فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩

Maka, tunduklah kepada Allah dan mengabdilah!

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَاسْجُدُوا لِلَّهِfa-sjuduu li-llaahimaka, tunduklah kepada Allah
  2. وَاعْبُدُواwa-'buduudan mengabdilah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَاسْجُدُواfa-sjuduumaka tunduklah kalian
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. وَاعْبُدُواwa-'buduudan mengabdilah kalian

Inti bacaan

Memikirkan satu waktu untuk bersujud kepada Allah tanpa sambil mengerjakan hal lain.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا, fa-sjuduu li-llaahi wa-'buduu) yang berarti "maka, tunduklah kepada Allah dan mengabdilah". Rangkaian ini hanya terjadi di ayat ini. Uraian di bawah memeriksa kata sambung di awalnya, kedua kata kerja perintah, dan tempat kata penerima perintah itu berdiri.

Partikel (فَ, fa) di awal ditandai morfologi korpus sebagai partikel kelanjutan, dan terjemahan mempertahankannya sebagai "maka" yang disusul koma. Letaknya sesudah ayat-ayat tentang heran di 53:59, tertawa tanpa menangis di 53:60, dan lengah di 53:61 mengundang pembacaan bahwa perintah ini melanjutkan ketiganya. Pembacaan itu penalaran dari urutan ayat, dan label korpus hanya mencatat jenis partikelnya.

Kata (فَاسْجُدُوا, fa-sjuduu) berakar س-ج-د dan ditandai sebagai kata kerja perintah orang kedua jamak. Bentuk perintah jamak ini terjadi di sembilan ayat, yaitu 2:34, 7:11, 17:61, 18:50, 20:116, 22:77, 25:60, 41:37, dan 53:62. Lima ayat pertama memuat perintah sujud kepada Adam, sedangkan empat ayat sisanya memuat perintah sujud kepada Allah atau Ar-Rahman. Di 25:60, (اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ, sjuduu li-r-rahmaani) yang berarti "tunduklah kalian kepada Ar-Rahman", perintah itu dijawab dengan pertanyaan dan "menambah mereka menjauh". Di 41:37, (وَاسْجُدُوا لِلَّهِ, wa-sjuduu li-llaahi) yang berarti "dan tunduklah kepada Allah", perintah itu didahului larangan bersujud kepada matahari dan bulan. Di 53:62 perintah berdiri tanpa larangan pendahulu dan tanpa jawaban.

Kata (لِلَّهِ, li-llaahi) terdiri dari awalan yang menunjuk penerima dan nama Allah yang menyatu di belakangnya, sehingga terjemahan "kepada Allah" dipertahankan seperti di 41:37 dan 22:18. Rangkaian awalan yang sama muncul di 13:15, (وَلِلَّهِ يَسْجُدُ, wa-li-llaahi yasjudu) yang berarti "dan kepada Allah tunduk", ketika kata kerja sujud dipakai untuk siapa pun di langit dan bumi. Pada 53:62, penerima sujud disebut lebih dulu daripada kata kerja kedua, sehingga arah kedua perintah terbaca dari satu kata ini.

Kata (وَاعْبُدُوا, wa-'buduu) berakar ع-ب-د dan juga berupa kata kerja perintah orang kedua jamak. Bentuk perintah jamak dari akar ini dipakai di tiga puluh satu ayat (2:21, 3:51, 4:36, 5:72, 5:117, 6:102, 7:59, 7:65, 7:73, 7:85, 10:3, 11:50, 11:61, 11:84, 16:36, 19:36, 21:25, 21:92, 22:77, 23:23, 23:32, 27:45, 29:16, 29:17, 29:36, 29:56, 36:61, 39:15, 43:64, 53:62, 71:3), dan dua di antaranya memuat perintah sujud bersama perintah ini, yaitu 22:77 dan 53:62. Di 22:77, (وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ, wa-sjuduu wa-'buduu rabbakum) yang berarti "dan tunduklah, dan mengabdilah kepada Tuhan kalian", urutannya sama dengan ayat ini, yaitu sujud lebih dulu lalu penghambaan. Bedanya, di 22:77 kata kerja ibadah disusul kata benda penerimanya, sedangkan di 53:62 ayat berhenti pada kata kerja itu. Penerimanya tidak diulang dan harus dibawa dari (لِلَّهِ, li-llaahi) di perintah pertama.

Terjemahan "mengabdilah" dipertahankan dari bentuk yang dipakai proyek ini untuk perintah ibadah jamak di ayat-ayat lain, misalnya 22:77 dan 11:61. Tidak ada kata tambahan dalam kurung di terjemahan, karena penerimanya tidak tertulis di Arabnya dan terjemahan tidak boleh mengisi sesuatu yang tidak tertulis. Pembaca yang memerlukan penerimanya cukup membawa kata "Allah" dari perintah pertama, dan itu merupakan pembacaan yang tidak tertulis di teks.

Tafsiran

Ayat ini menutup An-Najm, dan penutupnya berupa dua perintah. Seluruh surah sebelumnya menyampaikan kabar, hitungan, dan peringatan, lalu ayat terakhir menyuruh bergerak. Perubahan dari uraian ke perintah itu terjadi tepat setelah tiga ayat tentang tanggapan, yaitu heran, tertawa tanpa menangis, dan lengah. Kata sambung "maka" mengikat perintah ini pada ketiganya, sehingga perintah sujud terbaca sebagai jawaban atas keadaan yang baru saja disebut dan tidak muncul sebagai tambahan terpisah.

