Ayat 53:60
وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ
dan kalian tertawa dan tidak menangis,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَwa-tadhakuuna wa-laa tabkuunadan kalian tertawa dan tidak menangis
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَتَضْحَكُونَwa-tadhakuunadan kalian tertawa
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تَبْكُونَtabkuunakalian menangis
Inti bacaan
Mencatat satu kabar berat yang akhir-akhir ini disambut dengan lelucon, lalu menuliskan apa yang sebenarnya dirasakan di baliknya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ, wa-tadhakuuna wa-laa tabkuuna) yang berarti "dan kalian tertawa dan tidak menangis". Uraian di bawah memeriksa kata sambung di awalnya, dua kata kerjanya, dan urutan keduanya dibandingkan dengan ayat lain yang memuat kedua akar itu.
Kata sambung (وَ, wa) di awal ayat mengaitkannya dengan 53:59. Karena itu tertawa dan tidak menangis berada dalam rangkaian yang sama dengan keheranan, dan terjemahan mempertahankan kata "dan" di awal serta tanda koma di akhir karena rangkaian itu berlanjut ke ayat sesudahnya.
Kata (تَضْحَكُونَ, tadhakuuna) berakar ض-ح-ك dan ditandai sebagai kata kerja tidak lampau orang kedua jamak. Akar ini dipakai di sepuluh ayat, yaitu 9:82, 11:71, 23:110, 27:19, 43:47, 53:43, 53:60, 80:39, 83:29, dan 83:34. Kata kerja yang persis sama ini hanya ada di 23:110 dan 53:60. Di 23:110, (وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ, wa-kuntum minhum tadhakuuna) yang berarti "dan kalian menertawakan mereka", kata kerjanya disertai (مِنْ, min) dan sasaran yang ditertawakan. Pola itu berulang di tiga ayat lain, yaitu 43:47, (إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ, idzaa hum minhaa yadhakuuna) yang berarti "seketika itu, mereka menertawakannya", lalu 83:29, (مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ, mina lladziina aamanuu yadhakuuna) yang berarti "menertawakan orang-orang yang beriman", dan 83:34, (مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ, mina l-kuffaari yadhakuuna). Di 53:60 tidak ada (مِنْ, min) dan tidak ada sasaran, sehingga terjemahan memilih "tertawa" tanpa objek. Kata "menertawakan" tidak dipakai karena Arab ayat ini tidak memuat objeknya. Namun (مِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ, min haadzaa l-hadiitsi) di 53:59 berdiri persis di depan kedua kata kerja ini, dan teks tidak mengulangnya.
Kata (تَبْكُونَ, tabkuuna) berakar ب-ك-ي dan dipakai di tujuh ayat: 9:82, 12:16, 17:109, 19:58, 44:29, 53:43, dan 53:60. Rangkaian (وَلَا تَبْكُونَ, wa-laa tabkuuna) hanya ada di 53:60. Tangis dinegasikan hanya dua kali dalam seluruh korpus, yaitu di sini dan di 44:29, (فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ, fa-maa bakat 'alayhimu s-samaa'u wa-l-ardhu) yang berarti "maka, langit dan bumi tidak menangisi mereka". Di dua ayat lain tangis digandengkan dengan sujud ketika tuturan dibacakan. Di 17:109, (يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ, yakhirruuna lil-adzqaani yabkuuna) yang berarti "mereka menyungkurkan wajah seraya menangis", dan di 19:58, (خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا, kharruu sujjadan wa-bukiyyan) yang berarti "mereka tersungkur bersujud sambil menangis", tangis hadir sebagai tanggapan ketika ayat-ayat dibacakan kepada mereka.
Kedua akar bertemu di tiga ayat, dan urutannya sama di ketiganya, yakni tertawa lebih dulu lalu menangis. Di 9:82, (فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا, fal-yadhakuu qaliilan wal-yabkuu katsiiran) yang berarti "maka biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak", keduanya perintah. Di 53:43, (أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ, adhaka wa-abkaa) yang berarti "membuat tertawa dan membuat menangis", subjeknya Allah dan bentuk kata kerjanya menyebabkan. Di 53:60 subjeknya orang-orang yang disapa, kata kerjanya bentuk dasar, dan kata kerja kedua dinegasikan.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi rangkaian tanggapan yang dibuka di 53:59. Ayat itu menyebut heran, dan ayat ini menyebut tertawa tanpa menangis. Ayat sesudahnya, 53:61, menyebut kelengahan, dan 53:62 memerintahkan sujud. Dengan begitu 53:59-62 terbaca sebagai satu urutan tanggapan yang berakhir pada perintah, dan 53:60 berada di tengahnya.
