وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, bertemulah air sesuai ketetapan yang telah ditentukan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًاwa-fajjarnaa l-ardha 'uyuunanKami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air
- فَالْتَقَى الْمَاءُfa-ltaqaa l-maa'umaka, bertemulah air
- عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ'alaa amrin qad qudirasesuai ketetapan yang telah ditentukan
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَفَجَّرْنَاwa-fajjarnaadan Kami mengalirkan
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- عُيُونًا'uyuunanmata air
- فَالْتَقَىfa-ltaqaamaka bertemulah
- الْمَاءُl-maa'uair
- عَلَىٰ'alaaatas
- أَمْرٍamrinurusan
- قَدْqadsungguh
- قُدِرَqudiraditentukan
Inti bacaan
Wa-fajjarnaa tercatat di tiga ayat, 36:34 dengan fiihaa dan min, 54:12 tanpa keduanya. Pelaku iltaqaa di sini kata benda tunggal al-maa', dan 23:18 memakai bi-qadarin untuk hujan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَفَجَّرْنَا, wa-fajjarnaa) yang berarti "dan Kami memancarkan", dari akar ف-ج-ر. Bentuk ini tercatat di 3 ayat, yaitu 18:33, 36:34, dan 54:12. Di 18:33 Allah mengalirkan sungai di celah dua kebun yang berbuah lebat, dan di 36:34 Dia menyatakan (وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ, wa-fajjarnaa fiihaa mina l-'uyuuni) yang berarti "dan Kami pancarkan padanya mata air", di bumi yang dihidupkan dengan kebun kurma dan anggur. Di kedua ayat itu pancaran air menumbuhkan kebun, dan di 54:12 kata kerja yang sama membuka jalan bagi air bah.
Susunan kalimat di 54:12 berbeda dari 36:34. Di 36:34 kata kerja itu disertai fiihaa, "padanya", dan kata depan min sebelum mata air, sehingga mata air dipancarkan di sebagian tempat di bumi. Di 54:12 sasaran kata kerjanya bumi itu sendiri, (الْأَرْضَ عُيُونًا, l-ardha 'uyuunan) yang berarti "bumi menjadi mata air-mata air", tanpa kata "padanya" dan tanpa kata depan min. Terjemahan "menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air" mengikuti susunan ini, karena kata kerjanya mengenai bumi seluruhnya.
Kata 'uyuun merupakan bentuk jamak dari 'ayn, akar ع-ي-ن. Di Al-Qur'an bentuk jamak 'uyuun dipakai untuk mata air, seperti di 26:57 dan 44:25, sedangkan bentuk jamak a'yun dipakai untuk mata, seperti di 7:179, (وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا, wa-lahum a'yunun laa yubshiruuna bihaa) yang berarti "dan mereka memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat". Akar yang sama muncul dua ayat kemudian dalam (بِأَعْيُنِنَا, bi-a'yuninaa) di 54:14, yang di sana berarti "dengan pengawasan Kami". Rangkaian 54:12-14 memakai keduanya, mata air bumi yang dibuka dan pengawasan yang menyertai bahtera.
Kalimat berikutnya (فَالْتَقَى الْمَاءُ, fa-ltaqaa l-maa'u) yang berarti "maka bertemulah air". Kata kerja iltaqaa berakar ل-ق-ي dan dalam bentuk ini tercatat di tujuh ayat. Di 3:13, 3:155, 3:166, 8:41, dan 8:44 kata kerja ini menggambarkan dua pasukan yang bertemu, dan di 55:19 dua laut disebut (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani) yang berarti "bertemu". Di 54:12 pelakunya kata benda tunggal, "air", walaupun air itu datang dari dua arah. Air dari langit dan air dari bumi disebut dengan satu kata, sehingga pertemuan itu digambarkan sebagai satu air yang datang dari dua pintu.
Pertemuan itu terjadi (عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ, 'alaa amrin qad qudira) yang berarti "sesuai ketetapan yang telah ditentukan". Kata kerja qudira berbentuk pasif dari akar ق-د-ر, dan dalam bentuk ini tercatat di dua ayat. Di 65:7 bentuk yang sama dipakai untuk (وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ, wa-man qudira 'alayhi rizquhu) yang berarti "dan orang yang disempitkan rezekinya", yaitu rezeki yang diberi takaran. Makna ukuran pada akar ini dinyatakan surah yang sama di 54:49, (إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, innaa kulla syay'in khalaqnaahu bi-qadarin) yang berarti "sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran", dan di 23:18 air hujan pun diturunkan (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan suatu ukuran". Air bah di 54:12 berada di bawah ukuran yang sama, walaupun di 69:11 air itu disebut melampaui batas.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi 54:11. Air datang dari atas melalui pintu-pintu langit dan dari bawah melalui bumi yang dipancarkan, sehingga tidak ada arah yang tersisa bagi kaum Nuh untuk menghindar. Gambaran dua arah ini sejalan dengan 6:65, bahwa Allah berkuasa mengirim azab (مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ, min fawqikum aw min tahti arjulikum) yang berarti "dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian". Di 6:65 kedua arah itu disebut sebagai kemungkinan, dan di 54:11-12 keduanya datang bersamaan.
Kisah yang sama di 11:40 dan 23:27 menandai saat perintah datang dengan (وَفَارَ التَّنُّورُ, wa-faara t-tannuuru) yang berarti "dan tungku itu memancar". Surah ini tidak menyebut tungku. Kedua catatan itu tidak saling meniadakan, karena masing-masing menyorot bagian peristiwa yang berbeda, dan 54:12 menyorot luasnya.