Surah ini dibuka di 53:1 dengan sumpah demi bintang yang jatuh, dan ditutup di 53:62 dengan perintah sujud. Ayat 55:6 memperlihatkan bahwa bintang dan sujud disebut bersama di tempat lain, ketika bintang dan pepohonan disebut bersujud. Ayat 22:18 dan 13:15 memperluasnya sampai siapa pun di langit dan di bumi, dan 13:15 menambahkan bahwa itu terjadi dengan sukarela atau terpaksa. Rangkaian ini membuat perintah di akhir surah tidak terbaca sebagai perbuatan yang asing, karena Al-Qur'an sendiri menyebut sujud sebagai sikap seluruh ciptaan. Pembacaan ini penalaran dari kemunculan bersama, dan ayat tidak menyatakannya.

Dua surah lain ditutup dengan kata kerja sujud. Ayat 7:206 berbunyi bahwa mereka yang ada di sisi Tuhan bersujud kepada-Nya, dan ayat 96:19 memerintahkan, "tunduklah serta mendekatlah". Di antara ketiga ayat penutup itu, perintah sujud berbentuk jamak yang digandengkan dengan perintah ibadah terdapat di 53:62 saja.

Ayat ini tidak merinci caranya, tidak menyebut waktunya, dan tidak menyebut berapa kali. Teks hanya memuat dua kata kerja dan satu penerima. Ayat ini terbaca sebagai perintah yang dapat dikerjakan oleh siapa saja yang membacanya, tanpa syarat yang tertulis.

Renungan dan Hikmah

  • Tiga ayat sebelumnya menggambarkan heran, tertawa, dan lengah, yang semuanya tidak mengubah apa pun pada kedudukan orang yang mengalaminya. Ayat ini menjawab dengan kata kerja yang mengubah posisi tubuh dan arah hati. Orang yang sudah memahami peringatan secara utuh namun belum bergerak dapat bertanya apakah pemahamannya sudah sampai pada tempat yang dituju ayat ini. Allah menutup surah panjang dengan sesuatu yang dikerjakan, tidak dengan kesimpulan yang dapat disimpan.
  • Ayat 13:15 menyebut bahwa siapa pun di langit dan di bumi bersujud kepada Allah, dengan sukarela atau terpaksa. Dengan 13:15 di belakangnya, perintah di 53:62 terbaca sebagai ajakan masuk ke gerak yang sudah berlangsung di sekeliling pembaca. Orang yang merasa sujud adalah beban pribadi yang dipikul sendirian dapat melihat bahwa ia menyusul, dan tidak memulai.
  • Di 25:60, perintah sujud kepada Ar-Rahman dijawab dengan pertanyaan tentang siapa Ar-Rahman itu, lalu menambah mereka menjauh. Di 84:21, ketika Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud. Ayat 53:62 menaruh perintahnya tanpa memuat jawaban pendengar, sehingga jawaban itu menjadi milik pembacanya. Pembaca yang mendapati dirinya mengajukan pertanyaan balik sebelum bergerak dapat mencocokkan dirinya dengan pola 25:60 dan menimbang apakah pertanyaannya masih mencari jawaban atau sudah menjadi cara menunda.
  • Kata kerja kedua di ayat ini berdiri tanpa kata benda penerimanya, dan penerima itu dibawa dari perintah pertama. Perintah sujud kepada Allah dan perintah ibadah menjadi satu gerak dengan satu tujuan. Dari susunan itu pembaca dapat menalar, sebagai pembacaan yang tidak dinyatakan ayat, bahwa kata kerja kedua menunjuk ke arah yang sama dengan yang pertama. Pembaca yang membagi hidupnya menjadi urusan Allah di satu sisi dan urusan lain di sisi lain dapat bertanya: ke arah mana kata kerja kedua itu menunjuk pada hari-hari yang tidak berisi sujud?
  • Di 22:77 dan 53:62, perintah sujud datang lebih dulu dan perintah ibadah menyusul. Urutan ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa dua perintah itu tidak saling menggantikan. Orang yang menganggap ibadah sudah cukup tanpa sikap tubuh kepada Allah, atau sebaliknya sikap tubuh sudah cukup tanpa kehidupan yang ditujukan kepada-Nya, mendapati bahwa ayat ini menyebut keduanya. Ayat ini tidak menyatakan mana yang lebih penting. Keduanya disebut berurutan, dan pembaca dapat membayangkan bagaimana yang satu membuka jalan bagi yang lain.
  • Perintah penutup surah ini tidak memuat syarat apa pun: tidak ada kata "jika", tidak ada tenggat, dan tidak ada keadaan hati yang harus dicapai lebih dulu. Dua kata kerja berdiri dengan Allah sebagai tujuan, sedangkan tiga ayat sebelumnya menggambarkan hati yang heran, tawa, dan kelengahan. Orang yang menunggu perasaan tepat sebelum bergerak, seperti orang yang menunda berolahraga sampai semangatnya datang, bisa memeriksa apakah perasaan itu pernah datang tanpa digerakkan lebih dulu. Ayat ini menaruh gerak di depan, dan perasaan dibiarkan menyusul atau tidak menyusul.