وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ

dan kaum Nuh sebelumnya; sesungguhnya merekalah yang lebih zalim dan lebih melampaui batas,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُwa-qawma nuuhin min qabludan kaum Nuh sebelumnya
  2. إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰinnahum kaanuu hum azhlama wa-athghaasesungguhnya merekalah yang lebih zalim dan lebih melampaui batas

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَقَوْمَwa-qawmadan kaum
  2. نُوحٍnuuhinNuh
  3. مِنْmindari
  4. قَبْلُqablusebelumnya
  5. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  6. كَانُواkaanuumereka adalah
  7. هُمْhummereka
  8. أَظْلَمَazhlamalebih zalim
  9. وَأَطْغَىٰwa-athghaadan lebih melampaui batas

Inti bacaan

Membuka kembali percakapan dengan satu kenalan yang pernah dibisukan karena beda pendapat, lalu mendengarkannya sampai selesai tanpa memotong.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَقَوْمَ, wa-qawma) yang berarti "dan kaum" berakhir dengan bunyi a, sama seperti (عَادًا, 'aadan) di 53:50. Bunyi akhir itu menandai kaum Nuh sebagai pihak yang dikenai kata kerja (أَهْلَكَ, ahlaka) yang berarti "membinasakan" di ayat itu. Seperti Tsamud di 53:51, kaum Nuh masuk ke daftar tanpa kata kerja pembinasa sendiri.

Keterangan (مِنْ قَبْلُ, min qablu) berarti "sebelumnya". Kata (قَبْلُ, qablu) di sini berdiri tanpa kata yang disandarinya, sehingga pembaca mengisinya dari kalimat sebelumnya, yaitu sebelum Ad dan Tsamud. Urutan waktu itu ditegaskan di 7:69, ketika kaum Ad diingatkan bahwa mereka dijadikan pengganti sesudah kaum Nuh. Daftar di surah ini menyebut Ad, lalu Tsamud, lalu kaum Nuh. Urutannya tidak mengikuti waktu, dan keterangan "sebelumnya" menandai lompatan mundur itu. Di 51:46 terdapat pembuka yang sama, (وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ, wa-qawma nuuhin min qablu), dan di sana kaum Nuh juga disebut sesudah Ad (51:41) dan Tsamud (51:43).

Susunan (إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ, innahum kaanuu hum) menyebut "mereka" tiga kali, pada inna, pada kata kerja kaanuu, dan sekali lagi berdiri sendiri. Kata (هُمْ, hum) yang berdiri sendiri di antara kaanuu dan kata sifatnya mengkhususkan sifat itu kepada mereka. Karena itu terjemahannya memakai "merekalah". Kata kerja kaanuu menandai keadaan yang sudah menjadi sifat mereka dahulu. Di 51:46 pembukanya sama, tetapi tanpa hum yang berdiri sendiri, dan sifatnya lain, (قَوْمًا فَاسِقِينَ, qawman faasiqiina) yang berarti "kaum yang fasik".

Kata (أَظْلَمَ, azhlama) yang berarti "lebih zalim" berakar ظ-ل-م dan berbentuk pembanding. Bentuk pembanding ini hadir di 15 ayat lain sebagai (أَظْلَمُ, azhlamu) dalam pertanyaan "siapakah yang lebih zalim daripada orang yang", yaitu 2:114, 2:140, 6:21, 6:93, 6:144, 6:157, 7:37, 10:17, 11:18, 18:15, 18:57, 29:68, 32:22, 39:32, dan 61:7. Di ayat ini bentuk itu tidak berupa pertanyaan, tetapi pernyataan tentang kaum yang dinamai. Bentuk tulisan yang sama juga ada di 2:20, (أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ, azhlama 'alayhim) yang berarti "gelap menimpa mereka", karena akar ini dipakai untuk kezaliman dan juga untuk kegelapan.

Kata (وَأَطْغَىٰ, wa-athghaa) yang berarti "dan lebih melampaui batas" berakar ط-غ-ي, akar yang sama dengan (طَغَىٰ, thaghaa) di 53:17, dan pasangan kedua ayat itu sudah diuraikan di sana. Akar ini juga dipakai untuk Tsamud di dua surah lain. Di 91:11 Tsamud mendustakan (بِطَغْوَاهَا, bi-thaghwaahaa) yang berarti "karena kelampauan-batas mereka", dan di 69:5 mereka dibinasakan (بِالطَّاغِيَةِ, bi-th-thaaghiyati) yang berarti "dengan yang melampaui batas". Ayat ini membiarkan pembandingnya tanpa nama. Kaum yang disebut tepat sebelumnya Ad dan Tsamud, dan salah satunya dicirikan dengan akar yang sama. Karena itu kata "lebih" di sini wajar dibaca terhadap mereka, walaupun teksnya tidak mengunci bacaan itu.

