وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰ
dan bahwa Dialah Tuhan Syi'ra,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰwa-annahu huwa rabbu sy-syi'raadan bahwa Dialah Tuhan Syi'ra
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
- هُوَhuwaDia
- رَبُّrabbuTuhan
- الشِّعْرَىٰsy-syi'raaSyi'ra
Inti bacaan
Mencopot aplikasi horoskop dari ponsel, lalu menggantinya dengan kebiasaan berdoa setiap pagi kepada Pencipta semesta.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ هُوَ, wa-annahu huwa) yang berarti "dan bahwa Dialah". Susunan ini muncul 4 kali, di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49, dan ayat ini kemunculan yang terakhir. Di tiga ayat sebelumnya penegasan itu diikuti kata kerja, yaitu membuat tertawa, mematikan, dan mencukupkan. Di sini penegasan itu diikuti kata benda, (رَبُّ, rabbu) yang berarti "Tuhan". Ayat ini tidak membicarakan sesuatu yang Allah perbuat, tetapi siapa Dia terhadap sesuatu.
Kata (رَبُّ, rabbu) berakar ر-ب-ب. Surah ini sudah memakainya di 53:42 untuk "Tuhanmu", tempat segala sesuatu berakhir. Di ayat ini kata itu disandarkan pada satu nama. Susunan serupa dipakai di tempat lain untuk menegaskan bahwa sesuatu yang besar pun punya Tuhan, misalnya 55:17 (رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ, rabbu l-masyriqayni wa-rabbu l-maghribayni), "Tuhan dua tempat terbit dan Tuhan dua tempat terbenam".
Nama (الشِّعْرَىٰ, sy-syi'raa) muncul sekali saja dalam Al-Qur'an, di ayat ini. Al-Qur'an tidak menguraikan wujudnya. Terjemahan lain ada yang menambahkan kata "bintang" di depannya. Terjemahan ini membiarkannya sebagai nama, "Syi'ra", karena teksnya memuat nama itu tanpa keterangan tambahan. Pembaca perlu tahu bahwa kata ini berbeda dari (الشِّعْرَ, sy-syi'ra) yang berarti "syair" di 36:69. Bunyinya dekat dan hurufnya serupa, tetapi ujungnya berbeda, dan maknanya tidak berhubungan dalam ayat ini.
Nama ini juga berujung bunyi -aa, sama dengan ujung ayat-ayat di sekitarnya, seperti (تُمْنَىٰ, tumnaa) di 53:46, (الْأُخْرَىٰ, l-ukhraa) di 53:47, dan (أَقْنَىٰ, aqnaa) di 53:48. Bunyi itu mengikat Syi'ra ke dalam daftar yang sama, sehingga nama di langit terdengar senada dengan tetes mani, kejadian yang lain, dan harta di tangan manusia.
Di 53:1 surah ini dibuka dengan sumpah demi bintang, (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa), "demi bintang ketika jatuh". Pembaca surah ini sudah diarahkan ke langit malam sejak awal. Surah ini juga sudah memperlihatkan di 53:23 bagaimana nama bisa diangkat menjadi sesembahan. Di sana (إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ, in hiya illaa asmaa'un sammaytumuuhaa antum wa-aabaa'ukum) menyebut semua itu nama-nama yang dinamai orang-orang itu dan nenek moyang mereka. Ayat ini menempatkan satu nama lagi di bawah Allah. Apa pun yang dinamai Syi'ra, Allah Tuhannya.
Penegasan (هُوَ, huwa) di sini bekerja seperti di tiga ayat sebelumnya. Kalau ada yang menganggap sesuatu di langit sebagai tuan bagi dirinya, ayat ini menjawab bahwa Dialah, dan bukan yang lain, Tuhan atas sesuatu itu.
Tafsiran
Ayat ini membawa daftar ke titik terjauhnya. Daftar dimulai dari tawa dan tangis di dalam diri, lalu mati dan hidup, asal manusia, kejadian yang lain, dan harta di tangan. Di 53:49 pandangan diangkat ke langit. Sesudah ini daftar berbalik ke bumi dan ke sejarah umat-umat, dimulai dari Ad di 53:50. Jangkauan kuasa yang disebut makin luas di tiap butir, dan Syi'ra menjadi butir yang terjauh dari diri pembaca.
