فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ

Maka, berpalinglah dari mereka. Pada hari penyeru menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَتَوَلَّ عَنْهُمْfa-tawalla 'anhummaka, berpalinglah dari mereka
  2. يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِyawma yad'u d-daa'ipada hari penyeru menyeru
  3. إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍilaa syay'in nukurinkepada sesuatu yang tidak menyenangkan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. فَتَوَلَّfa-tawallamaka berpalinglah
  2. عَنْهُمْ'anhumdari mereka
  3. يَوْمَyawmahari
  4. يَدْعُyad'umenyeru
  5. الدَّاعِd-daa'ipenyeru
  6. إِلَىٰilaakepada
  7. شَيْءٍsyay'insesuatu
  8. نُكُرٍnukurinyang mengerikan

Inti bacaan

Susunan tawalla 'anhum tercatat di 27:28, 37:174, 37:178, 51:54, dan 54:6. Bentuk nukur tercatat sekali, di 54:6, dan akarnya menamai tamu yang belum dikenal di 51:25 serta singgasana yang disamarkan di 27:41.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan perintah (فَتَوَلَّ عَنْهُمْ, fa-tawalla 'anhum) yang berarti "maka berpalinglah dari mereka". Kata kerjanya berakar و-ل-ي, dan kata ganti -hum merujuk kepada orang-orang yang di 54:2 berpaling setiap kali melihat tanda dan di 54:3 mendustakan. Perintah dengan susunan tawalla 'anhum tercatat di lima ayat, yaitu 27:28, 37:174, 37:178, 51:54, dan 54:6. Di 37:174 dan 37:178 perintah itu diberi batas (حَتَّىٰ حِينٍ, hattaa hiinin) yang berarti "sampai suatu waktu", dan di 51:54 disusul (فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍ, fa-maa anta bi-maluumin) yang berarti "maka engkau tidak tercela". Di 54:6 perintah itu berdiri tanpa batas waktu dan tanpa penghiburan, dan kalimat berikutnya langsung menyebut sebuah hari.

Hari itu diperkenalkan dengan (يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ, yawma yad'u d-daa'i) yang berarti "pada hari penyeru menyeru". Kata kerja dan pelakunya berasal dari akar yang sama, د-ع-و, sehingga pelaku itu dinamai dengan perbuatannya. Di 20:108 kata yang sama muncul dengan huruf ya di ujungnya, (الدَّاعِيَ, d-daa'iya), dalam kalimat bahwa pada hari itu manusia mengikuti penyeru (لَا عِوَجَ لَهُ, laa 'iwaja lahu) yang berarti "tanpa berbelok". Di 50:41 peristiwa serupa memakai akar lain, (يُنَادِ الْمُنَادِ, yunaadi l-munaadi) yang berarti "penyeru memanggil". Siapa penyeru itu tidak disebut di ayat ini. Dua ayat lain menyandarkan seruan pada hari kebangkitan kepada Allah sendiri, yaitu (دَعَاكُمْ, da'aakum) yang berarti "Dia memanggil kalian" di 30:25 dan (يَدْعُوكُمْ, yad'uukum) dengan makna yang sama di 17:52.

Arah seruan itu (إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ, ilaa syay'in nukurin) yang berarti "kepada sesuatu yang mengerikan". Bentuk nukur tercatat sekali, di ayat ini, sedangkan bentuk dekatnya, (نُكْرًا, nukran) yang berarti "yang mungkar", tercatat di tiga ayat. Di 18:74 Musa berkata kepada temannya (لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا, la-qad ji'ta syay'an nukran) yang berarti "sungguh engkau telah mendatangkan sesuatu yang mungkar", dan di 18:87 serta 65:8 kata itu menyifati azab. Pasangan kata "sesuatu" dengan kata dari akar ini muncul di 18:74 dan di ayat ini.

