perhatian bulan depan untuk tetangga yang kekurangan, sebelum memikirkan kebutuhan sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ هُوَ, wa-annahu huwa) yang berarti "dan bahwa Dialah". Susunan ini muncul 4 kali, semuanya dalam surah ini, di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49. Kata (هُوَ, huwa) menegaskan pelakunya, sehingga terjemahannya "Dialah yang". Tidak ada pihak lain yang mencukupkan dan memberi milik.
Kata kerja pertama (أَغْنَىٰ, aghnaa) yang berarti "mencukupkan", berakar غ-ن-ي. Dalam bentuk ini kata itu muncul 10 kali, di 7:48, 15:84, 26:207, 39:50, 40:82, 46:26, 53:48, 69:28, 93:8, dan 111:2. Delapan di antaranya kalimat penyangkalan. Harta, kekuatan, atau kumpulan orang tidak mencukupkan pemiliknya pada saat yang menentukan. Contohnya 111:2 (مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ, maa aghnaa 'anhu maaluhu wa-maa kasaba), tentang harta dan hasil usaha yang tidak mencukupkan pemiliknya, dan 69:28 (مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ, maa aghnaa 'annii maaliyah), ucapan orang yang menyesal bahwa hartanya tidak mencukupkan dirinya. Dua kemunculan yang tersisa memakai Allah sebagai pelaku, yaitu 53:48 dan 93:8 (وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ, wa-wajadaka aa'ilan fa-aghnaa), "dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia mencukupkanmu". Polanya berlawanan. Ketika harta menjadi pelaku, kata ini disangkal. Ketika Allah menjadi pelaku, kata ini ditegaskan.
Kata kerja kedua (أَقْنَىٰ, aqnaa) yang berarti "memberi milik", berakar ق-ن-ي. Akar ini dipakai sekali saja dalam Al-Qur'an, di ayat ini. Karena tidak ada ayat lain yang memakainya, maknanya dibaca dari pasangannya dan dari letaknya. Kedua kata berbunyi serupa di ujungnya, seperti pasangan "membuat tertawa dan membuat menangis" di 53:43 dan "mematikan dan menghidupkan" di 53:44. Terjemahan ini memahami aqnaa sebagai pemberian yang tinggal sebagai milik, sesuatu yang datang sesudah cukup. Terjemahan lain ada yang memakai "memberi kekayaan" dan ada yang memakai "memberi kecukupan". Pilihan kedua membuat kedua kata luluh menjadi satu makna, padahal ayat ini menyebut dua pemberian. "Memberi milik" dipilih supaya kedua langkah itu tetap terpisah, dicukupkan dahulu, lalu diberi sesuatu untuk dimiliki.
Rima ayat ini juga bersambung dengan 53:34 (وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا وَأَكْدَىٰ, wa-a'thaa qaliilan wa-akdaa), "dan memberi sedikit lalu berhenti memberi". Di sana ada manusia yang memberi sedikit lalu menahan. Di sini ada Allah yang mencukupkan lalu memberi milik. Akar غ-ن-ي yang sama juga dipakai 92:8 (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ, wa-ammaa man bakhila wa-staghnaa), "adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup". Rasa cukup yang lahir dari diri sendiri diberi bentuk kata yang berbeda dari cukup yang diberikan Allah.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan daftar dari tubuh ke harta. Sesudah tawa dan tangis, mati dan hidup, serta asal manusia dari setetes mani, daftar itu menyentuh apa yang manusia genggam dengan tangannya. Penegasan "Dialah yang" dipakai lagi, karena dalam urusan harta manusia mudah sekali merasa bahwa semuanya hasil usahanya sendiri.
Letaknya menjawab orang yang digambarkan di 53:33-34, yang membelakangi, memberi sedikit, lalu berhenti memberi. Orang itu menahan sesuatu yang sejak awal bukan buatannya. Kecukupan dan milik yang dia pegang datang dari Allah, sehingga menahannya berarti menahan pemberian orang lain. Surah 92 menempuh jalan yang sama. Di 92:8 ada orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan di 92:11 hartanya tidak mencukupkannya ketika dia binasa. Di 96:6-7 manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup.
