Ayat 53:59

أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ

Maka, apakah tuturan ini kalian herankan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِa-fa-min haadzaa l-hadiitsimaka, apakah tuturan ini
  2. تَعْجَبُونَta'jabuunakalian herankan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَفَمِنْa-fa-minmaka apakah dari
  2. هَٰذَاhaadzaaini
  3. الْحَدِيثِl-hadiitsituturan
  4. تَعْجَبُونَta'jabuunakalian heran

Inti bacaan

Mencatat satu pesan yang pernah terasa mengherankan, lalu menuliskan apa yang dikerjakan setelah rasa heran itu mereda.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ, a-fa-min haadzaa l-hadiitsi ta'jabuuna) yang berarti "maka, apakah tuturan ini kalian herankan?". Rangkaian (أَفَمِنْ هَٰذَا, a-fa-min haadzaa) hanya ada di ayat ini. Uraian di bawah memeriksa kata "tuturan", kata "herankan", dan perubahan sapaan sejak 53:55.

Kata (الْحَدِيثِ, l-hadiitsi) berakar ح-د-ث dan diterjemahkan "tuturan", seragam di 56:81, 68:44, 77:50, 7:185, 45:6, dan 39:23. Dengan kata tunjuk di depannya, kata ini membentuk rangkaian (هَٰذَا الْحَدِيثِ, haadzaa l-hadiitsi) yang hanya ada di empat ayat, yaitu 18:6, 53:59, 56:81, dan 68:44. Keempatnya membicarakan sikap terhadap tuturan itu: iman di 18:6, (إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ, in lam yu'minuu bi-haadzaa l-hadiitsi) yang berarti "jika mereka tidak beriman kepada tuturan ini", meremehkan di 56:81, (أَفَبِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ, a-fa-bi-haadzaa l-hadiitsi antum mud-hinuuna) yang berarti "maka, apakah dengan tuturan ini kalian meremehkan?", mendustakan di 68:44, (يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ, yukadzdzibu bi-haadzaa l-hadiitsi) yang berarti "mendustakan tuturan ini", dan heran di ayat ini. Ayat 56:81 dan 53:59 berbentuk pertanyaan yang dibuka dengan awalan (أَفَ, a-fa) dan ditujukan kepada orang kedua jamak, tetapi 56:81 memakai (بِ, bi) yang berarti "dengan" di depan tuturan itu, sedangkan 53:59 memakai (مِنْ, min).

Kata "tuturan" tidak dipakai sebagai nama diri. Di 39:23, (نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا, nazzala ahsana l-hadiitsi kitaaban) yang berarti "menurunkan sebaik-baik tuturan, sebuah Kitab", Kitab itu sendiri disebut tuturan. Di 77:50, (فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ, fa-bi-ayyi hadiitsin ba'dahu yu'minuuna) yang berarti "maka dengan tuturan apa setelahnya mereka akan beriman?", kata yang sama dipakai tanpa kata tunjuk.

Kata (تَعْجَبُونَ, ta'jabuuna) berakar ع-ج-ب dan ditandai sebagai kata kerja tidak lampau orang kedua jamak. Kata kerja ini, dengan lema yang sama, ada di delapan ayat: 7:63, 7:69, 11:73, 13:5, 37:12, 38:4, 50:2, dan 53:59. Empat di antaranya mengaitkan keheranan dengan datangnya pemberi peringatan. Di 7:63 dan 7:69, (أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ, a-wa-'ajibtum an jaa'akum dzikrun min rabbikum) yang berarti "apakah kalian heran bahwa telah datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian", keheranan itu dilanjutkan dengan "kepada seorang laki-laki dari golongan kalian". Di 38:4, (وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, wa-'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhum) yang berarti "dan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka", dan di 50:2 kata-kata yang sama muncul setelah (بَلْ, bal). Keempatnya memakai (أَنْ, an) yang berarti "bahwa" atau "karena", sehingga keheranan itu tertuju pada sebuah kedatangan.

