Ayat 54:11

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

Maka, Kami membuka pintu-pintu langit dengan air yang tercurah,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِfa-fatahnaa abwaaba s-samaa'imaka, Kami membuka pintu-pintu langit
  2. بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍbi-maa'in munhamirindengan air yang tercurah

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَفَتَحْنَاfa-fatahnaamaka Kami membuka
  2. أَبْوَابَabwaabapintu-pintu
  3. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  4. بِمَاءٍbi-maa'indengan air
  5. مُنْهَمِرٍmunhamirinyang tercurah

Inti bacaan

Fatahnaa dengan pelaku Kami tercatat di enam ayat, dan abwaab yang disandarkan kepada langit tercatat di dua, 7:40 dan 54:11. Akar munhamir tidak tercatat di ayat lain, dan 11:44 mencatat perintah aqli'ii yang menghentikan curahan itu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَفَتَحْنَا, fa-fatahnaa) yang berarti "maka Kami membuka". Kata kerjanya berakar ف-ت-ح, dan pelakunya Allah dengan kata ganti "Kami". Huruf fa di depannya menyambung kalimat ini dengan doa Nuh di 54:10, yang ditutup dengan (فَانْتَصِرْ, fa-ntashir) yang berarti "maka tolonglah". Tidak ada kalimat lain di antara permintaan itu dan pembukaan ini, sehingga ayat ini terbaca sebagai kelanjutan langsung dari doa Nuh.

Kata kerja fatahnaa dengan pelaku "Kami" tercatat di 6 ayat, yaitu 6:44, 7:96, 15:14, 23:77, 48:1, dan 54:11. Isi bukaannya berbeda-beda. Di 7:96 Allah menyatakan akan membuka (بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, barakaatin mina s-samaa'i wa-l-ardhi) yang berarti "keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi" seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa. Di 23:77 Dia membuka (بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ, baaban dzaa 'adzaabin syadiidin) yang berarti "pintu azab yang keras". Kata kerja yang sama dipakai untuk berkah dan untuk azab, dan artinya ditentukan oleh isi yang keluar dari bukaan itu.

Sasaran pembukaan di ayat ini (أَبْوَابَ السَّمَاءِ, abwaaba s-samaa'i) yang berarti "pintu-pintu langit". Kata abwaab merupakan bentuk jamak dari baab, akar ب-و-ب. Susunan abwaab yang disandarkan kepada langit tercatat di dua ayat, 7:40 dan 54:11. Di 7:40 pintu-pintu langit (لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ, laa tufattahu lahum) yang berarti "tidak dibukakan bagi mereka", yaitu bagi orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Allah dan menyombongkan diri terhadapnya. Di 54:11 pintu-pintu yang sama dibuka, dan dari sana air turun kepada kaum yang mendustakan hamba Allah (54:9). Ayat 78:19 memakai gambaran yang berdekatan untuk hari keputusan yang disebut di 78:17, (وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا, wa-futihati s-samaa'u fa-kaanat abwaaban) yang berarti "dan langit dibuka, maka jadilah beberapa pintu".

Keterangan sesudahnya (بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ, bi-maa'in munhamirin) yang berarti "dengan air yang tercurah". Huruf bi di sini menandai sarana, sehingga pintu-pintu itu dibuka dengan air sebagai isinya. Susunan bi-maa'in tercatat di empat ayat. Di 13:4 kebun anggur, tanaman, dan pohon kurma yang berlainan (يُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ, yusqaa bi-maa'in waahidin) yang berarti "disiram dengan air yang satu", dan di 67:30 air hadir sebagai kebutuhan yang dapat hilang ke dalam tanah. Di 18:29 air muncul dalam gambaran azab di neraka, dan di 54:11 air menjadi sarana hukuman di dunia.

Kata (مُنْهَمِرٍ, munhamirin) berakar ه-م-ر, dan akar ini tidak tercatat di ayat lain. Tanpa pembanding di dalam Al-Qur'an, maknanya dibaca dari tempatnya di kalimat, yaitu sifat bagi air yang keluar dari pintu langit yang dibuka. Terjemahan "tercurah" mengikuti arah gerak itu, dari atas ke bawah. Kisah Nuh di 11:44 mencatat akhir curahan yang sama lewat perintah kepada langit, (أَقْلِعِي, aqli'ii) yang berarti "berhentilah", sehingga curahan yang dimulai oleh perbuatan Allah di ayat ini dihentikan juga oleh perintah-Nya.

