Ayat 54:12
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, bertemulah air sesuai ketetapan yang telah ditentukan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًاwa-fajjarnaa l-ardha 'uyuunanKami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air
- فَالْتَقَى الْمَاءُfa-ltaqaa l-maa'umaka, bertemulah air
- عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ'alaa amrin qad qudirasesuai ketetapan yang telah ditentukan
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَفَجَّرْنَاwa-fajjarnaadan Kami mengalirkan
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- عُيُونًا'uyuunanmata air
- فَالْتَقَىfa-ltaqaamaka bertemulah
- الْمَاءُl-maa'uair
- عَلَىٰ'alaaatas
- أَمْرٍamrinurusan
- قَدْqadsungguh
- قُدِرَqudiraditentukan
Inti bacaan
Wa-fajjarnaa tercatat di tiga ayat, 36:34 dengan fiihaa dan min, 54:12 tanpa keduanya. Pelaku iltaqaa di sini kata benda tunggal al-maa', dan 23:18 memakai bi-qadarin untuk hujan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَفَجَّرْنَا, wa-fajjarnaa) yang berarti "dan Kami memancarkan", dari akar ف-ج-ر. Bentuk ini tercatat di 3 ayat, yaitu 18:33, 36:34, dan 54:12. Di 18:33 Allah mengalirkan sungai di celah dua kebun yang berbuah lebat, dan di 36:34 Dia menyatakan (وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ, wa-fajjarnaa fiihaa mina l-'uyuuni) yang berarti "dan Kami pancarkan padanya mata air", di bumi yang dihidupkan dengan kebun kurma dan anggur. Di kedua ayat itu pancaran air menumbuhkan kebun, dan di 54:12 kata kerja yang sama membuka jalan bagi air bah.
Susunan kalimat di 54:12 berbeda dari 36:34. Di 36:34 kata kerja itu disertai fiihaa, "padanya", dan kata depan min sebelum mata air, sehingga mata air dipancarkan di sebagian tempat di bumi. Di 54:12 sasaran kata kerjanya bumi itu sendiri, (الْأَرْضَ عُيُونًا, l-ardha 'uyuunan) yang berarti "bumi menjadi mata air-mata air", tanpa kata "padanya" dan tanpa kata depan min. Terjemahan "menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air" mengikuti susunan ini, karena kata kerjanya mengenai bumi seluruhnya.
Kata 'uyuun merupakan bentuk jamak dari 'ayn, akar ع-ي-ن. Di Al-Qur'an bentuk jamak 'uyuun dipakai untuk mata air, seperti di 26:57 dan 44:25, sedangkan bentuk jamak a'yun dipakai untuk mata, seperti di 7:179, (وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا, wa-lahum a'yunun laa yubshiruuna bihaa) yang berarti "dan mereka memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat". Akar yang sama muncul dua ayat kemudian dalam (بِأَعْيُنِنَا, bi-a'yuninaa) di 54:14, yang di sana berarti "dengan pengawasan Kami". Rangkaian 54:12-14 memakai keduanya, mata air bumi yang dibuka dan pengawasan yang menyertai bahtera.
Kalimat berikutnya (فَالْتَقَى الْمَاءُ, fa-ltaqaa l-maa'u) yang berarti "maka bertemulah air". Kata kerja iltaqaa berakar ل-ق-ي dan dalam bentuk ini tercatat di tujuh ayat. Di 3:13, 3:155, 3:166, 8:41, dan 8:44 kata kerja ini menggambarkan dua pasukan yang bertemu, dan di 55:19 dua laut disebut (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani) yang berarti "bertemu". Di 54:12 pelakunya kata benda tunggal, "air", walaupun air itu datang dari dua arah. Air dari langit dan air dari bumi disebut dengan satu kata, sehingga pertemuan itu digambarkan sebagai satu air yang datang dari dua pintu.