Ayat 53:59 berbeda dari keempat ayat itu. Sasaran keheranan di sini (هَٰذَا الْحَدِيثِ, haadzaa l-hadiitsi) tidak berupa kedatangan, dan kata kerjanya diikuti (مِنْ, min). Dari delapan ayat tadi, hanya 11:73, (أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ, a-ta'jabiina min amri llaahi) yang berarti "apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah?", dan 53:59 yang menyertai kata kerjanya dengan (مِنْ, min) langsung. Di 11:73 keheranan tertuju pada ketetapan Allah, dan di 53:59 pada tuturan.

Sapaan dalam ayat ini juga berubah. Di 53:55, (تَتَمَارَىٰ, tatamaaraa) dan (رَبِّكَ, rabbika) menyapa satu orang, ayat 53:56 sampai 53:58 tidak memuat sapaan, dan di 53:59 akhiran -uuna pada kata kerja menyapa banyak orang, sehingga terjemahannya "kalian".

Tafsiran

Ayat ini mengubah arah pembicaraan dari apa yang disampaikan menjadi tanggapan atas yang disampaikan. Tiga ayat sebelumnya menyebut pemberi peringatan, hari yang mendekat, dan ketiadaan penghilang selain Allah. Ayat 53:59 lalu bertanya tentang tanggapan terhadap tuturan itu, dalam bentuk pertanyaan seperti 53:55, tetapi kepada banyak orang, bukan kepada satu orang.

Keheranan di sini masuk ke deretan tanggapan terhadap peringatan yang sudah dikenal dari ayat lain. Ada heran pada kedatangan pemberi peringatan (7:63, 7:69, 38:4, 50:2), membantah peringatan (54:36), mendustakannya (54:23), dan menertawakan tanda-tanda (43:47) dan orang-orang beriman (83:29). Ayat 53:59 dan 53:60 menaruh dua di antaranya berurutan, yaitu heran lalu tertawa. Teks tidak menyatakan alasan keheranan itu, dan ayat ini tidak mengatakan apakah keheranan itu timbul dari ketidakpercayaan, dari rasa asing, atau dari alasan lain.

Frasa "tuturan ini" memiliki dua kemungkinan acuan yang tidak dipilih oleh teks. Frasa itu dapat menunjuk apa yang baru dibacakan, yaitu 53:56-58, dan dapat menunjuk seluruh Kitab yang disebut tuturan di 39:23. Kedua acuan itu tidak saling meniadakan karena tiga ayat tadi merupakan bagian dari Kitab. Ayat 56:81 memakai susunan pertanyaan yang sama untuk sikap lain, sehingga 53:59 terbaca sebagai salah satu dari sejumlah pertanyaan yang sejajar tentang cara tuturan itu diterima.

