فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau ragukan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikamaka, nikmat Tuhanmu yang manakah
  2. تَتَمَارَىٰtatamaaraayang engkau ragukan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka, dengan yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. تَتَمَارَىٰtatamaaraaengkau ragukan

Inti bacaan

Menuliskan tiga pemberian Allah yang diterima hari ini sebelum tidur, termasuk satu yang datang di hari yang berat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbika tatamaaraa) yang berarti "maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau ragukan". Susunan (فَبِأَيِّ, fa-bi-ayyi) sudah diuraikan di 55:13, dan tempat kata (آلَاءِ, aalaa'i) yang berarti "nikmat-nikmat" di luar surah 55 sudah dicatat di 55:28. Ketiga tempatnya di luar surah itu, 7:69, 7:74, dan 53:55, berada di dekat kisah kaum-kaum yang dibinasakan. Uraian di sini memusatkan perhatian pada sapaan tunggal, kata kerja keraguan, perbandingan dengan surah 7, dan letak ayat ini sesudah daftar panjang.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) yang berarti "Tuhanmu" memakai akhiran -ka untuk satu orang. Surah ini menyapa satu orang dengan "Tuhanmu" di 4 ayat, yaitu 53:30, 53:32, 53:42, dan 53:55. Di 53:42 sapaan itu sudah masuk ke dalam daftar, "dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan". Di ayat ini sapaan tunggal itu keluar dari daftar dan menjadi pertanyaan langsung. Surah ini juga menyapa satu orang di 53:33, "maka, apakah engkau memperhatikan orang yang berpaling".

Kata (تَتَمَارَىٰ, tatamaaraa) berakar م-ر-ي. Perbedaan antara meragukan di ayat ini dan saling membantah di 54:36 sudah diuraikan di 53:12 dan 54:36, dan perbedaannya dengan mendustakan sudah diuraikan di 55:13. Hal baru di sini, akar ini beberapa kali dipakai untuk satu orang yang disapa "engkau". Di 11:17 dan 32:23 tertulis "janganlah engkau ragu", dan di 11:109 "janganlah engkau berada dalam keraguan", dengan kata (مِرْيَةٍ, miryatin) yang berarti "keraguan". Di tiga ayat itu keraguan dihadapi dengan larangan. Di ayat ini keraguan dihadapi dengan pertanyaan.

Dua ayat di surah 7 memakai kata nikmat dalam perintah, (فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ, fa-dzkuruu aalaa'a llaahi) yang berarti "maka ingatlah nikmat-nikmat Allah" (7:69, 7:74). Di sana Hud dan Saleh berbicara kepada kaum mereka dengan kata kerja untuk orang banyak, dan nikmat itu disandarkan kepada Allah. Di ayat ini nikmat disandarkan kepada "Tuhanmu", dan kalimatnya berupa pertanyaan kepada satu orang. Ad dan Tsamud diperintah mengingat, lalu nama mereka masuk ke daftar kebinasaan di 53:50-51. Pembaca ayat ini ditanya sesudah melihat akhir kaum-kaum itu.

Letak ayat ini juga bermakna. Sejak 53:38 butir-butir daftar dibuka dengan kata "bahwa", mulai dari (أَلَّا, allaa) yang berarti "bahwa tidak" di 53:38, (وَأَنْ, wa-an) di 53:39, sampai (وَأَنَّهُ, wa-annahu) di 53:50. Tsamud, kaum Nuh, dan negeri yang dijungkirbalikkan disambung dengan "dan". Menurut 53:36-37, butir-butir itu isi lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim. Ayat ini tidak dibuka dengan "bahwa". Awalan fa- yang berarti "maka" menjadikannya kesimpulan dari seluruh daftar, dan pertanyaannya diarahkan kepada engkau yang membaca.

Tafsiran

Ayat ini mengubah daftar menjadi pertanyaan. Butir-butir sebelumnya bercampur. Ada yang biasa disebut nikmat, seperti kecukupan dan milik (53:48). Ada yang biasa disebut musibah, seperti menangis dan mati (53:43-44). Ada pula kebinasaan kaum-kaum terdahulu (53:50-54). Semuanya lalu disebut nikmat Tuhanmu. Mengapa kabar kebinasaan termasuk nikmat sudah diuraikan di 53:50. Di sini yang baru bentuk pertanyaannya.