Pertemuan itu terjadi (عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ, 'alaa amrin qad qudira) yang berarti "sesuai ketetapan yang telah ditentukan". Kata kerja qudira berbentuk pasif dari akar ق-د-ر, dan dalam bentuk ini tercatat di dua ayat. Di 65:7 bentuk yang sama dipakai untuk (وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ, wa-man qudira 'alayhi rizquhu) yang berarti "dan orang yang disempitkan rezekinya", yaitu rezeki yang diberi takaran. Makna ukuran pada akar ini dinyatakan surah yang sama di 54:49, (إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, innaa kulla syay'in khalaqnaahu bi-qadarin) yang berarti "sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran", dan di 23:18 air hujan pun diturunkan (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan suatu ukuran". Air bah di 54:12 berada di bawah ukuran yang sama, walaupun di 69:11 air itu disebut melampaui batas.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi 54:11. Air datang dari atas melalui pintu-pintu langit dan dari bawah melalui bumi yang dipancarkan, sehingga tidak ada arah yang tersisa bagi kaum Nuh untuk menghindar. Gambaran dua arah ini sejalan dengan 6:65, bahwa Allah berkuasa mengirim azab (مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ, min fawqikum aw min tahti arjulikum) yang berarti "dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian". Di 6:65 kedua arah itu disebut sebagai kemungkinan, dan di 54:11-12 keduanya datang bersamaan.
Kisah yang sama di 11:40 dan 23:27 menandai saat perintah datang dengan (وَفَارَ التَّنُّورُ, wa-faara t-tannuuru) yang berarti "dan tungku itu memancar". Surah ini tidak menyebut tungku. Kedua catatan itu tidak saling meniadakan, karena masing-masing menyorot bagian peristiwa yang berbeda, dan 54:12 menyorot luasnya.
Kalimat penutup ayat ini memindahkan perhatian dari besarnya air kepada ketetapan di baliknya. Kata amr di 54:12 muncul lagi di akhir surah, (وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ, wa-maa amrunaa illaa waahidatun) yang berarti "dan perintah Kami tidak lain kecuali sekali" di 54:50, disusul (كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ, ka-lamhin bi-l-bashari) yang berarti "seperti kejapan mata". Air bah yang datang dari langit dan bumi, dilihat dari sisi ketetapan itu, berlangsung sebagai pelaksanaan satu perintah. Peristiwa sebesar ini tidak lahir dari kekacauan, dan pertemuan air dari dua arah terjadi pada saat dan ukuran yang telah ditentukan.
Renungan dan Hikmah
- Pemilik dua kebun di 18:33 menikmati sungai yang dialirkan Allah di celah kebunnya, dengan kata kerja yang sama dengan wa-fajjarnaa di ayat ini. Dia lalu berkata (مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا, maa azhunnu an tabiida haadzihi abadan) yang berarti "aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya" (18:35). Di 18:42 buahnya dibinasakan, dan dia membolak-balikkan telapak tangannya atas apa yang telah dibelanjakannya. Air yang memancar dari bumi dapat menghidupkan kebun dan dapat pula menenggelamkan sebuah kaum, sesuai kehendak Allah. Adakah sesuatu yang hari ini mengalir lancar dalam hidup seseorang lalu dikiranya tidak akan pernah berhenti?
- Pertemuan dua pasukan di 8:42 diceritakan dengan kalimat (وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ, wa-law tawaa'adtum la-khtalaftum fii l-mii'aadi) yang berarti "seandainya kalian saling berjanji, niscaya kalian akan berselisih tentang waktu pertemuan". Pertemuan itu terjadi karena Allah hendak melaksanakan (أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا, amran kaana maf'uulan) yang berarti "suatu urusan yang harus terlaksana". Kata kerja iltaqaa di 8:41 dan 8:44 dipakai untuk pertemuan itu, dan di 54:12 untuk air dari dua arah yang bertemu atas ketetapan. Ada pertemuan dalam hidup yang tidak pernah direncanakan pihak-pihak yang terlibat, dan 8:44 menutup kisah pertemuan itu dengan (وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ, wa-ilaa llaahi turja'u l-umuuru) yang berarti "dan kepada Allah segala urusan dikembalikan".