Ayat ini melaporkan satu perbuatan yang ada dan satu perbuatan yang tidak ada. Tertawa disebut sebagai sesuatu yang dilakukan, dan menangis disebut sebagai sesuatu yang tidak dilakukan, dengan kata sambung yang sama di depan keduanya. Teks tidak menyebut apa yang semestinya ditangisi. Isinya dapat dicari dari tiga ayat sebelum keheranan: pemberi peringatan (53:56), hari yang mendekat (53:57), dan ketiadaan penghilang selain Allah (53:58). Teks juga tidak memerintahkan menangis di ayat ini. Ayat ini menggambarkan, dan perintah muncul di ayat berikutnya dalam bentuk sujud.
Surah ini sudah menyebut kedua kemampuan itu di 53:43, ketika Allah dinyatakan sebagai yang membuat tertawa dan membuat menangis. Dengan 53:43 di belakang, 53:60 terbaca sebagai gambaran orang yang memiliki kedua kemampuan itu dan memakai yang satu saja. Ayat ini tidak menyatakan sebab pilihan itu, dan tidak menyatakan bahwa tertawa itu sendiri tercela. Ayat ini mencatat tertawa yang datang bersama ketiadaan tangis ketika tuturan tentang hari yang mendekat dibacakan.
Renungan dan Hikmah
- Tertawa sering menjadi cara paling cepat untuk menjaga jarak dari kabar yang tidak enak. Ayat ini menggambarkan tertawa yang datang sesudah heran dan tidak disusul tangis, sehingga orang yang pernah menertawakan pembicaraan serius karena canggung dapat bertanya apakah tawanya meredakan sesuatu atau menunda pertemuan dengan isinya. Allah tidak menyebut tertawa itu salah dalam dirinya, dan mencatat letaknya, yaitu tempat yang semestinya terisi lain.
- Surah ini menyebut di 53:43 bahwa Allah yang membuat tertawa dan membuat menangis, sehingga keduanya dititipkan, tidak diciptakan oleh manusia sendiri. Orang yang merasa tidak mampu menangis atas apa pun, setelah bertahun-tahun menahannya, mendapati bahwa kemampuan itu dinyatakan datang dari Allah dan dapat dibicarakan dengan-Nya. Kekeringan itu tidak dituduh sebagai kejahatan, dan ayat ini mencatatnya sebagai keadaan yang terlihat dari luar.
- Di 17:109 dan 19:58 tangis berjalan bersama sujud ketika ayat-ayat dibacakan. Pembaca yang mencocokkan keduanya dengan 53:60-62 melihat dua tanggapan yang saling menyusun: tangis dan sujud di sana, tawa dan lengah di sini. Perbedaan antara kedua kelompok itu terlihat dari tubuh sebelum terdengar dari kata-kata, dan Allah menggambarkannya lewat gerak yang dapat diamati siapa saja. Gerak mana yang paling dekat dengan kebiasaan pembaca setelah mendengar sesuatu yang berat?
- Di empat ayat lain kata kerja untuk tertawa disertai sasaran yang ditertawakan, yaitu orang-orang beriman (83:29), orang-orang kufar (83:34), tanda-tanda (43:47), dan mereka yang diejek (23:110). Ayat ini menyebut tertawa tanpa sasaran, dan pembaca bebas bertanya siapa atau apa yang selama ini ditertawakannya tanpa disadari. Pertanyaan itu tidak menuduh. Tawa yang tak bersasaran pun disebut di ayat ini, sehingga pembaca dapat menimbang bahwa tawa seperti itu tidak sepele.
- Tawa gampang menular di ruang yang ramai, sedangkan tangis biasanya datang ketika orang sendirian. Ayat ini menyapa kalian dalam bentuk jamak. Sapaan itu mengajak pembaca membayangkan tawa bersama, dan dalam gambaran itu tangis yang tidak ada berarti tidak ada yang memulainya. Dalam rombongan yang saling menertawakan hal yang sama, tidak ada satu orang pun yang merasa harus menjadi yang pertama berhenti. Pembaca dapat menimbang apa yang akan terjadi pada pikirannya bila ia sendirian dengan kabar yang sama, tanpa teman tertawa di sekelilingnya.
