Ayat 53:50

وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَىٰ

dan bahwa Dia membinasakan Ad yang terdahulu,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنَّهُ أَهْلَكَwa-annahu ahlakadan bahwa Dia membinasakan
  2. عَادًا الْأُولَىٰ'aadan al-uulaaAd yang terdahulu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَنَّهُwa-annahudan bahwa Dia
  2. أَهْلَكَahlakamembinasakan
  3. عَادًا'aadanAd
  4. الْأُولَىٰal-uulaayang terdahulu

Inti bacaan

Mengunjungi situs sejarah atau museum bersama keluarga, lalu membicarakan sebab runtuhnya bangsa yang dahulu kuat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُ, wa-annahu) yang berarti "dan bahwa Dia", tanpa penegasan (هُوَ, huwa). Butir dengan penegasan dalam daftar ini ada di 53:43, 53:44, 53:48, dan 53:49, sedangkan butir tanpa penegasan ada di 53:45 dan 53:50. Terjemahan mengikuti perbedaan itu. Di sini bunyinya "Dia membinasakan", bukan "Dialah yang membinasakan".

Kata kerja (أَهْلَكَ, ahlaka) berarti "membinasakan", berakar ه-ل-ك. Tulisan Arab yang sama bisa dibaca sebagai dua kata yang berbeda. Sebagai kata kerja, ahlaka berarti "membinasakan", seperti di 28:78 (أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ, a-wa-lam ya'lam anna llaaha qad ahlaka min qablihi mina l-quruuni), "tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi-generasi sebelumnya". Sebagai kata benda dengan akhiran -ka, tulisan itu berarti "keluargamu", seperti di 20:132. Konteks kalimat yang menentukan. Di 53:50 kata itu diikuti nama kaum, sehingga maknanya membinasakan.

Ayat 28:78 membicarakan orang yang merasa hartanya diperoleh karena ilmunya sendiri, lalu diingatkan bahwa Allah telah membinasakan generasi yang lebih kuat dan lebih banyak kekayaannya. Pertalian itu bermakna bagi urutan surah ini. Di 53:48 Allah disebut sebagai yang mencukupkan dan memberi milik, dan dua ayat kemudian Dia disebut membinasakan kaum yang kuat.

Nama (عَادًا, 'aadan) berarti "Ad". Dalam bentuk ini nama itu muncul 4 kali, di 11:60, 25:38, 29:38, dan 53:50. Arabnya tidak memuat kata "kaum", dan terjemahan ini tidak menambahkannya. Al-Qur'an memberi gambaran tentang mereka di ayat-ayat lain. Di 41:15 (فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ, fa-ammaa 'aadun fa-stakbaruu fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi), mereka menyombongkan diri di bumi tanpa hak, lalu berkata (وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً, wa-qaaluu man asyaddu minnaa quwwatan), "dan mereka berkata, siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?" Di 69:6 mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin dan menderu.

Kata (الْأُولَىٰ, al-uulaa) berarti "yang terdahulu". Terjemahan tidak memakai "yang pertama", karena Al-Qur'an sendiri menempatkan kaum Nuh sebelum Ad. Di 7:69 Ad disebut sebagai pengganti sesudah kaum Nuh, dan surah ini menyebut kaum Nuh di 53:52 dengan keterangan "sebelumnya". Di 7:74 (مِنْ بَعْدِ عَادٍ, min ba'di 'aadin) berarti "setelah Ad", tentang Tsamud yang datang sesudah mereka. Dengan begitu, Ad terdahulu dibandingkan Tsamud yang disebut di 53:51, bukan umat pertama yang dibinasakan. Surah ini memakai kata yang sama di 53:56 untuk para pemberi peringatan yang terdahulu.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian terakhir daftar, yaitu sejarah umat-umat. Sesudah butir tentang diri, tubuh, harta, dan langit, daftar itu menyebut Ad, lalu Tsamud di 53:51, kaum Nuh di 53:52, dan negeri yang dijungkirbalikkan di 53:53-54. Rangkaian itu ditutup 53:55 dengan pertanyaan nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau ragukan. Penyebutan kebinasaan disusul pertanyaan tentang nikmat, sehingga pembaca diajak melihat bahwa peringatan tentang umat yang binasa juga termasuk nikmat.