- Kata kerja qudira di ayat ini dipakai juga di 65:7 untuk orang yang rezekinya disempitkan. Ayat itu tidak berhenti pada kesempitan, karena orang itu diminta memberi dari apa yang Allah berikan kepadanya, lalu dijanjikan (سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا, sa-yaj'alu llaahu ba'da 'usrin yusran) yang berarti "Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan". Di 42:27 disebutkan bahwa seandainya Allah melapangkan rezeki hamba-hamba-Nya, mereka akan melampaui batas di bumi, dan karena itu Dia (يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ, yunazzilu bi-qadarin maa yasyaa'u) yang berarti "menurunkan dengan kadar yang Dia kehendaki". Rezeki yang terasa sempit berada di bawah takaran yang sama dengan air bah di 54:12, dan takaran itu berasal dari Dia yang mengenal hamba-hamba-Nya.
- Mata air disebut dalam dua keadaan yang berlawanan. Di 54:12 bumi dipancarkan menjadi mata air untuk menenggelamkan kaum yang mendustakan, sedangkan di 15:45 orang-orang bertakwa berada (فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, fii jannaatin wa-'uyuunin) yang berarti "dalam taman-taman dan mata air". Di 76:6 hamba-hamba Allah minum dari mata air yang (يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا, yufajjiruunahaa tafjiiran) yang berarti "mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh", dengan kata kerja seakar dengan wa-fajjarnaa. Di dunia kaum Nuh tidak kuasa menahan pancaran air, sedangkan di taman itu hamba-hamba Allah memancarkan mata air untuk minum mereka. Akar yang sama menandai dua akhir yang berbeda, dan jalan menuju masing-masing ditentukan oleh sikap seseorang terhadap peringatan Tuhannya.
- Ketetapan di ayat ini disebut dengan qad qudira, "telah ditentukan", sehingga ukurannya sudah ada sebelum air itu bertemu. Di 57:22 Allah menyatakan bahwa musibah yang menimpa di bumi dan pada diri manusia sudah tercatat (فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا, fii kitaabin min qabli an nabra'ahaa) yang berarti "dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya". Ayat berikutnya, 57:23, menyebut tujuan pencatatan itu, yaitu agar manusia tidak bersedih terhadap apa yang luput darinya. Musibah yang datang dari banyak arah sekaligus tetap berada di dalam ketetapan yang mendahuluinya. Kesedihan atas yang luput tetap ada, dan ayat itu memberi alasan untuk tidak tenggelam di dalamnya.
- Air yang bertemu dari dua arah di ayat ini tidak berlangsung selamanya. Di 11:44 bumi diperintah (ابْلَعِي مَاءَكِ, bla'ii maa'aki) yang berarti "telanlah airmu", langit diperintah berhenti, dan (وَغِيضَ الْمَاءُ, wa-ghiidha l-maa'u) yang berarti "dan air pun disurutkan". Bumi yang tadinya memancarkan air menelannya kembali atas perintah Allah. Keadaan yang terasa mengepung dari segala arah pun memiliki ujung yang ditetapkan-Nya. Orang yang sedang berada di tengah kesulitan yang meluap dapat mengingat bahwa air di zaman Nuh pun surut ketika perintah-Nya datang.
