خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ
pandangan mereka tertunduk. Mereka keluar dari kubur seperti belalang yang beterbangan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْkhusysya'an abshaaruhumpandangan mereka tertunduk
- يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِyakhrujuuna mina l-ajdaatsimereka keluar dari kubur
- كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌka-annahum jaraadun muntasyirunseperti belalang yang beterbangan
Terjemahan per kata (8 kata)
- خُشَّعًاkhusysya'antertunduk
- أَبْصَارُهُمْabshaaruhumpenglihatan mereka
- يَخْرُجُونَyakhrujuunamereka keluar
- مِنَminadari
- الْأَجْدَاثِl-ajdaatsikubur
- كَأَنَّهُمْka-annahumseakan-akan mereka
- جَرَادٌjaraadunbelalang
- مُنْتَشِرٌmuntasyirunyang bertebaran
Inti bacaan
Khusysya' tercatat sekali, di 54:7, dan bentuk tunggalnya menyertai penglihatan di 68:43, 70:44, dan 79:9. Ajdaats tercatat di 36:51, 54:7, dan 70:43, dan 50:42 menamai hari itu yawmu l-khuruuj.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ, khusysya'an abshaaruhum) yang berarti "tertunduk penglihatan mereka". Kata khusysya' berbentuk jamak dan tercatat sekali, di ayat ini. Akarnya, خ-ش-ع, tercatat di 16 ayat. Bentuk tunggalnya dipasangkan dengan penglihatan di tiga ayat lain, yaitu 68:43 dan 70:44 dengan susunan (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ, khaasyi'atan abshaaruhum) yang berarti "tertunduk penglihatan mereka", serta 79:9 dengan urutan terbalik, (أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ, abshaaruhaa khaasyi'atun) yang berarti "pandangannya tertunduk". Keempatnya muncul dalam gambaran sebuah hari yang akan datang.
Akar yang sama dipakai untuk hal lain di luar penglihatan. Di 20:108, pada hari yang sama, (وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ, wa-khasya'ati l-ashwaatu) yang berarti "dan suara-suara merendah" kepada Ar-Rahman, sehingga tidak terdengar apa pun kecuali bisik-bisik. Di 23:2 kata ini menyifati orang-orang beriman (فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ, fii shalaatihim khaasyi'uuna) yang berarti "yang khusyuk dalam salat mereka". Terjemahan memakai "tertunduk" untuk penglihatan dan "khusyuk" untuk orang yang salat, dan keduanya berasal dari akar yang sama.
Kata kerja kalimat ini datang sesudahnya, (يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ, yakhrujuuna mina l-ajdaatsi) yang berarti "mereka keluar dari kubur". Kata kerja ini melengkapi kalimat yang dibuka "pada hari" di 54:6. Kata ajdaats tercatat di tiga ayat, yaitu 36:51, 54:7, dan 70:43, dan ketiganya menggambarkan orang yang keluar dari kubur, sedangkan bentuk jamak lain untuk kubur, (الْقُبُورِ, l-qubuuri), tercatat di lima ayat. Di 36:51 mereka keluar dari kubur (إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ, ilaa rabbihim yansiluuna) yang berarti "bergegas menuju Tuhan mereka", dan 70:43 memakai kata kerja yang sama dengan 54:7 serta menambahkan (سِرَاعًا, siraa'an) yang berarti "dengan cepat". Hari itu sendiri dinamai dengan akar kata kerja ini di 50:42, (يَوْمُ الْخُرُوجِ, yawmu l-khuruuji) yang berarti "hari keluar".
Ayat ini ditutup dengan perumpamaan (كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ, ka-annahum jaraadun muntasyirun) yang berarti "seakan-akan mereka belalang yang bertebaran". Kata jaraad tercatat di dua ayat. Di 7:133 belalang termasuk (آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ, aayaatin mufashshalaatin) yang berarti "tanda-tanda yang terperinci" yang dikirim kepada kaum Firaun, bersama banjir, kutu, katak, dan darah. Kata muntasyir tercatat sekali, dan akarnya, ن-ش-ر, tercatat di 20 ayat. Kata kerja seakar dengan pola yang sama dipakai di 30:20 untuk manusia yang bertebaran di bumi, (تَنْتَشِرُونَ, tantasyiruuna), di 33:53 untuk tamu yang bubar sesudah makan, dan di 62:10 untuk orang-orang yang bertebaran sesudah salat.
Surah ini memakai (كَأَنَّهُمْ, ka-annahum) yang berarti "seakan-akan mereka" dua kali untuk manusia, di 54:7 dan di 54:20, ketika kaum Ad yang dicabut angin diumpamakan pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang. Di 101:4 manusia pada hari itu diumpamakan (كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ, ka-l-faraasyi l-mabtsuutsi) yang berarti "seperti laron yang berhamburan". Dua perumpamaan dengan serangga yang menyebar dipakai untuk hari yang sama.
Tafsiran
Ayat ini mengisi hari yang dibuka 54:6 dengan tiga gambaran berurutan, yaitu penglihatan yang tertunduk, keluarnya orang-orang dari kubur, dan penyebaran mereka seperti belalang. Urutan kata menempatkan pandangan yang tertunduk sebelum perbuatan keluar, sehingga keadaan mereka disebut lebih dahulu daripada gerakan tubuh mereka.