Daftar ini, menurut 53:36-37, termasuk isi lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim. Ibrahim punya kisah sendiri dengan langit malam. Di 6:76 dia melihat sebuah bintang dan menyebutnya Tuhannya, lalu ketika bintang itu terbenam dia berkata bahwa dia tidak suka kepada yang terbenam. Di 6:78 dia berlepas diri dari semua yang dipersekutukan kaumnya. Jalan pikir Ibrahim berhenti pada kesimpulan yang dinyatakan ayat ini secara ringkas. Benda langit tidak bisa menjadi Tuhan, karena benda itu sendiri punya Tuhan.
Al-Qur'an mengulang sikap yang sama di 41:37. Matahari dan bulan disebut sebagai tanda-tanda Allah, lalu manusia dilarang bersujud kepada keduanya dan diminta bersujud kepada Allah yang menciptakannya. Ayat ini memakai satu nama saja, tetapi arahnya sama. Kekaguman kepada langit dialihkan kepada Tuhan langit.
Renungan dan Hikmah
- Foto-foto langit malam dari teleskop modern memperlihatkan bintang dan galaksi yang tidak terhitung. Banyak orang merasa kecil ketika melihatnya, dan perasaan itu wajar. Ayat ini menambahkan keterangan lain. Sejauh dan sebesar apa pun sesuatu di langit, benda itu punya Tuhan. Kekaguman tidak berhenti pada benda yang dikagumi, tetapi berlanjut kepada Allah yang menjadi Tuhannya. Rasa kecil di hadapan langit berubah menjadi rasa dekat kepada Dia yang memelihara langit itu.
- Rubrik ramalan bintang masih dibaca banyak orang, kadang sebagai hiburan, kadang dengan sungguh-sungguh. Ada yang menunda keputusan karena bintangnya dianggap tidak baik minggu ini. Ayat ini menyebut bahwa Allah Tuhan atas nama yang ada di langit. Kalau benda langit sendiri punya Tuhan, masuk akalkah menyerahkan arah hidup kepadanya? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan marah atau dengan mengejek orang yang membacanya. Cukup dengan menyadari siapa yang berkuasa atas bintang yang dibaca, dan kepada siapa keputusan hidup pantas dimintakan petunjuk.
- Di 53:23 surah ini berbicara tentang nama-nama yang dinamai manusia sendiri lalu diangkat menjadi tumpuan. Setiap zaman punya nama-nama semacam itu. Merek, tokoh, atau lembaga bisa diangkat begitu tinggi sampai orang merasa hidupnya bergantung padanya. Ayat ini menaruh satu nama besar di bawah Allah dengan kalimat pendek. Nama apa pun, setinggi apa pun kita mengangkatnya, tetap punya Tuhan di atasnya. Mengingat hal sederhana itu membuat kekaguman kepada manusia dan lembaga tetap pada ukurannya.
- Ibrahim di 6:76 melihat bintang, lalu melihatnya terbenam. Dia menolak menjadikan sesuatu yang terbenam sebagai Tuhan. Ukurannya sederhana dan bisa dipakai siapa saja. Apa pun yang bisa hilang, pudar, atau jatuh tidak layak dijadikan sandaran terakhir. Jabatan terbenam, popularitas terbenam, tubuh yang kuat pun terbenam. Allah, Tuhan atas semua itu, tidak terbenam, dan kepada-Nya harapan yang terakhir bisa disandarkan tanpa takut kehilangan.
- Ada orang yang merasa lebih dekat dengan alam daripada dengan Tuhan. Gunung, laut, dan langit malam memberi rasa tenang yang sulit dijelaskan. Di 41:37 Al-Qur'an menyebut matahari dan bulan sebagai tanda-tanda Allah, lalu meminta manusia bersujud kepada Allah yang menciptakannya. Rasa tenang di hadapan alam tidak ditolak. Rasa itu diarahkan, dari ciptaan yang indah kepada Pencipta yang membuatnya indah.
- Al-Qur'an menyebut Syi'ra sekali dan tidak menguraikannya. Ada godaan untuk mengisi kekosongan itu dengan data ilmiah terbaru, seolah ayat ini baru bermakna kalau cocok dengan temuan astronomi. Ayat ini sudah bermakna dengan sendirinya. Pesannya bukan tentang sifat benda langit itu, tetapi tentang siapa Tuhannya. Menahan diri dari tafsir yang berlebihan juga bentuk hormat kepada firman Allah, yang tahu kapan harus merinci dan kapan cukup menyebut nama.