Ayat 54:13
وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ
Dan Kami mengangkutnya di atas yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍwa-hamalnaahu 'alaa dzaati alwaahin wa-dusurindan Kami mengangkutnya di atas yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَحَمَلْنَاهُwa-hamalnaahudan Kami mengangkutnya
- عَلَىٰ'alaaatas
- ذَاتِdzaatiyang memiliki
- أَلْوَاحٍalwaahinpapan-papan
- وَدُسُرٍwa-dusurindan paku
Inti bacaan
Hamalnaa berpelaku Allah tercatat di enam ayat, empat di antaranya berkaitan dengan bahtera. Lawh tercatat di lima ayat, empat sebagai tempat tulisan, dan dusur tidak tercatat di ayat lain.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَحَمَلْنَاهُ, wa-hamalnaahu) yang berarti "dan Kami mengangkutnya". Kata kerjanya berakar ح-م-ل, dan kata ganti -hu merujuk kepada Nuh, yang di 54:9 disebut (عَبْدَنَا, 'abdanaa) yang berarti "hamba Kami". Bentuk hamalnaa dengan Allah sebagai pelaku tercatat di 6 ayat. Di 17:70 kata kerja ini dipakai untuk anak cucu Adam yang diangkut di darat dan di laut, dan empat ayat lainnya berkaitan dengan bahtera. Ayat 17:3 dan 19:58 menyebut orang-orang yang diangkut bersama Nuh, 36:41 menyebut keturunan manusia yang diangkut (فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ, fi l-fulki l-masyhuuni) yang berarti "dalam kapal yang penuh muatan", dan 69:11 menyatakan (حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ, hamalnaakum fii l-jaariyati) yang berarti "Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar".
Tempat pengangkutan itu disebut (عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ, 'alaa dzaati alwaahin wa-dusurin) yang berarti "di atas yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak". Kata dzaat berarti "yang memiliki". Di 85:1 kata ini menyertai benda yang disebut namanya, (وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ, wa-s-samaa'i dzaati l-buruuji) yang berarti "demi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang". Di 54:13 benda pemiliknya tidak dinamai. Di ayat-ayat lain bahtera Nuh disebut al-fulk (11:37, 23:27, 26:119), as-safiinah (29:15), dan al-jaariyah (69:11), dan di ayat ini bahtera itu dikenali dari bahannya.
Kata (أَلْوَاحٍ, alwaahin) merupakan bentuk jamak dari lawh, akar ل-و-ح, yang tercatat di lima ayat. Di 7:145, 7:150, dan 7:154 kata ini menyebut lauh-lauh, yaitu lembaran-lembaran tempat tulisan, yang diberikan kepada Musa, tempat Allah menuliskan (مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ, maw'izhatan wa-tafshiilan li-kulli syay'in) yang berarti "pelajaran dan penjelasan untuk segala hal". Di 85:22 bentuk tunggalnya dipakai dalam (لَوْحٍ مَحْفُوظٍ, lawhin mahfuuzhin) yang berarti "lauh yang terpelihara". Di 54:13 kata yang sama menyebut papan-papan penyusun bahtera. Di empat ayat lain lawh menjadi tempat tulisan, dan di ayat ini menjadi alas bagi orang-orang yang diselamatkan.
Kata (دُسُرٍ, dusurin) berakar د-س-ر, dan akar ini tidak tercatat di ayat lain. Al-Qur'an tidak menyediakan pembanding untuknya, sehingga maknanya dibaca dari pasangannya. Kata ini disambung dengan alwaahin memakai huruf wa, dan keduanya menjadi bahan yang menyusun benda tanpa nama itu. Terjemahan "pasak-pasak" menempatkan dusurin sebagai penyambung papan. Keduanya berbentuk jamak, sehingga bahtera itu tergambar sebagai benda yang tersusun dari banyak papan dan banyak penyambung.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan sorotan dari air yang membinasakan kepada orang yang diselamatkan. Di tengah air dari dua arah yang disebut 54:11-12, Nuh diangkut di atas benda yang disusun dari papan dan pasak. Surah ini tidak menyebut siapa saja yang naik bersama Nuh, walaupun 26:119 mencatat bahwa dia diselamatkan bersama orang-orang yang menyertainya. Kata ganti tunggal -hu memusatkan perhatian pada hamba yang didustakan di 54:9, sehingga penyelamatan di ayat ini terbaca sebagai jawaban bagi orang yang berdoa di 54:10.
