فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

Maka, ia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku dikalahkan, maka tolonglah.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَدَعَا رَبَّهُfa-da'aa rabbahumaka, ia menyeru Tuhannya
  2. أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْannii maghluubun fa-ntashirsesungguhnya aku dikalahkan, maka tolonglah

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَدَعَاfa-da'aalalu ia berdoa
  2. رَبَّهُrabbahuTuhannya
  3. أَنِّيanniibahwa aku
  4. مَغْلُوبٌmaghluubunyang dikalahkan
  5. فَانْتَصِرْfa-ntashirmaka tolonglah

Inti bacaan

Maghluub tercatat sekali, dan pola fa-ntashir tercatat di tujuh ayat, antara lain 42:39 dan 55:35. Di 23:26 Nuh memakai pola dasarnya dengan sasaran dirinya, rabbi nshurnii.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَدَعَا رَبَّهُ, fa-da'aa rabbahu) yang berarti "lalu berdoa kepada Tuhannya". Huruf fa- menyambungkan doa ini langsung dengan hardikan di akhir 54:9. Susunan fa-da'aa rabbahu tercatat di dua ayat, 44:22 dan 54:10. Di 44:22 Musa berdoa (أَنَّ هَٰؤُلَاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ, anna haa'ulaa'i qawmun mujrimuuna) yang berarti "bahwa mereka ini kaum yang berdosa". Kedua doa dibuka dengan pernyataan tentang keadaan, dan perbedaannya terletak pada pokok pernyataan itu. Musa berbicara tentang kaumnya, sedangkan Nuh berbicara tentang dirinya.

Akar د-ع-و sudah muncul dalam rangkaian ini sebelum 54:10, yaitu pada penyeru di 54:6 dan 54:8. Di 54:10 akar itu dipakai untuk Nuh yang berdoa. Kata kerja yang sama dipakai Nuh di 71:5 untuk seruannya kepada kaumnya, (إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا, innii da'awtu qawmii laylan wa-nahaaran) yang berarti "sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang". Di 39:8 susunan (دَعَا رَبَّهُ, da'aa rabbahu) dipakai untuk manusia yang ditimpa mudarat, yang berdoa kepada Tuhannya lalu melupakan doanya begitu diberi nikmat.

Isi doa itu dibuka dengan (أَنِّي مَغْلُوبٌ, annii maghluubun) yang berarti "bahwa aku dikalahkan". Kata maghluub tercatat sekali, di ayat ini, dan akarnya, غ-ل-ب, tercatat di 28 ayat. Siapa yang mengalahkan tidak disebut dalam doa itu, dan ayat sebelumnya sudah memperlihatkan kaum yang mendustakan dan menghardiknya. Di 30:2 akar yang sama dipakai untuk bangsa Romawi, (غُلِبَتِ الرُّومُ, ghulibati r-ruumu) yang berarti "bangsa Romawi telah dikalahkan", dan 30:3 menyusulnya dengan kabar bahwa sesudah kekalahan itu mereka (سَيَغْلِبُونَ, sa-yaghlibuuna) yang berarti "akan menang".

Doa yang dibuka dengan annii dan pernyataan tentang diri sendiri juga diucapkan Ayyub. Di 21:83 Ayyub berdoa (أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ, annii massaniya dh-dhurru) yang berarti "sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit", dan di 38:41, yang juga menyebut Ayyub dengan sebutan hamba Kami, dia menyeru Tuhannya dengan pernyataan yang dibuka kata yang sama. Doa Ayyub di 21:83 ditutup dengan (وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ, wa-anta arhamu r-raahimiina) yang berarti "dan Engkau Maha Penyayang di antara semua penyayang", tanpa permintaan yang diucapkan.

Doa Nuh ditutup dengan permintaan, (فَانْتَصِرْ, fa-ntashir) yang berarti "maka tolonglah". Kata kerja ini berasal dari akar ن-ص-ر dengan pola yang di tempat lain berarti membela diri atau menolong diri, dan pola itu tercatat di tujuh ayat. Di 42:39 orang-orang beriman (يَنْتَصِرُونَ, yantashiruuna) yang berarti "membela diri" ketika ditimpa kezaliman, dan di 55:35 jin dan manusia diberi tahu (فَلَا تَنْتَصِرَانِ, fa-laa tantashiraani) yang berarti "maka kalian tidak dapat menolong diri". Di 47:4 Allah menjadi pelakunya, (لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ, la-ntashara minhum) yang berarti "niscaya Dia membalas mereka", seandainya Dia menghendaki. Dalam doa lain yang dicatat 23:26, Nuh memakai pola dasar dengan sasaran dirinya, (رَبِّ انْصُرْنِي, rabbi nshurnii) yang berarti "Tuhanku, tolonglah aku". Di 54:10 kata ganti "aku" tidak ikut dalam permintaan, sehingga siapa yang dibela dan dengan cara apa diserahkan kepada Tuhannya.

Tafsiran

Ayat ini memperlihatkan Nuh sesudah seluruh upayanya kepada kaumnya habis. Ayat sebelumnya ditutup dengan hardikan, dan huruf fa- di awal ayat ini menyambungkannya langsung dengan doa. Doa itu terdiri atas laporan dan permintaan. Laporannya menyatakan keadaan apa adanya, dan permintaannya satu kata.