- Tangis sering menjadi tanda bahwa sebuah kabar sudah sampai ke bagian yang paling dalam, dan tidak adanya tangis tidak selalu berarti kabar itu belum didengar. Ada orang yang menyimak sampai habis, mengangguk, bahkan mencatat, lalu pulang dengan wajah yang sama seperti ketika datang. Ayat ini melaporkan keadaan semacam itu tanpa menyebut siapa yang bersalah dan tanpa menghitung berapa kali kabar harus diulang. Pembaca yang pernah mendengar kabar penting dengan telinga yang rapi tetapi dada yang tenang dapat mengenali jarak antara mendengar dan sampai.
Ayat 53:61
وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ
sedang kalian lengah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنْتُمْ سَامِدُونَwa-antum saamiduunasedang kalian lengah
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
- سَامِدُونَsaamiduunaorang-orang yang lengah
Inti bacaan
Menuliskan satu peringatan yang pernah didengar lalu diabaikan, beserta tanda-tanda yang muncul pada hari itu ketika perhatian tidak ada.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ, wa-antum saamiduuna) yang berarti "sedang kalian lengah". Rangkaian ini hanya terjadi di ayat ini. Uraian di bawah memeriksa kata sambung di awalnya, kata sapaannya, dan kata terakhirnya yang akarnya tidak ditemukan di tempat lain.
Kata sambung (وَ, wa) di awal ayat ditandai morfologi korpus sebagai kata sambung keadaan, sehingga ayat ini menerangkan keadaan orang-orang yang disapa pada dua ayat sebelumnya, dan terjemahan memakai kata "sedang". Susunan yang sama terlihat di 2:51, (وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ, wa-antum zhaalimuuna) yang berarti "sedangkan kalian adalah orang-orang yang zalim", dan di 21:1, (وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ, wa-hum fii ghaflatin mu'ridhuuna) yang berarti "sedang mereka dalam kelalaian, berpaling". Di ketiga tempat, kata sambung keadaan membawa keterangan tentang pelaku yang sudah disebut sebelumnya.
Kata (أَنْتُمْ, antum) adalah kata ganti orang kedua jamak dan berarti "kalian". Di 53:59 dan 53:60 sapaan kepada pendengar terbawa oleh akhiran kata kerja, yaitu (تَعْجَبُونَ, ta'jabuuna) yang berarti "kalian heran", (تَضْحَكُونَ, tadhakuuna) yang berarti "kalian tertawa", dan (تَبْكُونَ, tabkuuna) yang berarti "kalian menangis". Di ayat ini kata ganti itu ditulis sendiri di depan, sehingga sapaan kepada pendengar diulang dengan kata gantinya.
Kata (سَامِدُونَ, saamiduuna) berakar س-م-د dan ditandai sebagai partisip aktif jamak maskulin. Akar ini hanya terjadi satu kali dalam seluruh korpus, yaitu di ayat ini. Karena itu arti kata ini tidak dapat ditimbang dengan membandingkan pemakaian lain, dan tidak ada ayat lain yang memberi jawaban tentang sifatnya. Terjemahan "lengah" bertumpu pada letak kata itu. Kata itu menyusul tiga tanggapan, yaitu heran di 53:59, tertawa dan tidak menangis di 53:60, lalu menjadi keterangan keadaan bagi ketiganya. Kata "lengah" adalah pembacaan penerjemah atas letak itu. Ayat ini tidak memuat kata lain yang menyebut sebab keadaan tersebut, sehingga terjemahan menyebut keadaannya saja, yaitu tidak menaruh perhatian, dan membiarkan sebabnya tidak dinyatakan. Pembacaan lain atas kata ini terbuka, dan terjemahan lama yang menambahkan unsur kesombongan dilepas karena tidak ada kata lain di ayat ini yang menopangnya.
Kata Indonesia yang sama juga dipakai proyek ini untuk akar غ-ف-ل, misalnya di 2:149 bagi (وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ, wa-maa llaahu bi-ghaafilin) yang berarti "dan Allah tidak lengah". Bedanya, akar غ-ف-ل muncul di tiga puluh lima ayat dan punya pembanding, sedangkan akar س-م-د berdiri sendiri. Karena itu terjemahan ayat ini tidak menyatakan bahwa kedua akar bermakna sama, dan menyatakan keadaan yang terbaca dari letaknya.