Renungan dan Hikmah

  • Heran terasa seperti keterlibatan, karena orang yang heran menaruh perhatian, bertanya dalam hati, dan mungkin membicarakannya dengan orang lain. Keheranan itu ditanyakan dalam firman Allah. Ayat-ayat lain menyebut tanggapan terhadap peringatan yang berbeda, yaitu membantah (54:36) dan mendustakan (54:23). Orang yang merasa dirinya baru heran dan belum menolak dapat membaca ayat ini sebagai penempatan keheranan dalam deretan tanggapan, sebab heran yang berlama-lama menunda tanggapan yang lain. Berapa lama keheranan boleh bertahan sebelum keheranan itu menjadi pilihan?
  • Di 7:63 dan 7:69 kaum merasa heran karena peringatan datang melalui seorang laki-laki dari golongan mereka sendiri. Kedekatan sumber ternyata dapat melahirkan keheranan, sebab yang dikenal sehari-hari terasa tidak mungkin membawa kabar penting. Orang yang menolak sebuah pesan karena penyampainya sama dengan dirinya sedang memakai alasan yang tercatat pada kaum-kaum itu, dan pembaca dapat mengenalinya pada dirinya sendiri karena alasan itu tertulis dalam Al-Qur'an.
  • Tuturan yang sama menimbulkan sikap yang berbeda pada pendengarnya: meremehkan di 56:81, mendustakan di 68:44, dan heran di 53:59. Pembaca dapat memeriksa sikap apa yang paling sering diambilnya ketika mendengar peringatan, dan mendapati bahwa tiap nama sikap itu punya tempat dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an menaruh tiap sikap itu di hadapan pertanyaan atau peringatan, dan tidak menyebut salah satunya sebagai sikap netral.
  • Pergantian sapaan dari engkau di 53:55 ke kalian di 53:59 membuat keheranan menjadi urusan bersama. Heran jarang berdiri sendirian, karena satu orang yang berkata "aneh juga" mengundang orang lain mengangguk. Ayat ini menaruh pertanyaan Allah di hadapan kerumunan itu, sehingga keheranan bersama tidak dapat berlindung di balik kenyataan bahwa banyak orang merasakannya.
  • Keheranan sering muncul di titik tempat sebuah kabar menabrak kebiasaan. Orang tidak heran pada kabar yang sudah cocok dengan jadwal hidupnya, sehingga rasa heran dapat dibaca sebagai petunjuk letak kebiasaan itu berdiri. Ayat ini mengajukan pertanyaan yang membuat pendengarnya menengok ke arah itu: kabar tentang pemberi peringatan, hari yang mendekat, dan batas pertolongan menabrak kebiasaan yang mana? Pembaca yang menjawab dengan jujur sering menemukan bahwa yang terusik adalah anggapan lama bahwa urusan besar masih punya banyak waktu.
  • Heran dapat menjadi awal penyelidikan. Anak yang heran melihat air mendidih bertanya mengapa permukaannya berbuih, dan ilmuwan yang heran pada hasil ukurannya memeriksa ulang alatnya. Dalam rangkaian 53:59-61, keheranan tidak berlanjut ke pertanyaan, karena ayat berikutnya langsung menyebut tertawa tanpa menangis. Rasa penasaran yang tidak diteruskan kehilangan gunanya dan tinggal menjadi hiasan sikap. Ayat 53:55 sudah bertanya tentang nikmat Tuhan yang diragukan, dan 53:59 menyusul dengan pertanyaan tentang keheranan. Dua pertanyaan itu bisa dipakai pembaca untuk menimbang apakah keheranannya sendiri pernah sampai pada pertanyaan yang sungguh dicari jawabannya.

Ayat 53:60

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ

dan kalian tertawa dan tidak menangis,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَwa-tadhakuuna wa-laa tabkuunadan kalian tertawa dan tidak menangis

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَتَضْحَكُونَwa-tadhakuunadan kalian tertawa
  2. وَلَاwa-laadan tidak pula
  3. تَبْكُونَtabkuunakalian menangis

Inti bacaan

Mencatat satu kabar berat yang akhir-akhir ini disambut dengan lelucon, lalu menuliskan apa yang sebenarnya dirasakan di baliknya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ, wa-tadhakuuna wa-laa tabkuuna) yang berarti "dan kalian tertawa dan tidak menangis". Uraian di bawah memeriksa kata sambung di awalnya, dua kata kerjanya, dan urutan keduanya dibandingkan dengan ayat lain yang memuat kedua akar itu.

Kata sambung (وَ, wa) di awal ayat mengaitkannya dengan 53:59. Karena itu tertawa dan tidak menangis berada dalam rangkaian yang sama dengan keheranan, dan terjemahan mempertahankan kata "dan" di awal serta tanda koma di akhir karena rangkaian itu berlanjut ke ayat sesudahnya.