Letak ayat ini sesudah 53:48 membuat urutannya berbicara. Allah yang mencukupkan dan memberi milik juga membinasakan kaum yang merasa kekuatan dan bangunannya akan kekal. Di 26:128-129 Hud bertanya kepada Ad mengapa mereka mendirikan tanda di setiap tempat tinggi dan membuat bangunan seakan mereka akan kekal. Di 41:15 mereka bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka, dan ayat yang sama menjawab bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka.

Ayat ini tidak menceritakan kisah Ad. Namanya cukup disebut, karena kisahnya dirinci di surah-surah lain dan rangkaian ini, menurut 53:36-37, termasuk isi lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim. Sorotannya bukan rincian azab, tetapi siapa yang membinasakan. Butir ini berdiri sejajar dengan butir tentang mematikan dan menghidupkan di 53:44. Kuasa yang sama mengatur hidup dan mati satu orang, juga hidup dan mati satu bangsa.

Renungan dan Hikmah

  • Ad bertanya siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Pertanyaan itu masih diucapkan hari ini dengan bahasa lain, oleh negara yang merasa tidak terkalahkan, perusahaan yang merasa tidak tergantikan, atau orang yang merasa tidak tersentuh hukum. Al-Qur'an menjawab pertanyaan itu di ayat yang sama, 41:15. Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka. Kekuatan yang lupa asal penciptaannya sedang menulis akhir ceritanya sendiri.
  • Di 28:78 orang yang merasa hartanya hasil ilmunya sendiri diingatkan bahwa Allah telah membinasakan generasi yang lebih kuat dan lebih kaya. Surah ini meletakkan dua butir berdekatan, Allah yang memberi milik di 53:48 dan Allah yang membinasakan Ad di 53:50. Harta dan kekuatan tidak menjadi pelindung dari kebinasaan. Keduanya pemberian yang bisa ditarik kembali oleh Dia yang memberikannya. Orang yang menyadarinya memegang hartanya dengan tangan terbuka, karena tahu genggamannya tidak pernah menjadi jaminan.
  • Orang datang ke reruntuhan kota kuno untuk berfoto dan mengagumi kemegahannya. Al-Qur'an menyebut umat-umat terdahulu dengan tujuan yang berbeda. Nama mereka disebut agar pembaca bertanya apa yang membuat mereka binasa. Ketika kita berdiri di depan sisa bangunan besar yang ditinggalkan penghuninya, apa yang sebenarnya kita cari, keindahannya atau pelajarannya? Ayat ini memilih yang kedua dan menyebut siapa yang berkuasa atas akhir sebuah bangsa, yaitu Allah.
  • Ad tidak dibinasakan tanpa peringatan. Di 26:123-124 Hud, saudara mereka sendiri, datang dan bertanya apakah mereka tidak bertakwa. Mereka menjawab di 26:136 bahwa sama saja bagi mereka, dinasihati atau tidak. Kebinasaan datang sesudah peringatan yang panjang dan penolakan yang disengaja. Pola ini memperlihatkan kesabaran Allah. Dia memberi waktu dan peringatan, dan pintu itu ditutup oleh penolakan mereka sendiri.
  • Di 7:74 Tsamud diingatkan bahwa mereka dijadikan pengganti sesudah Ad. Mereka mewarisi tanah dan kesempatan, tetapi tidak mewarisi pelajarannya, dan 53:51 menyebut mereka tepat sesudah Ad. Hal serupa terjadi pada lembaga dan pemerintahan yang menggantikan pendahulunya yang runtuh, lalu mengulang kesalahan yang sama. Al-Qur'an mencatat urutan itu agar pengganti berikutnya membaca apa yang terjadi pada yang sebelumnya dan mengingat Allah.
  • Rangkaian kebinasaan ini ditutup di 53:55 dengan pertanyaan tentang nikmat Tuhanmu. Menyebut umat yang binasa lalu bertanya tentang nikmat terasa ganjil pada pembacaan pertama. Tetapi peringatan yang datang sebelum terlambat memang nikmat. Orang yang diberi tahu tentang jurang sebelum dia sampai di tepinya sedang ditolong. Kisah Ad yang disebut di sini termasuk pertolongan itu, kabar dari Allah tentang jalan yang pernah berakhir buruk.

