وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَىٰ

dan Tsamud, maka Dia tidak menyisakan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَثَمُودَwa-tsamuudadan Tsamud
  2. فَمَا أَبْقَىٰfa-maa abqaamaka, Dia tidak menyisakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَثَمُودَwa-tsamuudadan Tsamud
  2. فَمَاfa-maamaka tidak
  3. أَبْقَىٰabqaaDia menyisakan

Inti bacaan

Menyusun jadwal bergilir yang adil bersama tetangga ketika pasokan air sedang seret, dan menaatinya walaupun rumah sendiri lebih dekat ke sumber.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata dan tidak punya kata kerja pembinasa sendiri. Kata (وَثَمُودَ, wa-tsamuuda) yang berarti "dan Tsamud" berdiri sejajar dengan (عَادًا, 'aadan) di 53:50, sehingga kata kerja (أَهْلَكَ, ahlaka) yang berarti "membinasakan" di ayat itu berlaku juga untuk Tsamud. Terjemahan 53:50 berbunyi "dan bahwa Dia membinasakan Ad yang terdahulu", dan ayat ini menyambungnya dengan "dan Tsamud". Cara meminjam kata kerja seperti ini sudah terlihat di 53:46, yang meminjam kata kerja dari 53:45. Karena itu kedua ayat tadi terbaca sebagai satu kalimat, begitu pula 53:50 dan ayat ini.

Dua kata berikutnya, (فَمَا أَبْقَىٰ, fa-maa abqaa), berarti "maka Dia tidak menyisakan". Awalan fa- pada (فَمَا, fa-maa) menandai akibat yang langsung menyusul, dan maa meniadakan kata kerja sesudahnya. Kata (أَبْقَىٰ, abqaa) berakar ب-ق-ي, akar yang dipakai untuk sesuatu yang tetap tinggal atau bertahan. Bentuk ini berarti membuat sesuatu tetap tinggal, sehingga "tidak menyisakan" berarti tidak membiarkan apa pun tetap tinggal. Sasarannya tidak ditulis. Ayat ini tidak berkata "Dia tidak menyisakan mereka" atau "tidak menyisakan rumah mereka". Karena sasarannya dibiarkan terbuka, peniadaan itu terasa menyeluruh atas mereka yang dibinasakan.

Bentuk tulisan yang sama dipakai di 7 ayat lain dengan arti yang berbeda, yaitu "lebih kekal" (20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, 87:17). Di 87:17 akhirat disifati (خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ, khayrun wa-abqaa) yang berarti "lebih baik dan lebih kekal". Di 20:73 sifat yang sama diberikan kepada Allah oleh orang-orang yang baru beriman, dan di 28:60 serta 42:36 kepada apa yang ada di sisi Allah. Di ketujuh ayat itu kata ini membandingkan dua hal dan menunjuk mana yang lebih lama bertahan. Di ayat ini kata yang sama didahului peniadaan dan menjadi kata kerja. Bentuk tulisan yang di tempat lain menyebut apa yang lebih lama bertahan, di sini menyebut kaum yang tidak dibiarkan bertahan.

Kata "tidak menyisakan" berlaku bagi mereka yang dibinasakan, dan Al-Qur'an sendiri memisahkan golongan yang lain. Di 11:66 tertulis (نَجَّيْنَا صَالِحًا, najjaynaa shaalihan) yang berarti "Kami selamatkan Saleh", bersama orang-orang yang beriman bersamanya, dan 27:53 menyebut hal yang serupa. Orang-orang itu tidak disebut sisa. Mereka disebut diselamatkan, dengan akar yang lain. Dengan begitu dua kata saling melengkapi. Dari kaum yang dibinasakan tidak ada yang disisakan, sedangkan orang yang beriman bersama Saleh tidak termasuk kaum yang dibinasakan itu.

Tafsiran

Ayat ini menyebut Tsamud dengan dua hal, namanya dan akhirnya. Surah-surah lain merinci tempat tinggal mereka. Di 15:82 mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah-rumah (آمِنِينَ, aaminiina) yang berarti "dengan rasa aman", di 89:9 mereka memahat batu-batu besar di lembah, dan di 7:74 mereka membuat istana di dataran dan rumah di gunung. Rumah dari batu dibuat supaya bertahan lama.

