تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ

yang berlayar dengan pengawasan Kami, sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تَجْرِي بِأَعْيُنِنَاtajrii bi-a'yuninaayang berlayar dengan pengawasan Kami
  2. جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَjazaa'an li-man kaana kufirasebagai balasan bagi orang yang telah diingkari

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. تَجْرِيtajriimengalir
  2. بِأَعْيُنِنَاbi-a'yuninaadengan pengawasan Kami
  3. جَزَاءًjazaa'anbalasan
  4. لِمَنْli-manbagi orang yang
  5. كَانَkaanaadalah
  6. كُفِرَkufiradiingkari

Inti bacaan

Bi-a'yuninaa tercatat di 11:37, 23:27, 52:48, dan 54:14. Jazaa'an tercatat di 15 ayat, tujuh di antaranya disusul bi-maa, dan kufira berbentuk pasif tercatat sekali, di ayat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (تَجْرِي, tajrii) yang berarti "yang berlayar", dari akar ج-ر-ي. Pelakunya bahtera yang disebut di 54:13, dan kata kerjanya berbentuk sedang berlangsung, sehingga pelayaran itu digambarkan sebagai gerak yang terus berjalan. Bentuk tajrii tercatat di 52 ayat, dan 40 di antaranya berbentuk tajrii min tahti, "mengalir di bawah", dengan sungai-sungai sebagai pelakunya. Kata kerja yang sama dipakai untuk bahtera Nuh di 11:42, (وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ, wa-hiya tajrii bihim) yang berarti "dan bahtera itu berlayar membawa mereka".

Keterangan sesudahnya (بِأَعْيُنِنَا, bi-a'yuninaa) yang berarti "dengan pengawasan Kami". Kata a'yun merupakan bentuk jamak dari 'ayn, "mata", akar ع-ي-ن, yang dua ayat sebelumnya muncul dalam bentuk jamak lain, 'uyuunan, untuk mata air (54:12). Susunan bi-a'yuninaa tercatat di empat ayat. Di 11:37 dan 23:27 Nuh diperintah (اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا, shna'i l-fulka bi-a'yuninaa wa-wahyinaa) yang berarti "buatlah kapal dengan pengawasan dan wahyu Kami", dan di 52:48 Rasul diperintah bersabar menunggu putusan Tuhannya, (فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا, fa-innaka bi-a'yuninaa) yang berarti "karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami". Terjemahan "pengawasan" dipakai untuk keempatnya, sesuai pemakaian mata sebagai tanda penglihatan yang menyertai.

Kata (جَزَاءً, jazaa'an) yang berarti "sebagai balasan" berakar ج-ز-ي. Bentuk ini tercatat di 15 ayat, dan di tujuh di antaranya disusul bi-maa, "atas apa", seperti di 32:17, (جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, jazaa'an bi-maa kaanuu ya'maluuna) yang berarti "sebagai balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan". Di ayat-ayat itu balasan diukur dari perbuatan penerimanya. Di 54:14 kata ini disusul li-man, "bagi orang yang", dan dasar balasannya berupa perlakuan yang diterima orang itu dari kaumnya.

Keterangan penutupnya (لِمَنْ كَانَ كُفِرَ, li-man kaana kufira) yang berarti "bagi orang yang telah diingkari". Kata kerja (كُفِرَ, kufira) berbentuk pasif dari akar ك-ف-ر, dan bentuk ini tercatat sekali, di 54:14. Kata ganti man merujuk kepada Nuh, dan kata kerja pasif menjadikannya pihak yang diingkari tanpa menyebut siapa yang mengingkari. Kata kaana di depannya menempatkan pengingkaran itu di masa sebelum pelayaran, yaitu masa yang dicatat 54:9 ketika kaumnya mendustakannya dan menyebutnya gila. Di ayat itu kaum Nuh menjadi pelaku dengan kata kerja aktif, (فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا, fa-kadzdzabuu 'abdanaa) yang berarti "lalu mereka mendustakan hamba Kami", dan di 54:14 perbuatan yang sama dilihat dari sisi orang yang menanggungnya.

Tafsiran

Ayat ini menyebut dua sisi dari peristiwa yang sama. Bagi kaum yang mendustakan, air yang tercurah dan memancar di 54:11-12 berujung pada azab yang disebut di 54:16. Bagi Nuh, peristiwa yang sama disebut balasan. Ayat ini tidak menyebut secara terpisah apa yang menjadi balasan itu. Letak kata jazaa'an sesudah rangkaian perbuatan "Kami" sejak 54:11 membuatnya terbaca sebagai keterangan bagi seluruh rangkaian itu, yaitu langit yang dibuka, bumi yang dipancarkan, Nuh yang diangkut, dan bahtera yang berlayar.

