وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ

Dan Kami mengangkutnya di atas yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍwa-hamalnaahu 'alaa dzaati alwaahin wa-dusurindan Kami mengangkutnya di atas yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَحَمَلْنَاهُwa-hamalnaahudan Kami mengangkutnya
  2. عَلَىٰ'alaaatas
  3. ذَاتِdzaatiyang memiliki
  4. أَلْوَاحٍalwaahinpapan-papan
  5. وَدُسُرٍwa-dusurindan paku

Inti bacaan

Hamalnaa berpelaku Allah tercatat di enam ayat, empat di antaranya berkaitan dengan bahtera. Lawh tercatat di lima ayat, empat sebagai tempat tulisan, dan dusur tidak tercatat di ayat lain.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَحَمَلْنَاهُ, wa-hamalnaahu) yang berarti "dan Kami mengangkutnya". Kata kerjanya berakar ح-م-ل, dan kata ganti -hu merujuk kepada Nuh, yang di 54:9 disebut (عَبْدَنَا, 'abdanaa) yang berarti "hamba Kami". Bentuk hamalnaa dengan Allah sebagai pelaku tercatat di 6 ayat. Di 17:70 kata kerja ini dipakai untuk anak cucu Adam yang diangkut di darat dan di laut, dan empat ayat lainnya berkaitan dengan bahtera. Ayat 17:3 dan 19:58 menyebut orang-orang yang diangkut bersama Nuh, 36:41 menyebut keturunan manusia yang diangkut (فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ, fi l-fulki l-masyhuuni) yang berarti "dalam kapal yang penuh muatan", dan 69:11 menyatakan (حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ, hamalnaakum fii l-jaariyati) yang berarti "Kami mengangkut kalian ke dalam yang berlayar".

Tempat pengangkutan itu disebut (عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ, 'alaa dzaati alwaahin wa-dusurin) yang berarti "di atas yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak". Kata dzaat berarti "yang memiliki". Di 85:1 kata ini menyertai benda yang disebut namanya, (وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ, wa-s-samaa'i dzaati l-buruuji) yang berarti "demi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang". Di 54:13 benda pemiliknya tidak dinamai. Di ayat-ayat lain bahtera Nuh disebut al-fulk (11:37, 23:27, 26:119), as-safiinah (29:15), dan al-jaariyah (69:11), dan di ayat ini bahtera itu dikenali dari bahannya.

Kata (أَلْوَاحٍ, alwaahin) merupakan bentuk jamak dari lawh, akar ل-و-ح, yang tercatat di lima ayat. Di 7:145, 7:150, dan 7:154 kata ini menyebut lauh-lauh, yaitu lembaran-lembaran tempat tulisan, yang diberikan kepada Musa, tempat Allah menuliskan (مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ, maw'izhatan wa-tafshiilan li-kulli syay'in) yang berarti "pelajaran dan penjelasan untuk segala hal". Di 85:22 bentuk tunggalnya dipakai dalam (لَوْحٍ مَحْفُوظٍ, lawhin mahfuuzhin) yang berarti "lauh yang terpelihara". Di 54:13 kata yang sama menyebut papan-papan penyusun bahtera. Di empat ayat lain lawh menjadi tempat tulisan, dan di ayat ini menjadi alas bagi orang-orang yang diselamatkan.

Kata (دُسُرٍ, dusurin) berakar د-س-ر, dan akar ini tidak tercatat di ayat lain. Al-Qur'an tidak menyediakan pembanding untuknya, sehingga maknanya dibaca dari pasangannya. Kata ini disambung dengan alwaahin memakai huruf wa, dan keduanya menjadi bahan yang menyusun benda tanpa nama itu. Terjemahan "pasak-pasak" menempatkan dusurin sebagai penyambung papan. Keduanya berbentuk jamak, sehingga bahtera itu tergambar sebagai benda yang tersusun dari banyak papan dan banyak penyambung.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan sorotan dari air yang membinasakan kepada orang yang diselamatkan. Di tengah air dari dua arah yang disebut 54:11-12, Nuh diangkut di atas benda yang disusun dari papan dan pasak. Surah ini tidak menyebut siapa saja yang naik bersama Nuh, walaupun 26:119 mencatat bahwa dia diselamatkan bersama orang-orang yang menyertainya. Kata ganti tunggal -hu memusatkan perhatian pada hamba yang didustakan di 54:9, sehingga penyelamatan di ayat ini terbaca sebagai jawaban bagi orang yang berdoa di 54:10.

Susunan ayat ini juga menempatkan keselamatan di tangan Allah. Kata kerjanya "Kami mengangkut", sedangkan bahtera hadir sebagai tempat. Di 11:41 Nuh mengajak orang-orang naik dengan kalimat (بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا, bi-smi llaahi majraahaa wa-mursaahaa) yang berarti "dengan nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya". Papan dan pasak dibuat oleh tangan manusia, sedangkan pelayaran dan pelabuhannya disandarkan kepada nama Allah.

