أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ
Maka, apakah tuturan ini kalian herankan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِa-fa-min haadzaa l-hadiitsimaka, apakah tuturan ini
- تَعْجَبُونَta'jabuunakalian herankan
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَفَمِنْa-fa-minmaka apakah dari
- هَٰذَاhaadzaaini
- الْحَدِيثِl-hadiitsiperkataan
- تَعْجَبُونَta'jabuunakalian heran
Inti bacaan
Pertanyaan konfrontatif: 'apakah hadits ini kau herankan?', tantangan terhadap sikap heran/skeptis yang tidak disertai pertimbangan serius terhadap isi pesan yang disampaikan.
Tafsiran
Ayat ini menegur keheranan mereka terhadap wahyu, alih-alih merenungkan kebenarannya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menegur herannya, bukan tidak tahunya. Bukan belum dengar. Sudah dengar lalu heran.
- Yang ditegur heran tanpa merenung. Bukan bertanya. Terkejut lalu berhenti.
- Tiga teguran Allah susun sebelum perintah. Heran. Tertawa. Lengah. Lalu sujudlah.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain/sebagian penerjemah menerjemahkan hadiith di sini sbg 'kisah/berita/pemberitaan/narasi', terjemahan ini mempertahankan transliterasi 'hadits' scr sengaja. Mempertahankan 'hadits' (bukan menerjemahkannya jadi 'kisah/berita') sengaja membuat pembaca berhenti sejenak, sebab kata yg sama, dipakai Qur'an utk DIRINYA SENDIRI, kini lazim dipahami sbg korpus TERPISAH dari Qur'an. ayat semacam ini TIDAK bisa dibaca sbg putusan hukum atas kewenangan riwayat Nabi, ia hanya mencatat bahwa PENAMAAN korpus itu 'hadiith' bukan berasal dari pemakaian Qur'ani sendiri. Kewenangan riwayat itu sendiri di luar cakupan pilihan-kata ini. Bagian kelompok 'haadhaa l-hadiith' = Qur'an (dossier).