فَغَشَّاهَا مَا غَشَّىٰ

lalu Dia menyelimutinya dengan apa yang Dia selimutkan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَغَشَّاهَا مَا غَشَّىٰfa-ghasysyaahaa maa ghasysyaalalu Dia menyelimutinya dengan apa yang Dia selimutkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَغَشَّاهَاfa-ghasysyaahaalalu Dia menyelimutinya
  2. مَاmaaapa yang
  3. غَشَّىٰghasysyaaDia selimutkan

Inti bacaan

Memilih tidak meneruskan rekaman orang-orang yang tertimpa banjir atau gempa, dan menyalurkan bantuan lewat lembaga yang terpercaya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَغَشَّاهَا, fa-ghasysyaahaa) yang berarti "lalu Dia menyelimutinya". Awalan fa- menandai urutan, sehingga penyelimutan datang sesudah negeri itu dijatuhkan di 53:53. Akhiran -haa merujuk ke negeri yang dijungkirbalikkan, yang kata Arabnya berbentuk perempuan. Kata kerjanya, (غَشَّىٰ, ghasysyaa), berakar غ-ش-و dengan huruf tengah yang digandakan. Bentuk ini mengambil dua sasaran, yang diselimuti dan selimutnya.

Kedua sasaran itu tampak jelas di 8:11, (يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ, yughasysyiikumu n-nu'aasa) yang berarti "Dia menyelimuti kalian dengan kantuk". Di sana yang diselimuti kalian, dan selimutnya kantuk, sebagai ketenteraman dari-Nya. Di ayat ini sasaran pertama negeri itu, dan sasaran kedua ditulis (مَا غَشَّىٰ, maa ghasysyaa) yang berarti "apa yang Dia selimutkan". Selimutnya tidak diberi nama. Susunan yang mengulang kata kerjanya sendiri ini dipakai surah ini tiga kali, dan hubungannya sudah diuraikan di 53:10 dan 53:16.

Bentuk lain dari akar ini memperlihatkan pilihan katanya. Bentuk dasarnya berarti "menutupi", misalnya (فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ, fa-ghasyiyahum mina l-yammi maa ghasyiyahum) yang berarti "lalu dari laut mereka ditutupi oleh apa yang menutupi mereka" di 20:78, dan ombak yang menutupi mereka di 31:32. Di 20:78 asal penutupnya disebut, yaitu laut. Di 53:54 asal selimutnya tidak disebut. Di 71:7 kaum Nuh digambarkan dengan (وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ, wa-staghsyaw tsiyaabahum) yang berarti "dan menutupkan baju mereka", setiap kali mereka diseru. Kata bendanya, (غِشَاوَةً, ghisyaawatan) yang berarti "tutup", diletakkan atas penglihatan di 45:23, dan 2:7 memakai kata yang sama. Pemakaian akar ini di seluruh Al-Qur'an sudah dicatat di 88:1.

Akar ini juga dipakai untuk azab yang datang meliputi orang. Di 12:107 orang-orang ditanya apakah mereka merasa aman dari datangnya (غَاشِيَةٌ, ghaasyiyatun) yang berarti "yang menyelubungi" dari azab Allah. Di 29:55 azab menutupi orang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, dan di 88:1 kata (الْغَاشِيَةِ, l-ghaasyiyati) dipakai untuk peristiwa dahsyat yang digambarkan ayat-ayat sesudahnya. Karena itu penyelimutan sebuah negeri di ayat ini berdiri dalam deretan pemakaian yang lebih luas, yaitu sesuatu yang datang dari luar lalu meliputi dari segala arah, sehingga tidak ada celah untuk menghindar.

Terjemahan membedakan dua bentuk itu. Bentuk dasar diterjemahkan "menutupi" atau "meliputi", seperti (إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ, idz yaghsyaa s-sidrata) yang berarti "ketika pohon bidara itu diliputi" di 53:16. Bentuk dengan huruf tengah berganda diterjemahkan "menyelimuti", di 8:11 dan di ayat ini. Selimut membungkus dari segala sisi, sehingga kata itu cocok untuk bentuk yang menyebut dua sasaran, yang dibungkus dan pembungkusnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar yang dimulai di 53:38. Butir terakhirnya berupa selubung. Negeri itu dibalik, dijatuhkan, lalu diselimuti, dan pembaca tidak diberi tahu apa yang ada di bawah selimut itu. Hubungan ayat ini dengan pohon bidara di 53:16 sudah diuraikan di sana, satu susunan untuk dua peristiwa yang berlawanan.