Kata (تَضْحَكُونَ, tadhakuuna) berakar ض-ح-ك dan ditandai sebagai kata kerja tidak lampau orang kedua jamak. Akar ini dipakai di sepuluh ayat, yaitu 9:82, 11:71, 23:110, 27:19, 43:47, 53:43, 53:60, 80:39, 83:29, dan 83:34. Kata kerja yang persis sama ini hanya ada di 23:110 dan 53:60. Di 23:110, (وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ, wa-kuntum minhum tadhakuuna) yang berarti "dan kalian menertawakan mereka", kata kerjanya disertai (مِنْ, min) dan sasaran yang ditertawakan. Pola itu berulang di tiga ayat lain, yaitu 43:47, (إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ, idzaa hum minhaa yadhakuuna) yang berarti "seketika itu, mereka menertawakannya", lalu 83:29, (مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ, mina lladziina aamanuu yadhakuuna) yang berarti "menertawakan orang-orang yang beriman", dan 83:34, (مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ, mina l-kuffaari yadhakuuna). Di 53:60 tidak ada (مِنْ, min) dan tidak ada sasaran, sehingga terjemahan memilih "tertawa" tanpa objek. Kata "menertawakan" tidak dipakai karena Arab ayat ini tidak memuat objeknya. Namun (مِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ, min haadzaa l-hadiitsi) di 53:59 berdiri persis di depan kedua kata kerja ini, dan teks tidak mengulangnya.

Kata (تَبْكُونَ, tabkuuna) berakar ب-ك-ي dan dipakai di tujuh ayat: 9:82, 12:16, 17:109, 19:58, 44:29, 53:43, dan 53:60. Rangkaian (وَلَا تَبْكُونَ, wa-laa tabkuuna) hanya ada di 53:60. Tangis dinegasikan hanya dua kali dalam seluruh korpus, yaitu di sini dan di 44:29, (فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ, fa-maa bakat 'alayhimu s-samaa'u wa-l-ardhu) yang berarti "maka, langit dan bumi tidak menangisi mereka". Di dua ayat lain tangis digandengkan dengan sujud ketika tuturan dibacakan. Di 17:109, (يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ, yakhirruuna lil-adzqaani yabkuuna) yang berarti "mereka menyungkurkan wajah seraya menangis", dan di 19:58, (خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا, kharruu sujjadan wa-bukiyyan) yang berarti "mereka tersungkur bersujud sambil menangis", tangis hadir sebagai tanggapan ketika ayat-ayat dibacakan kepada mereka.

Kedua akar bertemu di tiga ayat, dan urutannya sama di ketiganya, yakni tertawa lebih dulu lalu menangis. Di 9:82, (فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا, fal-yadhakuu qaliilan wal-yabkuu katsiiran) yang berarti "maka biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak", keduanya perintah. Di 53:43, (أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ, adhaka wa-abkaa) yang berarti "membuat tertawa dan membuat menangis", subjeknya Allah dan bentuk kata kerjanya menyebabkan. Di 53:60 subjeknya orang-orang yang disapa, kata kerjanya bentuk dasar, dan kata kerja kedua dinegasikan.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi rangkaian tanggapan yang dibuka di 53:59. Ayat itu menyebut heran, dan ayat ini menyebut tertawa tanpa menangis. Ayat sesudahnya, 53:61, menyebut kelengahan, dan 53:62 memerintahkan sujud. Dengan begitu 53:59-62 terbaca sebagai satu urutan tanggapan yang berakhir pada perintah, dan 53:60 berada di tengahnya.

Ayat ini melaporkan satu perbuatan yang ada dan satu perbuatan yang tidak ada. Tertawa disebut sebagai sesuatu yang dilakukan, dan menangis disebut sebagai sesuatu yang tidak dilakukan, dengan kata sambung yang sama di depan keduanya. Teks tidak menyebut apa yang semestinya ditangisi. Isinya dapat dicari dari tiga ayat sebelum keheranan: pemberi peringatan (53:56), hari yang mendekat (53:57), dan ketiadaan penghilang selain Allah (53:58). Teks juga tidak memerintahkan menangis di ayat ini. Ayat ini menggambarkan, dan perintah muncul di ayat berikutnya dalam bentuk sujud.