Rumah-rumah itu memang bertahan. Di 27:52 tertulis (فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً, fa-tilka buyuutuhum khaawiyatan) yang berarti "maka rumah-rumah mereka itu kosong", lalu ayat yang sama menyebutnya tanda bagi kaum yang mengetahui. Di 29:38 dikatakan bahwa nasib Ad dan Tsamud sudah jelas bagi orang-orang yang diajak bicara, dilihat dari tempat tinggal mereka. Dia tidak menyisakan penghuninya, tetapi bangunannya dibiarkan berdiri untuk dilihat. Batu yang dipahat dengan rasa aman ternyata lebih awet daripada orang yang memahatnya.

Kata abqaa memperlihatkan jarak itu dari sisi lain. Di tujuh ayat yang dicatat di penjelasan, bentuk yang sama menunjuk apa yang lebih kekal, dan yang lebih kekal di sana berupa akhirat, Allah, dan apa yang di sisi-Nya. Rumah batu Tsamud tidak disebut di antaranya. Kaitan ayat ini dengan 55:27, tempat wajah Tuhanmu yang tersisa, sudah diuraikan di 55:28. Di sini cukup dicatat bahwa rangkaian ini bergerak dari yang dibinasakan ke pertanyaan tentang nikmat di 53:55.

Renungan dan Hikmah

  • Banyak orang mengukur rasa aman dari hal yang bisa disentuh. Rumah yang kokoh, tabungan yang cukup, pekerjaan tetap, dan bangunan yang tahan gempa. Tsamud memahat rumah di gunung dengan rasa aman, dan rumah itu masih berdiri lama sesudah penghuninya tiada. Kekokohan bangunan tidak salah. Tetapi rasa aman yang bersandar penuh pada batu ternyata bisa hilang bersama pemiliknya, sementara batunya tetap di tempat. Rasa aman yang dimiliki selama ini bersandar pada apa, pada batu yang disusun sendiri atau pada Dia yang menentukan siapa yang disisakan?
  • Setiap kali banjir atau gempa datang, selalu ada suara yang cepat menyebutnya hukuman bagi korbannya. Kisah Tsamud memuat urutan yang tercatat jelas. Saleh diutus (7:73), unta betina dikirim sebagai cobaan (54:27), mereka menyembelihnya (26:157), lalu diberi tenggat tiga hari (11:65). Kebinasaan datang sesudah semua itu. Untuk bencana lain di zaman ini, urutan seperti itu tidak tercatat dalam wahyu. Menyebut penderitaan orang lain sebagai hukuman berarti mengaku tahu sesuatu yang tidak diberitahukan Allah kepada siapa pun.
  • Cobaan yang Allah kirim kepada Tsamud menyangkut air. Di 26:155 unta betina itu mendapat giliran minum, dan mereka mendapat giliran minum pada hari yang ditentukan. Di 54:28 disebutkan bahwa air dibagi di antara mereka dan setiap giliran dihadiri. Pembagian air masih menjadi sumber sengketa hari ini, antara desa di hulu dan hilir, antara petani dan pabrik, antara kota dan kampung. Ujian setua kisah ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu mau atau tidak berbagi ketika air terasa kurang.
  • Sesudah unta itu disembelih, Saleh masih memberi waktu. Di 11:65 dia berkata agar mereka bersenang-senang di rumah mereka selama tiga hari, dan itu janji yang tidak didustakan. Tiga hari cukup untuk berpikir ulang, dan tidak ada yang tercatat berubah. Hidup juga sering memberi tenggat seperti itu, surat peringatan kedua, hasil pemeriksaan kesehatan, teguran dari orang yang peduli. Tenggat itu terasa panjang ketika baru diberikan, lalu terasa sangat pendek ketika sudah habis.
  • Di 26:157 mereka menyembelih unta itu, lalu menjadi orang-orang yang menyesal. Penyesalan itu datang, tetapi tidak mengubah apa yang sudah diputuskan atas mereka. Ada perbuatan yang bisa diperbaiki sesudah disesali, dan ada perbuatan yang meninggalkan akibat tetap, seperti hutan yang ditebang habis atau kepercayaan yang dikhianati. Ayat-ayat tentang Tsamud tidak memuat rumus untuk membedakan keduanya sebelum terlambat. Ayat-ayat itu cukup memperlihatkan bahwa penyesalan bisa datang sesudah pintunya tertutup.
  • Orang membangun sesuatu supaya namanya bertahan, entah gedung, lembaga, atau karya. Bentuk tulisan yang di ayat ini berarti "Dia menyisakan" di 42:36 berarti "lebih kekal", tentang apa yang di sisi Allah bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal. Satu bentuk tulisan menunjuk dua nasib. Keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang bertahan tidak dicela. Ayat-ayat itu menggeser pertanyaannya, dari berapa lama sesuatu berdiri di bumi ke apa yang tersimpan di sisi Allah.