Tafsiran

Ayat ini memuat jawaban pertama atas doa Nuh di 54:10, dan bersamaan dengan itu pelaku kisah berganti. Sampai 54:10, kalimat-kalimatnya menyebut perbuatan kaum Nuh yang mendustakan dan menyebutnya gila, lalu perbuatan Nuh sendiri yang berdoa kepada Tuhannya. Mulai 54:11, perbuatan dikerjakan oleh Allah dengan kata ganti "Kami", oleh air, dan oleh bahtera. Kaum yang tadinya aktif tidak lagi disebut sebagai pelaku sepanjang 54:11-15, dan di 54:14 pengingkaran mereka dinyatakan dengan kata kerja pasif tanpa pelaku. Nuh sendiri hadir sebagai orang yang diangkut (54:13). Kisah yang sama di 11:38 memperlihatkan Nuh membuat bahtera sambil diejek para pemuka kaumnya, dan surah ini melewati kerja itu, beralih langsung dari doa ke pintu langit yang dibuka.

Langit yang sama pernah disebut Nuh dalam seruannya. Di 71:10 dia mengajak kaumnya memohon ampun kepada Tuhan mereka, dan di 71:11 menjanjikan bahwa Dia (يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا, yursili s-samaa'a 'alaykum midraaran) yang berarti "akan mencurahkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian". Ajakan itu ditolak. Di 54:11 air dari langit tetap datang dengan limpah, kali ini sebagai azab bagi kaum yang menolak ajakan memohon ampun. Air yang ditawarkan sebagai rahmat dan air yang datang sebagai azab turun dari langit yang sama, dan perbedaannya terletak pada jawaban kaum itu terhadap seruan Nuh.

Pembukaan langit ini baru separuh peristiwa. Ayat berikutnya menyebut bumi yang dipancarkan menjadi mata air, lalu air dari dua arah itu bertemu sesuai ketetapan yang telah ditentukan (54:12).

Renungan dan Hikmah

  • Kelapangan hidup belum cukup untuk membaca keadaan seseorang di hadapan Allah. Di 6:44 Dia membuka pintu-pintu segala sesuatu bagi orang-orang yang melupakan peringatan, dan ketika mereka bergembira dengan pemberian itu, Allah menyatakan (أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً, akhadznaahum baghtatan) yang berarti "Kami timpa mereka tiba-tiba". Kata kerja yang membuka pintu di ayat itu sama dengan kata kerja di 54:11, tempat pintu-pintu langit dibuka dengan air bah. Pintu yang terbuka lebar belum menjelaskan apakah penghuninya sedang didekatkan atau sedang ditangguhkan. Apakah pintu yang sedang terbuka hari ini dibuka di atas orang yang mengingat peringatan-Nya, atau di atas orang yang telah melupakannya?
  • Air yang tercurah dari pintu-pintu langit di ayat ini berasal dari sumber yang sama dengan air yang diminum setiap hari. Di 56:68-69 manusia ditanya tentang air yang mereka minum, apakah mereka yang menurunkannya dari awan atau Allah yang menurunkannya, dan 56:70 menyatakan bahwa seandainya Dia berkehendak, air itu dijadikan asin. Air yang cukup, air yang berubah rasa, dan air yang tercurah melampaui batas berada di tangan Pemilik yang sama. Dengan kesadaran itu, segelas air dapat menjadi tempat mengingat-Nya, dan 56:70 menutup pertanyaan-pertanyaan itu dengan (فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ, fa-lawlaa tasykuruuna) yang berarti "mengapa kalian tidak bersyukur".
  • Langit disebut di 2:22 sebagai (بِنَاءً, binaa'an) yang berarti "atap" bagi manusia, dan di 50:6 Allah menyebut langit yang dibangun dan dihiasi-Nya (وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ, wa-maa lahaa min furuujin) yang berarti "dan tidak ada retak-retak padanya". Atap yang utuh itu dibuka pintu-pintunya di 54:11 dengan satu kata kerja. Di 67:16 manusia ditanya (أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ, a-amintum man fii s-samaa'i) yang berarti "apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit". Rasa aman yang bersandar pada kokohnya atap di atas kepala berbeda dengan rasa aman yang bersandar kepada Pemilik atap itu, sebab atap dapat dibuka kapan pun Dia berkehendak.
  • Seandainya sebuah pintu dari langit dibukakan bagi orang-orang yang ingkar lalu mereka terus naik ke sana, mereka tetap akan berkata, menurut 15:15, (إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا, innamaa sukkirat abshaarunaa) yang berarti "sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan". Begitulah Allah menggambarkan mereka di 15:14 dan ayat sesudahnya. Pintu langit yang terbuka tidak dengan sendirinya melahirkan iman, dan orang-orang yang disapa di 54:2 pun berpaling setiap kali melihat tanda. Bagi kaum Nuh, pintu-pintu langit terbuka ketika air sudah turun. Tanda apa yang selama ini ditunggu sebelum mau mendengarkan peringatan-Nya, dan apakah tanda itu akan datang ketika kesempatan untuk mendengar masih terbuka?
  • Nuh tinggal bersama kaumnya (أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا, alfa sanatin illaa khamsiina 'aaman) yang berarti "seribu tahun kurang lima puluh tahun" menurut 29:14. Selama itu dia menyeru mereka siang dan malam (71:5), dan seruannya tidak menambah mereka selain lari (71:6). Di 54:11 dia tidak disebut mengerjakan apa pun, dan pintu langit dibuka oleh Allah. Seseorang dapat menunaikan bagiannya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang panjang lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah, dan kisah ini mencatat keduanya pada hamba yang di 17:3 disebut (عَبْدًا شَكُورًا, 'abdan syakuuran) yang berarti "hamba yang bersyukur".
  • Ketika langit dan bumi diperintah (ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا, i'tiyaa thaw'an aw karhan) yang berarti "datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa", keduanya menjawab (أَتَيْنَا طَائِعِينَ, ataynaa thaa'i'iina) yang berarti "kami datang dengan patuh", sebagaimana dicatat 41:11. Di 54:11-12 langit membuka pintunya dan bumi memancarkan mata airnya sesuai perintah. Di tengah ciptaan yang patuh itu, kaum Nuh memilih menolak seruan Tuhan mereka. Langit dan bumi menjawab dengan patuh, sedangkan manusia diberi pilihan untuk menaati atau menolak. Ke mana pilihan itu diarahkan ketika seruan-Nya sampai?