Susunan ayat ini juga menempatkan keselamatan di tangan Allah. Kata kerjanya "Kami mengangkut", sedangkan bahtera hadir sebagai tempat. Di 11:41 Nuh mengajak orang-orang naik dengan kalimat (بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا, bi-smi llaahi majraahaa wa-mursaahaa) yang berarti "dengan nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya". Papan dan pasak dibuat oleh tangan manusia, sedangkan pelayaran dan pelabuhannya disandarkan kepada nama Allah.
Penyebutan bahan ini juga menampakkan jarak antara sarana dan keadaan yang dihadapinya. Di 11:42 bahtera itu berlayar (فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ, fii mawjin ka-l-jibaali) yang berarti "dalam gelombang seperti gunung-gunung". Papan yang disambung pasak berhadapan dengan gelombang setinggi itu, dan ayat berikutnya menyebut pengawasan yang menyertai pelayaran itu (54:14). Keselamatan orang-orang di atasnya disandarkan kepada Dia yang mengangkut, dan papan serta pasak menjadi sarana yang dipakai-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Begitu Nuh dan orang-orang yang bersamanya menetap di atas kapal, 23:28 memerintahkan dia mengucapkan (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ, l-hamdu li-llaahi lladzii najjaanaa mina l-qawmi zh-zhaalimiina) yang berarti "segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim". Ayat berikutnya, 23:29, menambahkan doa (رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا, rabbi anzilnii munzalan mubaarakan) yang berarti "Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat turun yang diberkahi". Pujian atas keselamatan yang sudah diterima disusul permohonan untuk perjalanan yang belum selesai. Keselamatan dari satu kesulitan belum menjadi akhir perjalanan, dan doa Nuh memperlihatkan cara menyikapinya, dengan bersyukur atas yang telah lewat sambil memohon untuk yang masih di depan.
- Kapal dan hewan tunggangan disebut di 43:12 sebagai pemberian Allah, dan 43:13 mengajarkan kalimat untuk diucapkan ketika duduk di atasnya, (سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا, subhaana lladzii sakhkhara lanaa haadzaa) yang berarti "Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami", disusul pengakuan (وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ, wa-maa kunnaa lahu muqriniina) yang berarti "padahal kami tidak mampu menguasainya". Kata kerja di 54:13, "Kami mengangkutnya", menyebut Allah sebagai pengangkut, dan kalimat di 43:13 membawa kesadaran yang sama ke setiap perjalanan. Setiap kali seseorang menaiki kendaraan, keselamatannya sampai di tujuan tetap berada dalam pengangkutan-Nya, dan 43:14 menutup kalimat itu dengan pengakuan bahwa mereka pasti kembali kepada Tuhan mereka.
- Setiap kali para pemuka kaumnya lewat, 11:38 mencatat bahwa mereka (سَخِرُوا مِنْهُ, sakhiruu minhu) yang berarti "mengejeknya" ketika Nuh sedang membuat bahtera. Papan dan pasak yang disebut di 54:13 disusun di bawah ejekan itu. Nuh menjawab bahwa mereka kelak akan mengetahui siapa yang ditimpa azab yang menghinakan (11:39). Kerja yang ditunaikan atas perintah Allah dapat tampak sia-sia di mata orang sekitar, bahkan ditertawakan, sampai tiba saat kegunaannya terlihat. Bahtera yang dulu diejek itu akhirnya menjadi tempat Allah mengangkut hamba-Nya.
- Ketika manusia naik ke dalam bahtera, 29:65 mencatat bahwa mereka (دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, da'awu llaaha mukhlishiina lahu d-diina) yang berarti "berdoa kepada Allah dengan tulus", lalu sesudah diselamatkan ke darat mereka kembali mempersekutukan-Nya. Di 17:67 disebutkan bahwa ketika bahaya menimpa di laut, semua yang biasa diseru lenyap kecuali Dia. Nuh berdoa kepada Tuhannya di 54:10, sebelum ada gelombang yang mendesaknya. Ketulusan yang lahir di tengah gelombang mudah hilang begitu kaki menyentuh tanah. Apakah doa yang diucapkan dalam keadaan terdesak masih sama tulusnya sesudah keadaan kembali tenang?