Ayat ini juga menyiapkan 53:50. Kaum Ad yang dibinasakan di ayat itu terkenal karena kekuatan dan bangunannya. Di 41:15 mereka bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka, dan di 26:128-129 mereka mendirikan bangunan dengan harapan akan kekal. Kalau kecukupan dan milik diberikan Allah, Dia pula yang berkuasa mengambilnya kembali. Urutan 53:48 lalu 53:50 memperlihatkan kedua sisi itu berdekatan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut dua pemberian dalam urutan tertentu, dicukupkan lebih dahulu, baru diberi milik. Dunia hari ini sering membalik urutan itu. Orang didorong mengumpulkan milik lebih dulu, dengan harapan rasa cukup akan datang sendiri sesudahnya. Kenyataannya rasa cukup sering tidak pernah datang, karena milik selalu bisa ditambah. Ayat ini meletakkan kecukupan sebagai pemberian Allah yang pertama, sesuatu yang bisa dimiliki orang yang hartanya sedikit dan bisa hilang dari orang yang hartanya banyak. Orang yang sudah merasa cukup tetap bisa bekerja keras, tanpa dikejar rasa takut kekurangan.
- Delapan dari sepuluh kemunculan kata "mencukupkan" dalam bentuk ini berupa penyangkalan. Harta tidak mencukupkan, kumpulan orang tidak mencukupkan, usaha tidak mencukupkan. Di 69:28 kalimat itu diucapkan pemiliknya sendiri, dengan penyesalan yang terlambat. Berapa banyak waktu hidup dihabiskan untuk mengumpulkan sesuatu yang kelak akan kita sebut dengan kalimat yang sama? Ayat ini menyebut pelaku yang kata "mencukupkan"-nya tidak disangkal, yaitu Allah.
- Ada dua jenis rasa cukup. Sebagian datang dari syukur, karena seseorang tahu siapa yang mencukupkannya. Sebagian lagi datang dari rasa tidak butuh, karena seseorang merasa sudah punya segalanya. Di 92:8 dan 96:7 jenis yang kedua disebut dengan bentuk kata yang lain, merasa diri cukup. Bentuk itu berujung pada kikir dan melampaui batas. Ayat ini menunjuk jenis yang pertama, kecukupan yang tetap ingat asal pemberiannya dari Tuhan.
- Orang di 53:34 memberi sedikit lalu berhenti. Mungkin dia merasa sudah cukup berbuat baik, atau takut hartanya berkurang. Ayat ini menjawabnya dengan halus, tanpa menyebut namanya. Semua yang dia pegang dicukupkan dan diberikan oleh Allah. Memberi dari milik yang diberikan tidak membuat seseorang kehilangan sesuatu yang sejak awal miliknya sendiri. Pemberi yang sadar bahwa dirinya juga penerima biasanya tidak cepat berhenti memberi. Harta yang ditahan rapat lama-lama berubah menjadi beban yang harus dijaga siang dan malam.
- Di 93:8 Allah mendapati seseorang dalam keadaan fakir, lalu mencukupkannya. Kalimatnya pendek dan tenang. Bagi orang yang sedang kesulitan, ayat itu dan ayat ini tidak menjanjikan kekayaan dalam jumlah tertentu. Keduanya menyebut pola, bahwa Allah yang mencukupkan, dan kecukupan bisa datang dalam bentuk yang tidak terduga. Kemiskinan tidak menghapus martabat seseorang, karena kecukupannya tetap berada di tangan Dia yang sama yang mencukupkan orang kaya.
- Sengketa warisan bisa memutus saudara kandung selama bertahun-tahun. Masing-masing merasa lebih berhak daripada yang lain atas milik yang ditinggalkan. Ayat ini mengingatkan bahwa milik itu diberikan, bukan diciptakan pemiliknya. Di 57:7 manusia diminta berinfak dari apa yang Allah jadikan mereka sebagai pengelolanya. Milik yang dipahami sebagai titipan lebih mudah dibagi, karena tidak ada yang merasa kehilangan sesuatu yang memang bukan miliknya sejak awal.