Ayat 53:51

وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَىٰ

dan Tsamud, maka Dia tidak menyisakan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَثَمُودَwa-tsamuudadan Tsamud
  2. فَمَا أَبْقَىٰfa-maa abqaamaka, Dia tidak menyisakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَثَمُودَwa-tsamuudadan Tsamud
  2. فَمَاfa-maamaka tidak
  3. أَبْقَىٰabqaaDia menyisakan

Inti bacaan

Menyusun jadwal bergilir yang adil bersama tetangga ketika pasokan air sedang seret, dan menaatinya walaupun rumah sendiri lebih dekat ke sumber.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata dan tidak punya kata kerja pembinasa sendiri. Kata (وَثَمُودَ, wa-tsamuuda) yang berarti "dan Tsamud" berdiri sejajar dengan (عَادًا, 'aadan) di 53:50, sehingga kata kerja (أَهْلَكَ, ahlaka) yang berarti "membinasakan" di ayat itu berlaku juga untuk Tsamud. Terjemahan 53:50 berbunyi "dan bahwa Dia membinasakan Ad yang terdahulu", dan ayat ini menyambungnya dengan "dan Tsamud". Cara meminjam kata kerja seperti ini sudah terlihat di 53:46, yang meminjam kata kerja dari 53:45. Karena itu kedua ayat tadi terbaca sebagai satu kalimat, begitu pula 53:50 dan ayat ini.

Dua kata berikutnya, (فَمَا أَبْقَىٰ, fa-maa abqaa), berarti "maka Dia tidak menyisakan". Awalan fa- pada (فَمَا, fa-maa) menandai akibat yang langsung menyusul, dan maa meniadakan kata kerja sesudahnya. Kata (أَبْقَىٰ, abqaa) berakar ب-ق-ي, akar yang dipakai untuk sesuatu yang tetap tinggal atau bertahan. Bentuk ini berarti membuat sesuatu tetap tinggal, sehingga "tidak menyisakan" berarti tidak membiarkan apa pun tetap tinggal. Sasarannya tidak ditulis. Ayat ini tidak berkata "Dia tidak menyisakan mereka" atau "tidak menyisakan rumah mereka". Karena sasarannya dibiarkan terbuka, peniadaan itu terasa menyeluruh atas mereka yang dibinasakan.

Bentuk tulisan yang sama dipakai di 7 ayat lain dengan arti yang berbeda, yaitu "lebih kekal" (20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, 87:17). Di 87:17 akhirat disifati (خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ, khayrun wa-abqaa) yang berarti "lebih baik dan lebih kekal". Di 20:73 sifat yang sama diberikan kepada Allah oleh orang-orang yang baru beriman, dan di 28:60 serta 42:36 kepada apa yang ada di sisi Allah. Di ketujuh ayat itu kata ini membandingkan dua hal dan menunjuk mana yang lebih lama bertahan. Di ayat ini kata yang sama didahului peniadaan dan menjadi kata kerja. Bentuk tulisan yang di tempat lain menyebut apa yang lebih lama bertahan, di sini menyebut kaum yang tidak dibiarkan bertahan.

Kata "tidak menyisakan" berlaku bagi mereka yang dibinasakan, dan Al-Qur'an sendiri memisahkan golongan yang lain. Di 11:66 tertulis (نَجَّيْنَا صَالِحًا, najjaynaa shaalihan) yang berarti "Kami selamatkan Saleh", bersama orang-orang yang beriman bersamanya, dan 27:53 menyebut hal yang serupa. Orang-orang itu tidak disebut sisa. Mereka disebut diselamatkan, dengan akar yang lain. Dengan begitu dua kata saling melengkapi. Dari kaum yang dibinasakan tidak ada yang disisakan, sedangkan orang yang beriman bersama Saleh tidak termasuk kaum yang dibinasakan itu.

Tafsiran

Ayat ini menyebut Tsamud dengan dua hal, namanya dan akhirnya. Surah-surah lain merinci tempat tinggal mereka. Di 15:82 mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah-rumah (آمِنِينَ, aaminiina) yang berarti "dengan rasa aman", di 89:9 mereka memahat batu-batu besar di lembah, dan di 7:74 mereka membuat istana di dataran dan rumah di gunung. Rumah dari batu dibuat supaya bertahan lama.

Rumah-rumah itu memang bertahan. Di 27:52 tertulis (فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً, fa-tilka buyuutuhum khaawiyatan) yang berarti "maka rumah-rumah mereka itu kosong", lalu ayat yang sama menyebutnya tanda bagi kaum yang mengetahui. Di 29:38 dikatakan bahwa nasib Ad dan Tsamud sudah jelas bagi orang-orang yang diajak bicara, dilihat dari tempat tinggal mereka. Dia tidak menyisakan penghuninya, tetapi bangunannya dibiarkan berdiri untuk dilihat. Batu yang dipahat dengan rasa aman ternyata lebih awet daripada orang yang memahatnya.