Pertanyaan itu tidak berbunyi "apakah engkau ragu". Pertanyaannya "yang manakah". Pertanyaan seperti itu meminta pembaca menunjuk satu butir. Pembaca diajak kembali menelusuri daftar, dari beban yang tidak dipikul orang lain (53:38), usaha yang kelak akan terlihat (53:40), sampai negeri yang diselimuti (53:54). Butir mana yang bisa diragukan sebagai pemberian? Kalau tidak ada satu butir yang bisa ditunjuk, keraguan itu kehilangan pijakannya.

Ayat berikutnya menyambung pertanyaan ini dengan (هَٰذَا نَذِيرٌ مِنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ, haadzaa nadziirun mina n-nudzuri l-uulaa) yang berarti "ini seorang pemberi peringatan dari para pemberi peringatan yang terdahulu" (53:56). Isi lembaran-lembaran lama itu dihadirkan kembali sebagai peringatan yang sedang berbicara sekarang. Di bagian awal surah ini orang-orang membantah apa yang dilihat kawan mereka (53:12), dan menjelang akhirnya surah ini bertanya kepada satu orang tentang keraguannya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan "yang manakah" terdengar sederhana, tetapi sulit dijawab dengan jujur. Pembaca yang mencoba menunjuk satu pemberian yang asalnya bisa diragukan akan bertemu napas pagi ini, mata yang membaca, air yang diminum, dan orang yang masih peduli, lalu sulit menemukan satu yang asalnya lain. Di 14:34 dikatakan bahwa jika nikmat Allah dihitung, manusia tidak mampu menghitungnya. Keraguan biasanya hidup di tingkat perasaan umum. Ketika diminta menunjuk satu per satu, pada pemberian yang mana perasaan ragu itu bisa berpijak?
  • Di antara butir-butir yang disebut nikmat Tuhanmu ada tangis (53:43) dan kematian (53:44). Orang yang sedang berduka sering merasa nikmat Allah jauh darinya. Daftar ini tidak memisahkan hari tertawa dari hari menangis. Keduanya diletakkan dalam satu rangkaian, lalu ditanyakan bersama. Duka tidak dihapus dan tidak disebut ringan. Duka itu ditempatkan di dalam sesuatu yang lebih luas daripada dirinya. Tertawa dan menangis disebut dalam satu ayat, dan keduanya dikembalikan kepada Dia (53:43).
  • Pertanyaan ini ditujukan kepada satu orang, dan kata kerjanya berbicara tentang keraguan, bukan bantahan terbuka. Banyak orang tampak yakin di depan umum, rajin beribadah, fasih berbicara tentang agama, tetapi menyimpan keraguan yang tidak pernah diucapkan. Ayat ini tidak menuduh. Ayat ini bertanya dengan pelan kepada bagian diri yang tidak terlihat orang lain, tempat keraguan itu biasanya tinggal. Pertanyaan itu juga tidak menunggu jawaban lisan, karena jawabannya diketahui oleh dirinya dan Tuhannya.
  • Orang zaman ini membaca banyak kabar tentang negeri yang runtuh, perusahaan yang bangkrut, dan tokoh yang jatuh. Semua itu biasanya dibaca sebagai informasi tentang orang lain. Daftar di surah ini juga bercerita tentang orang lain, Ad, Tsamud, kaum Nuh, dan sebuah negeri. Lalu tiba-tiba kalimatnya berbalik dan bertanya kepada engkau. Kabar tentang orang lain belum selesai dibaca sampai pembaca bertanya apa artinya bagi dirinya sendiri. Kata "Tuhanmu" di ayat ini menghapus jarak antara kisah dan pembacanya.
  • Butir-butir sebelum ayat ini berasal dari lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim (53:36-37), dan ayat sesudahnya menyebut pemberi peringatan dari para pemberi peringatan yang terdahulu (53:56). Pesannya sangat tua. Di zaman yang menyukai hal baru, pesan tua mudah dianggap usang. Tetapi pertanyaan tentang nikmat mana yang diragukan sama segarnya bagi orang yang hidup ribuan tahun lalu dan bagi orang yang membacanya di layar ponsel hari ini.
  • Di 11:17 dan 32:23 Allah berkata "janganlah engkau ragu". Di ayat ini Dia bertanya nikmat mana yang engkau ragukan. Larangan menutup pintu keraguan, sedangkan pertanyaan mengajak pembaca memeriksa keraguannya sampai tuntas. Keduanya datang dari Allah. Orang yang sedang bergulat dengan keraguan tidak diusir oleh ayat ini. Orang itu diberi pertanyaan untuk dijawab dengan menelusuri kembali apa yang sudah diberikan kepadanya.