Ayat 54:12

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, bertemulah air sesuai ketetapan yang telah ditentukan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًاwa-fajjarnaa l-ardha 'uyuunanKami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air
  2. فَالْتَقَى الْمَاءُfa-ltaqaa l-maa'umaka, bertemulah air
  3. عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ'alaa amrin qad qudirasesuai ketetapan yang telah ditentukan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَفَجَّرْنَاwa-fajjarnaadan Kami mengalirkan
  2. الْأَرْضَl-ardhabumi
  3. عُيُونًا'uyuunanmata air
  4. فَالْتَقَىfa-ltaqaamaka bertemulah
  5. الْمَاءُl-maa'uair
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. أَمْرٍamrinurusan
  8. قَدْqadsungguh
  9. قُدِرَqudiraditentukan

Inti bacaan

Wa-fajjarnaa tercatat di tiga ayat, 36:34 dengan fiihaa dan min, 54:12 tanpa keduanya. Pelaku iltaqaa di sini kata benda tunggal al-maa', dan 23:18 memakai bi-qadarin untuk hujan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَفَجَّرْنَا, wa-fajjarnaa) yang berarti "dan Kami memancarkan", dari akar ف-ج-ر. Bentuk ini tercatat di 3 ayat, yaitu 18:33, 36:34, dan 54:12. Di 18:33 Allah mengalirkan sungai di celah dua kebun yang berbuah lebat, dan di 36:34 Dia menyatakan (وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ, wa-fajjarnaa fiihaa mina l-'uyuuni) yang berarti "dan Kami pancarkan padanya mata air", di bumi yang dihidupkan dengan kebun kurma dan anggur. Di kedua ayat itu pancaran air menumbuhkan kebun, dan di 54:12 kata kerja yang sama membuka jalan bagi air bah.

Susunan kalimat di 54:12 berbeda dari 36:34. Di 36:34 kata kerja itu disertai fiihaa, "padanya", dan kata depan min sebelum mata air, sehingga mata air dipancarkan di sebagian tempat di bumi. Di 54:12 sasaran kata kerjanya bumi itu sendiri, (الْأَرْضَ عُيُونًا, l-ardha 'uyuunan) yang berarti "bumi menjadi mata air-mata air", tanpa kata "padanya" dan tanpa kata depan min. Terjemahan "menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air" mengikuti susunan ini, karena kata kerjanya mengenai bumi seluruhnya.