Bentuk kata ini juga patut diperhatikan. Tiga kata di dua ayat sebelumnya berupa kata kerja tidak lampau, yang menggambarkan perbuatan yang sedang berlangsung. Kata terakhir ini berupa partisip, yang menyebut keadaan seseorang tanpa menyebut perbuatan tertentu. Terjemahan "sedang kalian lengah" mengikuti perbedaan itu dengan menyebut keadaan, dan tidak mengubahnya menjadi kata kerja seperti "kalian melengahkan". Kedekatan dengan susunan 21:1 patut dicatat, karena ayat itu juga menyebut perhitungan yang telah dekat lalu keadaan manusia yang tidak menaruh perhatian dengan susunan yang sama, tetapi dengan akar yang berbeda.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian tanggapan yang dibuka di 53:59. Tiga tanggapan disebut berurutan, yaitu heran (53:59), tertawa tanpa menangis (53:60), dan keadaan lengah (53:61). Dua yang pertama berupa perbuatan yang dapat dilihat dari luar, dan yang ketiga berupa keadaan yang tidak tampak sebagai gerak. Susunan itu dapat dibaca sebagai nama bagi keadaan di balik kedua perbuatan sebelumnya. Pembacaan ini penalaran dari urutan teks, dan ayat tidak menyatakannya.
Letak ayat ini sesudah 53:56-58 membuat susunannya bermakna. Pemberi peringatan telah disebut (53:56), hari yang mendekat telah dinyatakan (53:57), dan ketiadaan penghilang selain Allah telah ditegaskan (53:58). Ayat 21:1 menyusun hal serupa dalam satu kalimat: perhitungan telah dekat kepada manusia, sedang mereka dalam kelalaian. Di An-Najm, kedekatan itu dan keadaan pendengarnya dipisah ke dalam beberapa ayat, tetapi keduanya tetap berhadapan.
Ayat 7:205 menunjukkan sisi lain dari keadaan serupa. Pendengar diperintahkan mengingat Tuhannya pagi dan petang, lalu dilarang termasuk golongan yang lalai. Ayat sesudahnya, 7:206, menyebut orang-orang di sisi Tuhan yang bersujud kepada-Nya. Dengan pasangan itu, keadaan lengah dalam Al-Qur'an dilawankan dengan mengingat, dan tidak dilawankan dengan pengetahuan. Ayat 53:61 sendiri tidak menyatakan lawannya. Lawan itu muncul pada ayat berikutnya dalam bentuk perintah sujud.
Teks ayat ini juga tidak menyatakan apa yang dilengahkan dan tidak menyatakan sebab kelengahan. Pembaca tidak diberi cerita tentang pelakunya, hanya diberi nama bagi keadaannya. Karena akar س-م-د berdiri sendiri, tidak ada ayat lain yang dapat dipakai untuk mempersempit maknanya, dan ayat ini tetap harus dibaca sebagai sapaan pendek yang bersambung dengan perintah 53:62.
Renungan dan Hikmah
- Tiga kata kerja disusul satu partisip berarti dua tanggapan pertama dapat dilihat dari luar, sedangkan yang ketiga tidak tampak sebagai gerak. Keadaan tidak memperhatikan dapat dibaca sebagai keadaan yang jarang terasa selagi berlangsung, dan pembacaan ini penalaran dari sifat keadaan itu, yang tidak dinyatakan ayat. Dengan pembacaan itu, Allah menyebut keadaan tersebut dengan namanya di ayat ini, sehingga pembaca dapat mengenali sesuatu yang biasanya baru terlihat sesudah lewat. Kapan terakhir kali pembaca mendapati dirinya lengah sesudah peringatan itu selesai dibacakan?
- Ayat 21:1 menyatakan bahwa perhitungan telah dekat kepada manusia sedangkan mereka dalam kelalaian. Pasangan itu menunjukkan bahwa kedekatan hari tidak otomatis menghapus kelengahan, dan ayat itu menyebut keduanya berdampingan. Orang yang menunggu tanda yang lebih keras sebelum menaruh perhatian dapat mencocokkan dirinya dengan susunan ini. Kedekatan sudah dinyatakan di 53:57, dan keadaan yang menyertainya disebut di ayat ini.