Nuh tidak disebut namanya di 54:11-15. Dia hadir sebagai kata ganti di 54:13 dan sebagai "orang yang telah diingkari" di ayat ini. Penyebutan itu menandai Nuh dengan apa yang dialaminya dari kaumnya, dan balasan yang diterimanya berkaitan langsung dengan pengalaman itu. Doa Nuh di 54:10 berisi pengakuan bahwa dia dikalahkan, dan ayat ini memperlihatkan akhir dari pengakuan itu, yaitu orang yang dikalahkan kaumnya dijaga di tengah air yang menenggelamkan mereka.

Pengawasan yang disebut ayat ini juga menjelaskan bertahannya bahtera dari papan dan pasak di tengah gelombang seperti gunung (11:42). Pengawasan itu sudah menyertai sejak bahtera dibuat (11:37) dan tetap menyertai ketika bahtera berlayar, sehingga pembuatan dan pelayaran berada dalam satu penjagaan. Ungkapan yang sama di 52:48 ditujukan kepada Rasul yang sedang bersabar menghadapi kaumnya, sehingga penjagaan yang dialami Nuh terbaca juga sebagai penghiburan bagi Rasul yang disapa surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Pengawasan Allah di ayat ini menyertai bahtera di tengah air ketika tidak ada daratan yang terlihat. Di 26:217 Rasul diperintah bertawakal kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, dan 26:218 menyebut-Nya sebagai Dia (الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ, alladzii yaraaka hiina taquumu) yang berarti "yang melihatmu ketika engkau berdiri", lalu 26:219 menyebut gerakmu di antara orang-orang yang sujud. Keadaan yang tidak disaksikan orang lain tetap berada dalam penglihatan-Nya, baik di tengah laut maupun di tempat sujud. Seseorang yang merasa berjalan sendirian dalam urusan yang benar tidak pernah berada di luar pengawasan itu. Apakah kesadaran itu ikut dibawa ketika tidak ada orang lain yang melihat?
  • Musa semasa bayi dimasukkan ke dalam peti lalu dihanyutkan ke sungai, dan 20:39 menyebut tujuannya (وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي, wa-li-tushna'a 'alaa 'aynii) yang berarti "dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku". Air membawa bahtera Nuh dan air juga membawa peti Musa, dan keduanya disertai mata Allah. Seseorang dapat memulai hidup dalam keadaan tak berdaya dan terbawa arus yang tidak sanggup dikendalikannya, dan penjagaan-Nya tetap dapat menyertainya. Keadaan yang tampak seperti dihanyutkan dapat menjadi jalan Allah membentuk seseorang.
  • Balasan di ayat ini ditujukan kepada orang yang diingkari, dan dasarnya berupa apa yang dialaminya. Di 3:195 Allah menjawab doa orang-orang yang berakal dengan pernyataan (أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ, annii laa udhii'u 'amala 'aamilin minkum) yang berarti "sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian", lalu menyebut orang-orang yang diusir dari rumah mereka dan disakiti di jalan-Nya. Penolakan dan penderitaan yang diterima karena kebenaran tercatat di sisi Allah. Orang yang ditolak karena membawa kebaikan tidak kehilangan apa yang ditanggungnya, dan kisah Nuh memperlihatkan pengingkaran yang berujung pada balasan bagi yang diingkari.
  • Nuh tidak membalas kaumnya dengan tangannya sendiri. Dia berdoa di 54:10, dan balasan datang dari Allah di 54:11-14. Di 16:126 orang beriman diizinkan membalas setimpal dengan yang ditimpakan kepada mereka, dan ayat yang sama menyatakan (وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ, wa-la-in shabartum lahuwa khayrun li-sh-shaabiriina) yang berarti "tetapi jika kalian bersabar, sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar". Ayat 16:127 menambahkan bahwa kesabaran itu terwujud dengan pertolongan Allah. Keinginan membalas perlakuan buruk dapat diserahkan kepada Dia, yang balasan-Nya lebih adil dan lebih tepat waktunya.
  • Kapal dan matahari disebut dengan kata kerja yang sama dengan pelayaran bahtera di ayat ini. Di 22:65 kapal (تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ, tajrii fii l-bahri bi-amrihi) yang berarti "berlayar di laut dengan perintah-Nya", dan di 36:38 matahari (تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا, tajrii li-mustaqarrin lahaa) yang berarti "berjalan menuju tempat ketetapannya". Bahtera Nuh pun sampai di tempat berhentinya, berlabuh di atas Judi menurut 11:44. Hidup seseorang bergerak dengan cara yang serupa, berjalan atas perintah Allah menuju tempat ketetapannya, dan perjalanan itu berlangsung di bawah pengawasan yang sama.
  • Kata kerja kufira di ayat ini berakar sama dengan kata yang di 14:7 dipasangkan dengan syukur, (لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ, la-in syakartum la-aziidannakum) yang berarti "sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah bagi kalian". Nuh disebut di 17:3 sebagai hamba yang bersyukur, dan di 54:14 sebagai orang yang diingkari kaumnya. Seruan yang dibawanya ditolak, sedangkan dia sendiri tetap bersyukur kepada Tuhannya. Sikap terhadap orang yang membawa kebaikan memperlihatkan apakah seseorang berada di jalan syukur atau di jalan ingkar kepada Allah.