Kata 'uyuun merupakan bentuk jamak dari 'ayn, akar ع-ي-ن. Di Al-Qur'an bentuk jamak 'uyuun dipakai untuk mata air, seperti di 26:57 dan 44:25, sedangkan bentuk jamak a'yun dipakai untuk mata, seperti di 7:179, (وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا, wa-lahum a'yunun laa yubshiruuna bihaa) yang berarti "dan mereka memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat". Akar yang sama muncul dua ayat kemudian dalam (بِأَعْيُنِنَا, bi-a'yuninaa) di 54:14, yang di sana berarti "dengan pengawasan Kami". Rangkaian 54:12-14 memakai keduanya, mata air bumi yang dibuka dan pengawasan yang menyertai bahtera.

Kalimat berikutnya (فَالْتَقَى الْمَاءُ, fa-ltaqaa l-maa'u) yang berarti "maka bertemulah air". Kata kerja iltaqaa berakar ل-ق-ي dan dalam bentuk ini tercatat di tujuh ayat. Di 3:13, 3:155, 3:166, 8:41, dan 8:44 kata kerja ini menggambarkan dua pasukan yang bertemu, dan di 55:19 dua laut disebut (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani) yang berarti "bertemu". Di 54:12 pelakunya kata benda tunggal, "air", walaupun air itu datang dari dua arah. Air dari langit dan air dari bumi disebut dengan satu kata, sehingga pertemuan itu digambarkan sebagai satu air yang datang dari dua pintu.

Pertemuan itu terjadi (عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ, 'alaa amrin qad qudira) yang berarti "sesuai ketetapan yang telah ditentukan". Kata kerja qudira berbentuk pasif dari akar ق-د-ر, dan dalam bentuk ini tercatat di dua ayat. Di 65:7 bentuk yang sama dipakai untuk (وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ, wa-man qudira 'alayhi rizquhu) yang berarti "dan orang yang disempitkan rezekinya", yaitu rezeki yang diberi takaran. Makna ukuran pada akar ini dinyatakan surah yang sama di 54:49, (إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, innaa kulla syay'in khalaqnaahu bi-qadarin) yang berarti "sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran", dan di 23:18 air hujan pun diturunkan (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan suatu ukuran". Air bah di 54:12 berada di bawah ukuran yang sama, walaupun di 69:11 air itu disebut melampaui batas.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi 54:11. Air datang dari atas melalui pintu-pintu langit dan dari bawah melalui bumi yang dipancarkan, sehingga tidak ada arah yang tersisa bagi kaum Nuh untuk menghindar. Gambaran dua arah ini sejalan dengan 6:65, bahwa Allah berkuasa mengirim azab (مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ, min fawqikum aw min tahti arjulikum) yang berarti "dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian". Di 6:65 kedua arah itu disebut sebagai kemungkinan, dan di 54:11-12 keduanya datang bersamaan.

Kisah yang sama di 11:40 dan 23:27 menandai saat perintah datang dengan (وَفَارَ التَّنُّورُ, wa-faara t-tannuuru) yang berarti "dan tungku itu memancar". Surah ini tidak menyebut tungku. Kedua catatan itu tidak saling meniadakan, karena masing-masing menyorot bagian peristiwa yang berbeda, dan 54:12 menyorot luasnya.

Kalimat penutup ayat ini memindahkan perhatian dari besarnya air kepada ketetapan di baliknya. Kata amr di 54:12 muncul lagi di akhir surah, (وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ, wa-maa amrunaa illaa waahidatun) yang berarti "dan perintah Kami tidak lain kecuali sekali" di 54:50, disusul (كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ, ka-lamhin bi-l-bashari) yang berarti "seperti kejapan mata". Air bah yang datang dari langit dan bumi, dilihat dari sisi ketetapan itu, berlangsung sebagai pelaksanaan satu perintah. Peristiwa sebesar ini tidak lahir dari kekacauan, dan pertemuan air dari dua arah terjadi pada saat dan ukuran yang telah ditentukan.

