Ayat 54:2

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

Jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata, “Sihir yang terus-menerus.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَإِنْ يَرَوْا آيَةًwa-in yaraw aayatanjika mereka melihat suatu tanda
  2. يُعْرِضُواyu'ridhuumereka berpaling
  3. وَيَقُولُواwa-yaquuluudan berkata
  4. سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّsihrun mustamirrunsihir yang terus-menerus

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَإِنْwa-indan jika
  2. يَرَوْاyarawmereka melihat
  3. آيَةًaayatantanda
  4. يُعْرِضُواyu'ridhuumereka berpaling
  5. وَيَقُولُواwa-yaquuluudan mereka berkata
  6. سِحْرٌsihrunsihir
  7. مُسْتَمِرٌّmustamirrunyang terus-menerus

Inti bacaan

Mustamirr hanya ada di 54:2 dan 54:19 (hari nahas yang terus-menerus), dan akarnya kembali di 54:46 sebagai amarru, lebih pahit. Susunan jika melihat lalu berkata terulang di 52:44, dengan gumpalan dari langit yang disebut awan bertumpuk.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berupa kalimat bersyarat. Syaratnya (وَإِنْ يَرَوْا آيَةً, wa-in yaraw aayatan), "jika mereka melihat suatu tanda", dan jawabannya dua kata kerja: (يُعْرِضُوا, yu'ridhuu), "mereka berpaling", dan (وَيَقُولُوا, wa-yaquuluu), "dan berkata". Ketiga kata kerja itu tidak berbentuk lampau seperti kedua kata kerja di 54:1. Dengan bentuk itu dan kata "jika", ayat ini menggambarkan kebiasaan yang berulang setiap kali tanda terlihat. Kata (آيَةً, aayatan) tidak bersandang, sehingga terjemahannya "suatu tanda", tanda apa pun yang mereka lihat.

Siapa "mereka" tidak disebut dengan nama. Kata ganti itu menunjuk orang-orang yang menerima kabar di 54:1, dan 54:3 menambahkan bahwa mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka. Teks Arab ayat ini tidak menyebut nama atau identitas historis kelompok itu, sehingga terjemahannya juga tidak menambahkan nama.

Susunan yang sama dipakai di 52:44: (وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا, wa-in yaraw kisfan mina s-samaa'i saaqithan), "Dan jika mereka melihat gumpalan dari langit jatuh", lalu (يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ, yaquuluu sahaabun markuumun), "mereka berkata, 'Awan yang bertumpuk.'" Di kedua ayat ucapan mereka terdiri dari dua kata, sebuah kata benda dengan sifatnya, tanpa kata "ini". Ucapan itu memberi nama yang sudah mereka kenal kepada apa yang mereka lihat: gumpalan yang jatuh dari langit disebut awan, dan tanda disebut sihir.

Kata kerja yu'ridhuu berakar ع-ر-ض. Sikap berpaling dari tanda disebut di ayat-ayat lain dengan akar yang sama, misalnya (إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ, illaa kaanuu 'anhaa mu'ridhiina), "kecuali mereka selalu berpaling darinya" (6:4, juga 36:46). Di ayat ini berpaling disebut lebih dulu, lalu ucapan mereka.

Tuduhan sihir terhadap tanda dan bacaan muncul di sejumlah ayat lain dengan kata "ini": (إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ, in haadzaa illaa sihrun mubiinun), "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata" (37:15, juga 6:7), atau (إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ, in haadzaa illaa sihrun yu'tsaru), "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari" (74:24). Di ayat ini kata "ini" tidak ada, dan sifat yang menyertai sihir berbeda. Tambahan "(Ini adalah)" tidak dipakai dalam terjemahan, karena ucapan dua kata itu sudah utuh sebagai kalimat di teks Arabnya, dan kutipannya dibuka oleh yaquuluu dan ditutup di ayat ini sendiri.

