وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ
sedang kalian lengah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنْتُمْ سَامِدُونَwa-antum saamiduunasedang kalian lengah
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
- سَامِدُونَsaamiduunaorang-orang yang lengah
Inti bacaan
Menuliskan satu peringatan yang pernah didengar lalu diabaikan, beserta tanda-tanda yang muncul pada hari itu ketika perhatian tidak ada.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ, wa-antum saamiduuna) yang berarti "sedang kalian lengah". Rangkaian ini hanya terjadi di ayat ini. Uraian di bawah memeriksa kata sambung di awalnya, kata sapaannya, dan kata terakhirnya yang akarnya tidak ditemukan di tempat lain.
Kata sambung (وَ, wa) di awal ayat ditandai morfologi korpus sebagai kata sambung keadaan, sehingga ayat ini menerangkan keadaan orang-orang yang disapa pada dua ayat sebelumnya, dan terjemahan memakai kata "sedang". Susunan yang sama terlihat di 2:51, (وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ, wa-antum zhaalimuuna) yang berarti "sedangkan kalian adalah orang-orang yang zalim", dan di 21:1, (وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ, wa-hum fii ghaflatin mu'ridhuuna) yang berarti "sedang mereka dalam kelalaian, berpaling". Di ketiga tempat, kata sambung keadaan membawa keterangan tentang pelaku yang sudah disebut sebelumnya.
Kata (أَنْتُمْ, antum) adalah kata ganti orang kedua jamak dan berarti "kalian". Di 53:59 dan 53:60 sapaan kepada pendengar terbawa oleh akhiran kata kerja, yaitu (تَعْجَبُونَ, ta'jabuuna) yang berarti "kalian heran", (تَضْحَكُونَ, tadhakuuna) yang berarti "kalian tertawa", dan (تَبْكُونَ, tabkuuna) yang berarti "kalian menangis". Di ayat ini kata ganti itu ditulis sendiri di depan, sehingga sapaan kepada pendengar diulang dengan kata gantinya.
Kata (سَامِدُونَ, saamiduuna) berakar س-م-د dan ditandai sebagai partisip aktif jamak maskulin. Akar ini hanya terjadi satu kali dalam seluruh korpus, yaitu di ayat ini. Karena itu arti kata ini tidak dapat ditimbang dengan membandingkan pemakaian lain, dan tidak ada ayat lain yang memberi jawaban tentang sifatnya. Terjemahan "lengah" bertumpu pada letak kata itu. Kata itu menyusul tiga tanggapan, yaitu heran di 53:59, tertawa dan tidak menangis di 53:60, lalu menjadi keterangan keadaan bagi ketiganya. Kata "lengah" adalah pembacaan penerjemah atas letak itu. Ayat ini tidak memuat kata lain yang menyebut sebab keadaan tersebut, sehingga terjemahan menyebut keadaannya saja, yaitu tidak menaruh perhatian, dan membiarkan sebabnya tidak dinyatakan. Pembacaan lain atas kata ini terbuka, dan terjemahan lama yang menambahkan unsur kesombongan dilepas karena tidak ada kata lain di ayat ini yang menopangnya.
Kata Indonesia yang sama juga dipakai proyek ini untuk akar غ-ف-ل, misalnya di 2:149 bagi (وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ, wa-maa llaahu bi-ghaafilin) yang berarti "dan Allah tidak lengah". Bedanya, akar غ-ف-ل muncul di tiga puluh lima ayat dan punya pembanding, sedangkan akar س-م-د berdiri sendiri. Karena itu terjemahan ayat ini tidak menyatakan bahwa kedua akar bermakna sama, dan menyatakan keadaan yang terbaca dari letaknya.
Bentuk kata ini juga patut diperhatikan. Tiga kata di dua ayat sebelumnya berupa kata kerja tidak lampau, yang menggambarkan perbuatan yang sedang berlangsung. Kata terakhir ini berupa partisip, yang menyebut keadaan seseorang tanpa menyebut perbuatan tertentu. Terjemahan "sedang kalian lengah" mengikuti perbedaan itu dengan menyebut keadaan, dan tidak mengubahnya menjadi kata kerja seperti "kalian melengahkan". Kedekatan dengan susunan 21:1 patut dicatat, karena ayat itu juga menyebut perhitungan yang telah dekat lalu keadaan manusia yang tidak menaruh perhatian dengan susunan yang sama, tetapi dengan akar yang berbeda.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian tanggapan yang dibuka di 53:59. Tiga tanggapan disebut berurutan, yaitu heran (53:59), tertawa tanpa menangis (53:60), dan keadaan lengah (53:61). Dua yang pertama berupa perbuatan yang dapat dilihat dari luar, dan yang ketiga berupa keadaan yang tidak tampak sebagai gerak. Susunan itu dapat dibaca sebagai nama bagi keadaan di balik kedua perbuatan sebelumnya. Pembacaan ini penalaran dari urutan teks, dan ayat tidak menyatakannya.