- Kata ganti kalian ditulis sendiri di depan kata terakhir ini, padahal sapaan sudah terbawa oleh akhiran kata kerja di dua ayat sebelumnya. Penyebutan ulang itu membuat teguran Allah tidak dapat dialihkan ke pihak lain di sekitar pembaca. Pembaca yang menempatkan orang lain sebagai yang tertawa dan lengah mendapati sapaan itu kembali kepadanya. Apakah kata kalian di ayat ini terdengar tertuju kepada orang lain atau kepada pembaca sendiri?
- Ayat 7:205 memuat larangan Allah agar tidak termasuk golongan yang lalai, tepat sesudah perintah mengingat Tuhan pagi dan petang. Ayat 53:61 tidak menyebut lawan kelengahan, dan 53:62 menyebutnya lewat perintah sujud. Dua ayat itu dapat dibaca sebagai pasangan yang menaruh jawaban atas kelengahan pada tindakan yang dapat dikerjakan hari ini. Orang yang menunggu dirinya paham sepenuhnya sebelum bergerak akan mendapati bahwa ayat ini tidak menawarkan jalan itu.
- Ayat ini tidak menyatakan mengapa kalian lengah, dan tidak menyatakan apa yang dilengahkan. Sebabnya tidak ada di teks. Dari ketiadaan itu pembaca dapat menimbang, sebagai penalaran, bahwa teguran ini tidak disyaratkan menunggu sebab ditemukan. Pembaca yang sering mencari sebab bagi kelengahannya, seperti kesibukan atau kelelahan, dapat bertanya apakah sebab itu sudah ditemukan dan sudah cukup untuk menunda. Keadaan lengah disebut apa adanya, dan perintah yang menjawabnya muncul pada ayat sesudahnya.
- Ayat ini dibuka dengan kata sambung yang menyatu pada (وَأَنْتُمْ, wa-antum) dan diterjemahkan "sedang", sehingga kelengahan digambarkan berlangsung pada saat yang sama dengan hari yang mendekat di 53:57. Dua hal berjalan bersamaan: jarak ke hari itu mengecil, dan perhatian pendengarnya ikut mengecil. Pengemudi yang mengantuk di jalan lurus mengalami hal serupa, karena tikungan terus mendekat sementara matanya makin tidak menangkapnya. Gambaran ini membantu pembaca mengenali bahwa kelengahan tidak berhenti menunggu hari itu tiba, tetapi terus menumpuk selama hari itu mendekat.
Ayat 53:62
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩
Maka, tunduklah kepada Allah dan mengabdilah!
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَاسْجُدُوا لِلَّهِfa-sjuduu li-llaahimaka, tunduklah kepada Allah
- وَاعْبُدُواwa-'buduudan mengabdilah
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَاسْجُدُواfa-sjuduumaka tunduklah kalian
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- وَاعْبُدُواwa-'buduudan mengabdilah kalian
Inti bacaan
Memikirkan satu waktu untuk bersujud kepada Allah tanpa sambil mengerjakan hal lain.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا, fa-sjuduu li-llaahi wa-'buduu) yang berarti "maka, tunduklah kepada Allah dan mengabdilah". Rangkaian ini hanya terjadi di ayat ini. Uraian di bawah memeriksa kata sambung di awalnya, kedua kata kerja perintah, dan tempat kata penerima perintah itu berdiri.
Partikel (فَ, fa) di awal ditandai morfologi korpus sebagai partikel kelanjutan, dan terjemahan mempertahankannya sebagai "maka" yang disusul koma. Letaknya sesudah ayat-ayat tentang heran di 53:59, tertawa tanpa menangis di 53:60, dan lengah di 53:61 mengundang pembacaan bahwa perintah ini melanjutkan ketiganya. Pembacaan itu penalaran dari urutan ayat, dan label korpus hanya mencatat jenis partikelnya.
Kata (فَاسْجُدُوا, fa-sjuduu) berakar س-ج-د dan ditandai sebagai kata kerja perintah orang kedua jamak. Bentuk perintah jamak ini terjadi di sembilan ayat, yaitu 2:34, 7:11, 17:61, 18:50, 20:116, 22:77, 25:60, 41:37, dan 53:62. Lima ayat pertama memuat perintah sujud kepada Adam, sedangkan empat ayat sisanya memuat perintah sujud kepada Allah atau Ar-Rahman. Di 25:60, (اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ, sjuduu li-r-rahmaani) yang berarti "tunduklah kalian kepada Ar-Rahman", perintah itu dijawab dengan pertanyaan dan "menambah mereka menjauh". Di 41:37, (وَاسْجُدُوا لِلَّهِ, wa-sjuduu li-llaahi) yang berarti "dan tunduklah kepada Allah", perintah itu didahului larangan bersujud kepada matahari dan bulan. Di 53:62 perintah berdiri tanpa larangan pendahulu dan tanpa jawaban.