Kata (مُسْتَمِرٌّ, mustamirrun), "yang terus-menerus", berakar م-ر-ر dan dipakai di dua ayat, keduanya di surah ini. Di 54:19 kata yang sama menyifati hari ketika angin yang sangat kencang dikirim kepada kaum Ad: (فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ, fii yawmi nahsin mustamirrin), "pada hari nahas yang terus-menerus". Kata yang mereka pakai untuk menepis tanda dipakai lagi di surah ini untuk hari azab kaum yang mendustakan (54:18). Akar yang sama juga membentuk (أَمَرُّ, amarru), "lebih pahit", di 54:46, tempat Saat itu disebut lebih dahsyat dan lebih pahit.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan pola yang berulang: setiap kali tanda terlihat, jawabannya sama. Ayat-ayat lain memakai susunan yang sama untuk menyatakan bahwa jumlah tanda tidak mengubah jawaban itu: (وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا, wa-in yaraw kulla aayatin laa yu'minuu bihaa), "Jika mereka melihat semua tanda, mereka tidak mau beriman kepadanya" (7:146), dan kalimat yang sama ada di 6:25. Di 7:146 sebabnya disebut: mereka menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar.

Di 15:14-15 keadaan yang lebih jauh digambarkan. Seandainya sebuah pintu dari langit dibukakan dan mereka naik ke atasnya, mereka akan berkata (إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا, innamaa sukkirat abshaarunaa), "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan", lalu (بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ, bal nahnu qawmun mashuuruuna), "Bahkan, kami adalah kaum yang terkena sihir". Di sana dan di ayat ini, sebutan sihir membuat apa yang dilihat mata tidak perlu ditanggapi. Kalau yang terlihat itu sihir, tanda itu tidak menuntut apa pun dari yang melihatnya.

Ayat ini datang sesudah kabar bahwa bulan telah terbelah. Tanda di langit disambut dengan dua kata, seperti gumpalan dari langit di 52:44 disambut dengan dua kata. Sifat yang mereka pilih, terus-menerus, terbaca sebagai pengakuan bahwa tanda-tanda sudah berulang kali datang kepada mereka, dan setiap kali dimasukkan ke dalam golongan yang sama. Surah ini tidak membantah sebutan itu dengan perdebatan. Kisah-kisah sesudahnya memperlihatkan kaum-kaum yang juga menolak peringatan, dan kata yang mereka pakai kembali di tengah kisah-kisah itu untuk menggambarkan hari azab.