Akar ن-ك-ر tercatat di 37 ayat, dan di beberapa ayat maknanya tidak mengenali. Di 11:70 Ibrahim melihat tangan tamu-tamunya tidak menjamah hidangan, lalu (نَكِرَهُمْ, nakirahum) yang berarti "merasa curiga terhadap mereka". Tamu yang sama disebutnya (قَوْمٌ مُنْكَرُونَ, qawmun munkaruuna) yang berarti "kaum yang belum dikenal" di 51:25, dan Lut memakai sebutan serupa di 15:62. Di 12:58 saudara-saudara Yusuf datang kepadanya tanpa mengenalinya, dan di 27:41 perintah (نَكِّرُوا, nakkiruu) yang berarti "samarkanlah" menyangkut singgasana seorang ratu, untuk melihat apakah pemiliknya mendapat petunjuk. Kata yang dalam terjemahan ini berarti "yang mungkar", seperti dalam (عَنِ الْمُنْكَرِ, 'ani l-munkari) di 3:104, juga berasal dari akar ini.

Dari kisaran makna itu, nukur menunjuk sesuatu yang asing, yang belum pernah dikenali oleh orang yang menghadapinya. Terjemahan per kata memakai "yang mengerikan", dan terjemahan ayat memakai "yang tidak menyenangkan". Keduanya menangkap sisi rasa dari keterasingan itu, sebab di 11:70 rasa curiga Ibrahim terhadap tamunya langsung disusul (وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً, wa-awjasa minhum khiifatan) yang berarti "dan memendam rasa takut kepada mereka".

Tafsiran

Ayat ini menyambung dua hal yang di permukaan tampak terpisah, yaitu perintah kepada Rasul dan gambaran sebuah hari. Kalimat yang dibuka dengan "pada hari" belum selesai di ayat ini. Kata kerja utamanya, (يَخْرُجُونَ, yakhrujuuna) yang berarti "mereka keluar", baru muncul di 54:7, dan penyeru yang sama disebut lagi di 54:8. Karena itu 54:6-8 terbaca sebagai satu kalimat panjang, dan terjemahan 54:6 berakhir dengan koma.

Penempatan perintah berpaling di depan gambaran hari itu memperlihatkan pertukaran arah. Di 54:2 orang-orang ini (يُعْرِضُوا, yu'ridhuu) yang berarti "berpaling" setiap kali melihat tanda. Rasul lalu diperintah berpaling dari mereka. Pada hari yang digambarkan sesudahnya, mereka tidak lagi memalingkan diri dari seruan, sebab mereka bergegas menuju penyeru (54:8) dan, menurut 20:108, mengikutinya tanpa berbelok.

Perhatian ayat ini tertuju kepada seruan dan kepada orang-orang yang diseru, sedangkan sesuatu yang dituju seruan itu dibiarkan dalam keasingannya. Kata nukur sendiri menunjuk hal yang tidak dikenali, sehingga ketiadaan rincian selaras dengan makna katanya. Ayat-ayat berikutnya menggambarkan keadaan orang-orang itu, pandangan yang tertunduk, keluar dari kubur, bergegas, dan ucapan mereka, tanpa kembali menguraikan sesuatu itu.