- Jumlah orang yang beriman bersama Nuh disebut di 11:40 dengan kalimat (وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ, wa-maa aamana ma'ahu illaa qaliilun) yang berarti "dan tidak beriman bersamanya kecuali sedikit". Sesudah seruan yang sangat panjang, yang menerimanya tetap sedikit, dan mereka itulah yang diangkut di atas papan dan pasak. Sedikitnya jumlah tidak mengurangi penjagaan Allah atas mereka, dan 19:58 menyebut sebagian nabi berasal dari keturunan orang-orang yang diangkut bersama Nuh. Berada di pihak yang sedikit dapat terasa berat, dan kisah ini menunjukkan bahwa ukuran keselamatan di sisi Allah tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut.
- Kata kerja dari akar ح-م-ل di ayat ini menyebut Allah mengangkut Nuh di tengah air. Akar yang sama dipakai di 35:18 untuk keadaan yang lain, ketika jiwa yang terbebani berat meminta bebannya dipikul orang lain, (لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ, laa yuhmal minhu syay'un) yang berarti "tidak akan dipikulkan sedikit pun darinya", sekalipun yang dimintai kerabat dekat. Menurut ayat itu, beban seseorang tidak dapat dipindahkan kepada sesamanya. Pengangkutan yang menyelamatkan datang dari Allah, sebagaimana di 54:13, dan keadaan itu mengarahkan harapan seseorang kepada Dia yang sanggup mengangkut, sebab sesama manusia pun sedang memikul bebannya sendiri.
Ayat 54:14
تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ
yang berlayar dengan pengawasan Kami, sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- تَجْرِي بِأَعْيُنِنَاtajrii bi-a'yuninaayang berlayar dengan pengawasan Kami
- جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَjazaa'an li-man kaana kufirasebagai balasan bagi orang yang telah diingkari
Terjemahan per kata (6 kata)
- تَجْرِيtajriimengalir
- بِأَعْيُنِنَاbi-a'yuninaadengan pengawasan Kami
- جَزَاءًjazaa'anbalasan
- لِمَنْli-manbagi orang yang
- كَانَkaanaadalah
- كُفِرَkufiradiingkari
Inti bacaan
Bi-a'yuninaa tercatat di 11:37, 23:27, 52:48, dan 54:14. Jazaa'an tercatat di 15 ayat, tujuh di antaranya disusul bi-maa, dan kufira berbentuk pasif tercatat sekali, di ayat ini.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (تَجْرِي, tajrii) yang berarti "yang berlayar", dari akar ج-ر-ي. Pelakunya bahtera yang disebut di 54:13, dan kata kerjanya berbentuk sedang berlangsung, sehingga pelayaran itu digambarkan sebagai gerak yang terus berjalan. Bentuk tajrii tercatat di 52 ayat, dan 40 di antaranya berbentuk tajrii min tahti, "mengalir di bawah", dengan sungai-sungai sebagai pelakunya. Kata kerja yang sama dipakai untuk bahtera Nuh di 11:42, (وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ, wa-hiya tajrii bihim) yang berarti "dan bahtera itu berlayar membawa mereka".
Keterangan sesudahnya (بِأَعْيُنِنَا, bi-a'yuninaa) yang berarti "dengan pengawasan Kami". Kata a'yun merupakan bentuk jamak dari 'ayn, "mata", akar ع-ي-ن, yang dua ayat sebelumnya muncul dalam bentuk jamak lain, 'uyuunan, untuk mata air (54:12). Susunan bi-a'yuninaa tercatat di empat ayat. Di 11:37 dan 23:27 Nuh diperintah (اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا, shna'i l-fulka bi-a'yuninaa wa-wahyinaa) yang berarti "buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu Kami", dan di 52:48 Rasul diperintah bersabar menunggu putusan Tuhannya, (فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا, fa-innaka bi-a'yuninaa) yang berarti "karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami". Terjemahan "pengawasan" dipakai untuk keempatnya, sesuai pemakaian mata sebagai tanda penglihatan yang menyertai.