Renungan dan Hikmah

  • Ucapan mereka terdiri dari dua kata, sihir yang terus-menerus, dan dua kata itu cukup untuk menutup semua pertanyaan tentang tanda yang mereka lihat. Kita juga punya kata-kata semacam itu untuk hal yang tidak ingin kita pikirkan: "kebetulan", "cuma perasaan", "sudah biasa". Begitu sesuatu diberi nama yang kita kenal, kita merasa tidak perlu memikirkannya lagi. Ayat ini memperlihatkan bahwa nama yang diberikan terlalu cepat bisa menjadi cara untuk berpaling. Kejadian apa dalam hidup kita yang selama ini kita sebut kebetulan, padahal bisa jadi tanda dari Allah?
  • Dalam ayat ini berpaling disebut lebih dulu, baru ucapan mereka. Urutan itu mirip dengan yang sering terjadi dalam percakapan sehari-hari: keputusan untuk tidak memperhatikan datang lebih dahulu, dan alasan yang diucapkan menyusul. Kita sudah menolak nasihat seseorang sebelum selesai mendengarnya, lalu mencari alasan mengapa nasihat itu tidak berlaku bagi kita. Memperhatikan urutan itu dalam diri sendiri membantu kita bertanya apakah alasan yang kita ucapkan benar-benar alasan, atau sekadar penutup dari keputusan yang sudah diambil sebelumnya.
  • Kita kadang berpikir, seandainya kita menyaksikan sendiri tanda yang luar biasa, keyakinan kita akan kokoh. Ayat ini menggambarkan orang-orang yang melihat tanda, dan 15:14-15 menyatakan bahwa seandainya mereka naik melalui pintu langit pun, mereka tetap akan berkata bahwa pandangan mereka dikaburkan. Apa yang dilihat mata tidak otomatis sampai ke hati. Tanda-tanda yang Allah letakkan di sekitar kita, pergantian siang dan malam, hujan, dan tubuh kita sendiri, sudah cukup bagi orang yang bersedia menerima apa yang dilihatnya.
  • Mereka menyebut sihir itu terus-menerus, seakan-akan tanda yang terus datang menjadi alasan untuk tidak memperhatikannya. Kita mengalami hal yang mirip. Matahari terbit setiap pagi, hujan turun, jantung berdetak, dan karena semuanya berulang, kita berhenti melihatnya sebagai tanda. Al-Qur'an berulang kali menyebut hal-hal yang biasa itu sebagai tanda dari Allah. Sesuatu yang datang terus-menerus bisa dibaca sebagai kebiasaan yang membosankan, atau sebagai pemberian yang tidak pernah berhenti datang kepada kita.
  • Mereka memakai kata terus-menerus untuk meremehkan tanda, dan di 54:19 kata yang sama menggambarkan hari nahas bagi kaum Ad. Di dalam satu surah, kata yang dipakai untuk menepis peringatan muncul lagi dalam kisah tentang akibatnya. Kita juga kadang meremehkan peringatan dengan kata-kata ringan, misalnya menyebut nasihat tentang kesehatan atau utang sebagai hal yang dibesar-besarkan. Sebelum mengucapkan kata semacam itu, ada baiknya membayangkan kata yang sama dipakai kelak untuk menggambarkan akibat yang kita abaikan.
  • Di 7:146 Allah menyebut orang yang tidak beriman kepada tanda apa pun sebagai orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kesombongan tidak selalu tampak sebagai sikap angkuh. Kadang-kadang wujudnya keyakinan bahwa kita sudah tahu, sehingga apa pun yang datang cukup dicocokkan dengan golongan yang sudah ada di kepala kita. Ayat ini memperlihatkan ujung sikap itu: tanda yang datang langsung disebut sihir tanpa diperiksa. Mengakui bahwa kita belum tahu membuka ruang untuk melihat.

Ayat 54:3

وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ

Dan mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka; padahal setiap urusan telah tetap.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْwa-kadzdzabuu wa-ttaba'uu ahwaa'ahumdan mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka
  2. وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّwa-kullu amrin mustaqirrunpadahal setiap urusan telah tetap

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَكَذَّبُواwa-kadzdzabuudan mendustakan
  2. وَاتَّبَعُواwa-ttaba'uudan mereka mengikuti
  3. أَهْوَاءَهُمْahwaa'ahumkeinginan mereka
  4. وَكُلُّwa-kulludan setiap
  5. أَمْرٍamrinurusan
  6. مُسْتَقِرٌّmustaqirrunyang tetap

Inti bacaan

Mustaqirr hanya muncul di 54:3 dan 54:38 (azab yang tetap), dan 6:67 memakai bentuk mustaqarr untuk setiap berita. Ahwaa'ahum ada di 12 ayat, selalu bersama kata kerja berakar ت-ب-ع, sedangkan akar ك-ذ-ب muncul di delapan ayat surah ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat dua kata kerja bentuk lampau yang dirangkai dengan "dan": (وَكَذَّبُوا, wa-kadzdzabuu), "dan mereka mendustakan", dan (وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ, wa-ttaba'uu ahwaa'ahum), "dan mengikuti hawa nafsu mereka". Kata kerja di 54:2 menggambarkan kebiasaan yang berulang setiap kali tanda terlihat. Di ayat ini bentuknya lampau, dan apa yang mereka lakukan disebut sebagai sesuatu yang sudah terjadi.

Kata kerja kadzdzabuu berakar ك-ذ-ب dan di ayat ini tidak disertai sasaran: apa yang mereka dustakan tidak disebut. Di surah ini akar yang sama dipakai di delapan ayat, dan di beberapa ayat sasarannya disebut: (كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ, kadzdzabat tsamuudu bi-n-nudzuri), "Tsamud telah mendustakan peringatan-peringatan" (54:23), dan (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا, kadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaa), "Mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami" (54:42). Ayat ini menyambung 54:2, sehingga tanda yang baru disebut termasuk yang mereka dustakan, tetapi kata kerjanya dibiarkan tanpa sasaran. Di surah sesudahnya, Ar-Rahman, akar yang sama menjadi refrain yang diulang tiga puluh satu kali.