Kata (لِلَّهِ, li-llaahi) terdiri dari awalan yang menunjuk penerima dan nama Allah yang menyatu di belakangnya, sehingga terjemahan "kepada Allah" dipertahankan seperti di 41:37 dan 22:18. Rangkaian awalan yang sama muncul di 13:15, (وَلِلَّهِ يَسْجُدُ, wa-li-llaahi yasjudu) yang berarti "dan kepada Allah tunduk", ketika kata kerja sujud dipakai untuk siapa pun di langit dan bumi. Pada 53:62, penerima sujud disebut lebih dulu daripada kata kerja kedua, sehingga arah kedua perintah terbaca dari satu kata ini.
Kata (وَاعْبُدُوا, wa-'buduu) berakar ع-ب-د dan juga berupa kata kerja perintah orang kedua jamak. Bentuk perintah jamak dari akar ini dipakai di tiga puluh satu ayat (2:21, 3:51, 4:36, 5:72, 5:117, 6:102, 7:59, 7:65, 7:73, 7:85, 10:3, 11:50, 11:61, 11:84, 16:36, 19:36, 21:25, 21:92, 22:77, 23:23, 23:32, 27:45, 29:16, 29:17, 29:36, 29:56, 36:61, 39:15, 43:64, 53:62, 71:3), dan dua di antaranya memuat perintah sujud bersama perintah ini, yaitu 22:77 dan 53:62. Di 22:77, (وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ, wa-sjuduu wa-'buduu rabbakum) yang berarti "dan tunduklah, dan mengabdilah kepada Tuhan kalian", urutannya sama dengan ayat ini, yaitu sujud lebih dulu lalu penghambaan. Bedanya, di 22:77 kata kerja ibadah disusul kata benda penerimanya, sedangkan di 53:62 ayat berhenti pada kata kerja itu. Penerimanya tidak diulang dan harus dibawa dari (لِلَّهِ, li-llaahi) di perintah pertama.
Terjemahan "mengabdilah" dipertahankan dari bentuk yang dipakai proyek ini untuk perintah ibadah jamak di ayat-ayat lain, misalnya 22:77 dan 11:61. Tidak ada kata tambahan dalam kurung di terjemahan, karena penerimanya tidak tertulis di Arabnya dan terjemahan tidak boleh mengisi sesuatu yang tidak tertulis. Pembaca yang memerlukan penerimanya cukup membawa kata "Allah" dari perintah pertama, dan itu merupakan pembacaan yang tidak tertulis di teks.
Tafsiran
Ayat ini menutup An-Najm, dan penutupnya berupa dua perintah. Seluruh surah sebelumnya menyampaikan kabar, hitungan, dan peringatan, lalu ayat terakhir menyuruh bergerak. Perubahan dari uraian ke perintah itu terjadi tepat setelah tiga ayat tentang tanggapan, yaitu heran, tertawa tanpa menangis, dan lengah. Kata sambung "maka" mengikat perintah ini pada ketiganya, sehingga perintah sujud terbaca sebagai jawaban atas keadaan yang baru saja disebut dan tidak muncul sebagai tambahan terpisah.
Surah ini dibuka di 53:1 dengan sumpah demi bintang yang jatuh, dan ditutup di 53:62 dengan perintah sujud. Ayat 55:6 memperlihatkan bahwa bintang dan sujud disebut bersama di tempat lain, ketika bintang dan pepohonan disebut bersujud. Ayat 22:18 dan 13:15 memperluasnya sampai siapa pun di langit dan di bumi, dan 13:15 menambahkan bahwa itu terjadi dengan sukarela atau terpaksa. Rangkaian ini membuat perintah di akhir surah tidak terbaca sebagai perbuatan yang asing, karena Al-Qur'an sendiri menyebut sujud sebagai sikap seluruh ciptaan. Pembacaan ini penalaran dari kemunculan bersama, dan ayat tidak menyatakannya.
