فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ
Maka, Kami membuka pintu-pintu langit dengan air yang tercurah,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِfa-fatahnaa abwaaba s-samaa'imaka, Kami membuka pintu-pintu langit
- بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍbi-maa'in munhamirindengan air yang tercurah
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَفَتَحْنَاfa-fatahnaamaka Kami membuka
- أَبْوَابَabwaabapintu-pintu
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- بِمَاءٍbi-maa'indengan air
- مُنْهَمِرٍmunhamirinyang tercurah
Inti bacaan
Fatahnaa dengan pelaku Kami tercatat di enam ayat, dan abwaab yang disandarkan kepada langit tercatat di dua, 7:40 dan 54:11. Akar munhamir tidak tercatat di ayat lain, dan 11:44 mencatat perintah aqli'ii yang menghentikan curahan itu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَفَتَحْنَا, fa-fatahnaa) yang berarti "maka Kami membuka". Kata kerjanya berakar ف-ت-ح, dan pelakunya Allah dengan kata ganti "Kami". Huruf fa di depannya menyambung kalimat ini dengan doa Nuh di 54:10, yang ditutup dengan (فَانْتَصِرْ, fa-ntashir) yang berarti "maka tolonglah". Tidak ada kalimat lain di antara permintaan itu dan pembukaan ini, sehingga ayat ini terbaca sebagai kelanjutan langsung dari doa Nuh.
Kata kerja fatahnaa dengan pelaku "Kami" tercatat di 6 ayat, yaitu 6:44, 7:96, 15:14, 23:77, 48:1, dan 54:11. Isi bukaannya berbeda-beda. Di 7:96 Allah menyatakan akan membuka (بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, barakaatin mina s-samaa'i wa-l-ardhi) yang berarti "keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi" seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa. Di 23:77 Dia membuka (بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ, baaban dzaa 'adzaabin syadiidin) yang berarti "pintu azab yang keras". Kata kerja yang sama dipakai untuk berkah dan untuk azab, dan artinya ditentukan oleh isi yang keluar dari bukaan itu.
Sasaran pembukaan di ayat ini (أَبْوَابَ السَّمَاءِ, abwaaba s-samaa'i) yang berarti "pintu-pintu langit". Kata abwaab merupakan bentuk jamak dari baab, akar ب-و-ب. Susunan abwaab yang disandarkan kepada langit tercatat di dua ayat, 7:40 dan 54:11. Di 7:40 pintu-pintu langit (لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ, laa tufattahu lahum) yang berarti "tidak dibukakan bagi mereka", yaitu bagi orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Allah dan menyombongkan diri terhadapnya. Di 54:11 pintu-pintu yang sama dibuka, dan dari sana air turun kepada kaum yang mendustakan hamba Allah (54:9). Ayat 78:19 memakai gambaran yang berdekatan untuk hari keputusan yang disebut di 78:17, (وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا, wa-futihati s-samaa'u fa-kaanat abwaaban) yang berarti "dan langit dibuka, maka jadilah beberapa pintu".
Keterangan sesudahnya (بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ, bi-maa'in munhamirin) yang berarti "dengan air yang tercurah". Huruf bi di sini menandai sarana, sehingga pintu-pintu itu dibuka dengan air sebagai isinya. Susunan bi-maa'in tercatat di empat ayat. Di 13:4 kebun anggur, tanaman, dan pohon kurma yang berlainan (يُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ, yusqaa bi-maa'in waahidin) yang berarti "disiram dengan air yang satu", dan di 67:30 air hadir sebagai kebutuhan yang dapat hilang ke dalam tanah. Di 18:29 air muncul dalam gambaran azab di neraka, dan di 54:11 air menjadi sarana hukuman di dunia.
Kata (مُنْهَمِرٍ, munhamirin) berakar ه-م-ر, dan akar ini tidak tercatat di ayat lain. Tanpa pembanding di dalam Al-Qur'an, maknanya dibaca dari tempatnya di kalimat, yaitu sifat bagi air yang keluar dari pintu langit yang dibuka. Terjemahan "tercurah" mengikuti arah gerak itu, dari atas ke bawah. Kisah Nuh di 11:44 mencatat akhir curahan yang sama lewat perintah kepada langit, (أَقْلِعِي, aqli'ii) yang berarti "berhentilah", sehingga curahan yang dimulai oleh perbuatan Allah di ayat ini dihentikan juga oleh perintah-Nya.
Tafsiran
Ayat ini memuat jawaban pertama atas doa Nuh di 54:10, dan bersamaan dengan itu pelaku kisah berganti. Sampai 54:10, kalimat-kalimatnya menyebut perbuatan kaum Nuh yang mendustakan dan menyebutnya gila, lalu perbuatan Nuh sendiri yang berdoa kepada Tuhannya. Mulai 54:11, perbuatan dikerjakan oleh Allah dengan kata ganti "Kami", oleh air, dan oleh bahtera. Kaum yang tadinya aktif tidak lagi disebut sebagai pelaku sepanjang 54:11-15, dan di 54:14 pengingkaran mereka dinyatakan dengan kata kerja pasif tanpa pelaku. Nuh sendiri hadir sebagai orang yang diangkut (54:13). Kisah yang sama di 11:38 memperlihatkan Nuh membuat bahtera sambil diejek para pemuka kaumnya, dan surah ini melewati kerja itu, beralih langsung dari doa ke pintu langit yang dibuka.