Penyebutan bahan ini juga menampakkan jarak antara sarana dan keadaan yang dihadapinya. Di 11:42 bahtera itu berlayar (فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ, fii mawjin ka-l-jibaali) yang berarti "dalam gelombang seperti gunung-gunung". Papan yang disambung pasak berhadapan dengan gelombang setinggi itu, dan ayat berikutnya menyebut pengawasan yang menyertai pelayaran itu (54:14). Keselamatan orang-orang di atasnya disandarkan kepada Dia yang mengangkut, dan papan serta pasak menjadi sarana yang dipakai-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Begitu Nuh dan orang-orang yang bersamanya menetap di atas kapal, 23:28 memerintahkan dia mengucapkan (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ, l-hamdu li-llaahi lladzii najjaanaa mina l-qawmi zh-zhaalimiina) yang berarti "segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim". Ayat berikutnya, 23:29, menambahkan doa (رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا, rabbi anzilnii munzalan mubaarakan) yang berarti "Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat turun yang diberkahi". Pujian atas keselamatan yang sudah diterima disusul permohonan untuk perjalanan yang belum selesai. Keselamatan dari satu kesulitan belum menjadi akhir perjalanan, dan doa Nuh memperlihatkan cara menyikapinya, dengan bersyukur atas yang telah lewat sambil memohon untuk yang masih di depan.
  • Kapal dan hewan tunggangan disebut di 43:12 sebagai pemberian Allah, dan 43:13 mengajarkan kalimat untuk diucapkan ketika duduk di atasnya, (سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا, subhaana lladzii sakhkhara lanaa haadzaa) yang berarti "Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami", disusul pengakuan (وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ, wa-maa kunnaa lahu muqriniina) yang berarti "padahal kami tidak mampu menguasainya". Kata kerja di 54:13, "Kami mengangkutnya", menyebut Allah sebagai pengangkut, dan kalimat di 43:13 membawa kesadaran yang sama ke setiap perjalanan. Setiap kali seseorang menaiki kendaraan, keselamatannya sampai di tujuan tetap berada dalam pengangkutan-Nya, dan 43:14 menutup kalimat itu dengan pengakuan bahwa mereka pasti kembali kepada Tuhan mereka.
  • Setiap kali para pemuka kaumnya lewat, 11:38 mencatat bahwa mereka (سَخِرُوا مِنْهُ, sakhiruu minhu) yang berarti "mengejeknya" ketika Nuh sedang membuat bahtera. Papan dan pasak yang disebut di 54:13 disusun di bawah ejekan itu. Nuh menjawab bahwa mereka kelak akan mengetahui siapa yang ditimpa azab yang menghinakan (11:39). Kerja yang ditunaikan atas perintah Allah dapat tampak sia-sia di mata orang sekitar, bahkan ditertawakan, sampai tiba saat kegunaannya terlihat. Bahtera yang dulu diejek itu akhirnya menjadi tempat Allah mengangkut hamba-Nya.
  • Ketika manusia naik ke dalam bahtera, 29:65 mencatat bahwa mereka (دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, da'awu llaaha mukhlishiina lahu d-diina) yang berarti "berdoa kepada Allah dengan tulus", lalu sesudah diselamatkan ke darat mereka kembali mempersekutukan-Nya. Di 17:67 disebutkan bahwa ketika bahaya menimpa di laut, semua yang biasa diseru lenyap kecuali Dia. Nuh berdoa kepada Tuhannya di 54:10, sebelum ada gelombang yang mendesaknya. Ketulusan yang lahir di tengah gelombang mudah hilang begitu kaki menyentuh tanah. Apakah doa yang diucapkan dalam keadaan terdesak masih sama tulusnya sesudah keadaan kembali tenang?
  • Jumlah orang yang beriman bersama Nuh disebut di 11:40 dengan kalimat (وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ, wa-maa aamana ma'ahu illaa qaliilun) yang berarti "dan tidak beriman bersamanya kecuali sedikit". Sesudah seruan yang sangat panjang, yang menerimanya tetap sedikit, dan mereka yang diangkut di atas papan dan pasak. Sedikitnya jumlah tidak mengurangi penjagaan Allah atas mereka, dan 19:58 menyebut sebagian nabi berasal dari keturunan orang-orang yang diangkut bersama Nuh. Berada di pihak yang sedikit dapat terasa berat, dan kisah ini menunjukkan bahwa ukuran keselamatan di sisi Allah tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut.
  • Kata kerja dari akar ح-م-ل di ayat ini menyebut Allah mengangkut Nuh di tengah air. Akar yang sama dipakai di 35:18 untuk keadaan yang lain, ketika seorang yang terbebani berat meminta bebannya dipikul orang lain, (لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ, laa yuhmal minhu syay'un) yang berarti "tidak akan dipikulkan sedikit pun darinya", sekalipun yang dimintai kerabat dekat. Menurut ayat itu, beban seseorang tidak dapat dipindahkan kepada sesamanya. Pengangkutan yang menyelamatkan datang dari Allah, sebagaimana di 54:13, dan keadaan itu mengarahkan harapan seseorang kepada Dia yang sanggup mengangkut, sebab sesama manusia pun sedang memikul bebannya sendiri.