Kalimat penutup ayat ini memindahkan perhatian dari besarnya air kepada ketetapan di baliknya. Kata amr di 54:12 muncul lagi di akhir surah, (وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ, wa-maa amrunaa illaa waahidatun) yang berarti "dan perintah Kami tidak lain kecuali sekali" di 54:50, disusul (كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ, ka-lamhin bi-l-bashari) yang berarti "seperti kejapan mata". Air bah yang datang dari langit dan bumi, dilihat dari sisi ketetapan itu, berlangsung sebagai pelaksanaan satu perintah. Peristiwa sebesar ini tidak lahir dari kekacauan, dan pertemuan air dari dua arah terjadi pada saat dan ukuran yang telah ditentukan.
Renungan dan Hikmah
- Pemilik dua kebun di 18:33 menikmati sungai yang dialirkan Allah di celah kebunnya, dengan kata kerja yang sama dengan wa-fajjarnaa di ayat ini. Dia lalu berkata (مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا, maa azhunnu an tabiida haadzihi abadan) yang berarti "aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya" (18:35). Di 18:42 buahnya dibinasakan, dan dia membolak-balikkan telapak tangannya atas apa yang telah dibelanjakannya. Air yang memancar dari bumi dapat menghidupkan kebun dan dapat pula menenggelamkan sebuah kaum, sesuai kehendak Allah. Adakah sesuatu yang hari ini mengalir lancar dalam hidup seseorang lalu dikiranya tidak akan pernah berhenti?
- Pertemuan dua pasukan di 8:42 diceritakan dengan kalimat (وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ, wa-law tawaa'adtum la-khtalaftum fii l-mii'aadi) yang berarti "seandainya kalian saling berjanji, niscaya kalian akan berselisih tentang waktu pertemuan". Pertemuan itu terjadi karena Allah hendak melaksanakan (أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا, amran kaana maf'uulan) yang berarti "suatu urusan yang harus terlaksana". Kata kerja iltaqaa di 8:41 dan 8:44 dipakai untuk pertemuan itu, dan di 54:12 untuk air dari dua arah yang bertemu atas ketetapan. Ada pertemuan dalam hidup yang tidak pernah direncanakan pihak-pihak yang terlibat, dan 8:44 menutup kisah pertemuan itu dengan (وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ, wa-ilaa llaahi turja'u l-umuuru) yang berarti "dan kepada Allah segala urusan dikembalikan".
- Kata kerja qudira di ayat ini dipakai juga di 65:7 untuk orang yang rezekinya disempitkan. Ayat itu tidak berhenti pada kesempitan, karena orang itu diminta memberi dari apa yang Allah berikan kepadanya, lalu dijanjikan (سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا, sa-yaj'alu llaahu ba'da 'usrin yusran) yang berarti "Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan". Di 42:27 disebutkan bahwa seandainya Allah melapangkan rezeki hamba-hamba-Nya, mereka akan melampaui batas di bumi, dan karena itu Dia (يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ, yunazzilu bi-qadarin maa yasyaa'u) yang berarti "menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki". Rezeki yang terasa sempit berada di bawah takaran yang sama dengan air bah di 54:12, dan takaran itu berasal dari Dia yang mengenal hamba-hamba-Nya.
- Mata air disebut dalam dua keadaan yang berlawanan. Di 54:12 bumi dipancarkan menjadi mata air untuk menenggelamkan kaum yang mendustakan, sedangkan di 15:45 orang-orang bertakwa berada (فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, fii jannaatin wa-'uyuunin) yang berarti "dalam taman-taman dan mata air". Di 76:6 hamba-hamba Allah minum dari mata air yang (يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا, yufajjiruunahaa tafjiiran) yang berarti "mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh", dengan kata kerja seakar dengan wa-fajjarnaa. Di dunia kaum Nuh tidak kuasa menahan pancaran air, sedangkan di taman itu hamba-hamba Allah memancarkan mata air untuk minum mereka. Akar yang sama menandai dua akhir yang berbeda, dan jalan menuju masing-masing ditentukan oleh sikap seseorang terhadap peringatan Tuhannya.
- Ketetapan di ayat ini disebut dengan qad qudira, "telah ditentukan", sehingga ukurannya sudah ada sebelum air itu bertemu. Di 57:22 Allah menyatakan bahwa musibah yang menimpa di bumi dan pada diri manusia sudah tercatat (فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا, fii kitaabin min qabli an nabra'ahaa) yang berarti "dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya". Ayat berikutnya, 57:23, menyebut tujuan pencatatan itu, yaitu agar manusia tidak bersedih terhadap apa yang luput darinya. Musibah yang datang dari banyak arah sekaligus tetap berada di dalam ketetapan yang mendahuluinya. Kesedihan atas yang luput tetap ada, dan ayat itu memberi alasan untuk tidak tenggelam di dalamnya.
- Air yang bertemu dari dua arah di ayat ini tidak berlangsung selamanya. Di 11:44 bumi diperintah (ابْلَعِي مَاءَكِ, bla'ii maa'aki) yang berarti "telanlah airmu", langit diperintah berhenti, dan (وَغِيضَ الْمَاءُ, wa-ghiidha l-maa'u) yang berarti "dan air pun disurutkan". Bumi yang tadinya memancarkan air menelannya kembali atas perintah Allah. Keadaan yang terasa mengepung dari segala arah pun memiliki ujung yang ditetapkan-Nya. Orang yang sedang berada di tengah kesulitan yang meluap dapat mengingat bahwa air di zaman Nuh pun surut ketika perintah-Nya datang.