Kata (جَزَاءً, jazaa'an) yang berarti "sebagai balasan" berakar ج-ز-ي. Bentuk ini tercatat di 15 ayat, dan di tujuh di antaranya disusul bi-maa, "atas apa", seperti di 32:17, (جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, jazaa'an bi-maa kaanuu ya'maluuna) yang berarti "sebagai balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan". Di ayat-ayat itu balasan diukur dari perbuatan penerimanya. Di 54:14 kata ini disusul li-man, "bagi orang yang", dan dasar balasannya berupa perlakuan yang diterima orang itu dari kaumnya.
Keterangan penutupnya (لِمَنْ كَانَ كُفِرَ, li-man kaana kufira) yang berarti "bagi orang yang telah diingkari". Kata kerja (كُفِرَ, kufira) berbentuk pasif dari akar ك-ف-ر, dan bentuk ini tercatat sekali, di 54:14. Kata ganti man merujuk kepada Nuh, dan kata kerja pasif menjadikannya pihak yang diingkari tanpa menyebut siapa yang mengingkari. Kata kaana di depannya menempatkan pengingkaran itu di masa sebelum pelayaran, yaitu masa yang dicatat 54:9 ketika kaumnya mendustakannya dan menyebutnya gila. Di ayat itu kaum Nuh menjadi pelaku dengan kata kerja aktif, (فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا, fa-kadzdzabuu 'abdanaa) yang berarti "lalu mereka mendustakan hamba Kami", dan di 54:14 perbuatan yang sama dilihat dari sisi orang yang menanggungnya.
Tafsiran
Ayat ini menyebut dua sisi dari peristiwa yang sama. Bagi kaum yang mendustakan, air yang tercurah dan memancar di 54:11-12 berujung pada azab yang disebut di 54:16. Bagi Nuh, peristiwa yang sama disebut balasan. Ayat ini tidak menyebut secara terpisah apa yang menjadi balasan itu. Letak kata jazaa'an sesudah rangkaian perbuatan "Kami" sejak 54:11 membuatnya terbaca sebagai keterangan bagi seluruh rangkaian itu, yaitu langit yang dibuka, bumi yang dipancarkan, Nuh yang diangkut, dan bahtera yang berlayar.
Nuh tidak disebut namanya di 54:11-15. Dia hadir sebagai kata ganti di 54:13 dan sebagai "orang yang telah diingkari" di ayat ini. Penyebutan itu menandai Nuh dengan apa yang dialaminya dari kaumnya, dan balasan yang diterimanya berkaitan langsung dengan pengalaman itu. Doa Nuh di 54:10 berisi pengakuan bahwa dia dikalahkan, dan ayat ini memperlihatkan akhir dari pengakuan itu, yaitu orang yang dikalahkan kaumnya dijaga di tengah air yang menenggelamkan mereka.
Pengawasan yang disebut ayat ini juga menjelaskan bertahannya bahtera dari papan dan pasak di tengah gelombang seperti gunung (11:42). Pengawasan itu sudah menyertai sejak bahtera dibuat (11:37) dan tetap menyertai ketika bahtera berlayar, sehingga pembuatan dan pelayaran berada dalam satu penjagaan. Ungkapan yang sama di 52:48 ditujukan kepada Rasul yang sedang bersabar menghadapi kaumnya, sehingga penjagaan yang dialami Nuh terbaca juga sebagai penghiburan bagi Rasul yang disapa surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Pengawasan Allah di ayat ini menyertai bahtera di tengah air ketika tidak ada daratan yang terlihat. Di 26:217 Rasul diperintah bertawakal kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, dan 26:218 menyebut-Nya sebagai Dia (الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ, alladzii yaraaka hiina taquumu) yang berarti "yang melihatmu ketika engkau berdiri", lalu 26:219 menyebut gerakmu di antara orang-orang yang sujud. Keadaan yang tidak disaksikan orang lain tetap berada dalam penglihatan-Nya, baik di tengah laut maupun di tempat sujud. Seseorang yang merasa berjalan sendirian dalam urusan yang benar tidak pernah berada di luar pengawasan itu. Apakah kesadaran itu ikut dibawa ketika tidak ada orang lain yang melihat?