Kata abqaa memperlihatkan jarak itu dari sisi lain. Di tujuh ayat yang dicatat di penjelasan, bentuk yang sama menunjuk apa yang lebih kekal, dan yang lebih kekal di sana berupa akhirat, Allah, dan apa yang di sisi-Nya. Rumah batu Tsamud tidak disebut di antaranya. Kaitan ayat ini dengan 55:27, tempat wajah Tuhanmu yang tersisa, sudah diuraikan di 55:28. Di sini cukup dicatat bahwa rangkaian ini bergerak dari yang dibinasakan ke pertanyaan tentang nikmat di 53:55.

Renungan dan Hikmah

  • Banyak orang mengukur rasa aman dari hal yang bisa disentuh. Rumah yang kokoh, tabungan yang cukup, pekerjaan tetap, dan bangunan yang tahan gempa. Tsamud memahat rumah di gunung dengan rasa aman, dan rumah itu masih berdiri lama sesudah penghuninya tiada. Kekokohan bangunan tidak salah. Tetapi rasa aman yang bersandar penuh pada batu ternyata bisa hilang bersama pemiliknya, sementara batunya tetap di tempat. Rasa aman yang dimiliki selama ini bersandar pada apa, pada batu yang disusun sendiri atau pada Dia yang menentukan siapa yang disisakan?
  • Setiap kali banjir atau gempa datang, selalu ada suara yang cepat menyebutnya hukuman bagi korbannya. Kisah Tsamud memuat urutan yang tercatat jelas. Saleh diutus (7:73), unta betina dikirim sebagai cobaan (54:27), mereka menyembelihnya (26:157), lalu diberi tenggat tiga hari (11:65). Kebinasaan datang sesudah semua itu. Untuk bencana lain di zaman ini, urutan seperti itu tidak tercatat dalam wahyu. Menyebut penderitaan orang lain sebagai hukuman berarti mengaku tahu sesuatu yang tidak diberitahukan Allah kepada siapa pun.
  • Cobaan yang Allah kirim kepada Tsamud menyangkut air. Di 26:155 unta betina itu mendapat giliran minum, dan mereka mendapat giliran minum pada hari yang ditentukan. Di 54:28 disebutkan bahwa air dibagi di antara mereka dan setiap giliran dihadiri. Pembagian air masih menjadi sumber sengketa hari ini, antara desa di hulu dan hilir, antara petani dan pabrik, antara kota dan kampung. Ujian setua kisah ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu mau atau tidak berbagi ketika air terasa kurang.
  • Sesudah unta itu disembelih, Saleh masih memberi waktu. Di 11:65 dia berkata agar mereka bersenang-senang di rumah mereka selama tiga hari, dan itu janji yang tidak didustakan. Tiga hari cukup untuk berpikir ulang, dan tidak ada yang tercatat berubah. Hidup juga sering memberi tenggat seperti itu, surat peringatan kedua, hasil pemeriksaan kesehatan, teguran dari orang yang peduli. Tenggat itu terasa panjang ketika baru diberikan, lalu terasa sangat pendek ketika sudah habis.
  • Di 26:157 mereka menyembelih unta itu, lalu menjadi orang-orang yang menyesal. Penyesalan itu datang, tetapi tidak mengubah apa yang sudah diputuskan atas mereka. Ada perbuatan yang bisa diperbaiki sesudah disesali, dan ada perbuatan yang meninggalkan akibat tetap, seperti hutan yang ditebang habis atau kepercayaan yang dikhianati. Ayat-ayat tentang Tsamud tidak memuat rumus untuk membedakan keduanya sebelum terlambat. Ayat-ayat itu cukup memperlihatkan bahwa penyesalan bisa datang sesudah pintunya tertutup.
  • Orang membangun sesuatu supaya namanya bertahan, entah gedung, lembaga, atau karya. Bentuk tulisan yang di ayat ini berarti "Dia menyisakan" di 42:36 berarti "lebih kekal", tentang apa yang di sisi Allah bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal. Satu bentuk tulisan menunjuk dua nasib. Keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang bertahan tidak dicela. Ayat-ayat itu menggeser pertanyaannya, dari berapa lama sesuatu berdiri di bumi ke apa yang tersimpan di sisi Allah.