Kata (أَهْوَاءَهُمْ, ahwaa'ahum), "hawa nafsu mereka", berbentuk jamak dari hawaa, berakar ه-و-ي, kata yang berarti keinginan atau kecenderungan hati. Kata ahwaa'ahum dipakai di dua belas ayat, dan di kedua belas ayat itu kata tersebut didahului kata kerja dari akar ت-ب-ع, "mengikuti". Di 47:14 susunannya sama persis dengan ayat ini, tentang orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya. Di 23:71 kata kerja itu dipakai dengan pelaku yang lain: (وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ, wa-lawi ttaba'a l-haqqu ahwaa'ahum), "Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka", niscaya binasalah langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya.

Surah sebelumnya memakai akar ini dua kali. Tentang rasul: (وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-maa yanthiqu 'ani l-hawaa), "dan ia tidak berbicara dari hawa nafsu" (53:3). Tentang nama-nama yang mereka dan nenek moyang mereka namakan sendiri: (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna), "Mereka hanya mengikuti dugaan", (وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ, wa-maa tahwaa l-anfusu), "dan apa yang diinginkan hawa nafsu" (53:23).

Kalimat kedua, (وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ, wa-kullu amrin mustaqirrun), "padahal setiap urusan telah tetap", memakai kata (مُسْتَقِرٌّ, mustaqirrun) dari akar ق-ر-ر, akar yang juga membentuk kata untuk tempat menetap, seperti di 36:38 tentang matahari yang berjalan menuju tempat ketetapannya. Bentuk mustaqirr dipakai di dua ayat, keduanya di surah ini: di sini, dan di 54:38, (عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ, 'adzaabun mustaqirrun), "azab yang tetap", yang menimpa kaum Lut pada pagi hari. Bentuk lain dari akar ini dipakai di 6:67 bersama kata berita: (لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ, li-kulli naba'in mustaqarrun), "Bagi setiap berita ada ketetapannya". Huruf wa di depan kalimat ini diterjemahkan "padahal", karena kalimat itu menerangkan keadaan yang berlaku bersamaan dengan pendustaan mereka, seperti "padahal" dalam terjemahan 53:23.

Kata penutup 54:2 dan ayat ini, mustamirrun dan mustaqirrun, berpola sama, dan masing-masing dipakai dua kali di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menyebut apa yang menyertai sikap yang digambarkan 54:2. Mereka melihat tanda, berpaling, dan menyebutnya sihir, dan ayat ini menambahkan dua perbuatan: mendustakan dan mengikuti hawa nafsu. Tanda sudah mereka lihat, dan sikap mereka ditentukan oleh keinginan yang mereka ikuti.

Surah sebelumnya sudah menyandingkan hawa nafsu dengan apa yang telah datang kepada mereka dalam satu ayat. Di 53:23 mereka disebut mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu, lalu ayat itu menambahkan (وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ, wa-la-qad jaa'ahum min rabbihimu l-hudaa), "padahal, sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka". Ayat ini dan ayat sesudahnya mengikuti urutan yang sama: mengikuti hawa nafsu (54:3), lalu "sungguh telah datang kepada mereka" sebagian berita (54:4). Di kedua tempat, apa yang mereka ikuti disebut sebelum apa yang telah datang kepada mereka.

Kalimat kedua menyandingkan keinginan mereka dengan urusan yang menetap. Di 23:71 kaitan keduanya dinyatakan: seandainya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, binasalah langit dan bumi, lalu ayat itu menyebut (فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ, fa-hum 'an dzikrihim mu'ridhuuna), "tetapi mereka berpaling dari peringatan mereka", dengan akar yang sama dengan berpaling di 54:2. Setiap urusan menetap di tempatnya sendiri, tanpa mengikuti keinginan mereka.