- Musa semasa bayi dimasukkan ke dalam peti lalu dihanyutkan ke sungai, dan 20:39 menyebut tujuannya (وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي, wa-li-tushna'a 'alaa 'aynii) yang berarti "dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku". Air membawa bahtera Nuh dan air juga membawa peti Musa, dan keduanya disertai mata Allah. Seseorang dapat memulai hidup dalam keadaan tak berdaya dan terbawa arus yang tidak sanggup dikendalikannya, dan penjagaan-Nya tetap dapat menyertainya. Keadaan yang tampak seperti dihanyutkan dapat menjadi jalan Allah membentuk seseorang.
- Balasan di ayat ini ditujukan kepada orang yang diingkari, dan dasarnya berupa apa yang dialaminya. Di 3:195 Allah menjawab doa orang-orang yang berakal dengan pernyataan (أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ, annii laa udhii'u 'amala 'aamilin minkum) yang berarti "sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian", lalu menyebut orang-orang yang diusir dari rumah mereka dan disakiti di jalan-Nya. Penolakan dan penderitaan yang diterima karena kebenaran tercatat di sisi Allah. Orang yang ditolak karena membawa kebaikan tidak kehilangan apa yang ditanggungnya, dan kisah Nuh memperlihatkan pengingkaran yang berujung pada balasan bagi yang diingkari.
- Nuh tidak membalas kaumnya dengan tangannya sendiri. Dia berdoa di 54:10, dan balasan datang dari Allah di 54:11-14. Di 16:126 orang beriman diizinkan membalas setimpal dengan yang ditimpakan kepada mereka, dan ayat yang sama menyatakan (وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ, wa-la-in shabartum lahuwa khayrun li-sh-shaabiriina) yang berarti "tetapi jika kalian bersabar, sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar". Ayat 16:127 menambahkan bahwa kesabaran itu terwujud dengan pertolongan Allah. Keinginan membalas perlakuan buruk dapat diserahkan kepada Dia, yang balasan-Nya lebih adil dan lebih tepat waktunya.
- Kapal dan matahari disebut dengan kata kerja yang sama dengan pelayaran bahtera di ayat ini. Di 22:65 kapal (تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ, tajrii fii l-bahri bi-amrihi) yang berarti "berlayar di laut dengan perintah-Nya", dan di 36:38 matahari (تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا, tajrii li-mustaqarrin lahaa) yang berarti "berjalan menuju tempat ketetapannya". Bahtera Nuh pun sampai di tempat berhentinya, berlabuh di atas Judi menurut 11:44. Hidup seseorang bergerak dengan cara yang serupa, berjalan atas perintah Allah menuju tempat ketetapannya, dan perjalanan itu berlangsung di bawah pengawasan yang sama.
- Kata kerja kufira di ayat ini berakar sama dengan kata yang di 14:7 dipasangkan dengan syukur, (لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ, la-in syakartum la-aziidannakum) yang berarti "sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah bagi kalian". Nuh disebut di 17:3 sebagai hamba yang bersyukur, dan di 54:14 sebagai orang yang diingkari kaumnya. Seruan yang dibawanya ditolak, sedangkan dia sendiri tetap bersyukur kepada Tuhannya. Sikap terhadap orang yang membawa kebaikan memperlihatkan apakah seseorang berada di jalan syukur atau di jalan ingkar kepada Allah.