Tafsiran

Ayat ini memberi kaum Nuh penilaian yang lebih keras daripada dua kaum sebelumnya dalam daftar. Alasannya tidak dirinci di sini, tetapi surah-surah lain memperlihatkan apa yang terjadi di antara Nuh dan kaumnya. Di 29:14 Nuh tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun, lalu banjir besar menimpa mereka (وَهُمْ ظَالِمُونَ, wa-hum zhaalimuuna) yang berarti "sedang mereka orang-orang yang zalim". Di 71:5-7 Nuh menyeru mereka siang dan malam, dan seruan itu tidak menambah apa pun kecuali lari. Setiap kali diseru, mereka memasukkan jari ke telinga dan menutupkan baju mereka. Di 11:38 mereka mengejeknya setiap kali lewat ketika dia membuat bahtera, dan 11:40 mencatat bahwa yang beriman bersamanya sedikit.

Dua hal tampak dari ayat-ayat itu. Masa seruannya sangat panjang, dan penolakannya tetap sampai akhir. Masa seruan kepada mereka disebut dengan angka, seribu tahun kurang lima puluh tahun, dan masa sepanjang itu dijawab dengan telinga yang ditutup. Bacaan ini bertumpu pada ayat-ayat tadi. Ayat 53:52 sendiri tidak menghubungkan kata "lebih" dengan lamanya seruan.

Dua surah memberi dua sebutan untuk kaum yang sama. Di 51:46 mereka kaum yang fasik, dan di sini mereka yang lebih zalim dan lebih melampaui batas. Kedua sebutan itu tidak saling membatalkan. Sebutan di 51:46 menilai mereka sebagai kaum, sedangkan ayat ini menimbang ukuran pelanggaran mereka dibandingkan kaum lain. Keterangan "sebelumnya" juga membuat daftar ini disusun untuk pelajaran, tidak untuk urutan waktu. Kaum yang tertua disebut terakhir, sesudah pembaca melihat Ad dan Tsamud, sehingga penilaian yang lebih keras jatuh pada kaum yang masa peringatannya lebih panjang.

Renungan dan Hikmah

  • Nuh menyeru kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun, dan yang beriman bersamanya sedikit (11:40). Guru, orang tua, dan penyeru kebaikan sering mengukur diri dari berapa orang yang mau mendengar. Kalau ukuran itu dipakai, Nuh akan tampak gagal. Allah tidak memakai ukuran itu. Dia menyelamatkan Nuh bersama para penumpang bahtera, dan menjadikan bahtera itu tanda bagi seisi alam (29:15). Kesetiaan pada seruan dicatat, walaupun jumlah pengikutnya kecil.
  • Di 71:7 kaum Nuh memasukkan jari ke telinga setiap kali diseru, lalu menutupkan baju mereka. Cara menolak itu masih dikenal sampai sekarang, walaupun alatnya berubah. Orang bisa membisukan, memblokir, atau berhenti mengikuti setiap suara yang tidak disukainya, lalu hidup di tengah gema pendapatnya sendiri. Gerak itu terasa kecil karena cukup sekali tekan. Kaum Nuh juga cukup menggerakkan jari, dan mereka mengulanginya setiap kali seruan datang, sampai pintu itu benar-benar tertutup.
  • Di lima belas ayat Allah bertanya siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berbuat begini atau begitu. Pertanyaan seperti itu memberi pembaca kesempatan memeriksa diri, apakah sifat yang disebut ada pada dirinya. Di ayat ini bentuk yang sama sudah menjadi pernyataan tentang sebuah kaum yang tidak lagi punya kesempatan. Jarak antara pertanyaan dan pernyataan itu ruang yang masih dimiliki setiap orang yang membacanya hari ini.
  • Banyak orang menenangkan diri dengan membandingkan diri pada contoh yang terkenal buruk. Setidaknya aku tidak seperti koruptor itu, setidaknya kampungku tidak seburuk kampung sebelah. Tsamud dikenal dengan kelampauan batasnya di 91:11, dan ayat ini tetap menyebut ada yang lebih melampaui batas. Kata "lebih" di ayat ini memperlihatkan bahwa selalu ada ukuran di atas contoh terburuk yang dikenal. Membandingkan diri dengan yang terburuk bisa membuat orang lupa pada timbangannya sendiri. Siapa yang bisa memastikan timbangan itu berhenti pada orang lain, sementara dirinya sendiri juga sedang ditimbang di hadapan Allah?
  • Di 11:38 para pemuka kaum Nuh mengejeknya setiap kali lewat ketika dia membuat bahtera. Bahtera itu dibuat sebelum air datang (11:40), sehingga pekerjaan itu tampak ganjil bagi orang yang lewat. Orang yang bersiap menghadapi sesuatu yang belum terlihat, entah menabung untuk masa sulit, menanam pohon yang buahnya belum tentu dinikmati sendiri, atau menjaga sumber air sebelum kering, sering ditertawakan dengan cara yang sama. Ejekan itu berhenti ketika tanda yang ditunggu datang.
  • Surah 51 menyebut kaum Nuh kaum yang fasik, dan surah 53 menyebut mereka yang lebih zalim dan lebih melampaui batas. Kedua sebutan itu tidak bertentangan. Keduanya menyorot sisi yang berbeda dari kaum yang sama. Cara ini mengingatkan bahwa satu kata jarang cukup untuk menilai sebuah kelompok, baik untuk memuji maupun mencela. Penilaian yang adil tentang manusia biasanya membutuhkan lebih dari satu sudut, dan firman Allah sendiri memberi contohnya.