كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ

Sebelum mereka, kaum Nuh telah mendustakan; maka mereka mendustakan hamba Kami dan berkata, “Orang gila,” dan ia dibentak.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍkadzdzabat qablahum qawmu nuuhinsebelum mereka, kaum Nuh telah mendustakan
  2. فَكَذَّبُوا عَبْدَنَاfa-kadzdzabuu 'abdanaamaka, mereka mendustakan hamba Kami
  3. وَقَالُوا مَجْنُونٌwa-qaaluu majnuunundan berkata, orang gila
  4. وَازْدُجِرَwa-zdujiradan ia dibentak

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. كَذَّبَتْkadzdzabattelah mendustakan
  2. قَبْلَهُمْqablahumsebelum mereka
  3. قَوْمُqawmukaum
  4. نُوحٍnuuhinNuh
  5. فَكَذَّبُواfa-kadzdzabuumaka mereka mendustakan
  6. عَبْدَنَا'abdanaahamba Kami
  7. وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
  8. مَجْنُونٌmajnuununorang gila
  9. وَازْدُجِرَwa-zdujiradan ia dihardik

Inti bacaan

Susunan kadzdzabat qablahum qawmu nuuh tercatat di 22:42, 38:12, 40:5, 50:12, dan 54:9. Sebutan 'abdanaa dipakai juga untuk Daud di 38:17 dan Ayyub di 38:41, dan 23:25 mencatat tuduhan serupa terhadap Nuh.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ, kadzdzabat qablahum qawmu nuuhin) yang berarti "sebelum mereka, kaum Nuh telah mendustakan". Kata ganti -hum dalam qablahum merujuk kepada orang-orang yang mendustakan di 54:3, sehingga kisah Nuh diletakkan sebagai pendahulu mereka. Susunan kadzdzabat qablahum qawmu nuuh tercatat di lima ayat, yaitu 22:42, 38:12, 40:5, 50:12, dan 54:9. Di empat ayat pertama kaum Nuh berada di awal daftar bersama kaum lain, seperti Ad, Tsamud, penduduk Rass, dan Firaun, sedangkan di 54:9 susunan itu membuka kisah Nuh sendiri.

Di surah ini kata kerja kadzdzabat membuka empat kisah, yaitu kisah Nuh (54:9), Ad (54:18), Tsamud (54:23), dan kaum Lut (54:33), dan kisah kelima, keluarga Firaun, memakai bentuk jamaknya di 54:42. Di 54:9 kata kerja itu muncul dua kali, pertama tanpa sasaran, lalu dengan sasaran, (فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا, fa-kadzdzabuu 'abdanaa) yang berarti "maka mereka mendustakan hamba Kami". Pola pengulangan ini tercatat juga di 34:45, ketika orang-orang sebelum mereka mendustakan lalu (فَكَذَّبُوا رُسُلِي, fa-kadzdzabuu rusulii) yang berarti "maka mereka mendustakan rasul-rasul-Ku".

Sebutan (عَبْدَنَا, 'abdanaa) yang berarti "hamba Kami", dalam bentuk tunggal dengan akhiran -naa, tercatat di lima ayat. Di 2:23 dan 8:41 sebutan itu menunjuk orang yang menerima wahyu, di 38:17 Daud, di 38:41 Ayyub, dan di 54:9 Nuh. Nama Nuh di ayat ini muncul dalam sebutan kaumnya, sedangkan dirinya sendiri disebut hamba Kami. Di 17:3 Nuh disebut (عَبْدًا شَكُورًا, 'abdan syakuuran) yang berarti "hamba yang bersyukur", dan di 37:81 dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Tuduhan mereka berbunyi (وَقَالُوا مَجْنُونٌ, wa-qaaluu majnuunun) yang berarti "dan mereka berkata, orang gila". Kata majnuun tercatat di sebelas ayat. Tuduhan ini diarahkan kepada Rasul di 15:6, 37:36, 44:14, dan 68:51, kepada Musa oleh Firaun di 26:27 dan 51:39, dan menurut 51:52 kepada setiap rasul yang datang kepada umat-umat terdahulu. Tiga ayat lain, 52:29, 68:2, dan 81:22, menyangkal tuduhan itu atas Rasul, misalnya (مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ, maa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuunin) yang berarti "engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukan orang gila". Tentang Nuh, 23:25 mencatat ucapan para pemuka kaumnya bahwa dia (رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ, rajulun bihi jinnatun) yang berarti "seorang lelaki yang padanya ada kegilaan". Akar ج-ن-ن tercatat di 196 ayat, dan di 6:76 kata kerjanya dipakai untuk malam yang menutupi Ibrahim, (جَنَّ عَلَيْهِ, janna 'alayhi) yang berarti "menjadi gelap atasnya". Dengan latar itu, tuduhan majnuun menggambarkan orang yang dituduh sebagai orang yang akalnya tertutup.

Ayat ini ditutup dengan (وَازْدُجِرَ, wa-zdujira) yang berarti "dan dihardik", dan terjemahan ayat memakai "dibentak". Pelaku hardikan tidak disebut. Kata ini tercatat sekali, dan akarnya, ز-ج-ر, tercatat di lima ayat. Di 54:4 akar yang sama muncul dalam (مُزْدَجَرٌ, muzdajarun) yang berarti "pencegah", yang terkandung dalam berita-berita yang sudah datang. Di 37:19 dan 79:13 akar ini menamai (زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ, zajratun waahidatun) yang berarti "satu hardikan", yang membangkitkan manusia sehingga (فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَ, fa-idzaa hum yanzhuruuna) yang berarti "seketika itu mereka melihat" (37:19).