Dua akar di 53:53-54 bertemu juga dalam satu ayat di tempat lain. Di 45:23 Allah bertanya tentang orang yang menjadikan (هَوَاهُ, hawaahu) yang berarti "hawa nafsunya" sebagai tuhannya, lalu Allah meletakkan (غِشَاوَةً, ghisyaawatan) yang berarti "tutup" atas penglihatannya. Di 45:23 kedua akar itu berbicara tentang satu orang, keinginan yang dituhankan dan mata yang tertutup. Di 53:53-54 kedua akar yang sama berbicara tentang sebuah negeri, dijatuhkan lalu diselimuti. Al-Qur'an tidak mengikat kedua tempat itu dengan kalimat apa pun. Pembaca yang menemukannya bisa menimbang sendiri apakah yang terjadi di dalam diri seseorang dan yang terjadi pada sebuah negeri punya urutan yang mirip.

Ayat 8:11 memberi keseimbangan. Kata kerja yang sama dipakai untuk kantuk sebagai ketenteraman dari-Nya, ketika hati orang-orang beriman perlu diteguhkan dan telapak kaki mereka perlu dimantapkan. Menyelimuti tidak buruk pada dirinya. Pembeda kedua ayat itu terletak pada isi selimutnya, ketenangan bagi yang satu dan kebinasaan bagi yang lain, dan keduanya dari Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Setiap bencana hari ini cepat tersebar dalam bentuk video dan foto, sering dengan rincian yang menyakitkan untuk dilihat. Al-Qur'an menyebut kebinasaan sebuah negeri, lalu menutupnya dengan "apa yang Dia selimutkan". Tidak ada jumlah korban, tidak ada gambaran tubuh, tidak ada rincian penderitaan. Pelajarannya tetap sampai kepada pembaca tanpa semua itu. Rasa ingin tahu yang terus menggali rincian penderitaan orang lain ternyata tidak dibutuhkan untuk mengambil pelajaran.
  • Kata kerja yang di ayat ini dipakai untuk kebinasaan, di 8:11 dipakai untuk kantuk yang menenangkan ketika hati perlu diteguhkan. Tidur yang datang di tengah kecemasan terasa biasa, padahal tidur itu juga diselimutkan. Orang yang malam ini bisa tidur walaupun besok ada ujian, sidang, atau operasi sedang menerima selimut dari jenis yang lain. Satu kata kerja memuat dua nasib, dan yang menentukan isinya Allah.
  • Di 45:23 tutup diletakkan atas penglihatan orang yang menuhankan hawa nafsunya. Tutup itu tidak tampak dari luar. Orang itu masih berjalan, bekerja, dan berbicara seperti biasa, tetapi berhenti melihat peringatan yang sebenarnya ada di depannya. Kebinasaan sebuah negeri terlihat oleh semua orang, sedangkan tutup di mata seseorang bisa berlangsung lama tanpa ada yang menyadarinya, termasuk dirinya sendiri. Orang yang merasa matanya terbuka lebar pun tidak bisa memastikan dari dalam bahwa tidak ada tutup di sana.
  • Kaum Nuh menutupkan baju mereka supaya tidak mendengar seruan (71:7). Mereka memilih selubung sendiri. Di ayat ini sebuah negeri diselimuti oleh Allah. Orang zaman ini juga punya cara menutup diri dari kabar yang tidak ingin didengar, dengan kesibukan, dengan hiburan, atau dengan kerumunan yang sependapat. Selubung yang dipilih sendiri terasa melindungi. Kisah kaum Nuh memperlihatkan bahwa selubung seperti itu tidak menahan apa yang akhirnya datang. Seruan tetap sampai ke balik baju yang ditutupkan, dan tanggung jawab untuk mendengarnya ikut sampai.
  • Di 31:32 ombak menutupi orang-orang di laut, dan mereka berdoa kepada Allah dengan tulus. Sesudah Dia menyelamatkan mereka ke daratan, sebagian dari mereka bersikap pertengahan. Banyak orang mengenal pola itu dari hidupnya sendiri. Doa yang sungguh-sungguh sering keluar ketika sesuatu sedang menutupi, sakit, utang, atau kehilangan. Ketika tutup itu terangkat, kesungguhan itu perlahan ikut pergi. Ayat ini membiarkan pembaca mengingat doanya sendiri di saat sulit.
  • Ketika seseorang jatuh karena kesalahannya, orang lain sering membongkar rinciannya di percakapan dan di layar. Allah sendiri, ketika menyebut kejatuhan sebuah negeri, membiarkan selimut di atasnya tetap tertutup. Kejatuhan itu tetap disebut, dan pelajarannya tetap sampai. Rinciannya tidak dipamerkan. Bagi orang yang tahu aib orang lain, untuk apa rincian itu dibuka, dan siapa yang mendapat pelajaran darinya?