Dua surah lain ditutup dengan kata kerja sujud. Ayat 7:206 berbunyi bahwa mereka yang ada di sisi Tuhan bersujud kepada-Nya, dan ayat 96:19 memerintahkan, "tunduklah serta mendekatlah". Di antara ketiga ayat penutup itu, perintah sujud berbentuk jamak yang digandengkan dengan perintah ibadah terdapat di 53:62 saja.
Ayat ini tidak merinci caranya, tidak menyebut waktunya, dan tidak menyebut berapa kali. Teks hanya memuat dua kata kerja dan satu penerima. Ayat ini terbaca sebagai perintah yang dapat dikerjakan oleh siapa saja yang membacanya, tanpa syarat yang tertulis.
Renungan dan Hikmah
- Tiga ayat sebelumnya menggambarkan heran, tertawa, dan lengah, yang semuanya tidak mengubah apa pun pada kedudukan orang yang mengalaminya. Ayat ini menjawab dengan kata kerja yang mengubah posisi tubuh dan arah hati. Orang yang sudah memahami peringatan secara utuh namun belum bergerak dapat bertanya apakah pemahamannya sudah sampai pada tempat yang dituju ayat ini. Allah menutup surah panjang dengan sesuatu yang dikerjakan, tidak dengan kesimpulan yang dapat disimpan.
- Ayat 13:15 menyebut bahwa siapa pun di langit dan di bumi bersujud kepada Allah, dengan sukarela atau terpaksa. Dengan 13:15 di belakangnya, perintah di 53:62 terbaca sebagai ajakan masuk ke gerak yang sudah berlangsung di sekeliling pembaca. Orang yang merasa sujud adalah beban pribadi yang dipikul sendirian dapat melihat bahwa ia menyusul, dan tidak memulai.
- Di 25:60, perintah sujud kepada Ar-Rahman dijawab dengan pertanyaan tentang siapa Ar-Rahman itu, lalu menambah mereka menjauh. Di 84:21, ketika Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud. Ayat 53:62 menaruh perintahnya tanpa memuat jawaban pendengar, sehingga jawaban itu menjadi milik pembacanya. Pembaca yang mendapati dirinya mengajukan pertanyaan balik sebelum bergerak dapat mencocokkan dirinya dengan pola 25:60 dan menimbang apakah pertanyaannya masih mencari jawaban atau sudah menjadi cara menunda.
- Kata kerja kedua di ayat ini berdiri tanpa kata benda penerimanya, dan penerima itu dibawa dari perintah pertama. Perintah sujud kepada Allah dan perintah ibadah menjadi satu gerak dengan satu tujuan. Dari susunan itu pembaca dapat menalar, sebagai pembacaan yang tidak dinyatakan ayat, bahwa kata kerja kedua menunjuk ke arah yang sama dengan yang pertama. Pembaca yang membagi hidupnya menjadi urusan Allah di satu sisi dan urusan lain di sisi lain dapat bertanya: ke arah mana kata kerja kedua itu menunjuk pada hari-hari yang tidak berisi sujud?
- Di 22:77 dan 53:62, perintah sujud datang lebih dulu dan perintah ibadah menyusul. Urutan ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa dua perintah itu tidak saling menggantikan. Orang yang menganggap ibadah sudah cukup tanpa sikap tubuh kepada Allah, atau sebaliknya sikap tubuh sudah cukup tanpa kehidupan yang ditujukan kepada-Nya, mendapati bahwa ayat ini menyebut keduanya. Ayat ini tidak menyatakan mana yang lebih penting. Keduanya disebut berurutan, dan pembaca dapat membayangkan bagaimana yang satu membuka jalan bagi yang lain.
- Perintah penutup surah ini tidak memuat syarat apa pun: tidak ada kata "jika", tidak ada tenggat, dan tidak ada keadaan hati yang harus dicapai lebih dulu. Dua kata kerja berdiri dengan Allah sebagai tujuan, sedangkan tiga ayat sebelumnya menggambarkan hati yang heran, tawa, dan kelengahan. Orang yang menunggu perasaan tepat sebelum bergerak, seperti orang yang menunda berolahraga sampai semangatnya datang, bisa memeriksa apakah perasaan itu pernah datang tanpa digerakkan lebih dulu. Ayat ini menaruh gerak di depan, dan perasaan dibiarkan menyusul atau tidak menyusul.