Renungan dan Hikmah

  • Di 51:54 Rasul diperintah berpaling dari mereka dan diberi tahu bahwa dirinya tidak tercela. Ayat berikutnya, 51:55, langsung memerintah (وَذَكِّرْ, wa-dzakkir) yang berarti "dan berilah peringatan", karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang beriman. Dua perintah itu berdampingan tanpa saling membatalkan. Berpaling dari orang yang menolak tidak berarti berhenti menyampaikan pesan Allah, sebab masih ada pendengar lain yang mendapat manfaat darinya. Bagi orang yang lelah menghadapi penolakan, susunan dua ayat itu memisahkan dua urusan, yaitu melepaskan orang yang menolak dan meneruskan tugas menyampaikan kepada orang lain.
  • Perintah berpaling di Al-Qur'an beberapa kali disusul perintah untuk melihat atau menunggu. Di 27:28 Sulaiman menyuruh burung pembawa suratnya berpaling lalu (فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ, fa-nzhur maadzaa yarji'uuna) yang berarti "lalu perhatikanlah apa yang mereka kembalikan". Di 37:175 Rasul diperintah (وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ, wa-abshirhum fa-sawfa yubshiruuna) yang berarti "dan lihatlah mereka, kelak mereka akan melihat", dan di 32:30 perintah berpaling dengan kata lain disertai perintah menunggu, karena mereka pun menunggu. Berpaling dalam ayat-ayat ini tidak sama dengan melupakan. Orang yang berpaling masih memperhatikan, dan hasil akhirnya diserahkan kepada Tuhan yang menentukan hari itu.
  • Di 17:52 hari kebangkitan digambarkan sebagai hari ketika Allah memanggil manusia, lalu manusia menyambut-Nya sambil memuji-Nya dan mengira (إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا, in labitstum illaa qaliilan) yang berarti "kalian tidak berdiam kecuali sebentar". Masa hidup yang terasa panjang ketika dijalani menyusut menjadi sebentar ketika seruan itu datang. Di 20:103 orang-orang yang dikumpulkan berbisik bahwa mereka tinggal tidak lebih dari sepuluh. Kalau seluruh masa hidup kelak terasa sesingkat itu, untuk apa waktu yang tersisa hari ini dipakai?
  • Kata (الدَّاعِ, d-daa'i) yang di ayat ini menamai penyeru pada hari itu juga dipakai di 2:186 untuk manusia yang berdoa. Di sana Allah berfirman (أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ, ujiibu da'wata d-daa'i) yang berarti "Aku mengabulkan doa orang yang berdoa". Kata yang sama dengan demikian menempati dua kedudukan. Selama hidup, manusia berada di pihak yang menyeru, dan Tuhannya dekat serta menjawab. Pada hari yang digambarkan 54:6, manusia berada di pihak yang diseru. Kedudukan pertama tersedia sekarang, dan 2:186 menutupnya dengan ajakan agar manusia menyambut seruan-Nya dan beriman kepada-Nya.
  • Kata nukur menggambarkan sesuatu yang tidak dikenali oleh orang yang menghadapinya, padahal surah ini sejak awal sudah mengabarkan hari itu. Saat itu disebut telah dekat di 54:1, berita-berita yang mengandung pencegah disebut sudah datang di 54:4, dan hikmah yang sempurna disebut sudah sampai di 54:5. Bagi orang yang menolak berita itu, hari itu tetap asing ketika tiba. Di 21:101-103 orang-orang yang telah mendapat ketetapan baik dari Allah disebut tidak dirisaukan kejutan terbesar. Apakah hari itu akan tetap terasa asing bagi orang yang sudah menerima kabarnya dari Allah dan mempercayainya?
  • Ibrahim di 11:70 melihat tangan tamunya tidak menjamah hidangan, lalu merasa curiga dan memendam rasa takut. Urutannya dimulai dari tidak mengenali, lalu takut. Tamu-tamu itu segera menenangkannya dengan (لَا تَخَفْ, laa takhaf) yang berarti "janganlah takut", dan menjelaskan bahwa mereka diutus kepada kaum Lut. Ucapan penenang yang serupa disebut di 41:30, ketika malaikat turun kepada orang-orang yang berkata "Tuhan kami adalah Allah" lalu istikamah, dengan pesan (أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا, allaa takhaafuu wa-laa tahzanuu) yang berarti "janganlah kalian takut dan janganlah kalian bersedih". Di dua tempat itu rasa takut diredakan oleh utusan Allah yang datang membawa kabar. Menurut 41:30, penenang itu datang kepada orang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya lalu tetap teguh di atas pengakuan itu selama hidup.