Di surah ini, apa yang menetap diperlihatkan dalam kisah, misalnya azab yang menimpa kaum Lut (54:38). Menjelang penutupnya, surah ini kembali memakai susunan "setiap" untuk catatan perbuatan: (وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ, wa-kullu shaghiirin wa-kabiirin), "Segala yang kecil atau yang besar", (مُسْتَطَرٌ, mustatharun), "tertulis" (54:53). Pendustaan dan keinginan yang mereka ikuti juga tercatat dan menetap di tempatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja mengikuti menempatkan keinginan di depan dan orangnya di belakang. Kita mengalaminya dalam keputusan sehari-hari, ketika kita sudah menetapkan apa yang kita mau, lalu mencari dalil dan pendapat yang mendukungnya. Seseorang yang ingin membeli barang mahal dengan cicilan bisa menemukan sepuluh alasan mengapa pembelian itu perlu, dan tidak menemukan alasan untuk menunda. Ayat ini memperlihatkan bahwa orang yang mengikuti keinginannya bisa melihat tanda dan tetap tidak berubah, karena arah langkahnya sudah ditentukan oleh apa yang ia ikuti.
  • Di ayat ini kata mendustakan tidak disertai sasaran. Penolakan yang sudah menjadi sikap bisa kehilangan sasarannya: orang menolak apa saja yang datang dari pihak tertentu tanpa lagi memeriksa isinya. Kita melihatnya dalam perdebatan tentang agama, politik, atau urusan kantor, ketika jawaban "tidak" sudah siap sebelum usulnya dibacakan. Pertanyaan sederhana, apa persisnya yang sedang saya tolak, membantu keluar dari sikap itu dan mengembalikan penolakan kepada sesuatu yang bisa diperiksa.
  • Kalimat terakhir ayat ini, setiap urusan telah tetap, memberi pegangan bagi orang yang melihat kebohongan tampak menang. Orang yang dizalimi di tempat kerja, keluarga yang haknya diambil, atau orang yang difitnah bisa merasa urusannya tidak akan pernah jelas. Di 6:67 kalimat yang serupa disusul janji, dan kelak kalian akan mengetahui. Setiap urusan punya tempat menetapnya, dan waktu untuk sampai ke sana ada di tangan Allah, tidak di tangan orang yang sedang berkuasa atau yang paling keras suaranya.
  • Kita kadang berharap kenyataan menyesuaikan diri dengan keinginan kita: hasil pemeriksaan kesehatan yang lebih baik dari kebiasaan makan kita, atau usaha yang berhasil tanpa perhitungan. Di 23:71 Allah menyatakan bahwa seandainya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, langit dan bumi akan binasa. Tatanan yang menopang hidup kita bertahan karena tidak tunduk pada keinginan siapa pun. Menerima kenyataan yang tidak sesuai keinginan termasuk bagian dari menerima tatanan itu, dan dari situ perbaikan yang sungguh-sungguh bisa dimulai.
  • Surah sebelumnya menyebut rasul tidak berbicara dari hawa nafsu, dan ayat ini menyebut orang-orang yang menolaknya mengikuti hawa nafsu mereka. Dua sikap itu berhadapan: berbicara dari wahyu, dan mengikuti keinginan. Ketika kita berbicara tentang agama, menasihati anak, atau menilai orang lain, asal ucapan kita layak dipertanyakan. Apakah kata-kata ini bersandar pada apa yang Allah turunkan, atau pada keinginan kita sendiri yang diberi pakaian dalil? Pertanyaan itu sulit dijawab dengan jujur, dan karena itu perlu sering diajukan.
  • Ayat sebelumnya menggambarkan kebiasaan, dan ayat ini menyebut hasilnya dalam bentuk lampau: mereka telah mendustakan. Kebiasaan yang diulang setiap hari akhirnya menjadi riwayat hidup seseorang. Di 54:52-53 disebutkan bahwa segala sesuatu yang mereka perbuat ada dalam kitab-kitab catatan, yang kecil maupun yang besar. Kebiasaan kecil, seperti menunda salat, mengabaikan panggilan orang tua, atau meremehkan janji, tercatat satu per satu. Mengubah kebiasaan hari ini berarti mengubah catatan yang sedang ditulis.