Langit yang sama pernah disebut Nuh dalam seruannya. Di 71:10 dia mengajak kaumnya memohon ampun kepada Tuhan mereka, dan di 71:11 menjanjikan bahwa Dia (يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا, yursili s-samaa'a 'alaykum midraaran) yang berarti "akan mencurahkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian". Ajakan itu ditolak. Di 54:11 air dari langit tetap datang dengan limpah, kali ini sebagai azab bagi kaum yang menolak ajakan memohon ampun. Air yang ditawarkan sebagai rahmat dan air yang datang sebagai azab turun dari langit yang sama, dan perbedaannya terletak pada jawaban kaum itu terhadap seruan Nuh.
Pembukaan langit ini baru separuh peristiwa. Ayat berikutnya menyebut bumi yang dipancarkan menjadi mata air, lalu air dari dua arah itu bertemu sesuai ketetapan yang telah ditentukan (54:12).
Renungan dan Hikmah
- Kelapangan hidup belum cukup untuk membaca keadaan seseorang di hadapan Allah. Di 6:44 Dia membuka pintu-pintu segala sesuatu bagi orang-orang yang melupakan peringatan, dan ketika mereka bergembira dengan pemberian itu, Allah menyatakan (أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً, akhadznaahum baghtatan) yang berarti "Kami timpa mereka tiba-tiba". Kata kerja yang membuka pintu di ayat itu sama dengan kata kerja di 54:11, tempat pintu-pintu langit dibuka dengan air bah. Pintu yang terbuka lebar belum menjelaskan apakah penghuninya sedang didekatkan atau sedang ditangguhkan. Apakah pintu yang sedang terbuka hari ini dibuka di atas orang yang mengingat peringatan-Nya, atau di atas orang yang telah melupakannya?
- Air yang tercurah dari pintu-pintu langit di ayat ini berasal dari sumber yang sama dengan air yang diminum setiap hari. Di 56:68-69 manusia ditanya tentang air yang mereka minum, apakah mereka yang menurunkannya dari awan atau Allah yang menurunkannya, dan 56:70 menyatakan bahwa seandainya Dia berkehendak, air itu dijadikan asin. Air yang cukup, air yang berubah rasa, dan air yang tercurah melampaui batas berada di tangan Pemilik yang sama. Dengan kesadaran itu, segelas air dapat menjadi tempat mengingat-Nya, dan 56:70 menutup pertanyaan-pertanyaan itu dengan (فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ, fa-lawlaa tasykuruuna) yang berarti "mengapa kalian tidak bersyukur".
- Langit disebut di 2:22 sebagai (بِنَاءً, binaa'an) yang berarti "atap" bagi manusia, dan di 50:6 Allah menyebut langit yang dibangun dan dihiasi-Nya (وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ, wa-maa lahaa min furuujin) yang berarti "dan tidak ada retak-retak padanya". Atap yang utuh itu dibuka pintu-pintunya di 54:11 dengan satu kata kerja. Di 67:16 manusia ditanya (أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ, a-amintum man fii s-samaa'i) yang berarti "apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit". Rasa aman yang bersandar pada kokohnya atap di atas kepala berbeda dengan rasa aman yang bersandar kepada Pemilik atap itu, sebab atap dapat dibuka kapan pun Dia berkehendak.
- Seandainya sebuah pintu dari langit dibukakan bagi orang-orang yang ingkar lalu mereka terus naik ke sana, mereka tetap akan berkata, menurut 15:15, (إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا, innamaa sukkirat abshaarunaa) yang berarti "sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan". Begitulah Allah menggambarkan mereka di 15:14 dan ayat sesudahnya. Pintu langit yang terbuka tidak dengan sendirinya melahirkan iman, dan orang-orang yang disapa di 54:2 pun berpaling setiap kali melihat tanda. Bagi kaum Nuh, pintu-pintu langit terbuka ketika air sudah turun. Tanda apa yang selama ini ditunggu sebelum mau mendengarkan peringatan-Nya, dan apakah tanda itu akan datang ketika kesempatan untuk mendengar masih terbuka?
- Nuh tinggal bersama kaumnya (أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا, alfa sanatin illaa khamsiina 'aaman) yang berarti "seribu tahun kurang lima puluh tahun" menurut 29:14. Selama itu dia menyeru mereka siang dan malam (71:5), dan seruannya tidak menambah mereka selain lari (71:6). Di 54:11 dia tidak disebut mengerjakan apa pun, dan pintu langit dibuka oleh Allah. Seseorang dapat menunaikan bagiannya dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang panjang lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah, dan kisah ini mencatat keduanya pada hamba yang di 17:3 disebut (عَبْدًا شَكُورًا, 'abdan syakuuran) yang berarti "hamba yang bersyukur".
- Ketika langit dan bumi diperintah (ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا, i'tiyaa thaw'an aw karhan) yang berarti "datanglah kalian berdua dengan sukarela atau terpaksa", keduanya menjawab (أَتَيْنَا طَائِعِينَ, ataynaa thaa'i'iina) yang berarti "kami datang dengan sukarela", sebagaimana dicatat 41:11. Di 54:11-12 langit membuka pintunya dan bumi memancarkan mata airnya sesuai perintah. Di tengah ciptaan yang patuh itu, kaum Nuh memilih menolak seruan Tuhan mereka. Langit dan bumi menjawab dengan patuh, sedangkan manusia diberi pilihan untuk menaati atau menolak. Ke mana pilihan itu diarahkan ketika seruan-Nya sampai?