Renungan dan Hikmah

  • Pemilik dua kebun di 18:33 menikmati sungai yang dialirkan Allah di celah kebunnya, dengan kata kerja yang sama dengan wa-fajjarnaa di ayat ini. Dia lalu berkata (مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا, maa azhunnu an tabiida haadzihi abadan) yang berarti "aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya" (18:35). Di 18:42 buahnya dibinasakan, dan dia membolak-balikkan telapak tangannya atas apa yang telah dibelanjakannya. Air yang memancar dari bumi dapat menghidupkan kebun dan dapat pula menenggelamkan sebuah kaum, sesuai kehendak Allah. Adakah sesuatu yang hari ini mengalir lancar dalam hidup seseorang lalu dikiranya tidak akan pernah berhenti?
  • Pertemuan dua pasukan di 8:42 diceritakan dengan kalimat (وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ, wa-law tawaa'adtum la-khtalaftum fii l-mii'aadi) yang berarti "seandainya kalian saling berjanji, niscaya kalian akan berselisih tentang waktu pertemuan". Pertemuan itu terjadi karena Allah hendak melaksanakan (أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا, amran kaana maf'uulan) yang berarti "suatu urusan yang harus terlaksana". Kata kerja iltaqaa di 8:41 dan 8:44 dipakai untuk pertemuan itu, dan di 54:12 untuk air dari dua arah yang bertemu atas ketetapan. Ada pertemuan dalam hidup yang tidak pernah direncanakan pihak-pihak yang terlibat, dan 8:44 menutup kisah pertemuan itu dengan (وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ, wa-ilaa llaahi turja'u l-umuuru) yang berarti "dan kepada Allah segala urusan dikembalikan".
  • Kata kerja qudira di ayat ini dipakai juga di 65:7 untuk orang yang rezekinya disempitkan. Ayat itu tidak berhenti pada kesempitan, karena orang itu diminta memberi dari apa yang Allah berikan kepadanya, lalu dijanjikan (سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا, sa-yaj'alu llaahu ba'da 'usrin yusran) yang berarti "Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan". Di 42:27 disebutkan bahwa seandainya Allah melapangkan rezeki hamba-hamba-Nya, mereka akan melampaui batas di bumi, dan karena itu Dia (يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ, yunazzilu bi-qadarin maa yasyaa'u) yang berarti "menurunkan dengan kadar yang Dia kehendaki". Rezeki yang terasa sempit berada di bawah takaran yang sama dengan air bah di 54:12, dan takaran itu berasal dari Dia yang mengenal hamba-hamba-Nya.
  • Mata air disebut dalam dua keadaan yang berlawanan. Di 54:12 bumi dipancarkan menjadi mata air untuk menenggelamkan kaum yang mendustakan, sedangkan di 15:45 orang-orang bertakwa berada (فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, fii jannaatin wa-'uyuunin) yang berarti "dalam taman-taman dan mata air". Di 76:6 hamba-hamba Allah minum dari mata air yang (يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا, yufajjiruunahaa tafjiiran) yang berarti "mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh", dengan kata kerja seakar dengan wa-fajjarnaa. Di dunia kaum Nuh tidak kuasa menahan pancaran air, sedangkan di taman itu hamba-hamba Allah memancarkan mata air untuk minum mereka. Akar yang sama menandai dua akhir yang berbeda, dan jalan menuju masing-masing ditentukan oleh sikap seseorang terhadap peringatan Tuhannya.
  • Ketetapan di ayat ini disebut dengan qad qudira, "telah ditentukan", sehingga ukurannya sudah ada sebelum air itu bertemu. Di 57:22 Allah menyatakan bahwa musibah yang menimpa di bumi dan pada diri manusia sudah tercatat (فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا, fii kitaabin min qabli an nabra'ahaa) yang berarti "dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya". Ayat berikutnya, 57:23, menyebut tujuan pencatatan itu, yaitu agar manusia tidak bersedih terhadap apa yang luput darinya. Musibah yang datang dari banyak arah sekaligus tetap berada di dalam ketetapan yang mendahuluinya. Kesedihan atas yang luput tetap ada, dan ayat itu memberi alasan untuk tidak tenggelam di dalamnya.
  • Air yang bertemu dari dua arah di ayat ini tidak berlangsung selamanya. Di 11:44 bumi diperintah (ابْلَعِي مَاءَكِ, bla'ii maa'aki) yang berarti "telanlah airmu", langit diperintah berhenti, dan (وَغِيضَ الْمَاءُ, wa-ghiidha l-maa'u) yang berarti "dan air pun disurutkan". Bumi yang tadinya memancarkan air menelannya kembali atas perintah Allah. Keadaan yang terasa mengepung dari segala arah pun memiliki ujung yang ditetapkan-Nya. Orang yang sedang berada di tengah kesulitan yang meluap dapat mengingat bahwa air di zaman Nuh pun surut ketika perintah-Nya datang.