Dua gambaran di ayat ini menarik ke arah berbeda. Pandangan yang tertunduk mengarah ke bawah dan diam, sedangkan belalang yang bertebaran bergerak ke banyak arah. Ayat berikutnya menyelesaikan ketegangan itu, karena kerumunan yang bertebaran itu seluruhnya bergegas menuju satu titik, yaitu penyeru (54:8).
Kemiripan ayat ini dengan 70:43-44 membuka perbandingan. Kedua tempat menyebut keluar dari kubur, perumpamaan yang dibuka "seakan-akan mereka", dan penglihatan yang tertunduk, lalu 70:44 menambahkan (تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, tarhaquhum dzillatun) yang berarti "mereka diliputi kehinaan" serta menyebut bahwa hari itu memang sudah diancamkan kepada mereka. Di 68:43 penglihatan yang tertunduk dan kehinaan itu disandingkan dengan keterangan (وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ, wa-qad kaanuu yud'awna ilaa s-sujuudi) yang berarti "dan sungguh, dahulu mereka diseru untuk bersujud". Seruan di dunia dan seruan pada hari itu memakai akar yang sama, د-ع-و, sehingga keadaan mereka pada hari itu terbaca bersama sikap mereka terhadap seruan sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang menggambarkan penglihatan tertunduk pada hari itu juga menyifati orang-orang beriman di 23:2, yang khusyuk dalam salat mereka. Akar yang sama muncul di dua tempat dengan keadaan yang berbeda. Di 23:2 ketundukan kepada Allah dijalani dengan kemauan sendiri, di tengah hidup yang masih memberi pilihan. Di 54:7 ketundukan itu datang tanpa diminta. Orang yang khusyuk dalam salatnya sudah menundukkan diri di hadapan Tuhannya sebelum hari itu tiba, dengan kemauannya sendiri, dan ayat sebelumnya, 23:1, membuka rangkaian sifat mereka dengan (قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ, qad aflaha l-mu'minuuna) yang berarti "sungguh beruntung orang-orang beriman".
- Di 68:43 penglihatan yang tertunduk pada hari itu disandingkan dengan keterangan bahwa dahulu mereka diseru untuk bersujud (وَهُمْ سَالِمُونَ, wa-hum saalimuuna), ketika mereka sehat. Ayat sebelumnya, 68:42, menyebut bahwa pada hari itu mereka diseru untuk bersujud dan tidak mampu. Keterangan "ketika mereka sehat" menunjuk waktu yang terbatas, yaitu masa ketika tubuh masih sanggup bersujud kepada Allah. Berapa banyak seruan sujud yang sudah terlewat ketika tubuh masih sanggup menjalankannya?
- Kata kerja seakar dengan muntasyir dipakai di 62:10 untuk kehidupan sehari-hari. Sesudah salat selesai, orang-orang beriman diperintah (فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ, fa-ntasyiruu fii l-ardhi) yang berarti "bertebaranlah di bumi", mencari karunia Allah, dan banyak mengingat-Nya. Manusia bertebaran setiap hari untuk bekerja dan mencari rezeki, dan 54:7 memakai gambaran yang sama untuk keluarnya manusia dari kubur. Dua keadaan itu memakai akar yang sama, tetapi 62:10 masih menyisakan pilihan tentang apa yang dibawa ketika bertebaran, dan perintahnya sendiri menyebut mengingat Allah sebagai bekalnya.
- Belalang muncul di 7:133 sebagai salah satu tanda terperinci yang dikirim Allah kepada kaum Firaun bersama banjir, kutu, katak, dan darah, dan kaum itu tetap menyombongkan diri. Surah ini sendiri, di 54:42, mencatat bahwa keluarga Firaun mendustakan semua tanda-tanda Kami. Di 54:7 manusia yang mendustakan diumpamakan belalang. Makhluk yang dahulu didatangkan sebagai tanda bagi orang yang sombong dipakai untuk menggambarkan keadaan mereka pada hari itu. Tanda di dunia dapat diabaikan, seperti yang dikerjakan kaum Firaun, sedangkan keadaan pada hari itu dialami tanpa bisa diabaikan.
- Tiga ayat yang memakai kata ajdaats semuanya menggambarkan orang yang keluar darinya, dan 36:51 menyebut ke mana mereka menuju, (إِلَىٰ رَبِّهِمْ, ilaa rabbihim) yang berarti "kepada Tuhan mereka". Dalam pemakaian kata ini, kubur digambarkan sebagai tempat yang ditinggalkan. Perjalanan manusia tidak berhenti di sana, dan arah akhirnya sudah disebut, yaitu Tuhan mereka. Cara memandang kematian ikut berubah ketika kubur dipahami sebagai tempat singgah dalam perjalanan menuju pertemuan dengan Tuhan.
- Selama hidup manusia menyebar ke banyak tujuan, dan masing-masing memilih arahnya sendiri. Di 6:153 Allah menyebut jalan-Nya yang lurus dan berpesan (وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ, wa-laa tattabi'uu s-subula fa-tafarraqa bikum 'an sabiilihi) yang berarti "dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya". Jalan yang lain disebut dalam bentuk jamak, sedangkan jalan-Nya disebut dalam bentuk tunggal. Gambaran belalang yang bertebaran di 54:7 muncul pada hari ketika arah tidak lagi dipilih. Selagi langkah masih bisa diarahkan, jalan mana yang diikuti setiap hari?