Surah ini sudah menyebut kedua kemampuan itu di 53:43, ketika Allah dinyatakan sebagai yang membuat tertawa dan membuat menangis. Dengan 53:43 di belakang, 53:60 terbaca sebagai gambaran orang yang memiliki kedua kemampuan itu dan memakai yang satu saja. Ayat ini tidak menyatakan sebab pilihan itu, dan tidak menyatakan bahwa tertawa itu sendiri tercela. Ayat ini mencatat tertawa yang datang bersama ketiadaan tangis ketika tuturan tentang hari yang mendekat dibacakan.

Renungan dan Hikmah

  • Tertawa sering menjadi cara paling cepat untuk menjaga jarak dari kabar yang tidak enak. Ayat ini menggambarkan tertawa yang datang sesudah heran dan tidak disusul tangis, sehingga orang yang pernah menertawakan pembicaraan serius karena canggung dapat bertanya apakah tawanya meredakan sesuatu atau menunda pertemuan dengan isinya. Allah tidak menyebut tertawa itu salah dalam dirinya, dan mencatat letaknya, yaitu tempat yang semestinya terisi lain.
  • Surah ini menyebut di 53:43 bahwa Allah yang membuat tertawa dan membuat menangis, sehingga keduanya dititipkan, tidak diciptakan oleh manusia sendiri. Orang yang merasa tidak mampu menangis atas apa pun, setelah bertahun-tahun menahannya, mendapati bahwa kemampuan itu dinyatakan datang dari Allah dan dapat dibicarakan dengan-Nya. Kekeringan itu tidak dituduh sebagai kejahatan, dan ayat ini mencatatnya sebagai keadaan yang terlihat dari luar.
  • Di 17:109 dan 19:58 tangis berjalan bersama sujud ketika ayat-ayat dibacakan. Pembaca yang mencocokkan keduanya dengan 53:60-62 melihat dua tanggapan yang saling menyusun: tangis dan sujud di sana, tawa dan lengah di sini. Perbedaan antara kedua kelompok itu terlihat dari tubuh sebelum terdengar dari kata-kata, dan Allah menggambarkannya lewat gerak yang dapat diamati siapa saja. Gerak mana yang paling dekat dengan kebiasaan pembaca setelah mendengar sesuatu yang berat?
  • Di empat ayat lain kata kerja untuk tertawa disertai sasaran yang ditertawakan, yaitu orang-orang beriman (83:29), orang-orang kufar (83:34), tanda-tanda (43:47), dan mereka yang diejek (23:110). Ayat ini menyebut tertawa tanpa sasaran, dan pembaca bebas bertanya siapa atau apa yang selama ini ditertawakannya tanpa disadari. Pertanyaan itu tidak menuduh. Tawa yang tak bersasaran pun disebut di ayat ini, sehingga pembaca dapat menimbang bahwa tawa seperti itu tidak sepele.
  • Tawa gampang menular di ruang yang ramai, sedangkan tangis biasanya datang ketika orang sendirian. Ayat ini menyapa kalian dalam bentuk jamak. Sapaan itu mengajak pembaca membayangkan tawa bersama, dan dalam gambaran itu tangis yang tidak ada berarti tidak ada yang memulainya. Dalam rombongan yang saling menertawakan hal yang sama, tidak ada satu orang pun yang merasa harus menjadi yang pertama berhenti. Pembaca dapat menimbang apa yang akan terjadi pada pikirannya bila ia sendirian dengan kabar yang sama, tanpa teman tertawa di sekelilingnya.
  • Tangis sering menjadi tanda bahwa sebuah kabar sudah sampai ke bagian yang paling dalam, dan tidak adanya tangis tidak selalu berarti kabar itu belum didengar. Ada orang yang menyimak sampai habis, mengangguk, bahkan mencatat, lalu pulang dengan wajah yang sama seperti ketika datang. Ayat ini melaporkan keadaan semacam itu tanpa menyebut siapa yang bersalah dan tanpa menghitung berapa kali kabar harus diulang. Pembaca yang pernah mendengar kabar penting dengan telinga yang rapi tetapi dada yang tenang dapat mengenali jarak antara mendengar dan sampai.