Tafsiran

Ayat ini memulai kisah pertama dari lima kisah surah ini dan langsung mengikatnya dengan pendengar Rasul lewat kata "sebelum mereka". Kisah Nuh dengan demikian dihadirkan sebagai salah satu berita yang disebut 54:4, berita yang di dalamnya terdapat pencegah.

Urutan kata kerja di ayat ini bergerak bertahap. Kaum itu mendustakan, lalu mendustakan orangnya, lalu menyebutnya orang gila, lalu Nuh dihardik. Penolakan bergerak dari keyakinan ke ucapan, lalu ke perlakuan, dan tiap tahap menambah jarak antara kaum itu dan orang yang diutus kepada mereka. Di 71:5-6 Nuh sendiri melaporkan bahwa dia menyeru kaumnya malam dan siang, dan (فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا, fa-lam yazid-hum du'aa'ii illaa firaaran) yang berarti "seruanku tidak menambah mereka selain lari". Hardikan di akhir 54:9 menjadi ujung dari penolakan yang panjang itu.

Dua sebutan untuk orang yang sama berdiri berdampingan di ayat ini. Allah menyebutnya hamba Kami, dan kaumnya menyebutnya orang gila. Jawaban atas tuduhan itu datang lewat kisah yang menyusul, ketika Nuh berdoa (54:10) dan doanya dijawab dengan air yang tercurah dari langit dan memancar dari bumi (54:11-12). Kisah ini dibuka dengan pendustaan dan ditutup di 54:15 dengan pertanyaan apakah ada yang mau mengambil pelajaran.

Renungan dan Hikmah

  • Dalam satu ayat, orang yang sama menerima dua sebutan. Allah menyebutnya hamba Kami, dan kaumnya menyebutnya orang gila. Ayat ini mencatat keduanya, dan kisah sesudahnya memperlihatkan sebutan mana yang bertahan. Orang yang menyampaikan kebenaran bisa saja dinamai buruk oleh lingkungannya, sementara kedudukannya di sisi Allah tidak berubah karena sebutan itu. Sebutan mana yang lebih dipedulikan, sebutan dari manusia di sekitar atau sebutan dari Tuhan yang menilai?
  • Tuduhan gila diarahkan kepada Nuh, kepada Musa, dan kepada Rasul, dan 51:52 menyatakan bahwa setiap rasul yang datang kepada umat terdahulu menerima tuduhan serupa. Ayat sesudahnya bertanya (أَتَوَاصَوْا بِهِ, a-tawaashaw bihi) yang berarti "apakah mereka saling mewariskannya", lalu menjawab bahwa mereka kaum yang melampaui batas. Jawaban itu menunjuk sumber kesamaan tuduhan pada sikap orang yang menuduh. Pola penolakan terhadap utusan Allah berulang lintas zaman, dan pola itu dapat dikenali setiap kali kebenaran dibalas dengan cap buruk bagi pembawanya.
  • Di 17:2 Bani Israil diberi pesan agar tidak mengambil pelindung selain Allah, dan 17:3 menyapa mereka sebagai (ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ, dzurriyyata man hamalnaa ma'a nuuhin) yang berarti "keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh", lalu menyebut Nuh hamba yang bersyukur. Sapaan itu mengingatkan mereka kepada leluhur yang diselamatkan bersama Nuh, orang yang di 54:9 dituduh gila oleh kaumnya. Pesan untuk tidak bersandar kepada selain Allah dikaitkan dengan ingatan tentang keselamatan itu dan dengan hamba yang bersyukur, sehingga kisah Nuh hadir bagi keturunan orang-orang yang dibawa itu sebagai alasan untuk bersandar kepada Tuhan yang dahulu menyelamatkan leluhur mereka.
  • Ketika Rasul dituduh gila, pembelaannya datang dari firman Allah, (مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ, maa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuunin) di 68:2, dan hal serupa diulang di 52:29 dan 81:22. Bagi Nuh, jawabannya berupa kisah yang menyusul. Dalam kedua keadaan, orang yang dituduh tidak perlu memikul sendiri beban membersihkan namanya. Tugas yang diberikan kepada Rasul tercatat di 38:17, (اصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ, ishbir 'alaa maa yaquuluuna) yang berarti "bersabarlah atas apa yang mereka katakan", dan ayat yang sama mengajaknya mengingat hamba Kami, Daud.
  • Akar kata "dihardik" di ayat ini sama dengan akar kata "pencegah" di 54:4. Kaum Nuh menghardik utusan yang membawa peringatan, lalu kisah mereka sendiri menjadi berita yang mengandung pencegah bagi generasi sesudahnya. Surah ini menyampaikan kisah itu agar pendengarnya tercegah sebelum mengulang jalan yang sama. Apakah kisah kaum Nuh sungguh bekerja sebagai pencegah bagi pembacanya, atau berhenti sebagai cerita tentang orang lain?
  • Dalam rangkaian ini, tindakan Nuh sesudah dihardik yang dicatat ayat berikutnya berupa doa kepada Tuhannya. Di 26:117 pun, sesudah diancam rajam di 26:116, Nuh berbicara kepada Tuhannya tentang kaumnya yang mendustakan. Ketika dihina, arah bicara Nuh berpindah dari kaumnya kepada Allah, dan pilihan itu terbuka pula bagi siapa pun yang sedang dihina karena kebenaran yang dibawanya.