Di bagian lain Al-Qur'an, doa Nuh dicatat dengan kata-kata berbeda. Di 26:117-118 dia berkata bahwa kaumnya telah mendustakannya lalu memohon (فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا, fa-ftah baynii wa-baynahum fathan) yang berarti "maka berilah keputusan antara aku dan mereka dengan suatu keputusan", dan di 71:26 dia memohon agar orang-orang kafir tidak dibiarkan tinggal di bumi. Di 54:10 doa itu dipadatkan menjadi pengakuan kalah dan permintaan tolong.

Jawabannya datang pada ayat berikutnya, (فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ, fa-fatahnaa abwaaba s-samaa'i) yang berarti "maka Kami membuka pintu-pintu langit" (54:11). Kata kerja "membuka" di situ seakar dengan "berilah keputusan" dalam doa Nuh di 26:118, yaitu ف-ت-ح. Ayat-ayat lain meringkas jawaban itu dengan (فَاسْتَجَبْنَا لَهُ, fa-stajabnaa lahu) yang berarti "maka Kami memperkenankan doanya" di 21:76 dan (فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ, fa-la-ni'ma l-mujiibuuna) yang berarti "maka Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan" di 37:75. Orang yang mengaku kalah di hadapan kaumnya dimenangkan oleh Tuhannya, sejalan dengan ketetapan di 58:21, (لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي, la-aghlibanna anaa wa-rusulii) yang berarti "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang".

Renungan dan Hikmah

  • Di hadapan Tuhannya, Nuh tidak menutupi keadaannya. Dia berkata bahwa dirinya dikalahkan, tanpa menambah pembelaan atau alasan. Pengakuan itu tidak mengurangi kedudukannya, sebab ayat sebelumnya baru saja menyebutnya hamba Kami. Kekalahan dapat diucapkan apa adanya kepada Allah, tanpa perlu dihias, dan di 54:11 jawaban datang tepat sesudah pengakuan itu. Adakah kekalahan yang selama ini disimpan sendiri, padahal dapat disampaikan kepada Dia yang sanggup menolong?
  • Beberapa doa dalam Al-Qur'an berisi laporan keadaan lebih dahulu. Ayyub berkata bahwa dirinya ditimpa penyakit lalu menyebut Tuhannya Maha Penyayang (21:83), dan Musa di 28:24 berkata (رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ, rabbi innii li-maa anzalta ilayya min khayrin faqiirun) yang berarti "Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". Doa-doa ini memberi contoh berdoa dengan menyampaikan keadaan diri kepada Allah. Seseorang yang tidak tahu harus meminta apa dapat memulai doanya dengan menyampaikan apa yang sedang dialaminya.
  • Bangsa Romawi disebut dikalahkan di 30:2, dan 30:3-4 menyatakan bahwa sesudah kekalahan itu mereka akan menang dalam beberapa tahun, karena (لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ, li-llaahi l-amru min qablu wa-min ba'du) yang berarti "milik Allahlah urusan sebelum dan sesudah". Di dua tempat ini kekalahan dicatat bersama kelanjutannya. Nuh berkata dirinya dikalahkan, dan beberapa ayat kemudian kaum yang mengalahkannya diliputi air. Kekalahan yang dialami hari ini belum tentu akhir cerita, karena urusan sesudahnya tetap milik Allah.
  • Permintaan Nuh di ayat ini, fa-ntashir, tidak menyebut bentuk pertolongan yang diinginkannya. Jawabannya datang dalam bentuk yang tidak tercantum dalam permintaan itu, yaitu pintu-pintu langit yang dibuka dengan air yang tercurah dan bumi yang dipancarkan mata airnya (54:11-12). Doa yang menyerahkan cara kepada Allah memberi ruang bagi jawaban yang melampaui bayangan orang yang berdoa. Apakah doa-doa yang diucapkan selama ini lebih banyak berisi permintaan cara, atau penyerahan urusan?
  • Kata kerja yang sama dipakai Nuh untuk dua arah. Di 71:5 dia menyeru kaumnya malam dan siang, dan di 71:6 seruannya tidak menambah mereka selain lari. Di 54:10 dia berdoa kepada Tuhannya, dan doanya dijawab di ayat berikutnya. Seruan kepada manusia bisa ditolak, dan Nuh mengalaminya dalam waktu yang panjang. Ketika seruan kepada manusia tidak lagi didengar, arah seruan dapat dipindahkan kepada Allah, yang di 2:186 menyatakan diri-Nya dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Nya.
  • Susunan da'aa rabbahu juga dipakai di 39:8 untuk manusia yang ditimpa mudarat, lalu berdoa kepada Tuhannya sambil kembali kepada-Nya. Begitu diberi nikmat, dia (نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ, nasiya maa kaana yad'uu ilayhi min qablu) yang berarti "lupa apa yang dahulu dia serukan kepada-Nya". Doa di saat sulit dicatat untuk dua orang yang berbeda. Nuh berdoa dan tetap disebut hamba yang bersyukur di 17:3, sedangkan manusia di 39:8 berdoa lalu lupa. Sesudah pertolongan datang, apa yang tersisa dari doa yang diucapkan di saat terdesak?