Letak ayat ini sesudah 53:56-58 membuat susunannya bermakna. Pemberi peringatan telah disebut (53:56), hari yang mendekat telah dinyatakan (53:57), dan ketiadaan penghilang selain Allah telah ditegaskan (53:58). Ayat 21:1 menyusun hal serupa dalam satu kalimat: perhitungan telah dekat kepada manusia, sedang mereka dalam kelalaian. Di An-Najm, kedekatan itu dan keadaan pendengarnya dipisah ke dalam beberapa ayat, tetapi keduanya tetap berhadapan.
Ayat 7:205 menunjukkan sisi lain dari keadaan serupa. Pendengar diperintahkan mengingat Tuhannya pagi dan petang, lalu dilarang termasuk golongan yang lalai. Ayat sesudahnya, 7:206, menyebut orang-orang di sisi Tuhan yang bersujud kepada-Nya. Dengan pasangan itu, keadaan lengah dalam Al-Qur'an dilawankan dengan mengingat, dan tidak dilawankan dengan pengetahuan. Ayat 53:61 sendiri tidak menyatakan lawannya. Lawan itu muncul pada ayat berikutnya dalam bentuk perintah sujud.
Teks ayat ini juga tidak menyatakan apa yang dilengahkan dan tidak menyatakan sebab kelengahan. Pembaca tidak diberi cerita tentang pelakunya, hanya diberi nama bagi keadaannya. Karena akar س-م-د berdiri sendiri, tidak ada ayat lain yang dapat dipakai untuk mempersempit maknanya, dan ayat ini tetap harus dibaca sebagai sapaan pendek yang bersambung dengan perintah 53:62.
Renungan dan Hikmah
- Tiga kata kerja disusul satu partisip berarti dua tanggapan pertama dapat dilihat dari luar, sedangkan yang ketiga tidak tampak sebagai gerak. Keadaan tidak memperhatikan dapat dibaca sebagai keadaan yang jarang terasa selagi berlangsung, dan pembacaan ini penalaran dari sifat keadaan itu, yang tidak dinyatakan ayat. Dengan pembacaan itu, Allah menyebut keadaan tersebut dengan namanya di ayat ini, sehingga pembaca dapat mengenali sesuatu yang biasanya baru terlihat sesudah lewat. Kapan terakhir kali pembaca mendapati dirinya lengah sesudah peringatan itu selesai dibacakan?
- Ayat 21:1 menyatakan bahwa perhitungan telah dekat kepada manusia sedangkan mereka dalam kelalaian. Pasangan itu menunjukkan bahwa kedekatan hari tidak otomatis menghapus kelengahan, dan ayat itu menyebut keduanya berdampingan. Orang yang menunggu tanda yang lebih keras sebelum menaruh perhatian dapat mencocokkan dirinya dengan susunan ini. Kedekatan sudah dinyatakan di 53:57, dan keadaan yang menyertainya disebut di ayat ini.
- Kata ganti kalian ditulis sendiri di depan kata terakhir ini, padahal sapaan sudah terbawa oleh akhiran kata kerja di dua ayat sebelumnya. Penyebutan ulang itu membuat teguran Allah tidak dapat dialihkan ke pihak lain di sekitar pembaca. Pembaca yang menempatkan orang lain sebagai yang tertawa dan lengah mendapati sapaan itu kembali kepadanya. Apakah kata kalian di ayat ini terdengar tertuju kepada orang lain atau kepada pembaca sendiri?
- Ayat 7:205 memuat larangan Allah agar tidak termasuk golongan yang lalai, tepat sesudah perintah mengingat Tuhan pagi dan petang. Ayat 53:61 tidak menyebut lawan kelengahan, dan 53:62 menyebutnya lewat perintah sujud. Dua ayat itu dapat dibaca sebagai pasangan yang menaruh jawaban atas kelengahan pada tindakan yang dapat dikerjakan hari ini. Orang yang menunggu dirinya paham sepenuhnya sebelum bergerak akan mendapati bahwa ayat ini tidak menawarkan jalan itu.
- Ayat ini tidak menyatakan mengapa kalian lengah, dan tidak menyatakan apa yang dilengahkan. Sebabnya tidak ada di teks. Dari ketiadaan itu pembaca dapat menimbang, sebagai penalaran, bahwa teguran ini tidak disyaratkan menunggu sebab ditemukan. Pembaca yang sering mencari sebab bagi kelengahannya, seperti kesibukan atau kelelahan, dapat bertanya apakah sebab itu sudah ditemukan dan sudah cukup untuk menunda. Keadaan lengah disebut apa adanya, dan perintah yang menjawabnya muncul pada ayat sesudahnya.
- Ayat ini dibuka dengan kata sambung yang menyatu pada (وَأَنْتُمْ, wa-antum) dan diterjemahkan "sedang", sehingga kelengahan digambarkan berlangsung pada saat yang sama dengan hari yang mendekat di 53:57. Dua hal berjalan bersamaan: jarak ke hari itu mengecil, dan perhatian pendengarnya ikut mengecil. Pengemudi yang mengantuk di jalan lurus mengalami hal serupa, karena tikungan terus mendekat sementara matanya makin tidak menangkapnya. Gambaran ini membantu pembaca mengenali bahwa kelengahan tidak berhenti menunggu hari itu tiba, tetapi terus menumpuk selama hari itu mendekat.